He'S Back

He'S Back
Episode 13



                   A


gneta datang ke kantor dengan lesu, ia


terpaksa berangkat sendirian karena Aiden tidak ada kabarnya dari semalam. Baru


saja ia mendaratkan pantatnya di atas kursi, Sonya langsung menyembulkan


kepalanya dari balik kubikel.


                   “Muka


loe muram amat, loe sakit apa ada masalah?” tanya Sonya membuat Agneta menghela


nafas panjang. “Nah, panjang amat tarik nafasnya, serasa berat banget gitu.”


                   “Gue


gak tau,” jawabnya asal.


                   Sudah


jelas kalau Ibu Aiden tidak menyetujui perihal hubungannya dengan Aiden. Dan


itu membuat perasaan Agneta kembali ciut kepada Aiden. Hatinya yang mulai


terbuka dan menerima Aiden kini kembali tertutup. Awalnya ia ingin berlindung


pada Aiden dari Dave tetapi kalau seperti ini, yang ada dia malah akan semakin


tersiksa.


                   “Lah


malah bengong, ada apaan sih?” tanya Sonya yang kini sudah masuk ke dalam


kubikel Agneta dan menarik kursi untuk duduk di dekat Agneta.


                   “Gue


hanya sedikit memikirkan pekerjaan, sekarang kan kita sedang memegang proyek


besar dan kita bertanggung jawab untuk urusan pemasarannya. Gue hanya sedikit


pesimis dengan ide pemasaran kita.” Agneta berusaha mengalihkan pembicaraan.


                   “Ah


elah kirain apaan, lagian yah. Biasanya loe gak sampe sepusing ini mikirin


kerjaan. Otak loe selalu on saat di butuhkan idenya,” ucap Sonya.


                   “Loe


pikir otak gue mesin On Off,” cibir Agneta membuat Sonya terkekeh.


                   “Udah


ah gue balik kerja,” ucap Sonya.


                   “Ya


udah sana,” ucap Agneta.


                   Sonya


tersenyum simpul dan kembali ke kubikelnya. Agneta yang sudah menyalakan


komputernya mulai fokus dengan pekerjaannya dan melupakan setiap kepingan


kejadian kemarin.


***


                   Seharian


ini Agneta sama sekali tidak bertemu Aiden bahkan tak menerima pesan apapun


darinya. Sebenarnya kenapa dengan Aiden?


                   Ada


dua kemungkinan di kepala Agneta. Aiden benar-benar sibuk, atau Dave sudah


mengatakan yang tidak-tidak pada Aiden. Agneta menggelengkan kepalanya dan


berusaha fokus pada pemikirannya yang pertama kalau Aiden sibuk dengan


pekerjaannya. Ya itu,


                   Agneta


meneguk coffee yang ada di mejanya sekali lagi, jam berbetuk bundar yang


tersimpan cantik di atas mejanya sudah menunjukkan pukul 9 malam dan suasana


kantor sudah lenglang. Agneta terpaksa lembur karena pekerjaannya ini, tadi dia


sudah menitipkan Regan pada Sonya saat Sonya pulang pukul 5 sore. Agneta


mengusap tengkuknya dan sedikit merenggangkan otot lehernya, rasanya pegal


sekali seharian hanya duduk dan mengetik di depan komputer. Karena pekerjaannya


telah selesai, Agneta-pun mematikan komputernya dan bersiap-siap pulang.


                   Suasana


di visinya tampak redup tanda bahwa hampir semuanya sudah pulang. Agneta


mempercepat langkahnya menuju lift. Karena lift untuk karyawan biasa sedang


dalam perbaikan, Agneta terpaksa menekan tombol lift khusus para petinggi.


                   Ting


                   Tatapan mata mereka


beradu, Agneta sempat tersentak kaget saat melihat sosok yang ia benci berdiri


di dalam lift dengan setelan jasnya yang elegant dan membuatnya selalu tampak


angkuh dan dingin. Agneta sebenarnya malas bertemu dengan pria iblis ini


setelah insiden kemarin, tetapi mau bagaimana lagi. Dia tidak ingin menunggu


lebih lama lagi di sini dalam kesendiriannya dan suasana kantor yang gelap juga


lenglang.


                   Tanpa


ada senyuman apapun, Agneta masuk ke dalam dan menekan tombol lift menuju ke


lobby. Suasana mendadak menegangkan, Agneta masih berdiri kaku dengan mencengkram


kuat tas miliknya. Ia dapat merasakan atmosfer tajam dari Dave yang menatap ke


arahnya. Tubuhnya terasa meremang dan panas, bahkan Agneta merasa helaan


nafasnya terasa begitu berat.


                   “Kamu


lembur?” seruan itu memecah keheningan mereka berdua.


                   “Hmm,”


ucap Agneta.


                   Kembali


hening tak ada yang membuka suara sedikitpun. Agneta merapalkan doa di dalam


hatinya berharap Dave tak melakukan pelecehan apapun padanya, ia menatap tombol


lift yang seakan seabad untuk sampai ke lantai dasar.


                   “Aiden


pergi ke Barcelona tadi pagi,”


serunya membuat Agneta tersentak kaget walau enggan untuk menoleh. “Apa dia


tidak mengatakan apapun padamu?” tanya Dave saat melihat respon tubuh Agneta


yang menegang.


                   Agneta


masih diam membisu seakan bukan hal penting untuk menjawab pertanyaan Dave.


“Ternyata kalian berhubungan cukup lama,” ucap Dave, Agneta masih tidak


menggubrisnya hingga tarikan di lengannya membuat Agneta tersentak.


                   Dave


menyudutkan Agneta ke dinding lift hingga Agneta tak mampu berontak sama


sekali, hanya tatapan tajam mereka yang beradu satu sama lain.


                   “Aku


tidak suka di acuhkan!” ucapnya penuh penekanan.


                   “Lepaskan


aku! Di sini ada CCTV jadi tolong jaga sikap anda, Mr. Davero yang terhormat!”


ucap Agneta penuh penekanan.


                   “Kau


pikir aku perduli dengan itu,” ucap Dave tenang membuat Agneta tersentak dan


aura menyeramkan mulai terkuak dari diri Dave.


                   Ting


                   Pintu lift terbuka


lebar membuat Agneta mampu bernafas lega, tetapi sebelum kaki Agneta


menginjakkan red carpet yang


menyambut di depan pintu lift, lift itu kembali tertutup dan Agneta melotot


saat Dave menekan tombol lantai paling atas.


                   “Apa


maumu?” pekik Agneta sudah sangat kesal. Ia sudah lelah berhadapan dengan Dave.


                   “Tinggalkan


Aiden!”


                   “Tidak


akan pernah!” jawab Agneta dengan tak kalah tajam.


                   “Sekali


lagi aku peringatkan Agneta, tinggalkan Aiden atau-“


                   “Atau


Agneta membuat Dave terdiam membisu. “Menyingkirlah, dan biarkan aku terbebas


darimu! Biarkan hidupku tenang tanpa gangguan darimu, Davero!” ucap Agneta


berapi-api.


                   “Hanya


dalam mimpimu,” ucap Dave penuh penekanan. “Kau milikku, kau hanya milikku


Agneta, dan akan selalu seperti itu!”


                   “Dalam


mimpimu!” balas Agneta. “Apa sefrustasi itu kau tanpa seorang wanita? Sampai


kau memaksa wanita milik sepupumu sendiri untuk menjadi milikmu!” ucapan Agneta


sungguh membuat iblis di dalam diri Dave terbangunkan.


                   “Berani


sekali kau mengatakannya!” bentak Dave membuat Agneta tersentak kaget. Ia kini


takut, dan menyesali kata-katanya tadi. “Kau milikku, Agneta. Bahkan aku pria


pertama yang memasukimu!”


                   “Kau


pikir yang pertama akan menjadi yang terakhir?” ucapan Agneta yang tenang sudah


jelas menantang Dave. Terlihat pupil mata Dave mengecil dan menggelap hingga


aura itu menyelubungi tubuhnya, sangat menakutkan. Agneta merasa seperti


berhadapan langsung dengan lucifer yang sangat kejam.


                   “Dimana


Aiden menyentuhmu?” bentaknya. Agneta terdiam membisu dalam ketakutannya, ia


menyesal sudah menantang Dave.


                   “Dimana,


Agneta!!!” bentaknya menggebrak dinding di samping kepala Agneta membuatnya


kaget dan semakin ketakutan.


                   Ting


                   Pintu lift terbuka


lebar dan Dave tanpa basa basi menarik tangan Agneta keluar dari dalam lift.


“Lepaskan aku!” ucap Agneta memberontak.


                   Karena


perlawanan itu, Dave terpaksa memangku tubuh Agneta dan membawanya memasuki


sebuah pintu besar yang tak jauh dari pintu lift. Dave menyalakan lampu di


dalam ruangan itu dan tampak sebuah kamar mewah lengkap dengan segala furnitur dan ranjang king sizenya.


Agneta semakin memekik kaget dan rasa takut mulai merayap ke seluruh tubuhnya.


                   “Lepaskan


aku!” teriaknya hingga Dave menjatuhkannya ke atas ranjang dan tanpa memberi


kesempatan pada Agneta, ia langsung menindih tubuh Agneta supaya berhenti


meronta.


                   “Kau


hanya milikku! Hanya milik seorang Dave!” ucapnya penuh penekanan.


                   “Kau


sakit jiwa!!! Kau psikopat!” jerit Agneta terus memberontak.


                   “Jawab


dimana Aiden sudah menyentuhmu?” tanya Dave mengabaikan hinaan Agneta. “Apa di


sini?” tanya Dave menyentuh dada Agneta yang masih tertutupi kemejanya. Agneta


sempat mengeluh sakit. “Apa di sini? Dimana lagi dia menyentuhmu, Hah?” pekik Dave dan Agneta masih


meronta meminta tolong.


                   Dave


tak rela, sesuatu yang pernah menjadi miliknya di jamah oleh pria lain. Sungguh


Dave bukanlah tipikal pria yang baik hati hingga mau berbagi miliknya dengan


sepupunya sendiri.


                   Dave


langsung membungkam bibir Agneta hingga terdiam, awalnya Agneta masih berusaha


menolak dan melawan. Tetapi apalah daya tenaga seorang perempuan di banding


laki-laki, akhirnya ia pasrah dalam kuasa Davero. Seperti biasanya, zat cair


akan selalu mengikuti zat padat. Dan Agneta membenci kenyataan itu, kenyataan


bahwa dia tak bisa lepas dari Davero.


                   Dave


menurunkan ciumannya ke rahang dan leher jenjang Agneta, karena tangan Agneta


tak lagi meronta dan memukulnya, Dave memberanikan diri menyentuh bagian dada


Agneta yang terasa pas di genggaman tangannya. Rasanya tidak berubah...


                   Dave


dengan cekatan melepaskan satu persatu kancing pakaian Agneta. Agneta merasa


kepalanya pening dan berkunang-kunang, pergolakan batinnya membuat dirinya


lumpuh. Pikirannya meminta stop, tetapi tubuhnya seakan merindukan sentuhan


itu, sentuhan yang sama sekali tidak berubah. Sentuhan hangat yang menyalurkan


rasa panas hingga mampu membakar darahnya dan gejolak tersembunyi di dalam


tubuhnya.


                   “Rasamu


masih semanis dulu, kau belum berubah. Aku sangat menyukainya,” gumam Dave


mulai meracau dan menciumi bagian dada Agneta yang hanya terhalang oleh bra


hitam berenda. Agneta melenguh panjang saat tangan Dave menyelinap masuk ke


dalamnya dan memainkan puncaknya. Ia tidak bisa menolak rasa ini, walau ia


membencinya tetapi ia sungguh tak mampu menolaknya.


                   “Ahh....”


                   “Sebut


namaku, Netha,” bisik Dave.


                   “Dave,”


gumamnya akhirnya membuat hati Dave membuncak senang sekali. Agneta sudah lelah


berpikir dan berdebat dengan dirinya sendiri, nyatanya ia juga menyukai ini,


menyukai sentuhan panas ini.


                   Kali


ini tangan Dave di gantikan oleh mulutnya untuk memanjakan Agneta hingga


membuatnya semakin melenguh panjang, kepalanya semakin pening dan


berkunang-kunang menginginkan yang lebih dari itu. Dia sudah menahan rasa ini


selama 5 tahun lamanya, dan sekarang ia merasakannya lagi. Dan sungguh rasanya


sangat luar biasa.


                   “Ah


Dave...” lenguhnya saat tangan Dave menyelinap masuk ke balik celana kain yang


di gunakannya, Dave terus melakukannya seakan ia senang melihat respon tubuh


Agneta yang terang-terang menerimanya.


                   “Kau


sudah siap untukku, Netha.” Dave tersenyum simpul dan menarik celana Agneta


hingga lepas, dan ia melepaskan jas, kemeja juga celananya dengan cepat. “Kau


sudah siap untukku sekarang,” gumamnya kembali mengecup bibir Agneta yang


memejamkan matanya.


                   Dave


memposisikan tubuhnya yang sudah siap untuk Agneta, tetapi gerakannya terhenti


mendengar ucapan Agneta yang menyayat hatinya.


                   “Apa


tak ada wanita yang mau menerimamu dengan rela, sampai kau memperkosaku lagi


seperti dulu,”


                   Deg


                   Tubuh Dave


menegang, tatapannya menyiratkan amarah yang sangat memuncak. Mata mereka


beradu dengan mata Agneta yang menunjukkan tatapan datar tanpa merasa takut


dengan tatapan amarah dari Davero.


                   “Pergi!”


ucap Dave begitu sangat dingin.


                   Tanpa


berkata apapun lagi, Agneta berangsur bangun dan membenahi pakaiannya


meninggalkan Dave yang masih mematung sendiri.


***