
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi....
Hari demi hari telah berlalu penaburan bunga di tempat kejadian telah usai dan karangan bunga di kediaman Allis masih memenuhi halaman. Tak sedetikpun Allis beranjak meninggalkan kamar Ethan. Makanan terasa begitu hambar. Ia hanya memakan sepotong roti dengan segelas air putih.
Saat ditanya dan diminta makan ia selalu menjawab. Bagaimana tega dirinya makan enak sedangkan putranya disana tidak makan. Ia terlihat seperti mayat hidup lingkaran hitam pada matanya terlihat sangat amat seram. Tubuh kurus kering tak pernah diberikan asupan gizi dan nutrisi. Rambut berantakan yang tak pernah tersentuh oleh sisir.
Ditambah lagi mata sembab yang tak pernah berhenti menangis. Tiada hari ia lewati tanpa menangis. Seminggu setelah konferensi pers itu Allis benar-benar terpukul. Ia rasa dunianya hancur hingga ia pernah beberapa kali mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Lalu menenggelamkan dirinya di kolam renang. Dan juga meminum beberapa jenis obat. Tak sampai disitu ia pernah nekat akan terjun dari lantai dua namun untungnya bibi segera menangkap tubuhnya lalu memeluknya. Ia layaknya orang gila namun siapa yang tak seperti dirinya ditinggalkan oleh seorang anak.
Untungnya Sonia ia berinisiatif untuk menghandle semuanya. Ditengah Allis yang mengalami duka yang mendalam ia justru sedang mati-matian mempertahankan perusahaan Allis yang sedang maraknya mendapat pesanan. Ia bahkan sampai kewalahan menghadapi customer yang meminta ini dan itu.
Malam ini Sonia akan menjenguk Allis ia sudah bersiap-siap. Di apartemen ia baru saja selesai menyiapkan bubur dan juga salad buah. Segera ia keluar dari apartemen dan memasuki taksi yang beberapa saat yang lalu ia pesan.
Saat sampai ia melangkah menuju pagar rumah Allis. Dari pagar sejenak ia terpaku melihat sosok hitam yang berdiri di pojok pembatas kediaman Allis. Saat matanya bertemu tatap dengan mata Sonia sosok itu buru-buru masuk kedalam mobilnya. Lalu melesat pergi dengan cepat.
Bulu kuduk Sonia meremang ia segera masuk dan sedikit berlari. Bibi membukakan pintu nampaklah Sonia dengan senyuman manis.
"Selamat malam bibi".
"Selamat malam nona Sonia masuklah".
"Bibi aku membuat salad buah tadi ini untuk bibi semoga bibi suka, sebenarnya aku tak pandai memasak aku hanya bisa sedikit saja".
"Wahh terima kasih nona Sonia, kau tahu nona Sonia mendiang suamiku sangat menyukai salad buah".
"Bibi a-aku tidak bermaksud untuk aku tidak bermaksud seperti itu Bi".
"Tidak apa nona Sonia aku hanya tiba-tiba sangat merindukan dirinya".
"Bibi adalah wanita terkuat yang ada di muka bumi ini dan aku sangat menyayangimu Bi, apakah bibi tidak menyayangiku ?".
"Sangat nona Sonia".
"Syukurlah aku kira bibi hanya menyayangi Allis saja".
"Aku menyayangi kalian berdua termasuk nona Agatha, ah iya benar aku tak pernah melihat nona Agatha datang".
"Malam ini ia akan datang bi, ia tak sempat datang ia sedang membantu kakaknya menghandle bisnis diluar negeri, ia baru saja mengabariku bahwa pesawatnya akan landing beberapa menit lagi".
"Nona Agatha mungkin akan mengamuk nanti".
"Tidak, dia adalah wanita kuat sama seperti bibi dan juga Allis".
"Dan kau nona Sonia".
"Terima kasih bibi, aku menyayangimu aku akan menemui Allis dulu nanti buburnya dingin".
"Pergilah hati-hati mungkin ia sedang tertidur".
"Baik bibi ku sayang".
Sonia membuka pintu kamar Ethan dengan sangat perlahan. Ia dapat melihat Allis yang sedang meringkuk di atas ranjang sembari memeluk foto Ethan. Terlihat bahunya bergetar dan terguncang, benar Allis lagi-lagi menangis.
"Hallo kak Allis, bagaimana kabarmu hari ini ? Aku dengar kau sudah bisa memakan dua potong roti wahh hebat sekali".
Allis tak bergeming ia tetap pada posisi awalnya. Terdengar suara Allis yang bergetar akibat menangis.
"Aku menyesal karena memakan dua potong roti itu sekaligus, Ethan mungkin hari ini belum makan".
"Bangunlah, aku akan membantumu"
Sonia mendudukkan Allis kemudian membantu untuk menyandarkan kepalanya. Membantu mencari posisi ternyaman. Hati Sonia terenyuh melihat Allis yang sangat pucat dan kurus kering. Mata hitam dan juga rambut yang tak terurus. sebutir cairan bening menggenak dipelupuk mata Sonia segera ia tepis.
Saat menguatkan orang lain ia harus terlihat jauh lebih kuat bukan. Sonia tersenyum lebar dan sangat tulus. Dia mengelus kepala Allis bak anak kecil yang sedang menenangkan anaknya.
"Kau tahu kak Allis, disana Ethan mendapatkan makanan yang paling enak dan lezat, makanan yang tak pernah kita makan sebelumnya, sangat mewah dan lebih kaya dengan gizi dan juga nutrisi, disana Ethan mendapatkan vitamin yang sangat bagus, suatu saat kita pasti akan bertemu dengannya dan kita pasti tidak akan menyadari bahwa dia adalah Ethan karena dia tumbuh dengan sangat baik".
"Kapan itu Sonia ?".
"Apa ? bertemu dengan Ethan ?".
"Suatu saat, mungkin besok atau lusa atau satu tahun ke depan atau dua tahun ke depan atau bisa lebih dari itu".
"Jika bisa sekarang mengapa harus repot-repot menunggu sampai bertahun-tahun lamanya".
"Ethan pasti akan sangat marah saat melihat kau seperti ini, dia pasti akan memarahiku, bibi dan juga Agatha yang tak bisa mengurus dan merawatmu dengan baik".
"Sonia apakah dunia masih baik-baik ?".
"Dunia sangat baik kak Allis".
"Kita masih ada disini untukmu, apakah kau tak menyayangi dirimu sendiri ?".
"Tidak Sonia".
Sonia menghembuskan nafasnya pelan, rasanya ia bingung bagaimana harus menghadapi Allis.
"Ayo makanlah salad buah, aku sudah bersusah payah memasak untukmu, ini adalah salad buah pertamaku kau harus mencobanya dan aku akan sangat senang jika kau mau mencobanya lalu memberikan aku nilai untuk itu".
Sejenak Allis menatap salad buah pada kotak bekal yang Sonia bawa untuknya. Ada rasa tak enak pada hatinya melihat Sonia. Ia sudah bekerja keras untuk membuatkannya salad buah.
"Baiklah aku akan mencobanya".
Sonia bersorak gembira ia pun segera membuka kotak bekal itu. Lalu menyuapi Allis. Matanya berbinar menatap Allis yang lahap menyantap salad buah.
"Bagiamana menurutmu apakah enak ?".
"Humm ini sangat lezat, ini adalah salad buah terenak yang pernah aku makan".
"Sudah cukup Sonia aku sudah kenyang".
"Yahh aku lupa jika aku membuatkanmu bubur juga".
"Mana, aku akan memakannya juga".
"Berhasil, terima kasih Tuhan".*Batin Sonia.
Sonia tersenyum sembari bertepuk tangan kecil. Ia pun menyuapi Allis bubur kembali dengan telaten.
"Kapan Agatha akan datang ?".
"Sebentar lagi".
Cklekkk
Sontak keduanya menoleh panjang umur sekali Agatha. Baru saja dibicarakan kini ia sudah berdiri diambang pintu. Allis melihat Agatha dengan sendu sepersekian detik kemudian ia pun menangis.
"Allis".
Agatha berhambur berlari ketepi ranjang. Dirinya mematung melihat Allis yang sangat kurus dan juga pucat. Tangannya bergetar menyentuh pelan tangan Allis.
"Apakah tanganmu ini tidak sakit ? Mengapa tanganmu sangat kecil sekali ?".
Isak tangis Agatha membuat Sonia ikutan menangis. Agatha meraba wajah Allis.
"Mengapa pipi ini sangat tirus ?, matamu ada lingkaran hitam, bibirmu kering, rambutmu berantakan, bagaimana kau bisa menjadi seperti ini ?".
"Agatha duniaku sudah tiada, lalu untuk apa aku hidup jika duniaku sudah meninggalkanku".
"Hiks hiks hiks k-kau huhuhu".
Tak sanggup mengatakan apa pun lagi Agatha hanya meraung keras menangis di sisi Allis. Tiga puluh menit lamanya ia menangis memeluk lengan sembari meracau dan memaki takdir.
"Agatha apakah aku bisa minta tolong ?".
"Katakan Allis aku pasti akan membantumu".
"Bisakah kau membantuku untuk mendapatkan putraku kembali ?".
Hening
Tidak ada yang menjawab Sonia menangis sesenggukan. Agatha menatap penuh iba kepada Allis. Allis yang ditatap tersenyum pasrah lalu menarik tangannya dan mengusap air mata Agatha.
"Tak peduli aku harus menyerahkan hidupku dan harta yang aku miliki jika tidak cukup kau bisa kan meminjamkan beberapa lembar uangmu padaku".
Sesak sekali dada Agatha dia meremas seprai memejamkan mata merasakan sakit yang teramat sakit pada ulu hati.
"Jangan beberapa lembar uang seluruh dunia pun akan ku berikan padamu Allis namun".
"Namun apa Agatha, kau tak mau membantuku ?".
"Namun semuanya tidak akan pernah membuat Ethan kembali, meski kau akan menukarnya dengan dunia dan isinya sekali pun".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo kakak-kakak readers terima kasih selalu setia di lapak mimin, mimin nggak bisa up banyak-banyak mimin up satu episode satu hari mimin lagi kerja soalnya hehehe mohon di maklumi yah kakak-kakak jangan lupa untuk like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yahh
Terima kasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨