
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagii..
Mansion besar milik Sean sepi tak ada siapa pun hanya ada para bodyguard dan juga para maid yang berlalu lalang. Kedua orang tuanya masih menemani Allis di rumah sakit. Mobil putih memasuki pekarangan mansion Sean.
"Mengapa kau membawaku kemari sayang ?".
"Aku sudah mengatakannya, aku akan memakanmu disini sayang".
"Aku akan memuaskanmu".
Sopir membuka pintu mobil kemudian Sean keluar lebih dahulu. Lalu mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Jessie. Perlakuan itu persis seperti pangeran kepada seorang putri. Jessie bahkan sampai tersipu malu. Seperti biasa semuanya menyambut kedatangannya.
Jessie semakin dibuat mabuk kepayang dia kira Sean mempersiapkan itu untuknya, dia tidak tahu memang seperti itulah kebiasaan yang ada disana untuk menyambut kepulangan tuan mereka. Jessie semakin merapatkan dirinya pada Sean merangkul mesra lengannya sembari memberikan elusan kecil disana.
"Masuklah kedalam lift itu, kau tidak boleh menaiki tangga nanti kakimu pegal sayang, kau tidak boleh lelah sayangku".
"Kau selalu bisa menyenangiku sayang".
Mereka memasuki lift dan sampai pada lantai atas. Jessie celingak-celinguk menatap betapa mewahnya mansion Sean. Mansion yang berkali-kali lipat lebih mewah dan besar dari rumahnya.
"Aku akan menunggumu sayang, mandilah".
"Dan iya sebaiknya jangan terlalu lama aku tidak bisa menunggu terlalu lama sayang".
"Ahh baiklah".
Cup
Jessie memberikan kecupan singkat pada bibir Sean. Lalu berlalu masuk kedalam kamar mandi. Saat ia masuk kedalam kamar mandi ia melihat banyaknya kelopak bunga mawar merah bertebaran dimana-mana. Wangi aromaterapi semerbak bercampur dengan wangi bunga mawar dan juga lilin-lilin cantik menyala dan berjejer rapi.
Bahkan bak mandi sudah disiapkan dan disisi full lalu diberikan taburan kelopak bunga mawar. Wanginya sungguh memabukkan ia merasa seperti pengantin saja.
"Seperti inikah cara Sean memanjakanmu Allis sungguh kau sangat bodoh karena tidak bisa memberikannya kepuasan, dan sungguh kau sangat tidak beruntung karena lawanmu adalah aku haha".* Batin Jessie terkikik di dalam hati.
Tak lebih dari lima belas menit Jessie menyelesaikan acara mandinya. Dia keluar dengan mengenakan bathrobe putih yang membalut tubuh telanja*ngnya. Nampak Sean berada di atas ranjang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sean berbaring dengan sebelah tangannya menumpu kepalanya. Kemeja putih dengan lengan panjang yang di gulung sampai siku. Ditambah lagi dua kancing bagian atasnya terbuka waw sungguh pemandangan yang sangat mengagumkan. Jessie sampai dibuat panas dingin. Sean melambai kepada Jessie dengan menggunakan setangkai bunga merah.
"Mendekatlah sayang".
Jessie berjalan dengan wajah merahnya semerah tomat. Sean bangun lalu menarik tangan Jessie sehingga membuat Jessie terjatuh di atas ranjang. Sean kembali ke posisi awal kali ini dia persis berada tepat di samping Jessie. Memiringkan tubuhnya menghadap Jessie dia menumpu kepalanya lalu menatap lekat wajah Jessie.
"Kau sangat cantik sayang apa lagi dengan senyuman indahmu ini".
Sean mengayunkan bunga mawar itu pada wajah Jessie dengan lembut. Mengayunkannya dari dahi sampai ke dada Jessie begitu terus sampai membuat kedua mata Jessie terpejam menikmati elusan lembut itu.
"Katakan padaku dari mana aku akan memulainya sayang ?".
"Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan".
Sean tersenyum miring menatap Jessie yang sedang terbaring dengan matanya yang tertutup karena sentuhan bunga mawar itu pada wajahnya. Ia sangat menikmati waktu ini dan juga kegiatan mereka saat ini.
"Sayang".
"Hmmm".
Deheman Sean semakin membuat Jessie panas dingin. Apalagi saat ia membuka matanya ia melihat wajah Sean sangat dekat dengannya ditambah lagi mata Sean yang sayu dan juga senyuman yang tercetak pada bibir Sean.
"Aku tidak tahan lagi".
"Baiklah kita akan memulainya tapi tunggu dulu aku tidak ingin kita melakukannya disini, aku tidak ingin mengingat Allis disela kenikmatan yang aku rasakan saat bersamamu sayang".
"Lalu dimana aku sudah sangat menginginkanmu Sean ?".
"Bersabarlah".
Sean berdiri lalu mengambil dasi yang ia letakkan di atas meja rias. Dia kembali ke ranjang dan hendak menutup mata Jessie menggunakan dasi itu.
"Untuk apa itu ?".
"Percaya padaku ini akan semakin menyenangkan".
"Benarkah ?".
"Kemarilah mendekat padaku, aku lebih tak tahan juga darimu".
Jessie tersenyum lalu merangkak menuju ke tepi ranjang. Bathrobe yang setengah terbuka menampakkan payuda*ra-nya yang bergelantungan. Sean mengingkatkan dasi itu pada mata Jessie lalu mengangkat tubuh Jessie.
"Awww kenapa kau menggendongku ?".
"Aku tidak ingin telapak kakimu yang lembut ini menyentuh dinginnya lantai sialan ini aku tidak rela aku cemburu sayang, pegangan sayang". Bisik Sean.
Jessie hanya bisa tersenyum penuh dengan kebahagiaan. Sean menekan tombol pada dinding yang membuat ranjang bergeser dan juga membuat lantai terbuka. Sean turun dengan tetap menggendong tubuh Jessie.
Sean menurunkan tubuh Jessie saat sampai disana, dia tak langsung membuka dasi yang menutup mata Jessie.
"Sayang dimana kau ?".
"Aku disini".
"Ayo bukalah ini aku kesusahan mencarimu"
"Benarkah kau ingin membukanya ?".
"Humm benar ayo cepatlah".
Sean menuruti kemauan Jessie ia pun membuka dasi tersebut. Jessie sangat terkejut melihat apa yang ada di depan matanya. Alat-alat yang menyeramkan dengan berbagai jenis pisau, berbagai jenis senapan dan juga pistol. Banyaknya kapak yang tergantung pada dinding membuat nuansa semakin seram saja.
"Sa-sayang tempat apa ini ?".
"Yang benar saja ini bukanlah Kamar tetapi neraka".
"Dan itu untukmu, lihatlah dibelakangmu aku menyiapkan kejutan yang sangat indah dan juga mengagumkan".
Jessie membalikkan tubuhnya dia sangat terkejut bahkan sangat-sangat terkejut. Kehadiran kedua orangtuanya secara tiba-tiba membuat ia sangat terkejut. Sebenarnya apa yang terjadi ditambah lagi wajah ayahnya yang sudah babak belur.
"Sayang apa-apaan ini ? siapa yang memukuli orang tuaku sampai seperti ini ?".
"Apakah asisten sialanmu ini sayang ?".
"Kau yang memukuli mereka Andrew ?".
"Tidak Mr saya tidak menyentuh mereka hanya balok ini saja yang menyentuh mereka".
"Kau dengarkan dia tidak memukuli siapapun sayang".
"Jessie anak sialan apa yang kau perbuat ?".
"Dad tunggu apa yang kau katakan ?".
"Jika kau tidak melakukan apa pun ini tidak akan pernah terjadi".
"Maksud daddy apa ? sayang apa maksudnya ini ?".
"Kau apakan istri Mr Sean hah jawab, kau apakan dia ?".
"Istri ?".
Jessie menatap Sean yang juga sedang menatapnya dingin. Dia menggeleng tak percaya dengan apa yang dilakukan Sean padanya. Sungguh ia tak menyangka.
"Kau yang melakukan semua ini ?".
"Untuk apa kau tahu itu sayang ?".
"Kau yang melakukan semua ini pada daddy-ku ?".
"Apa hakmu bertanya demikian kepadaku ?".
"Sungguh aku tidak menduga hal ini darimu Sean, aku kira kau benar-benar jatuh cinta padaku".
"Aku tidak pernah mengatakan jika aku menyukaimu, itu murni kesalahanmu karena kerakusanmu akan harta kau buta dengan semua hal".
"Kemarilah mendekat padaku, aku akan memberikan apa yang kau inginkan".
"Tidak".
"Turunkan nada suaramu kau pikir kau siapa hah wanita sialan"
"Bawa dia kepadaku".
Andrew dengan sigap menarik kasar lengan Jessie lalu menghempaskan tubuhnya di bawah kaki Sean.
"Hey apakah kau bisa lembut memperlakukan wanita sedikit ?".
"Maaf nona muda saya pikir kau bukanlah wanita tadi".
"Ayo bangunlah sayang maafkan dia sepertinya dia pusing akibat mabuk tadi".
Jessie meraih uluran tangan besar Sean. Ia berdiri di depan Sean, Sean tersenyum lebar yang membuat tuan dan nyonya Jackson semakin ketakutan. Nyonya Jackson hanya bisa menangis dalam diam ia tak bisa berbuat apa-apa tangannya di borgol.
"Tutuplah matamu Jessie".
Jessie bagai tersihir dengan tatapan mata Sean. Ia pun menurut saja ia menutup kelopak matanya terpejam dengan membayangkan fantasi liatnya. Tangan Sean tergerak meraih silet kecil, tipis, tajam dan berkilau di atas mejanya.
"Mr".
Sean mengangkat tangannya ia lupa akan satu hal yang amat penting. Sarung tangan.
"Pipimu indah sekali sayang".
"Tentu, aku selalu melakukan perawatan mahal".
"Tak masalahkah jika aku menyentuhnya sedikit saja ?".
"Tidak mengapa sayang, sentuhlah dimana pun kau mau, berikan sentuhanmu yang memabukkan".
Sean tersenyum smirk ia menatap tuan Jackson dan nyonya Jackson yang tengah menggeleng cepat tanda mereka meminta untuk jangan lakukan itu. Namun Sean tersenyum penuh kemenangan menunjukkan betapa putri mereka sangat percaya dirinya bahkan disaat yang seperti ini. Bahkan sangat mendambakan sentuhan darinya.
"Ahh iya maafkan aku, aku sempat berbicara kasar padamu"
"Tidak apa-apa sayang aku justru semakin dibuat jatuh cinta olehmu".
"Ayo sentuhlah jangan ragu sayang".
"Baik sayangku".
Sean mengayunkan silet itu pada pipi Jessie menekannya sedikit dan sukses membuatnya mengeluarkan darah. Jessie meringis namun Sean segera meminta maaf dia mengatakan jika kukunya yang menggores wajahnya.
Jessie segera membuka matanya ketika pipinya terasa sangat perih. Dia meraba pipinya dan terkejut ketika melihat jarinya yang dilumuri darah.
"K-kau apakan aku ?".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya mimin double up hari ini btw selagi menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ tolong bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.
Dan juga jangan lupa selesai membaca klik tombol like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga jangan lupa follow akun mimin yah.
Terima kasih.