
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi.....
"Mrs"
"Mrs"
"Mrs"
"Hah kenapa ?".
"Apakah kau melamun ?".
"Ahh tidak, mungkin aku terlalu lelah".
"Apa katamu tadi ?".
"ahh maksud saya ini"
Sonia menyerahkan sejumlah berkas untuk keperluan meeting hari ini.
"Apa ini ?"
"Apakah kau lupa, bukannya hari ini meeting mingguan dengan tuan Andrew dan ini berkasnya.
"Ohh astaga aku benar-benar lupa Sonia, pukul berapa itu ? apakah masih sempat ?".
"Lumayan".
"Baiklah aku akan segera pergi ?, kau apakah ikut juga ?".
"Memangnya saya pernah ikut denganmu Mrs ?".
"Ahh iya iya aku lupa, baiklah aku akan pergi".
Allis segera bergegas keluar dari ruangannya. Apakah ini efek dari lembur kemarin sehingga ia tak begitu fokus. Lagi pun baru kali ini Andrew tak mengabarinya.
Tak sampai satu jam ia mengendarai mobil kini ia sampai di perusahan Smith. Ia berjalan masuk sembari tangannya mengutak-atik layar handphonenya untuk menghubungi Andrew.
"Selamat pagi tuan Andrew".
"Dimana saya bisa menemuimu ?, apakah ditempat biasa ?".
"Benarkah ?".
"Ahh tidak apa-apa".
"Baiklah".
"Astaga sial sekali tapi tidak apa-apa".
Allis kembali berjalan keluar karena meeting mingguannya dibatalkan. Andrew lupa mengabarkan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan bisnis di luar kota.
Namun baru saja sampai loby perusahaan Andrew kembali menghubunginya. Ia mengabarkan bahwa minggu depan bosnya akan kembali dan memintanya untuk datang kembali.
.
.
.
Malam kala itu, Allis bersiap-siap untuk kembali pulang. Kebetulan sekali ban mobilnya pecah jadi ia tak bisa dijemput terpaksa ia memesan taksi online untuk menjemputnya pulang.
Allis menunggu dengan sabar, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Allis menatap sekeliling sialnya ia menunggu di tempat yang sedikit jauh dari keramaian. Ia menelan ludahnya kasar namun mencoba untuk berpikir positif mungkin orang yang akan menanyakan alamat.
Sosok pria tinggi semampai dengan postur tubuh yang tegap. Nampak kaki jenjang melangkah mendekatinya. Wajahnya yang tertutup oleh topi hitam yang bertengger di kepalanya. Allis berusaha menghindar dengan melangkah mencoba menjauh dari pria itu.
Namun sialnya ia kalah cepat tanganya ditarik dengan keras sehingga wajahnya menubruk dada bidang pria itu. Dengan sigap pria itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Allis.
Allis yang meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Bukannya dilepas malah pelukan itu semakin erat. Allis menggigit keras apa yang bisa ia gapai, lengan yang tertutup oleh kemeja hitam menjadi sasaran utama Allis.
Allis menggigitnya dengan kuat namun pria itu tak berkutik ia masih dengan erat memeluk Allis.
"Lepaskan aku hey pria cab*l lepaskan aku ".
"Pria mes*m lepaskan aku, bajin*an lepaskan aku dasar breng*ek hey".
Allis berteriak sembari meronta-ronta didalam pelukan pria yang entah siapa itu. Siapa sangka pria itu menunduk lalu menci*m bibir Allis, Allis terdiam tak berkutik. Namun tubuh yang bergetar menandakan rasa takut yang teramat besar. Setetes air mata mengalir dari pelipisnya.
"Rasanya masih sama, manis".
Kalimat yang keluar dari bibir pria itu membuat allis tersadar. Matanya menatap pria itu buram rasa amarah yang memuncak membuat ia dengan geram menarik leher pria itu lalu menggigitnya kuat sehingga Allis dapat merasakan rasa amis dan asinnya darah.
Dan sialnya lagi-lagi pria itu tak berkutik walau darah lehernya mengalir.
"ahh Aku semakin menyukainya".
Allis menarik topinya namun rambut panjang segera menutupi seluruh wajah pria itu. Dengan sigap juga pria itu melepaskan pelukannya dengan Allis. Lalu segera pergi meninggalkan Allis yang masih memegang erat topi hitam itu.
.
.
.
Disinilah Allis ia menatap wajahnya didepan cermin. Semenjak tadi air matanya tak pernah berhenti mengalir. Ia menatap jijik dirinya, lembaran tissue habis berserakan di atas meja rias.
"Untuk kedua kalinya, tubuh ini kembali membawa petaka didalam hidupku, lantas aku harus bagaimana lagi untuk menghindar dari bayangan masa lalu, masa lalu kelam yang tak kunjung berakhir bukannya berakhir malah terungkit kembali, Tuhan apakah kau yakin takdirku ini tidak tertukar dengan takdir orang lain".
Hati allis tak henti-hentinya bergumam bertanya-tanya kepada takdir. Ia beranjak bangun dari kursi lalu kembali masuk kedalam kamar mandi. Ini sudah kesekian kalinya ia melakukan kegiatan mandi itu. Jika bisa mungkin ia sudah mati ditengah dinginnya air yang menimpa dirinya.
Kamar sunyi nan senyap membuat Allis termenung. Rasanya benar-benar hampa ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya ingin menangis menangis dan menangis. Namun ketukan pintu membuat ia segera menghapus air matanya lalu segera beranjak membuka pintu kamar.
"Nyonya, nona Agatha menunggu".
"Tolong mintalah dia untuk naik".
"Baik nyonya".
Tak lama Agatha sampai ia tanpa basa-basi langsung saja membuka pintu kamar Allis. Ia mendapati Allis sedang meringkuk menangis diatas ranjang.
"Hey are you oke ?".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo apa kabar ? author lama banget yah up-nya hehe author lagi sibuk nyari kerja kesana kemari capek jadi kaum rebahan hehe curhat sedikit nggak papa kali yah..
Jangan lupa kasih like yah kakak-kakak para readers, kemudian komentar dan juga VOTE sebanyak-banyaknya dan jangan lupa untuk follow akun author.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.