
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi....
Allis duduk dengan tak tenang karena sedari lima belas menit yang lalu Sean terus menatapnya dengan tajam. Aura intimidasi dari Sean membuat Allis takut bukan main. Namun apa salahnya apakah karena dia membangunkannya namun itu pun perintah dari tuan besar. Atau karena mereka telat untuk melaksanakan meeting itu pun karena dirinya.
"T-tuan maksudku Mr Sean".
"Hmm".
Seketika nyalinya menciut kembali padahal dia cukup berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya. Allis kembali terdiam tak berkutik AC ruangan itu cukup dingin namun entah mengapa ia merasakan tubuhnya panas lalu berganti dingin begitu saja sampai keringat dingin mengucur dikeningnya.
"Tidak ada hal penting yang harus kita bahas".
Allis terkisap kaget jika sedari awal memang tidak ada hal penting yang harus dibahas mengapa pria itu memintanya untuk datang. Dia juga ingin bermain-main dengan putranya menghabiskan waktu bersama. Allis menggigit bibir bawahnya menahan kesal.
"Jikalau tidak ada hal penting yang harus dibahas, bolehkah saya mengundurkan diri saya harus mengurus beberapa hal penting".
"Duduk".
Allis terkesiap ia mengurungkan niatnya untuk berdiri dari duduknya. Allis menggeram kesal didalam hati. Dia tersenyum pasrah. Sean menghela nafasnya panjang ia sudah berpikir sangat lama untuk hal ini. Namun apa salahnya dia juga menginginkannya.
Sean bangun lalu berjalan menuju rak buku yang menjulang tinggi. Rak yang penuh dengan berkas-berkas dan juga berbagai buku-buku yang tersusun rapi. Tangannya terukur menarik map merah yang terselip diantara berkas lainnya di rak paling atas.
Sean berjalan dengan pasti menuju meja yang tak jauh dari rak buku. Dia mengambil remot kontrol lalu mengunci otomatis pintu itu. Allis terkesiap karena mendengar suara pintu yang dikunci. Dia cukup pintar untuk mengenali teknologi canggih itu.
Pikirannya berkecamuk, matanya memerah, tubuhnya bergetar rasa takut mulai menggerogoti hatinya. Ia berusaha dengan keras untuk mengambil alih tubuhnya dari rasa takut yang menghantui. Tanpa rasa sungkan ia meraih segelas air putih lalu meneguknya cepat. Menutup mata lalu menghirup udara dengan rakus.
"Apa yang kau pikirkan ? mengapa kau terlihat sangat gugup ?".
"Ahh t-ti-tidak saya hanya sedikit haus".
"Benarkah ?".
"Benar itu benar".
Sena mengurungkan niatnya untuk kembali duduk dia beralih berjalan kemeja tadi lalu mengambil laptop dan juga sebuah CD. Allis berpikir dengan keras apa lagi yang akan dilakukan pria kaku itu. Apakah pria itu akan mengajaknya untuk menonton drama bersama. Oh sangat tidak mungkin itu berbanding terbalik dengan wajah sangarnya.
Sean kembali duduk, terlihat ia memasukkan CD kedalam laptop. Mencari sebuah file penting yang selama bertahun-tahun ia cari. Tangannya tergerak memutar laptop itu mengarahkannya kepada Allis.
"Kau mengenalnya ?".
Allis sejenak termenung mencoba berpikir siapa wanita yang berada didalam video yang sedang diputar itu. Namun sepersekian detik kemudian tubuhnya menegang otaknya mengatakan bahwa wanita itu adalah dirinya.
"Kau mengenalnya ?".
"Hah t-tidak Mr".
"Kau yakin ?".
"Yakin Mr".
Allis menelan ludahnya kasar ia merasakan aura intimidasi semakin mendominasi dirinya. Sean kembali memutar laptop menghadapnya dan kembali mencari file. Setelah ditemukannya ia kembali memutar laptop itu menghadap Allis.
Kali ini dia benar-benar melihat dirinya didalam video itu. Saat dirinya dan Ethan berada di bandara namun dicegat oleh Sean rekan kerjanya saat ini.
"Itu saya Mr".
"Good lalu ini ?".
Sean kembali menunjukkan video pertama namun lagi-lagi Allis menjawab dengan cepat bahwa ia tak mengenal wanita itu. Entah berapa kali Sean menanyakan itu namun jawaban Allis tak berubah sedikit pun. Niat Sean kembali untuk menanyakan hal yang sama semakin membara dan,
"Kau mengenalnya ?".
"Itu saya Mr".
Dan saat detik-detik terakhir Sean menanyakan siapa wanita yang berada di dalam video pertama akhirnya Allis masuk kedalam jebakan maut Sean.
"Cukup !!".
"Ahh kenapa ? kenapa ?".
Allis gelagapan tak sadar dengan apa yang dia katakan. Sean tersenyum smirk jawaban yang ia nanti-nanti ia dapatkan dengan mudah.
"Mr ini bukanlah masalah pekerjaan dan menurut saya ini tidaklah penting jadi bolehkah saya mengundurkan diri ?".
"Diam !!".
Bentakan Sean terdengar cukup keras sehingga membuat Allis tersentak kaget. Nyalinya seketika menciut pandangannya menunduk. Menangis ? sepertinya tidak ia masih punya malu.
"Bukankah ini kau".
Sena menunjukkan video pertama mereka bertemu malam itu.
"Lalu ini kau bukan ?".
Lagi ia memutar sebuah rekaman cctv di salah satu restauran dan juga pusat perbelanjaan.
"Dan ini kau bukan ?".
Rekaman cctv di bandara hari itu Allis mengingatnya dengan jelas. Rekan kerjanya, Sean menunda keberangkatannya dan juga putranya.
Braakkk
Sean melempar dengan keras sebuah map merah yang sempat ia ambil tadi. Allis terkejut namun ia tak berani mendongak menatap lawan bicaranya. Selama satu bulan menjalin kerjasama dia tak pernah melakukan kesalahan kecuali membangunkannya pagi ini.
"Apa alasanmu untuk tidak bisa membaginya denganku ?".
🌼 Bersambung 🌼
Allo kakak-kakak readers terima kasih sudah setia menunggu author up, ayo berikan dukungan kepada author dengan like, komen, tekan favorit dan VOTE sebanyak-banyaknya. Dan jangan lupa untuk klik profil author kemudian follow 🙏😀
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨