He'S Back

He'S Back
Episode 63



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi.....


Acara pertunangan Sean dan Jessie akan diselenggarakan malam ini. Hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak bisa dikatakan hanya ada kedua orang tua Sean dan kedua orang tua Jessie. Keluarga mempelai wanita hanya tahu bahwa Sean memiliki adik namun berada di Inggris untuk melanjutkan pendidikannya entah apa jenis kelaminnya yang jelas mereka hanya tahu bahwa Sean memiliki seorang adik begitu juga sebaliknya.


Pihak keluarga kedua mempelai tak saling mempertanyakan dimana, kenapa dan mengapa saudara baik dari mempelai wanita dan pria tidak hadir di acara penting saudara masing-masing.


Jessie duduk dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibir seksinya di samping Sean. Entah siapa yang tahu perasaan Sean seperti biasa dia hanya memasang mimik wajah datarnya.


"Kau sekarang adalah calon suamiku dan kau sudah resmi menjadi tunanganku, tunangan nona muda Jessie".


Jessie menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Sean. Sean yang tak terbiasa dan selalu menjaga dirinya ia segera menjauhkan kepala Jessie dari pundaknya.


"Jauhkan dirimu dariku sebelum aku mendekatimu jangan pernah mendekatiku lebih dulu".


Jessie tertampar hebat rasanya hatinya begitu sakit, ia malu. Namun untungnya tak ada yang memperhatikan mereka. Jessie mer emas pinggir gaun berwarna peach yang ia kenakan.


"Mr".


Tiba-tiba Andrew datang terburu-buru dengan membawa laptop ditangannya. Sean yang mengerti segera meminta izin kepada kedua orang tuanya dan calon mertuanya.


"Katakan Andrew".


"Mr mereka kembali melakukan pergerakan, mereka mencoba menyelinap kedalam perusahaan beberapa saat yang lalu".


"Orang bodoh mana yang memimpin mereka".


"Mr sepertinya otak mereka sedikit bergeser akibat terlalu keras berpikir".


"Nona muda Agatha apakah sudah mengabari anda Mr ?".


"Hmm, biarkan saja jangan lupa untuk memberikan pengawasan untuknya".


"Tentu Mr".


"Sean".


Terdengar suara panggilan Esmeranda Sean segera berbalik dan menghampirinya. Ternyata acaranya sudah selesai calon mertuanya pun pamit untuk kembali pulang.


.


.


.


Keesokkan harinya Agatha baru saja terbangun. Semalam ia menginap di rumah Allis hanya butuh rayuan semata dan juga air mata buaya dia akhirnya sang kakak pun luluh dan memberikan izin kepadanya untuk kerumah temannya.


"Kau akan bekerja Allis ?".


"Tentu, apakah kau keberatan untuk tetap disini ?".


"Tidak, aku malah senang karena aku bisa merasakan udara segar yang manis disini".


"Hahah kau benar-benar, rumahmu sepuluh kali lebih besar dari rumahku mengapa kau tak betah disana ?".


"Disana tidak ada udara manis Allis".


"Benarkah ?".


"Hmm itu benar, coba saja kau tinggal di rumahku ah maksudku penjara itu ah atau bagiamana dengan maukah kau menjadi kakak ipar ku ?".


"Yaaa yang benar saja, kau akan menikahkan aku dengan seorang monster ?".


"Siapa yang mengatakan kakakku monster ?".


"Kau".


"Ahh ah lupakan itu aku hanya sedang emosi, sebenarnya dia adalah pria idaman para wanita dia itu adalah pria lembut dan penyayang".


"Aku hanya cukup tahu Agatha".


"Ayo turun dan sarapanlah aku akan melihat Ethan".


"Baik, aku akan bersih-bersih lebih dahulu".


"Jangan terlalu lama kami akan mati menahan kelaparan nanti".


"Haish kau cerewet sekali".


Allis berlalu menutup pintu kamar Agatha ia berjalan menuju kamar Ethan. Dia mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam. Allis pun masuk setelah si empunya kamar memperbolehkan dirinya masuk.


"Kau sudah siap ?".


"Hmm seperti yang mommy lihat".


"Ethan mommy ingin berbicara denganmu"


"Hmm".


"Belakangan ini mommy lihat kau sering pergi ke tempat pelatihan, apa yang mengusik dirimu ?".


"Aku adalah mommymu sayang, meskipun kau diam seribu bahasa kau tak bisa menyembunyikannya dari mommy".


Ethan terdiam apakah dia harus menceritakan semuanya. Menceritakan bagaimana dan mengapa dia berdebat dengan ayahnya. Namun ia cukup yakin ibunya memiliki satu alasan yang kuat mengapa Allis tak menceritakan semuanya padanya. Biarkan saja ibunya yang menjelaskan pada dirinya dengan perlahan, semua orang memiliki kesempatan kedua bukan.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengejar materi saja".


"Ethan Richard S, putra kesayangan mommy, sejak kapan dia ketinggalan materi pelajaran dan sejak kapan dia pandai berbohong ?".


Kali ini Ethan kembali terdiam seribu bahasa. Alasan apa yang cukup membuat ibunya untuk tak membahas perihal ini lebih dalam. Ia tak mau kehilangan ataupun meninggalkan siapa pun lagi.


"Baiklah mommy tak akan memaksamu sayang, mommy yakin kau memiliki privasi juga".


"Hmm".


Untungnya Allis mengalah dan mengerti bagaimana perasaan Ethan. Allis memberitahukan untuk segera turun dan sarapan pagi.


Di meja makan pagi ini ada Allis, Agatha, dan juga Ethan. Beberapa minggu yang lalu Sonia merengek untuk kembali ke apartemennya. Sonia sampai nekat untuk tidak akan bekerja lagi pada Allis jika Allis tak menginginkannya pulang.


Allis pun membicarakan berbagai hal dengan Sonia jika terjadi apa-apa lagi Sonia harus segera menghubunginya. Sonia langsung menyetujuinya, dia merasa dia sudah terlalu banyak merepotkan Allis. Mereka memakan sarapan masing-masing. Agatha terus saja berceloteh layaknya anak bayi yang baru bisa berbicara.


"Aunty diamlah makan sarapanmu itu".


"Yaaaa"


"Sutt Ethan kau tak boleh berbicara seperti itu kepada yang lebih tua darimu".


"Astaga aku hanya menceritakan kisah hidupku pada temanku, bukan padamu".


"Aku mendengarnya".


"Siapa suruh kau mendengarnya, mengapa tidak kau tutup saja kupingmu itu ?".


"Seharusnya aunty yang menutup mulut sudah tahu sedang sarapan kau terus saja berbicara nanti tersedak baru tahu rasa".


"Hey tidak boleh menyumpahi orang sayang, siapa yang mengajari ini padamu ?".


"Aunty, saat dia berbicara dia selalu saja menyumpahi kakaknya supaya mendapatkan istri yang galak dan cerewet".


Allis dan Agatha tertawa kecil saat mendengar Ethan mengomel. Mereka merasa Ethan begitu lucu saat marah-marah.


"Haish memang dunia orang dewasa sangatlah sulit untuk ditebak".


Selesai sarapan Allis segera berangkat bekerja sebelumnya ia mengantar Ethan untuk ke sekolah lebih dulu. Sesampainya di perusahaan Sonia bergegas menghampiri Allis yang baru saja masuk.


"Hey ada apa mengapa kau begitu tergesa-gesa ?".


"Ayo cepatlah Mrs kabar baik menantimu".


"Kabar baik apa ?".


"Ayo berbicara didalam ruangan".


Mereka masuk kedalam lift untuk menuju keruangan Allis. Setelah sampai Sonia segera memberikan beberapa berkas kepada Allis. Allis membacanya dengan senyuman yang terus merekah.


"Benarkah ?".


"Ini benar Mrs, hari ini kau akan melakukan meeting penting dengan pemilik perusahaan ini".


"Apakah tuan Andrew ?".


"Bukan Mrs, pemiliknya".


"Pukul berapa ?".


"Satu jam lagi".


"Apakah kau akan ikut ?".


"Tidak, kata tuan Andrew hanya kau saja ?".


"Baiklah ayo bantu aku mengemas beberapa dokumen dan berkas yang harus aku bawa".


.


.


.


.


🌼 Bersambung 🌼


Jangan lupa untuk like, komen, tekan favorit dan VOTE sebanyak-banyaknya dan jangan lupa klik profil author kemudian follow langsung


Terima kasih.


wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨