He'S Back

He'S Back
Episode 109



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagii...


BRAKKK


Pintu terbuka dengan keras nampak Ethan dengan raut wajahnya yang datar. Sean yang baru saja selesai membersihkan badan melihatnya dengan tatapan tak kalah dingin.


"Lepaskan ibuku jika kau tidak bisa menjaganya".


"Siapa yang berhak atas dirinya ?".


"Wanita jika sudah menikah sepenuhnya adalah milik suami mereka, suami lebih berhak dari pada orang tua mereka bahkan ayah mereka sekalipun".


"Kau menikah dengannya atas izinku dan atas permintaanku, jadi kau harus melepasnya sesuai dengan permintaanku lagi".


"Pernikahan ini aku yang menjalaninya bukan kau, mengapa kau harus repot-repot mengurusi urusanku ?".


"Karena dia ibuku, aku anaknya aku tentu berhak atas dirinya".


"Jika aku tidak ada kau tidak akan pernah ada di dunia ini".


"Kau pikir hanya kau pria yang ada di dunia ini tuan muda Sean".


"Ethan berhenti berdebat denganku, bersikaplah sopan ke pada daddy".


"Aku akan menghormatimu jika kau menghormati ibuku dad".


"Aku menghormati mommy-mu, menghormati setiap keputusan yang ia ambil bahkan tanpa memikirkan perasaanku".


"Kau masih anak kecil, bersikaplah seperti anak seumuran denganmu".


"Aku memang anak-anak namun aku bisa melindungi mommy-ku tanpa campur tangan darimu".


"Duduk dan diamlah Ethan bermainlah dengan mainanmu, tidak usah mencampuri urusan orang dewasa".


"Tidak perlu, aku tegaskan sekali lagi lepaskan mommy-ku jika kau tidak bisa menjaganya dan tidak bisa menemukan pelaku yang hampir membunuh ibuku"


"Dan ingatlah dad aku akan menagih ini sesuai dengan waktu yang aku berikan padamu".


**BRAKKK**


Sean melempar handuk kecil yang melilit di lehernya. Ia masih mengenakan bathrobe putih yang menutupi tubuh kekarnya. Dia menyambar telepon genggamnya dan langsung menghubungi Andrew.


"Andrew katakan".


"Bagus".


"Bawa dia besok malam padaku".


"Astaga apakah dia benar-benar anakku aku sedikit meragukannya namun aku bisa melihat diriku padanya".* Batin Sean.


Malam berlalu begitu cepat semua orang kembali pada aktivitas masing-masing. Allis pun masih di rawat inap dia belum sepenuhnya pulih apa lagi tulang kakinya yang retak sedikit parah.


"Selamat pagi Mr".


"Hmm kau sudah memintanya untuk kemari ?".


"Sesuai rencana Mr".


"Bagus, kita akan memulainya dari sini".


Jam makan siang semua orang berkerumunan menuju kantin kantor. Hanya Sean yang masih berada di dalam ruangan menanti kedatangan mangsa. Ditengah kesibukannya matanya melihat notifikasi yang masuk kedalam telepon genggamnya.


"Aku suka mangsa yang penurut seperti ini".* Batin Sean.


Sean menekan remote control untuk membuka pintu ruangannya. Nampak sosok wanita yang bertubuh tinggi, berkulit putih, bibir tebal yang dipoles lipstik merah menyala. Bajunya yang pas-pasan semakin memperjelas lekuk tubuhnya. Tangannya menenteng sebuah tas cokelat yang berisikan makan siang.


"Selamat siang honey".


"Aah kau sudah datang sayang".


Di panggil dengan sebutan sayang membuat wajah putihnya merona. Senyuman manis namun sedikit sensual terbit di bibir tebalnya. Dia berjalan berlenggak lenggok menghampiri Sean yang masih setia duduk di kursi kebesarannya.


"Lama tak bertemu honey".


Cup


Wanita itu mencium singkat pipi Sean dengan berani. Dia bahkan tak ingat tentang seorang Sean yang tak menyukai di sentuh oleh sembarang orang. Sean mengepalkan tangannya kuat menahan amarah yang semakin membuncah ketika melihat wajahnya. Namun semua itu ia tahan demi rencananya yang telah ia susun dengan rapi.


"Aku merindukanmu".


"Nona Jessie aku jauh lebih merindukanmu".


Jessie, wanita cantik yang akan menjadi mangsa Sean kali ini. Mantan tunangannya itu sangat suka bermain-main namun tidak bisa mengakhiri permainan dengan mulus. Sungguh bodoh sekali.


"Aku membawakanmu makan siang, makanlah aku akan menyuapimu".


"Ahh tidak usah sayang, aku tidak ingi tanganmu yang cantik ini bersentuhan dengan gagang sendok yang kasar".


Cup


"Maafkan aku sayang karena satu bulan ini aku pergi ke Amsterdam, maafkan aku karena tidak memberitahukanmu".


"Tidak apa-apa sayang".


"Oh iya sayang bukankah kau sudah menikah dengan wanita jala*ng itu ?".


Sean menghentakkan sendoknya dengan keras sehingga menimbulkan suara yang tak enak di dengar.


"Ahh maafkan aku sayang aku terlalu bersemangat karena makanan ini sangat enak".


"Siapa yang kau maksud dengan wanita jala*ng".


"Istrimu, Allisya pemilik perusahaan perhiasan itu".


"Ahh iya namun aku tidak menganggapnya sebagai istri".


"Benarkah ? Bukankah dia sangat cantik ?".


"Tak lebih cantik dari mu sayang, kau jauh lebih cantik dan juga sangat seksi".


"Kau selalu saja membuatku tersipu sayang".


"Aku serius sayang".


"Aku sangat tidak puas dengan pelayanannya".


"Benarkah ? dasar istri yang tidak berguna memberikan kepuasan untuk suami saja tidak bisa cihh benar-benar tidak bisa diandalkan".


"Kau benar, mungkin kau bisa memuaskanku sayang".


"Kapan ? kapan kau menginginkan itu katakan padaku ? Aku akan memuaskanmu bahkan akan membuatmu melayang sampai ke langit ke tujuh".


"Aku akan menantikan waktu itu tiba sayang, tunggulah beberapa minggu lagi aku akan menceraikannya dan menikah denganmu".


"Benarkah itu ? Astaga aku sangat bahagia sekali sayang".


"Bersiaplah aku akan memanjakanmu hari ini, membawamu ke salon dan membuat dirimu berkilau dengan ratusan berlian yang menempel pada tubuhmu".


"Kau memang yang terbaik sayang".


"Ayo kita akan pergi sekarang".


"Makan siangmu sayang ?".


"Makan siang itu tak lebih menarik dari dirimu dan juga senyuman manismu sayang".


Jessie dibuat mabuk kepayang oleh perlakuan Sean yang tiba-tiba semanis dan sehangat ini. Akankah benar semua yang Sean katakan padanya entahlah dia mana peduli, yang ia tahu apabila Allis mati atau koma atau lumpuh sekali pun dan tentunya Allis pasti akan di ceraikan dan semuanya akan kembali menjadi miliknya.


"Kau hanya batu karang yang kebetulan sekali dihinggapi oleh kerang dengan mutiaranya yang berharga Allis".* Batin Jessie.


Benar sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sean mereka kini berada di sebuah pusat perbelanjaan. Jessie dengan semangat memilih barang-barang branded dari baju, sepatu, jam tangan, gelang, kalung, high heels bahkan tas. Semua tak luput dari genggamannya dia memilah-milah dan mencoba. Sean hanya duduk sembari memperhatikan saja.


"Kau sudah puas sayang ?".


"Sangat puas bahkan sangat sangat sangat puas".


"Kau hanya menghabiskan satu persen dari uangku dan kau mengatakan kau sudah puas".


"Kau yakin hanya ini saja yang kau mau ?".


"Hmm iya masih ada besok dan besok lagi kan sayang".


"Jika begitu ayo kembali aku sedikit lapar".


"Bagiamana jika makan di restauran yang disana ?".


"Aku tidak ingin makan apapun, aku ingin memakanmu sayang".


"Hey aku jadi malu sayang".


"Ayo kembali".


Tangan Jessie merangkul mesra lengan Sean. Sean hanya meliriknya sejenak lalu kembali menatap kearah jalanan. Mereka kembali dengan mobil putih yang membawa mereka.


"Bersemangat dan bersenang-senang lah untuk malam ini setelah itu kau tidak akan pernah melihat matahari bahkan dunia, kau hanya akan berteman dengan kegelapan bahkan berteman sangat baik dengannya, bersiaplah Jessie".* Batinnya.


🌼 Bersambung 🌼


Hallo up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya btw sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lampak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku _ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺


Selepas membaca jangan lupa rutinitasnya klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨