
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
up lagi...
"Sangat tidak menyangka bisa bertemu secara mendadak denganmu nona manis ahh maksudku nona Allis".
"Ohh ayolah tuan Lucas dunia ini sempit, apa pun bisa kau dapat kembali".
"Termasuk dirimu bukan".
"Kau selalu seperti ini tuan Lucas".
"Bagaimana jika malam ini kita makan malam bersama, aku akan menjemputmu malam ini".
"Ahh entahlah".
"Ohh ayolah ini pertama kalinya aku meminta seorang wanita untuk makan malam bersama".
"Selebihnya ?".
"Nona Allis selebihnya mereka yang memohon padaku bukan aku dan hanya kau yang beruntung sejauh ini".
"Hahah kau bisa saja, tapi malam ini pekerjaanku sangatlah banyak untuk kali ini aku tidak bisa".
"Baiklah jika kau tidak bisa aku akan menunggumu sampai bisa".
Allis menatap sosok didepannya dengan tersenyum yang dibalas dengan senyuman manis juga. Mereka kembali berbincang-bincang kemudian saling berpamitan setelah mobil penjemput Lucas datang.
.
.
.
Ting tong
Allis terbangun dari tidurnya, bunyi bel rumahnya berdenting dengan keras dan juga tiada hentinya. Allis bangkit lalu berjalan keluar dan menuruni tangga. Siapa yang bertamu malam-malam begini, pikirnya.
Ia adalah tipe orang yang tak pernah memiliki prasangka buruk. Tanpa pikir panjang ia langsung saja membuka pintu. Allis terjingkat kaget kala ia melihat sosok pria bertubuh tinggi tegap berdiri di depannya. Wajahnya tertutup topi hitam dan berpakaian serba hitam pula.
Niat ingin berbicara namun sepersekian detik kemudian dirinya terhuyung dan terjatuh dalam pelukan pria itu. Tangan kekarnya ia lilitkan di tubuh mungil Allis.
"Hey siapa kau".
"Yaakk lepaskan aku".
"Hey pria cab*ul".
Allis memukul lengan pria itu dengan kuat tanpa menghiraukan rasa sakit pada tangannya pria itu malah menunduk dan mencium bibir lembut Allis. Allis membeku ditempat, matanya memanas sepersekian detik kemudian lahar panas berhasil keluar tanpa seizin darinya.
Ditengah rasa ketidakberdayaannya Allis mencium bau parfum yang cukup familiar di hidungnya. Hingga ia tak sadar pelukan mereka sudah terurai. Allis masih saja memejamkan matanya sembari mencoba mengingat di mana ia pernah mencium bau parfum yang seperti ini.
"Masuklah".
Allis kaget karena ia mendapati dirinya masih berdiri ditempatnya hanya seorang diri. Pria itu ? Entah kemana dia tidak tahu namun satu hal yang ia tahu bau parfum itu begitu mirip dengan salah satu rekan bisnisnya. Allis segera menepis rasa prasangkanya ia kembali dan segera menutup pintu.
Tangannya terangkat kemudian meraba bibirnya. Ia ingin sekali melaporkan kejadian ini namun ia tak cukup bukti dan ia malu bagaimana ia harus menjelaskan tentang semua ini kepada pihak yang berwajib. Air matanya terus saja mengalir dia berlalu masuk kedalam kamarnya dan segera berlari menuju kamar mandi.
Dia mengisi bathtub kemudian menuangkan satu botol sabun kedalam bathtub yang terisi penuh oleh air. Allis tanpa melepaskan pakaiannya ia menenggelamkan tubuhnya. Dia membiarkan air mengambil alih tubuhnya.
Dirasa udara telah berkurang Allis mengangkat kepalanya. Dia meraup dengan rakus udara sehingga membuat dadanya yang terasa sesak perlahan mulai longgar. Dia terduduk menatap pantulan dirinya pada kaca yang tertempel di dinding kamar mandi.
"Dua orang dengan perlakuan yang sama dan aku diam saja".
Allis memukul kepalanya kemudian mengelap bibirnya dengan tangannya. Bibirnya ia gosok dengan kuat hingga berdarah. Ia menangis tersedu-sedu matanya menerawang jauh mengingat masa lalu kelam yang pernah ia alami.
.
Selepas itu ia mengenakan setelan jas biru langit dengan pantofel hitam mengkilap. Rambutnya ia sisir satu arah dan kemudian melingkarkan jam tangan Patek Philippe. Patek Philippe dibandrol dengan harga 87.600 USD atau setara dengan 1,4 miliar jika di rupiahkan. Jam tangan yang terlihat sederhana namun mata orang yang jeli dapat menangkap kemewahannya yang rendah hati.
Dia menyemprotkan Philosykos Eau De Parfum pada tubuhnya. Aroma yang earthy, woody, menyegarkan, dan tidak menyengat, bercampur menjadi satu. Sean kini sudah siap untuk berangkat bertepatan dengan itu suara ketukan pada pintu membuat ia menoleh.
Sean berjalan dan membuka pintu kamar dia dapat melihat Andrew berdiri lalu membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan pada Sean.
"Selamat pagi Mr"
"Siapkan beberapa berkas di atas meja kerjaku dan susul aku".
"Baik Mr".
"Sayang".
Panggilan itu seketika membuat Sean menghentikan langkahnya. Dia menoleh kebelakang tubuhnya dia mendapati ibunya sedang menatap dirinya penuh kasih sayang.
"Hmm".
"Daddy ingin bicara denganmu, dia menunggumu di dalam".
"Baik".
"Mr".
"Tunggulah aku di bawah".
"Baik Mr, selamat pagi nyonya besar".
"Ouhh Andrew selamat pagi ahh hari ini kau sangat tampan, ayo ikutlah denganku untuk turun".
"Terima kasih, mari nyonya besar".
Esmeralda berjalan beriringan dengan mengapit lengan kokoh Andrew. Andrew sudah beberapa kali menolak namun Esmeralda mengatakan dia ingin memegang tangan putranya. Mau tak mau Andrew pun mengalah ia membiarkan majikannya untuk menggandeng lengannya.
Esmeralda menceritakan beberapa masakan yang ia masak untuk mereka. Mereka benar-benar terlihat seperti seorang ibu dan seorang anak. Tiba-tiba rasa sesak di dada membuat Andrew menghembuskan nafasnya pelan.
"Hey kenapa kau seperti itu".
"Ahh tidak nyonya".
"Apakah kau tidak menyukai menu sarapan hari ini ?".
"Ahh tidak-tidak, maksud saya bukan seperti itu nyonya besar hanya saja saya melupakan beberapa dokumen penting di rumah".
"Ohh aku kira seperti itu jika kau tak menyukainya aku akan segera meminta para maid untuk memasakkan apa pun yang kau suka".
"Ahh tidak tidak nyonya besar itu sudah sangat sempurna".
"Yaakk mommy".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo up lagi mimin ehh yang semangat yah puasanya kakak-kakak readers jangan lupa klik like, komen, tekan favorit dan VOTE sebanyak-banyaknya.
Terima kasih.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1444 H.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨