
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi....
Sesampainya di gedung yang menjulang tinggi. Allis mendongak menatap sembari menggelengkan kepala dan berdecak kagum. Siapakah dibalik perusahaan semegah dan sesukses itu, pikirnya.
Allis melangkahkan kakinya ringan menuju pintu loby. Ia sampai di depan meja resepsionis. Dengan senyuman terbaiknya ia mencoba menyapa resepsionis cantik itu.
"Hallo".
"Hallo selamat datang di Smith Company, ada yang bisa kami bantu ?".
"Terima kasih, saya sudah membuat janji dengan Presdir perusahaan".
Resepsionis cantik itu sontak menganga lebar. Temannya yang lain pun ikut terpaku mendengar perkataan Allis. Ia sampai menjatuhkan ganggang telepon yang sempat ia pegang.
"A-apa ?".
"Iya benar, saya ada janji dengan Presdir apakah beliau sudah hadir ?".
"B-be-belum nyonya".
"Aah benarkah, apakah aku terlalu cepat ?".
Kedua resepsionis cantik itu saling menatap seakan-akan saling memberitahu pendapat masing-masing. Seolah-olah wanita cantik didepan mereka adalah tamu penting Presdir karena selama mereka bekerja disana tidak ada yang pernah datang ke perusahaan termasuk keluarga Presdir.
Buru-buru mereka membawa Allis ke ruang tunggu yang tak jauh dari lift. Allis bingung mengapa dia dibawa kesana aahh setelah dia melihat tulisan "waiting room" rasa bingungnya perlahan menghilang. Sepuluh menit berlalu tak kunjung ada tanda-tanda resepsionis menjemput atau memberitahukan dirinya suatu kabar yang ia tunggu hingga.
"Nyonya Allis".
Sontak Allis melihat kebelakang tubuhnya. Dia dapat melihat pria tampan yang bertubuh tegap berdiri diambang pintu dengan beberapa dokumen ditangannya.
"Ahh hallo tuan Andrew".
"Nyonya sudah lama menunggu ?".
"Tidak-tidak, saya baru saja sampai".
"Ahh baiklah, mari ikuti saya nyonya".
Allis meraih tasnya dan beberapa dokumen yang ia letakkan di atas meja. Dia beralih mengikuti Andrew dari belakang. Tepat di depan pintu lift Andrew berhenti.
"Masuklah nyonya".
"Mengapa kau tak masuk duluan ?".
"Nyonya masuklah lebih dulu saya akan menyusul".
Tanpa berpikir panjang Allis masuk lebih dahulu seperti apa yang dikatakan Andrew. Belum sempat ia berbalik badan salah seorang pria masuk kedalam lift berbarengan dengan tertutupnya pintu lift. Allis terkejut melihat siapa yang disampingnya, ia berpikir ini tak seperti Andrew bentuk tubuhnya berbeda dengan Andrew.
Allis hanya diam tanpa berkata-kata, namun ia merasa sedikit gugup karena pria itu terus saja menatapnya dari pantulan dinding lift. Allis mulai mencuri-curi pandang, tingginya pria itu terpaut sangat jauh dengannya.
"Apakah aku begitu tampan sampai kau terus saja mencuri pandang dariku ?".
Allis terjingkat kaget ia pura-pura merapikan rambutnya. Dia menunduk malu dan kesal pada dirinya bagiamana mungkin ia melakukan hal bodoh seperti itu. Terdengar langkah pria itu mendekati dirinya yang berada di pojok lift.
Jantung Allis tiba-tiba berdegup kencang ia merasa sangat gugup dan juga takut. Bagaimana jika pria aneh itu membunuh dirinya. Namun apa iya ini di lift pasti ada cctv-nya bukan. Kini pria itu tepat berada didepannya Allis masih setia menunduk sambil merasakan kakinya yang bergetar.
Tangan pria itu tergerak mendekati dirinya Allis segera beringsut ketepi sampai bersentuhan dengan dinding lift. Merasa usahanya gagal, lagi tangan pria itu tergerak untuk menyentuh pundaknya namun Allis kembali beringsut kearah berlawanan.
Pria itu geram untuk kali ini dia merasa bahwa ada wanita yang tak menginginkannya. Namun sepersekian detik kemudian dia mengurung Allis dengan kedua tangannya yang ia letakkan diantara kedua sisi tubuh Allis.
"Kau tak akan bisa lari lagi dariku".
"Apa yang kau inginkan ?".
"Kau".
Sontak Allis langsung mendongak menatap wajah pria yang menjebak dirinya. Sedetik kemudian setelah mereka beradu pandang wajah Allis langsung pucat pasi. Kakinya terasa melemas tubuhnya ikut bergetar.
"K-kau apa yang kau lakukan disini ?".
"Kau mengenaliku ?".
"T-tidak kita tak mengenal tapi kita pernah bertemu".
"Benarkah ?".
"I-iya benar".
"Dimana seingatmu kita bertemu ?".
"Di bandara".
"Aah benarkah ?".
"Saya rasa begitu".
Allis menjawab pertanyaan itu dengan nada yang penuh keyakinan. Ia tak mau ditanya lebih dalam lagi.
"M-malam apa ?".
"Aku rasa ingatanmu cukup bagus".
Pria itu bergerak lebih dekat menghimpit tubuh Allis. Allis memundurkan wajahnya sambil menutup matanya. Keringat dingin sudah bercucuran dari keningnya. Pria itu meniup wajah Allis dengan lembut. Bulu kuduk Allis meremang seketika mendapat perlakuan seperti itu.
"Kau tahu kau tak lebih dari zat cair dan aku adalah zat padat yang dimana kau akan selalu mengisi zat padat layaknya air yang mengisi sebuah aquarium".
"A-apa maksudmu tuan saya tak mengerti ?".
Pria itu melepaskan kungkungannya dari Allis. Tak berselang lama lift berbunyi dan bersamaan dengan itu pintu pun terbuka. Allis segera merapikan penampilannya dan mencoba mengatur nafasnya. Didepan pintu lift Andrew sudah berdiri dengan tegap dengan seorang wanita disampingnya yang tak lain adalah Bella.
"Selamat datang dan selamat pagi Mr".
Andrew dan Bella menunduk hormat mendapati Sean yang baru saja keluar dari lift.
"Hmmm".
"J-jadi dia pemilik perusahaan ini, Presdir yang akan aku temui".*Batin Allis
Allis mencoba menarik paksa senyumnya saat Andrew menyapa dan memintanya untuk mengikutinya masuk. Bella menatap Allis dengan sinis namun Allis tak menanggapinya.
"Nyonya akan membicarakan segalanya bersama dengan Presdir kami Mr. Sean Darren Smith".
"Hah ahh baiklah".
"Mari nyonya silahkan masuk".
Andrew membukakan pintu untuk Allis, Allis mulai melangkahkan kaki jenjangnya masuk kedalam ruangan megah Sean. Ia dapat melihat Sean yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan tegap. Sorot mata tajamnya menatap layar komputer.
"Duduk".
Satu kata dengan suara bariton membuat Allis terjingkat kaget. Dengan spontan Allis duduk di sofa empuk yang tak jauh dari meja kerja Sean. Sean berdiri dari duduknya lalu menghampiri Allis dengan sejumlah dokumen ditangannya.
"Kau hanya perlu mendatangani kontrak kerja selebihnya kau bisa membicarakannya dengan Andrew".
"Hah ?".
Braakkk
Sean menghentakkan dokumen tanda tangan kontrak tepat di depan Allis. Allis terkejut bukannya tadi ia mengobrol dengan Sean di dalam lift. Bukannya pria itu terlihat sangat lembut saat di lift namun sekarang apa ini. Apakah pria ini memiliki temperamen yang buruk ?".*Batin Allis
"Saat bekerja kau harus memilki tingkat kefokussan yang tinggi".
"Silahkan".
Allis meraih dokumen kerja untuk mendatangani kontrak. Surat kontrak berjangka lima tahun jika memutuskan secara sepihak tertulis dengan sebesar 200 miliar. Allis menelan ludahnya kasar ia tertegun dengan semua isi kontrak yang akan dia tanda tangani.
"Ini apakah saya harus melakukannya ?".
"Hmm".
"Mengadakan pertemuan setiap minggu apa yang harus dibahas sampai setiap minggu ?".
"Perkembangan perdagangan go internasional".
"Setiap bulan mengadakan jamuan ?".
"Hmm".
"D-dan.."
"Jika kau tidak menyetujuinya kau tak perlu menandatanganinya".
"Ahh baik-baik, saya akan menandatanganinya".
"Apa-apaan ini aku merasa bahwa aku berada didalam jebakan iblis kejam ini, aku harus bisa menguasai rasa takut ini aku tak boleh egois".*Batin Allis
Tangan Allis bergetar saat menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan Sean, Smith Company. Untuk kali ini dia berusaha untuk setenang mungkin menghadapi pria di depannya. Masa lalu tetaplah masa lalu dan tidak akan pernah menjadi masa depan, pikir Allis.
.
.
.
🌼 Bersambung 🌼
Haloo author up lagi hehe maaf banget lama nunggunya sekarang author mau crazy up deh suerr.
jangan lupa like, komen, tekan favorit dan VOTE sebanyak-banyaknya dan jangan lupa klik profil author kemudian follow akun mangatoon author.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨