He'S Back

He'S Back
Episode 55



            1 minggu sudah berlalu dan Agneta masih tak percaya kalau Dave sudah tak bersamanya lagi. Dulu dia begitu ingin Dave pergi, menghilang bahkan lenyap dari muka bumi ini dan menjauh dari hidupnya dan Regan. Tetapi sekarang, kenapa rasanya begitu hampa dan sakit, bahkan terasa sangat sakit. Ia merasa separuh dalam dirinya pergi dan menghilang. Bahkan air mata terasa tak urungnya berhenti.


Sekarang bahkan ia tak tau akan melanjutkan hidup yang bagaimana bersama Regan, tetapi tanpa Dave.


Bayangan saat-saat terakhir Dave bersamanya terus terngiang di kepalanya bagaikan video yang terus di putar berulang-ulang. Masa-masa Dave bersama Regan dan mereka tertawa bersama, tawa yang sangat jarang sekali Dave tunjukkan.


Di sisi lain, Dave tampak termenung menatap nyalang ke kolam renang di depannya dengan segelas anggur di tangannya. Sebelah tangannya ia masukan ke dalam saku celananya dan sebelah lagi ia memegang gelas berkaki. Keadaan seakan memaksanya untuk mengorbankan segalanya.


Flashback


"Mr. Dave, kita kembali ke Indonesia besok pagi dengan helikopter. Sudah kami siapkan," seru asistennya Aldo.


"Begitu yah, baiklah," ucap Dave kembali membaca berkas di tangannya. Aldo berpamitan pergi kepada Dave.


Keesokan harinya, Dave sudah di dalam lift menuju atap hotel tempatnya menginap untuk menaiki Helikopter yang sudah menantinya. Di dalam lift hanya ada Aldo, Dave dan seorang pria yang merupakan bodyguardnya. Seketika sebuah pesan masuk dari salah seorang kepercayaannya yang di tugaskan untuk memantau keadaan.


Dia mengatakan kalau helikopternya sudah di rancang oleh seseorang untuk mencelakai Dave.


"Aldo,"


"Yes Sir," jawab Aldo.


"Kau naiklah ke helikopter lebih dulu," ucap Dave dengan nada datar tanpa ekspresi.


"Emm, tapi bagaimana dengan anda?" tanya Aldo tampak bingung. Dan perubahan ekspresi Aldo itu tertangkap oleh Dave, di sana Dave tau kalau Aldo tak berada di pihaknya. Dan Dave yakin bodyguard di belakangnya pun tak berada di pihaknya.


Seseorang sudah merancang semua ini, supaya Dave terjebak dan terbunuh. Tetapi Dave terlalu pintar untuk di tipu mereka. Dia sudah terbiasa di khianati, dan dia tidak pernah percaya lagi pada siapapun.


"Aku ingin bertemu dengan manager hotel ini terlebih dahulu," ucap Dave masih datar tanpa ekspresi.


"Kalau begitu kami akan menunggu anda," ucap Aldo.


"Baiklah," ucap Dave meminta Aldo menekan nomor lantai dimana manager hotel berada.


Dave berjalan angkuh keluar lift diikuti mereka berdua, seorang sekretaris menyapa mereka dan mempersilahkan Dave masuk ke dalam ruangan manager tanpa Aldo dan bodyguardnya yang hanya menunggu di luar ruangan.


"Mr. Dave, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya manager hotel yang tampak kaget di datangi oleh Davero.


"Aku butuh bantuanmu," ucap Dave.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya.


Dave mengatakan segalanya pada pria itu. Setelahnya Dave kembali keluar dan kembali menuju lift bersama Aldo dan bodyguardnya itu menuju lift dan pergi ke atap hotel.


Di dalam lift hanya keheningan dari mereka, hingga Dave berbalik dan meninju bodyguardnya itu membuat Aldo memekik kaget.


"Sir!"


Dave memukul bodyguardnya yang tampak tak siap hingga terjatuh dan pingsan. Kini Dave melihat ke arah Aldo yang ketakutan.


"Jangan macam-macam Sir, a-anda bisa di tuntut karena melakukan kekerasan pada karyawan!" ucap Aldo berjalan mundur.


"Benarkah? Kenapa kau tak mengatakan apa salahmu hingga aku ingin mencelakaimu, kenapa malah berkata seperti itu? Apa itu berarti kau sudah mengakui kalau kau berkhianat padaku?" tanya Dave dengan tajam dan begitu menakutkan.


"I-itu-" Aldo kehilangan kata-katanya dan dia merasa sangat ketakutan. "Di sini ada CCTV yang akan merekam perbuatan anda."


"CCTV yah," ucap Dave sedikit mengejek dan seketika bayangan Aldo kembali pada beberapa menit lalu dimana Dave menemui Manager hotel. Dia yakin Dave meminta CCTV di dalam lift ini di matikan. "Ck, kau tidak terlalu pintar untuk menjebakku, Aldo."


"S-sir, tolong jangan lakukan apapun padaku! a-aku hanya mengikuti perintah, a-aku membutuhkan uang untuk pernikahanku," ucapnya.


"Kau mendapatkan uang dengan cara yang kotor," ucap Dave meninju perut Aldo hingga dia membungkuk dan meringis kesakitan.


"Tolong jangan lakukan apapun padaku," gumamnya.


"Baiklah, tetapi lakukan satu hal untukku."


"Baik Sir," ucap Aldo.


5 menit kemudian pintu lift terbuka, dan 2 orang pria keluar dari dalam lift meninggalkan satu orang yang memakai pakaian bodyguard dengan topi hitam yang menutupi wajahnya. Aldo sedikit melirik ke belakang dan tatapan iblis yang menakutkan itu membuatnya tak berani berkutik.


Aldo terpaksa memakaikan bodyguardnya tadi yang masih dalam keadaan pingsan untuk memakai jas milik Dave dan membawanya menaiki helikopter. Pria itu masih dalam keadaan pingsan hingga Aldo bisa membawanya begitu saja dan mengelabuhi 2 orang bodyguard juga pilot helikopter. Mereka pergi dengan 2 helikopter dan meninggalkan Aldo sendiri di sana dengan alasan masih ada pekerjaan. Saat Aldo ingin berlari untuk segera kabur, Dave yang sejak tadi menunggunya di sudut dinding menghadangnya dengan melayangkan tendangan saat Aldo melewati posisinya.


"Sir!" gumamnya ketakutan.


"Aku tidak terbiasa melepaskan pengkhianat," ucap Dave langsung menarik kerah baju Aldo bagian belakangnya dan membawanya pergi menaiki helikopter milik hotel yang saat itu langsung datang.


Flashback off


Karena sudah terlanjur tersebar ke seluruh dunia bahwa dirinya telah meninggal dalam kecelakaan, Dave terpaksa bersembunyi dan mencari keberadaan Devara bersama Mr. Ali. Dave akan memberantas semua pengkhianat hingga ke hal kecilnya. Dan semua itu butuh pengorbanan, Dave terpaksa mengorbankan Agneta dan juga Regan. Tetapi ia merasa tenang, karena sampai kapanpun kehidupan mereka akan terjamin dengan warisan dari Dave. Walau kini dirinya tak memiliki kekayaan apapun.


"Dave," seruan itu membuatnya menoleh.


"Mr. Ali," gumam Dave.


"Ini dokumen yang di titipkan Devara padaku sebelum dia menghilang," ucapnya menyerahkan dokumen itu pada Dave yang langsung membukanya.


"Exped Inc?" gumam Dave. "Apa ini?"


"Aku juga tidak tau, tetapi sebelum Devara menghilang, dia menitipkan dokumen itu. Katanya semua musuh orangtuanya mencari dokumen itu." jelas Mr. Ali.


"Ini adalah sebuah perusahaan Internet," gumam Dave membaca isi dari dokumen itu. "Ini sebuah perusahaan internet besar yang  mengoperasikan beberapa merek perjalanan dan penjualan secara online," gumam Dave berpikir keras.


"Kalau ini alasan mereka mencelakai keluargaku, sudah jelas sekali. Karena ini adalah perusahaan raksasa yang bahkan berkali-kali lipat di banding WT company. Jadi ini yang mereka incar sebenarnya," gumam Dave hingga sebuah telpon menyadarkannya.


"Dimana?"


"....."


"Apa kau yakin di sana ada seseorang yang di sekap?"


"......"


"Apa mungkin Devara?"


Dave dan Mr. Ali saling bertatapan penuh kecurigaan. "Tetaplah awasi mereka."


"Bagaimana? apa kalian menemukan Devara?" tanya Ali saat Dave mematikan sambungan telponnya.


"Belum pasti." Jawabannya.


***


Di kediaman Dave, Agneta sudah merasa lelah karena ini sudah ke 10 kali nya dia bolak balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya.


"Astaga, ada apa denganku? Apa asam lambungku kambuh?" gumamnya mengusap peluh di keningnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Bunda," panggil Regan masuk ke dalam kamar Agneta. "Bunda, Bunda kenapa? Apa Bunda sakit?" tanya Regan saat melihat Agneta rebahan di atas ranjang dengan sellimut yang menutupi tubuhnya,


"Tidak Nak, Bunda hanya sedikit pusing."


Regan menaiki ranjang dan duduk di samping Agneta, ia menempelkan tangan kecilnya di kening Agneta yang sedikit basah. "Bunda nggak panas, tapi kelingat Bunda banyak. Apa Egan telpon Om Kembal untuk membawa doktel kesini peliksa Bunda?"


"Tidak usah, Bunda baik-baik saja. Hanya sedikit tak enak badan, nanti juga sembuh. Anak Bunda sudah selesai belajarnya?" tanya Agneta.


"Sudah. Bunda, kenapa Egan tidak boleh sekolah lagi dan halus telus di lumah?" tanya Regan.


"Untuk sementara kita harus tetap di rumah dan dalam penjagaan yang ketat, di luaran sana banyak orang jahat."


"Jadi benal yah, Ayah Velo meninggal kalena di bunuh olang-olang jahat itu?" tanya Regan dengan polos.


"Kata siapa?" tanya Agneta.


"Egan dengel pembicalaan Om Kay sama Ayah Aiden. Katanya pesawatnya di lusak yah jadi meledak." Agneta terdiam mendengar penuturan Regan.


Benarkah kematian Dave ini karena di bunuh bukan kecelakaan biasa? Lalu siapa yang ingin membunuhnya? Siapa sebenarnya musuh yang diam-diam ingin membunuh Dave juga keluarganya.


"Bunda tidak tau, tetapi kamu jangan terlalu mempercayainya. Ayah meninggal karena sebuah kecelakaan," ucap Agneta.


"Ayah kan kuat kayak Batman, tetapi kenapa Ayah kalah sama penjahat itu dan malah meninggalkan Egan. Apa kalena Egan nakal yah, Sampai Tuhan pisahin Egan sama Ayah?" tanya Regan dengan polosnya.


"Kamu tidak nakal, Tuhan punya cara sendiri untuk memberi kejutan pada umatnya."


"Tapi kenapa halus pisahin Ayah Velo sama kita, Bun? Egan kangen Ayah Velo," ucapnya seraya mengusap matanya yang basah karena air mata.


Tanpa kata Agneta terbangun dan menarik Regan ke dalam pelukannya. Tak kuasa ia menahan air matanya sendiri.


'Bunda juga sangat merindukan Ayah Vero, Regan.'


"Bunda, kalau Egan berjanji sama Tuhan tidak akan nakal lagi. Apa Tuhan akan mengembalikan Ayah Velo pada kita?" tanya Regan yang tak bisa di jawab oleh Agneta.


***