
Dave sudah berdiri di depan pintu kamar Agneta, tadi ia sudah mengetuknya dan sekarang sedang menunggu sang empu membuka pintunya. Tak lama pintu bergerak dan terbuka menunjukkan sosok Agneta dengan balutan gaun yang tadi siang di belinya juga dengan balutan high heels yang ia pilihkan, dan begitu kontras dengan warna gaun dan kulit putih Agneta.
Agneta terlihat sangat cantik dan seksi di mata Dave, ingin sekali sekarang ia membatalkan undangan itu dan mendorong Agneta kembali ke dalam kamarnya dan menghabiskan malam panas berdua dengan penuh gairah yang membara.
"Sir," seruan itu menyadarkan Dave dari lamunannya. Dave berdehem kecil untuk menormalkan detak jantungnya dan berbalik meninggalkan Agneta di belakangnya. Gairahnya langsung surut hanya karena Agneta memanggilnya Sir. Seketika bayangan Aiden muncul di benaknya membuat Dave mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celananya.
Agneta masih memperhatikan Dave di hadapannya yang tampak gagah dan tampan dengan balutan jas berwarna biru tuanya yang begitu rapi. Rambutnya yang di sisir rapi dengan menambah gell membuat rambut pria tampan itu berkilau indah dan semakin mempertajam wajahnya yang begitu tampan. Agneta sadar, sejak tadi tatapan Dave seperti ingin menelanjanginya, tetapi bukannya kesal atau marah. Agneta malah merasa malu dan gugup di tatap seperti itu, apalagi melihat bibir seksi milik Dave, yang tanpa sadar selalu Agneta idamkan.
Agneta berjalan mengikuti Dave yang sudah masuk ke dalam lift, tak ada yang membuka suara satu sama lainnya. Keduanya tetap fokus dengan pikiran mereka masing-masing hingga lift terbuka tepat di lobby hotel dan sopir pribadi Dave sudah berdiri di dekat pintu keluar hotel.
***
Mereka berdua sampai di tempat acara teman Dave, Agneta beberapa kali menepis tangan Dave yang melingkar di pinggangnya saat mereka turun dari mobil.
"Lepaskan!" ucap Agneta. Dave tidak menjawab dan malah semakin mempererat rengkuhannya membuat tubuh mereka berdua saling menempel satu sama lainnya.
Agneta memutar bola matanya jengah saat melihat tatapan tak terbantahkan dari Dave. Ia akhirnya diam dan menuruti Dave. Mereka berdua di sambut baik oleh tuan rumah.
Dave tampak berbincang dengan temannya dan tangannya tetap melingkar posesive di pinggang Agneta. Agneta sudah lelah juga haus sebenarnya, apalagi ia mulai merasa jenuh karena pembahasan bisnis di antara mereka.
"Kamu haus?" tanya Dave dengan nada yang sangat lembut bahkan mampu menggelitik Agneta.
"Ya," jawab Agneta.
Dave berpamitan pada temannya dan mengajak Agneta menuju tempat minuman dan mengambilkan minuman berwarna putih. "Ini tak terlalu kuat alkoholnya, aku tidak mau kamu mabuk."
"Apa kamu tidak sedang menipuku?" tanya Agneta penuh kecurigaan membuat Dave menaikkan sebelah alisnya.
Dave tau kemana arah pembicaraan Agneta. "Aku lebih suka melakukannya saat kamu sadar 100%," bisik Dave tanpa malu bahkan masih merengkuh pinggang Agneta dan semakin menariknya membuat tubuh keduanya sudah menempel.
"Lepaskan," gerutu Agneta mendorong pelan dada Dave dan memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Antara malu dan kesal.
Agneta meneguk minuman itu hingga habis, dan rasanya tak begitu pahit dan aromanya juga tak begitu menyengat. Dave tersenyum kecil bahkan hampir tak terlihat melihat sikap Agneta yang begitu menggemaskan. Ia tidak tahan untuk tidak mengecup bibir itu tetapi ia masih memikirkan kondisi mereka saat ini.
Acara demi acara telah berlangsung dan Agneta bersyukur karena akhirnya mereka bisa kembali pulang ke hotel. Ia sudah tidak tahan lagi dan ingin segera menghubungi Regan.
Sesampainya di depan kamar mereka, Agneta melangkah menuju kamarnya tetapi gerakannya terhenti saat mendengar panggilan Dave. Agneta menoleh ke arah Dave saat pintu kamarnya terbuka. Dave berjalan dengan langkah pasti ke arah Agneta membuat Agneta semakin bingung dan berdebar.
"Terima kasih," ucap Dave membuat Agneta membelalak lebar. Seorang Davero berterima kasih padanya.
"Untuk?" tanya Agneta masih menjaga nada suaranya agar tak terdengar lemah dan lembut.
"Sudah menemaniku ke undangan temanku," ucap Dave.
"Ya," jawab Agneta bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Deg
Agneta mematung di tempatnya saat Dave mengecup keningnya dengan mudah, bahkan tatapan mereka masih beradu dengan tatapan kaget Agneta. Jarak di antara mereka berdua begitu dekat hingga Agneta mampu merasakan nafas Dave di kulit wajahnya.
"Good Night, kamu cantik malam ini," bisik Dave setelah mengecup bibir Agneta yang terbuka sedikit dan ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Agneta tersadar dari keterkejutannya saat mendengar pintu kamar Dave tertutup. Dengan segera ia masuk dan menutup pintu kamarnya. Agneta menyandarkan punggungnya ke pintu seraya memegang dadanya yang berdebar kuat.
Sedangkan di dalam kamar Dave, ia tampak frustasi. Ia melemparkan jasnya ke arah sofa dan menarik dasinya dengan paksa. Ia sungguh frustasi karena gairah sialan ini. Ia sudah kelepasan dengan mengecup bibir Agneta, dan sialnya itu tak cukup meredakan gairahnya. Ia menginginkan lebih.
Dave melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi air dingin di bawah guyuran shower.
***
Aiden baru saja menginjakkan kakinya di rumah kediamannya. Ia lelah dengan pekerjaan hari ini yang begitu sibuk dan menumpuk.
"Aiden,"
"Kenapa Mom?" tanya Aiden saat melihat Ibu nya di ruang keluarga.
"Kemarilah dulu," ucap wanita itu dengan sangat antusias.
Aiden yang sudah melepaskan jas miliknya juga melipat kemejanya hingga siku. Aiden duduk di sofa single yang ada di sana, tepat dekat perapian.
"Kamu ingat dengan keluarga Pranoto?" tanya ibu Aiden.
"Ya, dia salah satu client di kantor," ucap Aiden.
"Kau juga tahu bukan kalau perusahaannya itu masuk dalam kategori bisnis tersukses di Indonesia." Ibu Aiden masih menerangkannya.
"Jelaskan saja apa inti dari pembicaraan Mommy?" tanya Aiden yang tampak sudah lelah.
"Mommy ingin mengajukan lamaran untuk putri keduanya, Chaitlyn Pranoto. Dia akan menjadi pewaris tunggal karena Kakaknya sudah meninggal dunia. Dan dengan kekuasaan keluarga Pranoto kamu bisa membeli saham milik Devara kembara Dave, dan kamu akan menjadi presdir di WT Corp Group. Kamu tidak akan selalu di bawah Davero lagi," jelas Ibu Aiden.
"Mom, Aiden sudah katakan. Perusahaan itu milik keluarga Dave, dan Dave berhak memilikinya, apalagi dia yang selama ini berjuang untuk kesuksesan WT corp kembali setelah hampir gulung tikar."
"Kau bodoh atau apa Aiden? Wiratama itu perusahaan keluarga Ayahmu. Paman dan Ayahmu yang telah membangun perusahaan itu, kau berhak mendapatkan saham lebih besar daripada Dave."
"Mom, Aiden lelah. Aiden selalu katakan pada Mom, Aiden tidak tertarik dengan perusahaan. Bahkan menjadi wakil Dave saja Aiden tidak mau kalau Mom yang tidak memaksa."
"Lagian Aiden akan menikahi Agneta," tambah Aiden sebelum ia beranjak dari duduknya.
"Apa yang kau harapkan dari Janda beranak satu itu Aiden? Kau hanya akan mendapatkan kesusahan dengan menikahi dia!"
"Mom, Aiden lelah dan tidak ingin berdebat dengan Mommy," ucap Aiden berlalu pergi meninggalkan ibu Aiden yang tampak murka.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk menjauhkan Aiden dengan janda penggoda itu!"
***