He'S Back

He'S Back
Episode 116



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi...


"Katakan bagaimana harimu di sekolah ?".


"Biasa saja grandfa".


"Bagaimana dengan wanita-wanita cantik di sekolahmu ?".


"Aaahh mereka sangat membosankan".


"Hahah mana mungkin seperti itu, kau tidak seperti daddy-mu waktu kecil dulu dia selalu dikejar-kejar oleh wanita cantik".


"Itu adalah suatu keinginan terbesarku, tidak ingin sama dengan daddy grandfa".


"Tapi kau jauh lebih tampan darinya"


"Bualan itu, darimana daddy memungutnya ?".


"Sean ?".


Sean, dia pulang lebih awal dari hari sebelumnya. Pekerjaannya ia bawa ke rumah supaya dia dengan mudah untuk mengerjakannya. Andrew pun ikut bersama dengannya.


"Kau pulang lebih awal ?".


"Selamat siang tuan besar".


"Selamat siang juga untukmu Andrew".


"Tikus itu kembali".


"Benarkah ?".


"Hmm".


"Baguslah lebih cepat lebih baik".


"Andrew, kembali ke perusahaan Allis".


"Baik Mr".


"Kalian akan makan siang bersama ?".


"Hmm apakah mom and dad akan ikut ?".


"Sepertinya tidak, ajaklah adikmu jika tidak dia akan mengamuk nanti".


"Andrew hubungi Agatha minta ia datang".


"Baik Mr".


.


.


.


"Mr masker dan kacamata anda"


Andrew memberikan kacamata hitam dengan masker hitam kepada Sean. Itu adalah persyaratan yang harus ia penuhi ketika dia akan menemui Allis di luaran sana itu adalah persyaratan yang diajukan oleh Allis.


Memasuki area restauran mata Sean bagai mata elang yang sedang mencari mangsa tajam dan membunuh. Matanya terpaku menatap sosok wanita cantik yang tertawa kecil dengan seorang pria yang entah dia pun tidak tahu.


"Kau sudah melakukan reservasi sebelumnya ?".


"Tentu Mr, saya akan kembali".


Andrew berjalan menuju meja kasir dan menanyakan dimana ruangan yang sudah ia pesan. Mata Sean tak beralih menatap sosok wanita yang amat sangat ia kenali itu.


"Lewat sini Mr".


"Hmm".


"Saya akan menghubungi nyonya Allis terlebih dahulu".


"Tidak perlu".


"Ap- baiklah Mr".


"Ingin sekali aku memukul kepalanya".*Batin Andrew.


Mereka berjalan dengan seorang pelayan yang mengantar mereka ke ruangan mereka. Sampai pada meja tempat dua orang yang sedang berbincang sembari tertawa kecil. Sean berdecih sembari menatap pria itu dengan ujung matanya.


"Permainan apa lagi yang kau mainkan mautmu semakin dekat".*Batinnya.


"Tolong beberapa hidangan favorit disini sajikan semuanya".


"Baik tuan".


"Dan juga tunggu Mr apakah anda menginginkan sesuatu ?".


"Tidak".


"Itu saja terima kasih".


"Baik tuan".


"Kapan Agatha akan sampai ?".


"Sebentar lagi Mr".


Andrew melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Entahlah mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Kakinya sedikit bergemetar dan juga tangannya berair. Peluh pada keningnya menampakan kegugupan yang ia alami saat ini.


"Kau sakit Andrew ?".


"Hah ke-kenapa Mr ?".


Setelah sekian lamanya pertanyaan itu kembali terdengar di telinga Andrew. Apakah dirinya terlalu kentara sekali ataukah wajahnya sangat dipenuhi oleh kegelisahan atau apa sampai Sean yang tak menatapnya saja bisa merasakan apa yang terjadi padanya saat ini.


"Ahh tidak Mr mungkin saya sedikit kehausan iya kehausan".


"Astaga alasan bodoh macam apa itu Andrew ".* Batin Andrew.


"Bodoh".*Batin Sean.


Cklekkk


"Kakak".


Sean dan Andrew menatap bersamaan kearah dimana suara itu berasal. Nampak Agatha dengan berkacak pinggang di ambang pintu dengan seseorang di belakangnya.


"Dimana sopan santun mu Agatha ?".


"Cihh kau selalu saja seperti itu, kau ini sudah mempunyai istri kak".


"Apa maksudmu ?".


"Allis masuklah".


Nampak Allis dengan wajahnya yang tertunduk masuk kedalam ruangan. Ia tersenyum kikuk kepada Sean yang menatapnya dengan tatapan datar.


"Mengapa kau tidak memintanya datang kemari dan makan bersama kita ? apakah kau tidak ingat bahwa kau telah menikah ?".


"Untuk apa memintanya datang makan bersama dengan kita ?".


"Duduklah Allis".


"Tadi aku bertemu dengannya di depan dia hendak kembali, apakah kau tidak bertemu dengannya ?".


"Bertemu bahkan sangat berpapasan".


"Lalu mengapa kau tidak berbicara kepadanya dan memintanya untuk makan bersama disini".


"Untuk apa ?".


"Untuk apa katamu ? haish benar-benar manusia batu".


"Kau itu suaminya dan dia istrimu, kau berikan perhatianmu untuknya jangan hanya untukku, mommy dan daddy lalu bagaimana jika dia mencari perhatian kepada pria lain ? kau juga yang akan menyesal".


"Tanpa kau suruh, dia sudah mencari perhatian pada pria lain"


"Hah mana mungkin aku mengenal temanku ini lahir dan batin".


"Aku melihatnya dengan kedua mataku ini".


"Apa ?".


"Temanmu sedang bersama dengan pria lain".


"Kau pasti salah kak".


"Terserah, aku tidak peduli".


Deg


Rasanya hati Allis dihantam oleh bongkahan batu. Terasa begitu sesak saat bernafas matanya menyiratkan luka mendalam. Matanya menatap wajah Sean yang sedang menatapnya dengan datar dan dingin. Setelah satu bulan ini satu bulan yang mereka jalani tak adakah rasa peduli dalam hati Sean untuknya. Apakah sebegitu tidak diinginkannya dirinya ?.


"Apakah aku yang salah ?".* Batin Allis.


"Dia hanya temanku, kami kebetulan sekali bertemu disini".


"Kau dengarkan itu kak, dia hanya temannya".


"Iya terserah".


"Untuk apa mengundangnya kemari dia sudah kenyang bersama dengan temannya itu".


"kak jangan berkata seperti itu, dia istrimu dia berhak berada dimana pun kau berada kak".


"Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan".


"Andrew, duduk dan makanlah".


"Ohh Andrew hallo astaga aku benar-benar tidak memperhatikanmu tadi".


Agatha tersenyum sembari melambai-lambai kecil kepada Andrew yang berdiri dibelakangnya.


"astaga ada apa dengan jantungku ? mengapa debarannya semakin kencang saja ? apakah aku sakit jantung aku harus menghubungi dokter Stefan ? ya Tuhan senyuman manis nona muda sangatlah indah ahh aku meleleh".*Batin Andrew.


"Selamat siang nyonya Allis dan juga nona muda".


"Selamat siang untukmu juga Andrew".


"Makanlah Andrew duduklah kemari".


"Terima kasih nona muda".


"Hey bukankah kita teman apakah kau lupa ? ahh kau ini selalu melupakan segalanya".


"Aku tidak lupa nona muda aku hanya tidak fokus, jantungku terus saja berdebar kencang aku takut kau mendengarnya".


"Tidak nona muda tentu saja saya mengingatnya".


"Baguslah, ayo makanlah makananmu".


Selepas makan siang bersama Allis kembali dnegan Agatha yang mengantarnya. Di sepanjang jalan perkataan Sean terus saja terngiang-ngiang di telinganya. Berputar-putar bagai film di dalam kepalanya. Dia hanya termenung memikirkan itu dia bahkan tidak mendengar semua curhatan Agatha.


"Sudah sampai wahh rupanya masih sama tak ada yang berubah seperti terakhir kali aku kemari".


"Ahh iya kau ingin mampir, kau menginginkan sebuah gelang aku mempunyai rancangan gelang terbaru apakah kau ingin melihatnya ?".


"Benarkah ? aku sangat ingin sekali tapi di kantor pekerjaan sangat menumpuk, bagaimana jika aku melihatnya di rumah saja kau bawa saja rancangannya ?".


"Baiklah, aku akan membuatkannya khusus untukmu dan mommy".


"Baiklah sampai jumpa, hati-hatilah jalan raya sangat padat disiang hari seperti ini".


"Baik baik kakak iparku yang cantik".


Allis tersenyum lalu melakukan cupika cupiki pada Agatha. Mereka terlihat begitu akrab terlihat seperti adik dan kakak kandung. Sungguh Allis tidak menyangka bahwa dirinya akan menemukan keluarga yang begitu baik kepadanya. Namun sialnya dia malah kembali bertemu dengannya, dengan sosok yang amat ia benci dalam hidupnya, namun sepertinya kebencian itu mungkinkah perlahan akan menjadi rasa cinta itulah yang menjadi beban pikirannya saat ini.


.


"Ini tuan Andrew rekaman cctv yang ada minta".


"Terima kasih pak, kau bisa kembali bekerja"


"Baik tuan Andrew".


"Mr rekaman cctv yang ada minta".


"Putar Andrew".


Sepulang dari makan siang bersama Sean langsung menuju mansion besarnya. Dirinya merasa aneh karena tiba-tiba saja dirinya dirundung oleh rasa amarah yang begitu besar. Bahkan Andrew saja merasa bingung kenapa tuannya itu tiba-tiba menginginkan rekaman cctv pada restauran yang mereka datangi beberapa saat lalu.


"Stop".


"Perhatikan itu Andrew".


"Itu nyonya Allis Mr".


Dengan sekali lihat tanpa harus memperhatikan lebih dalam lagi. Andrew dapat mengenali bahwa wanita yang ada pada video rekaman itu adalah istri dari tuannya. Ahh lagi pula mana berani dia memperhatikan Allis lebih dari lima belas detik bisa-bisa bola matanya sudah dibuat keluar oleh Sean.


"Tanpa kau beritahu itu istriku aku sudah mengetahuinya Andrew".


"Ya Tuhan jika kau sudah tahu mengapa kau harus memintaku untuk melihat istrimu itu".*Batin Andrew.


"Berhenti mengumpati ku di dalam hatimu itu Andrew jika tidak aku akan mengeluarkan hatimu lalu memberikannya kepada Boni yang sedang kelaparan".


"Matilah".*Batin Andrew


"Maafkan saya Mr".


"Lihat pria yang bersama dengannya".


Andrew Garfield pemilik mata dan insting yang kuat di antara semua anak buahnya yang lain. Sean begitu memercayai dirinya menyerahkan keselamatannya pada Andrew Garfield. Dia begitu istimewa dan juga begitu kuat di matanya.


"Dia adalah orang yang selama ini kita tunggu pergerakannya setelah malam itu jadi dia kembali, Lucas Andrews Jackson putra tuan Jackson tuan Jackson".


🌼 Bersambung 🌼


Hallo semuanya up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya btw sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏 🥺


Btw selepas membaca jangan lupa untuk klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga jangan lupa follow akun mimin yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨