
A
gneta datang ke kantor dengan lesu, ia
terpaksa berangkat sendirian karena Aiden tidak ada kabarnya dari semalam. Baru
saja ia mendaratkan pantatnya di atas kursi, Sonya langsung menyembulkan
kepalanya dari balik kubikel.
“Muka
loe muram amat, loe sakit apa ada masalah?” tanya Sonya membuat Agneta menghela
nafas panjang. “Nah, panjang amat tarik nafasnya, serasa berat banget gitu.”
“Gue
gak tau,” jawabnya asal.
Sudah
jelas kalau Ibu Aiden tidak menyetujui perihal hubungannya dengan Aiden. Dan
itu membuat perasaan Agneta kembali ciut kepada Aiden. Hatinya yang mulai
terbuka dan menerima Aiden kini kembali tertutup. Awalnya ia ingin berlindung
pada Aiden dari Dave tetapi kalau seperti ini, yang ada dia malah akan semakin
tersiksa.
“Lah
malah bengong, ada apaan sih?” tanya Sonya yang kini sudah masuk ke dalam
kubikel Agneta dan menarik kursi untuk duduk di dekat Agneta.
“Gue
hanya sedikit memikirkan pekerjaan, sekarang kan kita sedang memegang proyek
besar dan kita bertanggung jawab untuk urusan pemasarannya. Gue hanya sedikit
pesimis dengan ide pemasaran kita.” Agneta berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ah
elah kirain apaan, lagian yah. Biasanya loe gak sampe sepusing ini mikirin
kerjaan. Otak loe selalu on saat di butuhkan idenya,” ucap Sonya.
“Loe
pikir otak gue mesin On Off,” cibir Agneta membuat Sonya terkekeh.
“Udah
ah gue balik kerja,” ucap Sonya.
“Ya
udah sana,” ucap Agneta.
Sonya
tersenyum simpul dan kembali ke kubikelnya. Agneta yang sudah menyalakan
komputernya mulai fokus dengan pekerjaannya dan melupakan setiap kepingan
kejadian kemarin.
***
Seharian
ini Agneta sama sekali tidak bertemu Aiden bahkan tak menerima pesan apapun
darinya. Sebenarnya kenapa dengan Aiden?
Ada
dua kemungkinan di kepala Agneta. Aiden benar-benar sibuk, atau Dave sudah
mengatakan yang tidak-tidak pada Aiden. Agneta menggelengkan kepalanya dan
berusaha fokus pada pemikirannya yang pertama kalau Aiden sibuk dengan
pekerjaannya. Ya itu,
Agneta
meneguk coffee yang ada di mejanya sekali lagi, jam berbetuk bundar yang
tersimpan cantik di atas mejanya sudah menunjukkan pukul 9 malam dan suasana
kantor sudah lenglang. Agneta terpaksa lembur karena pekerjaannya ini, tadi dia
sudah menitipkan Regan pada Sonya saat Sonya pulang pukul 5 sore. Agneta
mengusap tengkuknya dan sedikit merenggangkan otot lehernya, rasanya pegal
sekali seharian hanya duduk dan mengetik di depan komputer. Karena pekerjaannya
telah selesai, Agneta-pun mematikan komputernya dan bersiap-siap pulang.
Suasana
di visinya tampak redup tanda bahwa hampir semuanya sudah pulang. Agneta
mempercepat langkahnya menuju lift. Karena lift untuk karyawan biasa sedang
dalam perbaikan, Agneta terpaksa menekan tombol lift khusus para petinggi.
Ting
Tatapan mata mereka
beradu, Agneta sempat tersentak kaget saat melihat sosok yang ia benci berdiri
di dalam lift dengan setelan jasnya yang elegant dan membuatnya selalu tampak
angkuh dan dingin. Agneta sebenarnya malas bertemu dengan pria iblis ini
setelah insiden kemarin, tetapi mau bagaimana lagi. Dia tidak ingin menunggu
lebih lama lagi di sini dalam kesendiriannya dan suasana kantor yang gelap juga
lenglang.
Tanpa
ada senyuman apapun, Agneta masuk ke dalam dan menekan tombol lift menuju ke
lobby. Suasana mendadak menegangkan, Agneta masih berdiri kaku dengan mencengkram
kuat tas miliknya. Ia dapat merasakan atmosfer tajam dari Dave yang menatap ke
arahnya. Tubuhnya terasa meremang dan panas, bahkan Agneta merasa helaan
nafasnya terasa begitu berat.
“Kamu
lembur?” seruan itu memecah keheningan mereka berdua.
“Hmm,”
ucap Agneta.
Kembali
hening tak ada yang membuka suara sedikitpun. Agneta merapalkan doa di dalam
hatinya berharap Dave tak melakukan pelecehan apapun padanya, ia menatap tombol
lift yang seakan seabad untuk sampai ke lantai dasar.
“Aiden
pergi ke Barcelona tadi pagi,”
serunya membuat Agneta tersentak kaget walau enggan untuk menoleh. “Apa dia
tidak mengatakan apapun padamu?” tanya Dave saat melihat respon tubuh Agneta
yang menegang.
Agneta
masih diam membisu seakan bukan hal penting untuk menjawab pertanyaan Dave.
“Ternyata kalian berhubungan cukup lama,” ucap Dave, Agneta masih tidak
menggubrisnya hingga tarikan di lengannya membuat Agneta tersentak.
Dave
menyudutkan Agneta ke dinding lift hingga Agneta tak mampu berontak sama
sekali, hanya tatapan tajam mereka yang beradu satu sama lain.
“Aku
tidak suka di acuhkan!” ucapnya penuh penekanan.
“Lepaskan
aku! Di sini ada CCTV jadi tolong jaga sikap anda, Mr. Davero yang terhormat!”
ucap Agneta penuh penekanan.
“Kau
pikir aku perduli dengan itu,” ucap Dave tenang membuat Agneta tersentak dan
aura menyeramkan mulai terkuak dari diri Dave.
Ting
Pintu lift terbuka
lebar membuat Agneta mampu bernafas lega, tetapi sebelum kaki Agneta
menginjakkan red carpet yang
menyambut di depan pintu lift, lift itu kembali tertutup dan Agneta melotot
saat Dave menekan tombol lantai paling atas.
“Apa
maumu?” pekik Agneta sudah sangat kesal. Ia sudah lelah berhadapan dengan Dave.
“Tinggalkan
Aiden!”
“Tidak
akan pernah!” jawab Agneta dengan tak kalah tajam.
“Sekali
lagi aku peringatkan Agneta, tinggalkan Aiden atau-“
“Atau
Agneta membuat Dave terdiam membisu. “Menyingkirlah, dan biarkan aku terbebas
darimu! Biarkan hidupku tenang tanpa gangguan darimu, Davero!” ucap Agneta
berapi-api.
“Hanya
dalam mimpimu,” ucap Dave penuh penekanan. “Kau milikku, kau hanya milikku
Agneta, dan akan selalu seperti itu!”
“Dalam
mimpimu!” balas Agneta. “Apa sefrustasi itu kau tanpa seorang wanita? Sampai
kau memaksa wanita milik sepupumu sendiri untuk menjadi milikmu!” ucapan Agneta
sungguh membuat iblis di dalam diri Dave terbangunkan.
“Berani
sekali kau mengatakannya!” bentak Dave membuat Agneta tersentak kaget. Ia kini
takut, dan menyesali kata-katanya tadi. “Kau milikku, Agneta. Bahkan aku pria
pertama yang memasukimu!”
“Kau
pikir yang pertama akan menjadi yang terakhir?” ucapan Agneta yang tenang sudah
jelas menantang Dave. Terlihat pupil mata Dave mengecil dan menggelap hingga
aura itu menyelubungi tubuhnya, sangat menakutkan. Agneta merasa seperti
berhadapan langsung dengan lucifer yang sangat kejam.
“Dimana
Aiden menyentuhmu?” bentaknya. Agneta terdiam membisu dalam ketakutannya, ia
menyesal sudah menantang Dave.
“Dimana,
Agneta!!!” bentaknya menggebrak dinding di samping kepala Agneta membuatnya
kaget dan semakin ketakutan.
Ting
Pintu lift terbuka
lebar dan Dave tanpa basa basi menarik tangan Agneta keluar dari dalam lift.
“Lepaskan aku!” ucap Agneta memberontak.
Karena
perlawanan itu, Dave terpaksa memangku tubuh Agneta dan membawanya memasuki
sebuah pintu besar yang tak jauh dari pintu lift. Dave menyalakan lampu di
dalam ruangan itu dan tampak sebuah kamar mewah lengkap dengan segala furnitur dan ranjang king sizenya.
Agneta semakin memekik kaget dan rasa takut mulai merayap ke seluruh tubuhnya.
“Lepaskan
aku!” teriaknya hingga Dave menjatuhkannya ke atas ranjang dan tanpa memberi
kesempatan pada Agneta, ia langsung menindih tubuh Agneta supaya berhenti
meronta.
“Kau
hanya milikku! Hanya milik seorang Dave!” ucapnya penuh penekanan.
“Kau
sakit jiwa!!! Kau psikopat!” jerit Agneta terus memberontak.
“Jawab
dimana Aiden sudah menyentuhmu?” tanya Dave mengabaikan hinaan Agneta. “Apa di
sini?” tanya Dave menyentuh dada Agneta yang masih tertutupi kemejanya. Agneta
sempat mengeluh sakit. “Apa di sini? Dimana lagi dia menyentuhmu, Hah?” pekik Dave dan Agneta masih
meronta meminta tolong.
Dave
tak rela, sesuatu yang pernah menjadi miliknya di jamah oleh pria lain. Sungguh
Dave bukanlah tipikal pria yang baik hati hingga mau berbagi miliknya dengan
sepupunya sendiri.
Dave
langsung membungkam bibir Agneta hingga terdiam, awalnya Agneta masih berusaha
menolak dan melawan. Tetapi apalah daya tenaga seorang perempuan di banding
laki-laki, akhirnya ia pasrah dalam kuasa Davero. Seperti biasanya, zat cair
akan selalu mengikuti zat padat. Dan Agneta membenci kenyataan itu, kenyataan
bahwa dia tak bisa lepas dari Davero.
Dave
menurunkan ciumannya ke rahang dan leher jenjang Agneta, karena tangan Agneta
tak lagi meronta dan memukulnya, Dave memberanikan diri menyentuh bagian dada
Agneta yang terasa pas di genggaman tangannya. Rasanya tidak berubah...
Dave
dengan cekatan melepaskan satu persatu kancing pakaian Agneta. Agneta merasa
kepalanya pening dan berkunang-kunang, pergolakan batinnya membuat dirinya
lumpuh. Pikirannya meminta stop, tetapi tubuhnya seakan merindukan sentuhan
itu, sentuhan yang sama sekali tidak berubah. Sentuhan hangat yang menyalurkan
rasa panas hingga mampu membakar darahnya dan gejolak tersembunyi di dalam
tubuhnya.
“Rasamu
masih semanis dulu, kau belum berubah. Aku sangat menyukainya,” gumam Dave
mulai meracau dan menciumi bagian dada Agneta yang hanya terhalang oleh bra
hitam berenda. Agneta melenguh panjang saat tangan Dave menyelinap masuk ke
dalamnya dan memainkan puncaknya. Ia tidak bisa menolak rasa ini, walau ia
membencinya tetapi ia sungguh tak mampu menolaknya.
“Ahh....”
“Sebut
namaku, Netha,” bisik Dave.
“Dave,”
gumamnya akhirnya membuat hati Dave membuncak senang sekali. Agneta sudah lelah
berpikir dan berdebat dengan dirinya sendiri, nyatanya ia juga menyukai ini,
menyukai sentuhan panas ini.
Kali
ini tangan Dave di gantikan oleh mulutnya untuk memanjakan Agneta hingga
membuatnya semakin melenguh panjang, kepalanya semakin pening dan
berkunang-kunang menginginkan yang lebih dari itu. Dia sudah menahan rasa ini
selama 5 tahun lamanya, dan sekarang ia merasakannya lagi. Dan sungguh rasanya
sangat luar biasa.
“Ah
Dave...” lenguhnya saat tangan Dave menyelinap masuk ke balik celana kain yang
di gunakannya, Dave terus melakukannya seakan ia senang melihat respon tubuh
Agneta yang terang-terang menerimanya.
“Kau
sudah siap untukku, Netha.” Dave tersenyum simpul dan menarik celana Agneta
hingga lepas, dan ia melepaskan jas, kemeja juga celananya dengan cepat. “Kau
sudah siap untukku sekarang,” gumamnya kembali mengecup bibir Agneta yang
memejamkan matanya.
Dave
memposisikan tubuhnya yang sudah siap untuk Agneta, tetapi gerakannya terhenti
mendengar ucapan Agneta yang menyayat hatinya.
“Apa
tak ada wanita yang mau menerimamu dengan rela, sampai kau memperkosaku lagi
seperti dulu,”
Deg
Tubuh Dave
menegang, tatapannya menyiratkan amarah yang sangat memuncak. Mata mereka
beradu dengan mata Agneta yang menunjukkan tatapan datar tanpa merasa takut
dengan tatapan amarah dari Davero.
“Pergi!”
ucap Dave begitu sangat dingin.
Tanpa
berkata apapun lagi, Agneta berangsur bangun dan membenahi pakaiannya
meninggalkan Dave yang masih mematung sendiri.
***