
Agneta mendapat pesan dari Dave, kalau dia sudah menunggunya untuk makan malam di restaurant bawah. Agneta hanya memakai celana kain hitam di padu dengan t-shirt panjangnya. Ia membiarkan rambut pirangnya terurai bebas.
Sesampainya di restaurant, ia melihat beberapa wanita berbisik-bisik. Ia memperhatikan beberapa pelayan restaurant yang berkumpul sambil berbisik-bisik menatap ke satu titik. Agneta mengikuti arah tatapan mereka. Ternyata yang menjadi pusat perhatian di sini adalah bos nya sendiri, ayah kandung putranya. Pria itu tampak santai dengan kaos yang membentuk tubuh sixpacknya, dia terlihat begitu tampan dan seksi. Pantas saja semua wanita menatap ke arahnya dengan tatapan lapar.
Agneta menundukkan kepalanya menatap penampilannya yang jauh dari kata rapi, ia merasa minder akan duduk berdampingan dengan Dave di sana. Tanpa sadar, Agneta mundur selangkah menatap pantulan dirinya yang terpantul dari kaca yang menjadi pembatas restaurant itu. Ia sedikit merapihkan rambutnya dan melihat wajahnya yang tanpa make up. Tetapi cukup lama ia tersadar apa yang dia perbuat.
Bodoh... pikirnya langsung berjalan menuju Dave tanpa mau menatap pantulan dirinya lagi. Untuk apa dia ingin terlihat rapi dan cantik di depan Dave. Pria bossy itu bisa-bisa besar kepala kalau tau dirinya berdandan untuk bertemu dengannya. Jangan harap itu terjadi.
Dave mengalihkan tatapannya dari smartphone di tangannya saat mendengar kursi di tarik di depannya. Agneta duduk di sana dengan memasang wajah datarnya seperti biasa.
"Kau lama sekali," ucap Dave yang tak di indahkan oleh Agneta. "Mau pesan apa?"
Agneta membuka buku menu di hadapannya bertepatan dengan seorang pelayan yang mendekati mereka.
"Aku ingin makan steak," ucap Agneta menyebutkan minumannya diikuti oleh Dave.
"Dan tolong satu botol anggur," ucap Dave yang di angguki pelayan itu dan berlalu pergi.
"Jadi apa yang akan kita kerjakan di sini?" tanya Agneta menghentikan gerakan Dave yang hendak menatap smartphone nya lagi. Agneta sungguh buta dan tidak tau apapun kenapa dia di ajak ke sini dengan alibi pekerjaan. Agneta bukanlah sekretaris Dave, bahkan seorang Marketing akan sangat jarang berhubungan langsung dengan CEO perusahaan.
"Menemaniku," ucap Dave dengan santai membuat Agneta melongo.
"Kau memintaku datang ke sini jauh-jauh dan meninggalkan Regan hanya untuk menemanimu?" pekik Agneta masih menahan kekesalannya. Entah kenapa emosinya langsung mencuat ke permukaan.
"Tidak juga, kau juga akan bekerja di sini menjadi asistenku. Aku ke sini karena benar ada pekerjaan bukan untuk liburan, Neta. Aku tidak pernah bisa membuang-buang waktuku."
Agneta menggeram kesal dan memilih diam saat seorang pelayan pria dengan dasi kupu-kupu dan rompi hitamnya datang menyuguhkan anggur pesanan mereka dan menuangkannya ke dalam dua gelas berkaki di atas meja.
"Selamat menikmati," ucap pelayan itu dan berlalu pergi.
"Regan tidak terbiasa aku tinggalkan terlalu lama," ucap Agneta, entah kenapa saat ini ia tidak ingin menyembunyikan apapun mengenai Regan. Yah, bagaimanapun Dave adalah Ayah biologisnya.
"Aku sudah meminta salah satu asistenku untuk menjaga Regan dari jauh dan mengirimkan beberapa kebutuhannya. Lagipula kita di sini hanya untuk 5 hari." Dave mengucapkannya tanpa menatap ke arah Agneta.
Sejak kejadian malam itu, saat Dave hampir menyentuhnya kembali. Saat Agneta mengatakan kata-kata pedasnya, Dave berubah menjadi dingin padanya. Dia terlihat tak perduli dan menutup dirinya kembali. Entah kenapa, ada rasa tak rela dan sedih di hati Agneta walau hanya sedikit. Ingat hanya sedikit.
Pesanan mereka datang, dan mereka langsung menyantap makanan mereka dalam diam, hanya suara dentingan pisau dan garpu yang terdengar. Agneta meneguk anggur merah miliknya, dan rasanya sungguh manis hingga mampu menyegarkan tenggorokannya.
"Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kamar," ucap Agneta beranjak dari duduknya seraya melepaskan serbetnya.
"Duduk Agneta," perintah Dave menatapnya.
"Aku sudah lelah dan mengantuk," kilah Agneta.
"Duduk dan temani aku menghabiskan anggur ini," ucap Dave masih dengan nada suara yang tenang tetapi penuh perintah yang tak terbantahkan.
Dengan kesal, Agneta kembali duduk di atas kursi dan melirik Dave yang menyesap anggur di dalam gelasnya perlahan membuat Agneta menghembuskan nafasnya kasar. Ia mengeluarkan handphone nya dan ia melihat beberapa notif pesan masuk juga telpon dari Aiden. Ia lupa mengabari Aiden kalau dia sudah sampai atau belum.
"Ya Aiden?" tanya Agneta saat handphone nya kembali berdering, dan seketika tatapan tajam Dave mengarah ke arah Agneta di depannya.
"Ya, aku sudah sampai tadi sore," ucap Agneta sedikit tak nyaman dengan tatapan Dave yang sangat mengintimidasinya. Agneta hendak beranjak dari duduknya tetapi Dave menahan pergelangan tangannya dan memberi kode untuk duduk kembali dengan matanya. Mau tak mau Agnetapun kembali duduk di hadapan Dave.
"Tidak ada, semuanya baik-baik saja." Agneta masih menatap Dave yang menatapnya tajam. Baru kali ini ia menerima telpon dalam keadaan yang mencekam.
"Hmmm..."
"Iya,"
"Iya Aiden," ucap Agneta masih menundukkan kepalanya dengan sesekali melirik ke arah Dave yang menyesap minumannya.
"Aku- aku- ya aku juga."
"Emmm ya aku- aku juga merindukanmu." Tatapan elang itu seakan menyala tajam, dalam mode membunuhnya. Tanpa sadar Agneta menelan salivanya sendiri. Kenapa ia merasa seperti kekasih yang ketahuan selingkuh?
"Aiden aku sangat lelah, aku ingin beristirahat," ucap Agneta segera mengakhiri pembicaraannya.
"Iya, selamat malam." Agneta terpaksa tidak menjawab ungkapan cinta dari Aiden, entah kenapa bibirnya terasa begitu kelu untuk menjawabnya.
"Kapan kau akan memutuskan hubungan kalian?" tanya Dave tanpa basa basi.
"Apa maksudmu?" tanya Agneta mengernyitkan dahinya bingung.
"Kau jelas tau maksudku, Neta." Dave masih berucap santai seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tampak menghela nafasnya lelah. "Jangan memaksaku berbuat sesuatu yang akan menghancurkanmu."
"A-aku tidak mengerti," gumam Agneta.
"Regan."
Deg
Seketika ketakutan Agneta semakin mencuat dan tubuhnya mendadak merinding. Tidak, jangan Regan!
"Aku tidak akan memaksamu, tetapi kau memiliki pilihan Neta." Dave menyesap minumannya sesaat sebelum menatap mata Agneta yang masih kaget dengan tatapan tajam. "Kau bisa pilih Aiden atau Regan."
***
"Apa kau gila Kay?" pekik Key.
Saat ini mereka berdua tengah berada di sebuah club malam dan menikmati minumannya di dalam ruangan privasi mereka.
"Aku tidak gila. Aku hanya memikirkan Agneta dan anaknya," ucap Kay mengusap wajahnya gusar.
"Tidak, kau memikirkan Aiden." Key sangat meradang melihat kembarannya itu yang selalu saja bimbang dan dilema. "Ingat! Atasan kita Dave, kita tidak bisa berkhiatan!"
"Aku tidak berkhianat, kau tau sendiri Aiden sangat baik. Dan ku pikir Agneta dan Regan akan aman dan bahagia bersamanya. Maka dari itu kita harus memberitahunya sekarang juga dan memintanya segera menikahi Agneta dan mengambil hak asuh Regan sebelum Dave melakukan hal yang lebih mengerikan."
"Tidak Kay, gue tidak setuju!" ucap Key bersikeras. "Kau tau masalalu Dave! Kau tega melakukan ini padanya!"
"Ini demi kebaikan dia juga Key, supaya dia tidak terus hidup dalam dendam masalalunya. Dia merebut Agneta dari Aiden karena dendamnya pada Aiden!" ucap Kay. "Kau bisa bayangkan bagaimana hancurnya Agneta dan Regan kalau mengetahui Dave hanya menjadikan mereka sebagai bahan balas dendam?"
Key tersenyum kecut. "Sudah berapa lama kau mengenal Davero? Dia sahabat kita di luar dia atasan kita. Kita tau bagaimana kehancurannya. Bagaimana dia melawan semua ini. Dan gue sanksi kalau dia mendekati Agneta hanya untuk membalas dendam pada Aiden." Key berucap penuh keyakinan.
"Bagaimana bisa kau seyakin itu?"
"Karena saat pertama kali bertemu wanita itu, Dave berubah. Dia meminta kita menyelidiki Agneta, dia sudah menginginkan Agneta padahal dia tidak tau kalau Agneta kekasih Aiden. Kalau dia berniat balas dendam, mungkin dia tidak akan repot-repot seperti ini."
Kali ini Kay terdiam membisu, benar yang di katakan oleh kembarannya itu. "Dengar Kay, untuk kali ini biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Aku paham kau melindungi Aiden karena kau berhutang nyawa padanya, tetapi tidak seperti ini caranya. Gue rasa Agneta adalah sesuatu yang akan menjadi cahaya dalam kehidupan Dave yang gelap."
"Untuk kali ini saja kita percayakan pada Dave," ucap Key berusaha meyakinkan kembarannya. Ia tidak ingin kembarannya malah membuat semuanya menjadi runyam.
***