He'S Back

He'S Back
Episode 39



Hari ini Agneta berniat menjemput Regan, ia pikir ia bisa membawa Regan. Tetapi di luar dugaan, bukan hanya penolakan Regan, tetapi juga penjagaan yang ketat hingga Agneta tak bisa berkutik sama sekali.


Saat ini Agneta berada di dalam mobil SUV hitam milik Dave, dimana para bodyguard berada bersama mereka dan Regan tampak santai saja dengan memainkan robotan Batman miliknya. Agneta merasa tak memiliki ruang untuk berbicara dengan putranya. Dave memang tak melarang dirinya untuk menemui Regan, tetapi dengan penjagaan seperti ini karena takut Agneta membawa lari Regan. Dave sudah bisa menebak jalan pikiran Agneta.


'Sebenarnya apa yang sudah Dave lakukan pada Regan? Kenapa dia tampak biasa saja dan malah mengajaknya pulang ke rumah Ayah Dave daripada memilih pulang ke rumah kontrakan mereka. Aku mengenal Regan dan aku tau putraku itu tidak gila harta hingga betah bersama Dave karena harta dan serba ada. Ia yakin Dave sudah meracuni otak Regan dengan akal liciknya.' Batin Agneta.


Agneta sudah tak sabar sampai di rumah Dave dan berada berdua dengan Regan. Banyak yang ingin dia tanyakan pada putranya. Keinginan Agneta terkabul, karena mereka sampai di rumah Dave. Kali ini di penthouse milik Dave. Agneta beralasan akan menggantikan pakaian Regan di dalam kamarnya. Dan saat ada kesempatan itu, Agneta menarik Regan menuju sisi ranjang setelah mengunci kamar Regan.


"Kenapa Bunda?" tanya Regan dengan tatapan polosnya yang bingung.


"Apa kamu gak takut dan curiga? Kamu ini sedang di culik Om Velo!"


"Masa Ayah culik anaknya sendili? Ih Bunda ngaco, Bunda telalu banyak nonton sinetlon."


"Regan, Bunda serius. Om Vero itu jahat."


"Jahat gimana? Om Velo baik sama Egan, dia membelikan semua yang Egan mau."


"Itu hanya sogokan!"


"Sogokan apa? Ayah baik Bunda, bahkan Ayah yang nyelametin Egan dali Nenek jahat dan olang-olangnya. Ayah hebat tijuin meleka hingga pingsan dan K.O"


"Nenek jahat?" kening Agneta berkerut mendengar penuturan Regan barusan.


"Iya Nenek jahat yang bentakin Egan telus, milip monstel jahat di film powel langel. Dia bentakin dan malahin Egan telus. Selem Bunda, tapi Ayah cepet datang dan buat K.O meleka milip Batman." Agneta terdiam membeku berusaha mencerna ucapan Regan barusan. Nenek jahat?


"Apa kamu mengenalnya?" tanya Agneta.


"Tidak, tetapi dia bilang punya anak yang namanya Aiden. Namanya sama kayak nama Ayah Aiden yah."


Deg


"Mungkin dia culik Egan kalena kesel sama anaknya itu."


'Ibunya Aiden? Tetapi kenapa?'


"Bunda."


"Ah iya,"


"Bunda kenapa ngelamun? Kan Egan lagi celita pas Ayah Velo siksa meleka. Kelen pokoknya." Agneta hanya menampilkan senyuman kecilnya. Dia telah salah paham pada Dave dengan berpikir dialah yang menculik Regan dan memanfaatkan segalanya.


"Sekarang kamu ganti baju dulu yah, lalu kita makan." Regan mengangguk antusias.


***


Agneta melihat Elena berjalan memasuki kantor dengan wajah yang tampak emosi. Karena rasa penasarannya, Agneta mengikutinya karena dia ingin memastikan. Kenapa? Apa karena hubbungannya dengan Aiden membuatnya menculik Regan dan berusaha mencelakainya.


"Mom?" seru Aiden saat melihat Elena datang. Agneta tak bisa mengikuti mereka karena mereka masuk ke dalam ruangan Aiden dan itu di luar jangkauan Agneta.


"Kau ingin mengetahui segalanya?" pertanyaan itu spontan membuat Agneta berbalik ke belakangnya dan Dave berdiri di sana dengan angkuh dan dingin.


"Ikut denganku."


Agneta berjalan mengikuti Dave menuju ke dalam ruangannya. Dave mengetik sesuatu di dalam laptopnya lalu mengarahkan laptop itu pada Agneta yang masih berdiri di hadapan meja kerjanya. "Kau bisa lihat dan dengar sendiri."


"Kau sudah gila Aiden!"


"Kau akan rugi dan semua perusahaan ini akan jatuh pada Davero, anak sialan itu!" Agneta menoleh pada Dave yang berdiri menatap keluar melalui kaca pembatas. Dave tampak tak terusik mendengar penuturan Elena. Padahal Agneta mengetahui kalau Elena sangat baik pada Dave, tetapi ternyata itu hanya kedok.


"Kau yang lebih pantas menduduki kursi presdir di perusahaan ini! Menikahlah dengan Catherin dan beli saham milik kembaran Dave lalu kau tendang jauh Dave! Dia tak pantas menduduki jabatan di perusahaan ini walau sebagai Office Boy! Dia itu pantasnya hidup di jalanan!"


Agneta semakin menutup mulutnya tak menyangka. Elena adalah tante Dave dan dia tega melakukan ini pada keponakannya sendiri.


"MOM!"


"Sampai kau gelap mata seperti ini karena harta? Bukankah ini memang haknya Dave!"


"Omong kosong apa? Berhenti bersikap baik padanya. Kau harus menjadi Presdir perusahaan ini. Jadi jangan hancurkan rencana Mom, bertunanganlah dengan Cathrin dan tinggalkan janda sialan itu!"


"MOM!"


"Aiden!"


"Aku ini Ibumu, dan aku melakukan ini karena aku menyayangimu. Semua ini untukmu, Nak. Bukan Mom!"


"Pokoknya kalau kamu tidak menuruti keinginan Mom! Maka janda itu akan menerima akibatnya!"


Agneta semakin tak menyangka. Ya Tuhan, karena harta keluargapun rela saling berkhianat. Manis di depan, tetapi menusuk di belakang. Agneta tak perduli dengan ucapan terakhir Elena yang sangat jahat. Dia lebih memilih melihat ke arah Dave yang masih santai berdiri menatap keluar jendela. Auranya dingin dan tak tersentuh, sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga Dave? Kenapa mereka berebut seperti itu.


Agneta berjalan mendekati Dave dan berdiri di sampingnya. "Kamu tak marah mendengarnya?" ucap Agneta melirik Dave yang masih menampilkan wajah datar tak tersentuh.


"Aku sudah terbiasa mendengarnya," ucap Dave dengan nada tenang dan tegas.


"Sebenarnya apa tujuanmu menikahiku, Dave? Kenapa kamu juga mengatakan hal lain pada Regan?" tanya Agneta, dia terlanjur penasaran dengan semua ini.


"Kenapa sekarang kamu menanyakan alasannya? Bukankah kemarin kau selalu mengambil kesimpulan sendiri?" tanya Dave yang kini menoleh ke arah Agneta dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Setidaknya aku tidak akan lelah terus berpikir, aku ingin tau alasannya."


Dave menyeringai kecil. "Kalau kau tau alasannya, apa kau akan menerima lamaranku?" tanya Dave.


Agneta terdiam, dia tau Dave sangatlah licik. Dia akan selalu memanfaatkan apapun saat ada kesempatan. "Aku hanya akan mempertimbangkannya, mungkin."


Dave masih berdiri menatap tajam Agneta di hadapannya dengan tatapan misterius membuat Agneta selalu bertanya-tanya, apa yang di pikirkan olehnya.


"Elena sudah berani menculik Regan."


"Jadi itu benar," gumam Agneta dengan tatapan bimbang.


"Kau sudah mendengarnya? Baguslah, jadi kau tak akan menuduhku memfitnah oranglain." Dave menghapus jarak di antara mereka berdua, membuat Agneta semakin menegang tetapi dia tak beranjak ataupun berjalan mundur.


"Aku melakukannya karena kau dan Regan."


"Aku?"


"Aku tidak ingin kalian terutama putraku di sakiti atau di lukai orang lain. Apalagi dia wanita yang akan menjadi calon mertuamu kalau kau memilih Aiden. Setelah kasus penculikan itu, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh kalian bahkan menyakiti kalian."


Agneta menahan nafasnya saat tangan Dave menyusuri tulang pipinya perlahan. "Bagaimana? Kau mau bekerjasama denganku melindungi putra kita, Neta." Dave berbisik lembut di telinga Agneta membuat bulu-bulunya meremang. Agneta mendorong dada Dave hingga sedikit menjauh lalu ia beranjak pergi tanpa kata.


***