
Agneta berdiri menatap nanar kemeja putih beserta jaket milik pria yang telah menodai nya 5 tahun lalu. Kepingan kisah di masalalu nya itu tidak bisa ia lupakan. Walaupun kini rasa bencinya tidak sebesar dulu karena kehadiran Regan membuat rasa bencinya sedikit terobati. Tetapi kini ketakutannya berubah menjadi rasa takut kehilangan Regan, permata hatinya.
Agneta menoleh pada anak kecil yang begitu tampan dan sangat serupa dengan pria itu. Kata-kata Dave tadi siang kembali terngiang di telinganya. Seketika air matanya luruh membasahi pipi, berharap semua ketakutannya tak akan pernah terjadi.
Agneta berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang. Ia mengusap rambut halus Regan yang terlelap nyenyak.
"Jangan pernah tinggalkan Bunda. Apapun yang terjadi, tetaplah di sisi Bunda," gumamnya menangis dalam diam.
Ketakutan itu semakin kentara, ia takut Dave semakin mengancamya. Dan ia takut Dave merebut Regan darinya.
"Hanya kamu yang Bunda miliki, kamu kekuatan Bunda. Bunda mohon jangan pernah tinggalkan Bunda," gumamnya mengecup kening Regan.
Di sisi lain, Dave tampak meneguk minumannya dengan seringai menyeramkan di dalam penthouse miliknya yang temaram karena pencahayaannya sangat minim. Di dalam pikirannya ia tampak tengah menyusun berbagai rencana untuk merebut Agneta kembali. Wanita yang selalu menghantuinya selama 5 tahun ini, bukan karena rasa bersalahnya, tetapi karena sejak saat itu Agneta sudah di claim sebagai miliknya, candunya. Dan ia tidak suka sesuatu yang sudah di claim olehnya di rebut oleh oranglain.
"Sebentar lagi," gumamnya semakin menyeringai.
***
Agneta akhirnya setuju menerima tawaran Dave untuk pergi ke Malaysia selama seminggu dan itu hanya berdua. Agneta sudah menitipkan Regan pada Iren adiknya Sonya untuk seminggu ke depan. Dan ia juga sempat berdebat dengan Aiden, bahkan Aiden melabrak Dave karena tugasnya pada Agneta, tetapi seperti biasa Dave tidak memusingkannya.
Dan saat ini Agneta tengah duduk di dalam pesawat pribadi keluarga Wiratama. Pesawat yang interiornya menyerupai hotel bintang 5. Agneta memilih duduk sendiri menatap keluar jendela pesawat, mengabaikan tatapan tajam dari Dave yang berada tak jauh di hadapannya seraya meneguk wiski kesukaannya. Agneta sadar, Dave sepertinya tak pernah lepas dari minuman beralkohol itu, kadang ia berpikir apa tubuh Dave tidak hancur, hampir setiap menit di masuki minuman seperti itu dengan berbagai jenis minuman.
"Ternyata Regan sangat berpengaruh padamu," ucap Dave memecah keheningan, Agneta mengabaikan ucapan Dave dan tetap acuh menatap keluar jendela.
"Jadi, saat malam itu, kau pergi dariku karena menyembunyikan kehamilanmu?" pertanyaan Dave membuat Agneta menoleh padanya dan menatapnya dengan sengit lalu kembali memalingkan wajahnya, ia terlalu lelah membalas ucapan Dave.
"Aku tidak menyangka kau sampai kabur ke Jakarta, padahal aku mencarimu seperti orang gila di sana." Seruan Dave itu membuat Agneta menegang di tempatnya.
Benarkah itu?
Agneta ingat, saat dia mengetahui kalau dia hamil. Agneta mendatangi tempat dimana Dave sering nongkrong tetapi batang hidungnya tak pernah tampak. Bahkan Evan yang merupakan sahabatnya pun tidak tau keberadaannya. Agneta hanya di beri alamat rumahnya yang ada di Semarang. Sempat Agneta mendatangi rumah besar dan mewah itu yang tampak sepi. Agneta memang tidak berani masuk dan mengetuk pintunya, ia sadar diri. Keadaan Dave jauh di atasnya, kalau dia meminta pertanggung jawaban dari Dave, maka semua keluarganya bahkan Dave sendiri akan mengecamnya sebagai wanita murahan yang mengambil kesempatan untuk memanfaatkan kehamilannya. Dan Agneta tidak ingin itu, dia memang ingin pertanggungjawaban Dave untuk membantunya menghadapi kedua orangtuanya yang masih belum mengetahui apapun, tetapi minim sekali rasanya Dave akan bertanggung jawab.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" bisikan itu menyadarkan Agneta kembali ke dunia nyata. Ia menoleh ke sampingnya dan kaget saat sadar Dave sudah duduk di sampingnya dengan posisi menyamping dan sangat dekat dengan tubuhnya.
"Tidak ada!" jawab Agneta hendak beranjak dari duduknya tetapi Dave kembali menahannya. Sehingga Agneta kembali terduduk di sampingnya. Agneta merasa sangat kesal dengan sikap menyebalkan Dave yang pemaksa ini.
"Lepaskan aku, Mr. Wiratama!" ucapnya penuh penekanan.
"Kenapa? Kau takut di anggap memiliki affair denganku?" kekeh Dave sangat menyebalkan.
"Aku tidak merasa seperti itu, anda saja yang mengganggu saya." Jawaban itu berhasil membuat Dave terkekeh kecil.
"Tidak ada yang berubah," ucap Dave tersenyum penuh arti membuat Agneta mendelik padanya dan tetap duduk di samping Dave karena tangan Dave masih mencengkram pergelangan tangannya.
***
Mereka telah sampai di Malaysia dan sudah berada di dalam kamar hotel. Kali ini Agneta mampu bernafas lega karena Dave tidak memintanya untuk satu kamar. Tetapi mungkin juga itu hanya perasaan Agneta, mana mungkin Dave memintanya satu kamar?
Agneta menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh yang berkecamuk di kepalanya. Ia segera mengambil Iphone dari dalam tasnya dan mulai melakukan sambungan telpon.
"Hallo anak Bunda, kamu gak nangis kan Bunda tinggal?"
"Nggak dong, kan Egan kuat!" ucapnya seraya mengangkat sebelah tangannya membentuk hurup L hingga memperlihatkan otot lengannya yang kecil. Agneta terkekeh melihatnya.
"Kalau Regan kuat, dan gak nakal. Bunda akan sangat bahagia sekali, nanti pulangnya Bunda akan bawakan banyak oleh-oleh untukmu."
"Selius Bunda? Egan mauu Bundaaa..." teriaknya sangat antusias.
"Kalau begitu kamu bisa menuruti kata-kata Bunda kan?"
"Pasti!" ucapnya dengan cengiran lebarnya membuat Agneta tak tahan untuk tidak ikut tersenyum lebar. Regan adalah pelita hidupnya, cahaya dalam hidupnya saat ia terpuruk dan semua orang meninggalkannya, Regan adalah kekuatannya hingga masih tetap bertahan hingga saat ini.
"Om Velooooo!!" teriak Regan membuat Agneta tersentak dan menoleh ke belakangnya. Tepat di belakangnya Dave berdiri dengan pakaian santainya dan tampak begitu tampan.
"Kau!" gumam Agneta melotot kaget. Berani sekali Dave masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi, bagaimana kalau dirinya sedang berganti pakaian.
"Hallo Jagoan," ucap Dave tanpa malu merebut Iphone Agneta dan duduk di sofa. "Bagaimana kabarmu?" tanya Dave.
"Baik Om, Om ada keljaan sama Bunda yah. Egan titip Bunda yah, soalnya Bunda suka nakal, dia suka telat makan."
"Pasti sayang, kau tenang saja. Kalau Bunda mu menolak makan, Om punya cara sendiri untuk membuat Bunda mu mau makan," ucap Dave mengandung arti tersirat di dalamnya. Ia tersenyum misterius ke arah Agneta yang hanya berdiri dengan melipat tangannya di dada.
Ah, memang sejak awal. Agneta selalu kalah dengan Dave. Bukankah sudah jelas kalau Agneta hanya zat cair, yang selalu mencair dan langsung beradaptasi dengan zat padat di dekatnya. Ketidakberdayaan itulah yang di manfaatkan oleh Dave.
Agneta memperhatikan interaksi Ayah dan anak yang tampak seru, bahkan Dave bisa tertawa terbahak-bahak. Seingat Agneta, dia bisa menghitung berapa kali Dave tertawa seperti itu, tetapi sepertinya inilah yang pertama kali ia melihat Dave tertawa seperti itu. Satu hal yang terlintas di kepala Agneta melihat Dave tertawa seperti itu.
Tampan...
Agneta menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai ngaco, dan segera memalingkan wajahnya. Ia berusaha menyibukkan diri dengan membereskan beberapa pakaiannya ke dalam lemari. Ia mampu mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. Mereka membahas mengenai super hero, Batman. Agneta tau kalau Regan sangat menyukai tokoh pahlawan itu, bahkan ia memiliki banyak bonekanya. Dan Dave?
Agneta mengingat sesuatu, ia ingat dia pernah melihat banyak miniatur Batman di apartementnya yang dulu saat Agneta di paksa ke apartementnya. Sebelum kejadian naas itu, ia sempat melihat lemari kaca yang berisi miniatur Batman. Ahh kenapa mereka mirip sekali, pikir Agneta.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" pertanyaan itu mengalihkan pikiran Agneta dan ia melihat Dave sudah berdiri di hadapannya.
"Tidak ada," gumam Agneta.
Dave menyimpan Iphone Agneta di samping Agneta, membuat tubuhnya condong ke arah Agneta. "Jangan pernah berpikir untuk menjauhkanku dengan putraku!" bisik Dave tepat di telinga Agneta membuat Agneta mengernyitkan dahinya.
"Aku tau kau ingin menikah dengan Aiden, tetapi jangan harap bisa menjauhkanku dengan Regan!" ucapnya penuh penekanan dan beranjak pergi meninggalkan Agneta yang mematung di tempatnya.
***
Yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya sampai ending. Bisa di baca dan di beli versi ebooknya.
https://play.google.com/store/books/details?id\=U1ZtDwAAQBAJ