
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagii....
eunghh
Lenguhan panjang itu terdengar dari bino seksi Allis. Dia terbangun dari pingsan beberapa saat yang lalu. Bola matanya menyusuri setiap jengkal ruangan yang ditempati saat ini. Dia rasa ini tempat berbeda. Sunyi, gelap, sepi hanya ada suara burung hantu diluaran sana.
"Ini bukan kamarku, ini juga bukan di rumah sakit dimana aku saat ini ?".
Allis beringsut pada kepala ranjang, kakinya ia tekuk dan memeluknya. Matanya tak henti-henti memeriksa detail setiap sudut ruangan itu.
"Benar, ini bukanlah Kamarku ataupun rumah sakit".
"Ethan mommy takut sekali".
Tikkk
Suara sakral lampu dihidupkan sontak membuat Allis mendongak keatas. Suara derap langkah kaki mengalihkan perhatiannya. Menoleh kebelakang dan mendapati sosok pria tinggi, tampan dan juga seksi tengah menatapnya intens.
"Mengapa kau berteriak memanggil putramu yang mati itu ? Mengapa kau tidak berteriak memanggilku ? Dan yah akan sangat irotis ketika kau meneriaki namaku saat mencapai puncak kenikmatan".
"Katakan kau memilih yang mana ?".
"L-Lucas apa ini ? Aku tidak mengerti".
"Kau bodoh atau hanya berpura-pura bodoh hmm".
"katakan bagaimana aku harus memuaskanmu disini ?".
Lucas, pria yang menjadi dalang di balik semua kejadian ini. Dia mendekati Allis yang berada di atas ranjang. Allis semakin beringsut dan segera menutup tubuhnya dengan selimut dia bahkan memegang selimut itu dengan sangat erat.
"Hey tidak usah takut, aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku sangat tergila-gila padamu"
"Aku, aku pun sudah mengatakannya padamu bahwa aku telah menikah Lucas".
"I don't care, persetan dengan itu semua yang aku mau hanya kau, hanya kau".
"Tidak Lucas ini salah, aku rasa kau tidak mencintaiku".
"Iya iya itu perasaanmu, kau yang tidak mencintaiku Allis aku sangat mencintaimu bahkan sangat tergila-gila kepadamu".
"Itu bukan cinta Lucas, itu obsesi semata Lucas".
"Entah obsesi atau cinta aku mana peduli yang jelas aku menginginkanmu".
"Lucas kita teman baik kan ?".
"Berhenti berpura-pura lugu, aku menginginkan kau meneriaki namaku malam ini".
"TIDAK LUCAS TIDAK".
Lucas meraih ujung selimut lalu mencoba menariknya. Allis tentu saja semakin mempererat pelukannya pada selimut itu untuk melindunginya. Itu adalah satu-satunya tameng nya saat ini.
"Lepaskan nona manis".
"Percaya kepadaku aku akan melakukannya dengan lembut".
"Ayo lepaskan"
"TIDAK, AKU TIDAK MAU".
"HEY TURUNKAN SUARAMU, aku sudah sangat bersabar menghadapimu bahkan memintamu datang kepadaku dengan cara baik-baik, cihh wanita tidak tahu diri cihh lihatlah wanita-wanita diluaran sana mereka bahkan memohon-mohon kepadaku untuk sekedar menatap mereka saja dan kau cihh sangat tidak tahu diuntung".
"AKU BUKANLAH WANITA JALA*NG YANG ADA DILUARAN SANA, KAU PIKIR AKU SUDI HIDUP BERSAMA DENGAN ORANG KOTOR SEPERTIMU HAH DASAR PENJAHAT KELAM*IN"
"HEY TUTUP MULUTMU AKU BUKAN PENJAHAT KELAM*IN, MEREKA YANG SUKA RELA DATANG KEPADAKU DAN MELEBARKAN KAKINYA KEPADAKU BUKAN AKU YANG MENCARI MEREKA, KAU MENGERTI ?".
Lucas yang kelewat geram karena dikatai penjahat kelam*in oleh Allis dia menarik keras rambut Allis. Allis mendongak sembari ujung matanya menatap wajah Lucas dengan tatapan amarah yang sama.
"Turunkan tatapanmu padaku, kau pikir dirimu siapa hah ?".
"Aku wanita yang akan menjadi ajalmu Lucas".
Tanpa diduga Allis mencekik leher Lucas dengan kuat. Menekan kukunya disana sembari menatap Lucas dengan mata yang melotot tajam. Lucas yang merasa pasokan udaranya semakin menipis bertindak cepat di menampar pipi Allis dengan kuat.
Tamparan yang kuat sehingga membuat Allis melepaskan tangannya dan tersungkur kesamping.
"Kau mulai berani padaku hah".
Lucas mencengkram kedua pipi Allis menggunakan tangannya. Allis mendongak menatap nyalang Lucas yang juga menatap nya dengan amarah.
"Cuihhh untung saja aku menolakmu, aku tidak sudi hidup dengan pria egois dan juga penjahat sepertimu".
Lucas mengusap wajahnya yang diludahi oleh Allis. Lucas semakin dibuat murka oleh perlakuan dan perkataan Allis.
"Apa ? kau mau memukuliku ayo kemarilah".
"Kau".
Plakkk plakkk plakkk
Lucas menampar secara bergiliran kedua pipi putih Allis. Meninggalkan bekas jari tangannya disana yang memerah.
"Kau pikir ini sakit ? Tidak Lucas ini menggelikan kau tahu".
"Kau, kurang ajar".
Lucas menarik tubuh Allis lalu melemparkannya ke lantai. Allis meringis karena boko*ngnya mencium lantai dengan keras.
"Siapkan dirimu aku akan kembali".
Lucas memilih untuk keluar dari sana bisa-bisanya dia akan membunuh Allis saat itu juga. Dia menekan handle pintu dan bersiap melangkah keluar dari kamar itu siapa sangka Allis justru menerjang tubuh Lucas sehingga Lucas jatuh tersungkur disana.
"Hendak kemana kau Allis disini hanya kita berdua ?".
"Lepaskan aku".
"Aku ? Melepaskanmu ? setelah semua usaha yang aku lakukan ? cihhh tidak mungkin Allis nyawamu adalah milikku".
"Kau pecundang dasar penjahat kela*min".
"Terserah aku tidak peduli".
"Lepaskan aku lepaskan".
"Tidak mungkin Allis".
"Aku menantangmu untuk membuat kesepakatan denganku namun aku tidak cukup yakin bahwa kau cukup berani untuk melakukannya".
"Kau meremehkanku gadis manis hmm ayo kita buat kesepakatan seperti yang kau inginkan itu".
"Ayo lawan aku Lucas lawan aku sebagai musuhmu".
"Itu berarti aku harus memukulimu bukan ?".
"Terserah, dan aku juga akan memukulimu"
"Baik, lalu apa imbalannya untukku jika aku memenangkan pertandingan kita ?".
"Terserah apa pun yang kau inginkan, jika aku menang lepaskan aku dan jika a-..".
"Jika kau kalah kau harus datang kepadaku dengan suka rela dan meneriaki namaku setiap malam dan sepanjang malam".
"Baik sepakat, untuk dua kali pertandingan".
"Sepakat".
Allis menyakini dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini dia pasti akan keluar dari genggaman Lucas. Dia kembali masuk kedalam kamar itu kemudian mempersiapkan dirinya. Dia yakin semua yang ia pelajari dahulu pasti masih melekat pada dirinya.
"Kau sudah siap ?".
"Tentu, aku jauh lebih siap dari dugaanmu".
"Memang wanita, semakin dikenal semakin kita tidak mengenalinya".*Batin Lucas.
Allis memulai serangannya memukul, menendang, menangkis. Hingga saat dirinya berhasil memelintir tangan Lucas kebelakang tubuh Lucas. Lalu menendang kaki belakang yang sukses membuat Lucas bertekuk lutut dengan tangannya tetap ditarik dari belakang oleh Allis.
"Katakan jika kau menyerah".
"Argh oke oke aku menyerah, mungkin aku kelelahan sehingga kau bisa mengalahkanku dengan mudah".
"Pecundang tetaplah pecundang Lucas tidak akan berubah hanya dengan wajah tampan mu itu".
"Terserah apa katamu, masih ada besok kau harus mempersiapkan dirimu lagi".
"Istirahatlah aku janji tidak akan mengganggumu lagi".
"Baik, aku akan menunggu esok pagi".
Lucas berjalan menaiki tangga dan lenyap dibalik pintu kamarnya. Allis pun segera masuk kedalam kamar yang sama. Dirinya menatap wajahnya yang penuh dengan lebam karena terkena oleh pukulan dan juga beberapa sikutan dari Lucas. Namun ia tak peduli yang jelas ia keluar dari tempat ini.
"Apakah Sean akan mencariku ? Ethan aku merindukanmu nak".*Batin Allis.
Ia meringkuk diatas ranjang setelah menutup pintunya. Menguncinya rapat dan yakin jika dia sudah aman didalam ruangan itu. Dia memeluk lututnya sembari menangis tak terbalut selimut.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan Sean ? Daddy pikir kau sangat pintar kau bahkan sangat payah sekali".
"Sungguh Sean daddy tidak menduga hal ini darimu".
"Hiks hiks Jhon bagaimana ini ? bagaimana perkembangannya kata polisi-polisi itu ?".
"Tidak ada tanda-tanda bahwa Allis terjun kebawah sungai, sepertinya ada dua kemungkinan antara Allis dibawa lari oleh seseorang atau Allis sendiri yang melarikan diri dari sana".
"Ohh Tuhan Allis sayang dimana dirimu ? Sean kau bodoh bodoh sekali".
"Grandfa nasehati anakmu ini, aku akan mencari mommy-ku sendiri tanpa bantuan kalian cukup kalian membuat mommy-ku menderita".
"Ethan tenanglah sayang, grandma akan meminta daddy-mu untuk melakukannya".
"Cukup grandma, aku mencarinya sendiri tak perlu campur tangan kalian".
"Ethan duduklah sayang tenanglah".
Esmeralda mengusap pelan pundak cucunya itu yang bergetar menahan tangis. Dirinya sangat kasihan kepada cucunya itu selalu mendapatkan kemalangan. Dirinya terisak dengan rasa sakit yang teramat dalam hatinya.
Sean tak bisa mengatakan apa pun dia dirundung rasa kebingungan. Dia terduduk di sofa dengan pandangan kosong. Sungguh cobaan mana lagi yang diberikan padanya.
"Hah apa lagi ini ? bagaimana aku harus mengatasinya ?".*Batin Sean.
🌼 Bersambung 🌼
Hallo semuanya up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya maaf lama up soalnya lagi sakit huhuhu btw sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.
Btw selepas membaca jangan lupa untuk klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨