
Berita mengenai kematian CEO WT Group Company sudah menyebar luas ke seluruh penjuru Indonesia bahkan luar Indonesia. Ada beberapa karyawan yang menangisi kepergian Davero dan sebagian lagi tak perduli. Berita ini juga memberikan kebahagiaan bagi Ibu Aiden tetapi kesedihan bagi Agneta. Hanya Regan yang belum mengetahui berita ini karena Agneta tak ingin memberitahukannya lebih dulu.
Walau di larang oleh Kay, Agneta tetap ngotot datang ke pemakaman Dave siang itu.
Agneta berdiri di barisan paling depan dan menatap nanar pigura Dave yang di simpan di dekat bunga besar dan juga dinding kokoh yang menjadi pembatas pemakaman Dave. Air matanya terus mengalir tanpa bisa di hentikan, kedua tangannya saling bertautan dan ia sibuk memainkan cincin pernikahan dirinya dan Dave.
Bukan hanya Agneta yang ada di sana, tetapi France dan Natalie juga hadir begitu juga dengan kedua orangtua Aiden. Natalie dan France terus menatap ke arah Agneta yang seakan ingin segera melenyapkan Agneta.
Satu per satu orang meninggalkan pemakaman saat pemakaman telah usai, hingga menyisakan Agneta sendirian. Agneta menundukkan kepalanya dan berbalik, tetapi langkahnya terhenti saat ia beradu pandangan dengan Aiden yang berdiri tak jauh darinya. Aiden mampu melihat kesedihan di mata Agneta, bahkan air mata Agneta tak urungnya berhenti mengalir.
Tanpa kata, Agneta berjalan melewati tubuh Aiden. "Kau selalu beruntung dan berhasil merebut semua yang aku inginkan, Dave." ucapan Aiden menghentikan langkah Agneta yang sudah 2 langkah melewati Aiden.
"Pertama kau merebut mainanku saat kecil, kau merebut perhatian orangtuaku, bahkan kau juga berhasil merebut perusahaan. Semua itu sudah aku ikhlaskan untukmu, tetapi yang ini aku sulit melepaskannya. Tetapi kau juga berhasil merebut hati Agneta, dan membuatnya begitu mencintaimu." Aiden berkata dengan menekan hatinya yang terasa terluka dan hancur hingga bernanah. Agneta menoleh ke arahnya tetapi tak mampu melihat matanya karena Aiden memakai kaca mata hitam.
"Apa kamu begitu terluka karena kehilangannya?" kini Aiden berbalik ke arah Agneta yang masih berdiri di tempatnya. "Kau begitu mencintainya, bukan?"
Agneta masih diam membisu mendengar penuturan Aiden. Ia tidak tau harus menjawab apa, kenyataannya ia begitu sakit dan merasa sangat kehilangan. Ia bahkan ingin semua ini hanya mimpi buruk.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya, Agneta?"
"Aku-" gumam Agneta menatap pigura Dave di belakang tubuh Aiden. Tanpa di minta, air matanya kembali luruh membasahi pipinya. "Aku tidak tau bagaimana perasaanku padanya, tetapi sekarang aku merasa diriku mati dan rasanya sangat sakit. Aku merasa setengah dari diriku telah di renggut paksa dan rasanya sangat menyakitkan."
Aiden tersenyum miris dan terlihat cairan bening mengalir dari balik kacamatanya membasahi pipi. "Dia sangat beruntung mendapatkan hatimu," ucap Aiden dan beranjak pergi melewati Agneta dengan mengusap air mata di pipinya.
Agneta masih berdiri kaku di tempatnya menatap pigura Dave hingga ia di sadarkan oleh suara tembakan yang begitu keras. Ia menoleh ke sekelilingnya hingga ia melihat Key berlari ke arahnya dan menarik lengannya.
"Cepat kita harus pergi dari sini!"
Agneta tak menolak dan mengikuti Key meninggalkan tempat itu.
***
"Ada apa ini Key? Kenapa aku dan Regan harus tetap berada di sini?" pekik Agneta.
"Di luaran sana banyak yang ingin membunuhmu dan Regan. Pahamilah Agneta, kini mereka semua sudah mengetahui kalau kamu dan Regan adalah bagian dari kehidupan Dave!" ucap Key.
"Tapi apa yang mereka harapkan dan inginkan dariku dan Regan? aku tak memiliki apapun! Kini Dave sudah meninggal dan apalagi yang mereka harapkan?"
Prank
Agneta dan Key sama-sama menoleh ke ambang pintu, di sana Regan berdiri kaku dengan miniatur batmannya jatuh ke lantai.
"Regan!" Agneta bergegas mendekati Regan.
"A-apa benal Ayah, Ayah Egan meninggal?" gumamnya menatap ke arah Agneta.
Agneta tak bisa menjawabnya dan hanya diam saja. "Bunda! katakan itu boong!" teriak Regan.
"Regan sayang, Ayah kamu. Ayah sudah tenang di sana," ucap Agneta.
"Bunda boong! Ayah Egan itu pahlawan kayak Batman, Ayah Velo gak mungkin meninggal dan ninggalin Egan! Balu juga Egan punya Ayah!" teriak Regan dengan air matanya yang luruh begitu saja membasahi pipi.
"Regan sayang tenanglah." Agneta hendak memeluk Regan tetapi Regan menjauh darinya.
"Regan," Agneta memeluk Regan dan ikut menangis bersama putranya.
***
Agneta sudah sangat kesal sekali, ini sudah seminggu berlalu dan ia di kurung di dalam rumah besar itu tanpa bisa keluar karena alasan kalau di luar sana banyak yang menginginkan nyawanya dan Regan.
Tak lama dia mendengar suara beberapa orang, Agneta segera menggendong Regan dan menghampiri mereka semua. Ia sempat kaget melihat kedatangan Kay, Key, Aiden dan juga seorang pria tua.
"Aiden," gumamnya.
"Ayah Aiden," ucap Regan menuruni Agneta dan berlari ke arah Aiden.
"Regan." Aiden memeluk Regan dan membawanya ke dalam gendongannya seraya mencium pipinya yang gembil.
"Kita bicara di ruang keluarga," ucap Kay dan mereka semua berjalan menuju ruangan tengah.
Di sana pria tua yang di bawa Kay dan Key itu mulai berkata dan memperkenalkan diri bahwa dirinya adalah pengacara pribadi dari Davero. Di sana ia membacakan wasiat yang di tulis Dave sebelum dia pergi ke Brazil. Dave seakan tau kalau kepergiannya itu tak akan pernah kembali.
Di dalam surat wasiat yang di bacakan pria tua itu jelas tertera bahwa seluruh kekayaan yang di miliki Dave dia serahkan seluruhnya kepada Regan putranya. Dan untuk perusahaan WT ia meminta Aiden sebagai wakil dari Regan yang akan mengelola semua itu sebelum Regan berusia 17 tahun.
Baik Agneta maupun Aiden, keduanya sama-sama membelalak lebar. Bahkan di sana jelas tertulis kalau Dave meminta Aiden untuk menjaga Agneta dan Regan.
"Tapi kenapa?" pekik Agneta.
"Ini yang di tulis Mr. Davero, Nyonya."
"Ini keinginan Dave, Agneta," ucap Kay.
"Tetapi kenapa aku?" tanya Aiden menatap Kay dan Key secara bergantian.
"Kami tidak tau, mungkin Dave sudah mempercayaimu, Aiden." Aiden terdiam membisu di tempatnya. Ini sungguh sangat mengejutkannya, ia kira Dave membencinya dan menganggapnya musuh. Tetapi bagaimana bisa dia mempercayakan semua hartanya, Regan juga Agneta pada Aiden.
***
"Bagaimana?"
"Mereka sangat syock mendengar isi dari surat wasiat itu." Orang yang tengah duduk itu tersenyum kecil. "Kenapa kau menulis surat seperti itu, Dave?" tanya Key.
"Karena semuanya telah selesai," ucap Dave menatap keluar jendela menatap jalanan di luar sana yang tampak ramai. "Dimana mr. Ali?"
"Sedang berbicara dengan Kay di luar."
Dave menatap nyalang penuh misterius keluar sana. Sedikit bebannya telah berkurang. "Kita lakukan rencana selanjutnya, Key. Kau siapkan segalanya."
"Baik," ucap Key. "Emm Dave, apa kau baik-baik saja?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Maksudku masalah Regan dan Agneta, emm apa kau tak takut Agneta akan kembali bersama Aiden." Dave hanya diam membisu mendengar ucapan Key barusan.
***