
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi....
Pranggg
Handphone bermerek apel setengah gigitan dengan harga yang tak main-main lolos terjun bebas dari tangan wanita cantik yang kini membeku di dalam kamarnya. Perasaan yang tak tentu membuat dirinya tak bisa mengekspresikan perasaannya.
Dia terkejut sangat terkejut melihat notifikasi yang masuk kedalam ponsel genggamannya. Menampilkan sosok yang tak lama ini meninggalkan dirinya. Terlihat terbaring lemas tak berdaya dengan alat bantu yang terpasang pada tubuhnya.
"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin".
Suaranya bergetar hebat matanya melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Air mata mengalir dengan deras disertai dengan keringat dingin yang bercucuran.
"Putraku putraku Ethan".
Allis tergagap dengan tangan yang bergetar ia memungut ponselnya. Menatap layar tanpa bisa mengatakan apa pun. Dia menggeleng cepat mencoba menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerangnya.
"Ini benar kan ini benarkan".
Didalam kamarnya ia berbicara seorang diri bertanya lalu menjawabnya sendiri bak orang gila.
Deg.
Matanya menelusuri setiap lekuk tubuh anak kecil yang terbaring lemah di atas ranjang. Mengamati dengan seksama dia terisak kembali. Dia begitu yakin bahwa itu adalah Ethan putranya. Ada kemungkinan yang ia yakini bahwa putranya masih hidup.
Ia segera menghapus jejak air matanya, ia membaca dengan seksama pesan yang dikirimkan oleh nomor tersebut padanya.
"Ayo bertemu, datanglah ke alamat xxxx orang ku akan membawamu padaku".*Isi pesan.
Tak memikirkan apa pun lagi Allis segera meluncur setelah membalas pesan singkat itu. Kepalanya seakan-akan berhenti berpikir ia hanya ingin bertemu Ethan.
Sesampainya di alamat yang diberikan benar saja rupanya ia sudah di tunggu oleh dua orang pria berbadan tinggi besar.
"Kalian ?".
"Benar nyonya mari ikut dengan kami".
Mereka kembali memasuki mobil, Allis pun berpindah pada mobil yang dibawa oleh pria itu. Mobilnya dibawa oleh pria satunya lagi. Tiba di pekarangan mansion besar dan juga megah Allis celingak-celinguk.
"Ini tak seperti rumah sakit".* Batin Allis
"Nyonya kita sudah sampai".
"Ini bukan rumah sakit atau semacamnya, mengapa kalian membawa aku kesini ?".
"Kami memang diperintahkan membawa nyonya kemari".
"Lalu aku harus kemana ? aku harus mencari putraku kemana ?".
"I-itu kami tidak mengetahui tentang itu nyonya, kami hanya diminta untuk membawa anda kemari".
"Tunggulah sebentar nyonya seorang maid akan menjemput anda".
Tak berselang lama seorang wanita paruh baya datang dengan tergopoh-gopoh. Allis menatapnya intens ia seperti pernah melihatnya.
"Ibu, kau ?".
"Ahh nona lama tak bertemu".
"Bagaimana kabarmu Bu ?".
"Baik sangat baik, bagaimana denganmu ?".
"Aku baik, Bu aku ingin bertanya ?".
"Katakan, ayo sambil berjalan di dalam ada yang sedang menunggumu".
"Apakah disini kau melihat anak kecil umur tujuh tahun ?".
"Tidak, disini tidak ada anak-anak hanya ada putra tuan kami dia sedang sakit".
"Ayo masuklah".
Allis menatap ke sembarang arah menelusuri setiap sudut mansion besar itu. Mereka menaiki tangga dan sampai pada sebuah kamar. Bibi memintanya untuk masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
Allis berjalan dengan hati-hati menatap sekeliling. Dia meraba tembok untuk mencari keberadaan saklar lampu.
Tikkk
Lampu dihidupkan.
"Lama tak bertemu nyonya Allisya Lesham Shaenette".
Deg
"Siapa kau ? Kau mengenalku ?".
"Tentu, bahkan aku sangat mengenalmu".
Pria itu membalikkan tubuhnya kemudian berjalan masuk kedalam kamar meninggalkan balkon. Terkejut bahkan sangat terkejut dengan hadirnya seseorang yang sangat amat ia hindari disepanjang hidupnya.
"Mr Sean".
"Mengapa anda meminta saya untuk datang kemari secara misterius seperti ini ? mengirimi saya gambar yang membuat saya tanpa berpikir dua kali langsung percaya bahwa semuanya memang ada dan nyata, mengapa anda membuat saya merasakan bahwa semua ini adalah bukti insting kuat seorang ibu, anda sangat tidak sopan sekali mempermainkan perasaan saya, tidak adakah rasa empati pada diri anda Mr, apakah anda tidak bisa sedikit saja menghargai perasaan orang lain Mr Sean ?".
"Cihh memalukan sekali".
"Apa maksud anda Mr Sean yang terhormat, saya rasa saya sangat menghormati anda bahkan sangat menjaga sikap saya pada anda lalu secara tiba-tiba anda menghina saya seperti ini, apa yang telah saya perbuat pada anda Mr Sean yang terhormat ?".
"Ibu mana yang ditengah berduka akan kehilangan putranya bukannya menangis ia malah pergi bersenang-senang dengan pria lain".
"Cukup, apa sebenarnya maksud anda Mr Sean yang terhormat ?".
"Apa motif anda melakukan ini pada saya ?".
"Ethan".
"Berhenti menyebut nama putraku dengan mulut munafik anda Mr Sean yang terhormat".
"Turunkan nada suaramu dan dia juga putraku".
Deg
Bagai disambar petir di siang hari Allis terkejut mendapati pengakuan Sean. Sejauh ini selama ini ia sudah menyembunyikan semuanya dengan baik bahkan sangat rapi. Mengapa semuanya terbongkar begitu cepat.
"Mengapa kau begitu sangat terkejut, kau tidak tahu ini bahkan sudah sangat lama aku mengetahui bahwa dia adalah putraku".
"Kapan itu ? Apakah saat aku tidak ada di rumah dia datang menemui anakku ? atau kah sosok paman yang dimaksud oleh guru Ethan dulu ?".* Batin Allis bergejolak.
"Iya, sebelum kita menjalin kerjasama".
Sean bagai cenayang ia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Allis. Allis menatap Sean dengan bengis tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Cukup, cukup sudah kau menyentuh milikku tanpa sepengetahuanku, sangat tidak sopan sekali anda ini mengakui milik orang lain".
"Aku tegaskan padamu Ethan milikku, bukan milik orang lain ataupun dirimu".
"Ohh benarkah ? lalu dimana dia sekarang mengapa ia tak datang menyapa ayah biologisnya ini ?".
Bagai tersayat pisau hati Sean sangat sakit menyembut dirinya hanya sebagai ayah biologis. Bukan sebagai ayah sungguhan yang membantu anaknya kala terjatuh saat mencoba berdiri dan berjalan.
"Katakan dimana anak itu ?".
"Diam".
Allis berteriak dengan histeris ia menutup telinganya. Terduduk dengan lesu di lantai sembari menutup telinga dan menangis. Ia menggeleng frustasi ia tak bisa menjawab pertanyaan, yang ia tahu ia belum percaya dengan apa yang dikatakan para pihak berwajib padanya.
"Kau tidak bisa menjaganya bukan, lihat ia bahkan hilang darimu ibu macam apa kau ini ?".
Plakkk
Tangan Allis melayang tepat mengenai pipi berjenggot Sean. Sean menatap Allis, Allis pun tak kalah ia menatap balik Sean dengan tatapan nyalang dan penuh permusuhan.
"Hey diam tutup mulutmu, seharusnya aku yang mempertanyakan dimana rasa tanggung jawabmu, peranmu sebagai ayah, dimana kau saat aku merintih kesakitan melahirkan, dimana kau saat ia menangis ditengah malam, dimana kau saat dia baru saja belajar duduk, lalu dimana kau saat ia belajar berdiri dan berjalan, dan lihat dimana kau saat ia berangkat ke sekolah hari pertama disaat semua temannya berangkat bersama dengan ayah mereka lalu dimana kau hah, kau pikir kau cukup hebat dan berkuasa di dunia ini, aku tidak butuh uangmu tuan muda Smith, aku tidak butuh belas kasih darimu tuan muda Smith, tapi aku butuh peranmu sebagai ayah dalam kehidupan putraku, pernahkah kau mencarinya ? pernahkah kau menggendongnya ? pernah kah kau mengganti popoknya ? lalu tiba-tiba kau datang dengan tampang sok berkuasa mu itu mengatakan dia putraku, apakah kau gila atau apakah kau buta atau apakah kau lupa ingatan hah katakan tuan muda Smith katakan".
Sean terdiam.
"Dan lihat sekarang setelah dirinya tiada kau dengan enaknya mempertanyakan peranku cihh kehidupan anda bergelimang harta tapi tidak dengan hati anda, hati anda beku, hati anda batu tuan muda, kau tahu tuan muda aku bahkan sangat bersyukur ketika anakku tidak pernah menuntut kasih sayang seorang ayah kepadaku, dia bahkan dengan bangga mengatakan ibuku duniaku, tak pernah sekalipun ia mengingau menyebut ayah dalam hidupnya, bahkan saat ia tidur bahkan sampai menutup usia sekalipun ia tak pernah mengingau menyebut seorang ayah".
"Kau tahu tuan muda Sean kau adalah ayah terburuk di dunia ini, bahkan binatang sekalipun akan mencari anaknya jika salah satu dari anaknya tidak ada disampingnya atau bersama dengannya, namun tidak dengan kau, kau lebih buruk dari binatang. Tujuh tahun lamanya, setelah malam itu apakah kau mencari ku ?, tidak, aku menjalani semuanya sendiri, susah dan sakit seorang diri".
Allis terengah-engah nafasnya sesak air matanya mengalir deras. Ia meluapkan semua isi hatinya. Meluapkan semua rasa yang terpendam selama ini.
"Setelah malam ini aku benar-benar mencarimu Allis".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo mimin up lagi nih terima kasih selalu setia menunggu mimin up sembari menunggu mimin up di lapan mimin yang ini, ayo kakak-kakak readers baca novel mimin yang satu lagi sudah tamat dan cerita anak sekolah _Si cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin buat dapat reward yahh 🙏
Jangan lupa like, komen, tekan favorit, berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga jangan lupa untuk follow akun mimin.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨