
Dave tersenyum senang, karena rencananya berjalan lancar. Tak dia kira, kalau Regan sangat cerdas dan dia menyepakati rencana Dave. Dave memang harus sedikit mengubah jalan cerita supaya Regan mau bekerjasama dengannya. Tak ada yang salah bukan, kalau itu untuk membawa Agneta kembali kepadanya.
Dave memasuki ruangan inap milik Agneta, dia tampak tengah diam membisu menatap handphonenya yang Dave ketahui dia sedang menatap foto Regan.
Agneta menengadahkan kepalanya menatap Dave, keduanya terdiam dan saling menatap ssatu sama lainnya. Sampai Dave beranjak mendekati brangkar Agneta dan Agneta langsung menunduk seraya memalingkan wajahnya.
"Ada apa?" tanya Agneta dengan nada datar.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dave tampak berbasa basi.
"Seperti yang kau lihat," ucap Agneta masih berusaha memalingkan wajahnya. Ini sudah 4 hari Agneta di rawat dan Dave baru saja datang menengoknya. Agneta memang tak berharap kedatangannya, tetapi tak bisa ia pungkiri jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam ada sedikit harapan kalau Dave mengkhawatirkannya.
"Regan sudah ketemu," ucap Dave tanpa basa basi masih dengan nada sedatar jalanan tol. Agneta menoleh padanya dengan mata yang berbinar.
"Be-benarkah?"
"Ya, kau ingin bertemu dengannya?" tanya Dave yang langsung di angguki oleh Agneta.
"Aku mohon bawa aku bertemu dengannya, Dave." Dave tak kuasa menolak keinginan Agneta yang tampak senang.
"Aku sudah menanyakan kondisimu pada Dokter, dan kau bisa pulang siang ini. Aku akan mengantarmu ke Regan." Agneta mengangguk antusias dan melupakan rasa kesalnya pada Dave.
***
Kini Agneta sudah duduk manis di samping Dave di dalam mobilnya menuju ke tempat dimana Regan berada. Hingga suara dering telpon Agneta menyadarkan mereka yang masih saling membisu. Nama Aiden tertera di sana, dan Agneta mengangkatnya.
Dave mendengar Agneta menjelaskan dimana dia berada sekarang dan akan kemana, Agneta juga memberitahu kalau Dave sudah menemukan Regan. Tak lama Dave mendengar Agneta meminta Aiden untuk tak berprasangka buruk dan mempercayainya. Dia tak akan mengecewakan Aiden. Tanpa sadar Dave menggulum senyuman misteriusnya. Sayangnya harapan Aiden tak akan nyata, karena sebentar lagi dia akan mendapatkan kekecewaan yang besar.
Agneta melirik sedikit ke arah Dave sebelum akhirnya ia memasukan kembali handphone nya ke dalam tas miliknya. Agneta menatap jalanan, ini bukan jalan menuju ke penthouse milik Dave.
"Kita akan kemana?" tanya Agneta.
"Bertemu Regan," ucap Dave masih dengan santai dan fokus menyetir.
"Kau tidak sedang menipuku kan Dave?" tanya Agneta memicingkan wajahnya penuh kecurigaan.
"Aku tidak akan membuang-buang waktuku untuk menipu seseorang," jawab Dave masih dengan nada datar membuat Agneta berusaha mempercayainya dan mengenyahkan pikiran tentang apa yang tadi di katakan Aiden.
***
"Bagaimana bisa dia hilang!"
Pekikan itu menggelegar di dalam ruangan kosong, beberapa orang di depannya hanya bisa menunduk tak berani mengangkat kepalanya. "Siapa yang mengambilnya?"
"Kami tidak tau Nyonya, mereka memakai kain hitam untuk menutup wajah mereka."
"Sial! Kalian sungguh tidak becus! Percuma aku membayar kalian mahal!" amuk Elena dengan wajah sangat kesal.
"Maafkan kami Nyonya!"
"Aku harus melakukan langkah selanjutnya," gumamnya dengan tatapan misterius.
***
Aiden baru saja mendaratkan pantatnya di atas kursi kebesarannya, ia mengepal kuat memikirkan Dave lebih unggul darinya. Dia yakin Dave yang telah menculik Regan dan dengan segala kelicikannya dia memutarbalikan fakta dan menuduh Ibu nya yang menculik Regan. Ia tau Dave melakukan hal licik ini untuk merebut Agneta darinya.
"Sialan!" geramnya menggebrak meja kerjanya. Ia sungguh sangat emosi, apalagi rasa takut itu seperti menghantuinya saat ini. Apalagi mengetahui Agneta hanya pergi berdua dengan Dave.
Dering intercom di atas mejanya berbunyi, tanda sekretarisnya menghubungi.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada tajam.
"A-anu Pak, ada Nyonya Elena ingin menemui anda." Aiden mengusap wajahnya seraya menghembuskan nafasnya gusar.
"Suruh masuk."
"Hallo sayang," sapa Elena berjalan anggun ke arah Aiden diikuti oleh seorang wanita cantik nan seksi di belakangnya. Wanita itu tampak angkuh dan menatap sekeliling ruangan dengan enggan.
"Ada apa Mom?"
"Mom ingin mengenalkan kalian berdua, ini Catherin. Sudah seharusnya kalian saling mengenal terlebih dulu."
Aiden maupun Catherin sama-sama saling menatap dengan enggan.
"Tante, maaf tetapi Catherin masih ada acara," ucapnya setelah berkenalan dengan Aiden.
"Ah iya, kau datang ke sini tanpa menggunakan mobil kan. Aiden, kau antar Catherin yah," perintah Elena.
"Aiden banyak pekerjaan, Mom." Tolak Aiden seraya mulai fokus dengan laptopnya.
"Ini bisa nanti, ayo cepat antar Catherin!" ucap Elena berusaha menekankan kata-katanya membuat Aiden semakin geram dan kesal.
"Mom-"
"Aku bisa sendiri, Tante."
"No no! Aiden, cepatlah!" perintah Elena membuat Aiden menghela nafasnya dan menyambar jas juga kunci mobilnya. Ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua diikuti Catherin.
***
Terima kasih karena kalian semua sudah menunggu lanjutan cerita ini dengan sabar.
Alhamdulillah aku juga sudah lahiran. Insa Allah kedepannya akan sedikit di percepat update annya.
jangan lupa love dan comment yah,
trims