He'S Back

He'S Back
Episode 22



**Yang penasaran dengan ceritanya sampai ending, bisa beli versi ebooknya di google Play.


https://play.google.com/store/books/details?id\=U1ZtDwAAQBAJ**



****************************


Agneta sudah siap dengan celana kain hitamnya di padu dengan kemeja putih yang di tutupi dengan blezer merah maroonnya. Rambutnya ia biarkan tergerai indah. Ia sudah siap untuk ikut Dave ke tempat proyek yang di katakan Dave semalam.


Ia berjalan keluar dari kamarnya bersamaan dengan pintu kamar di sampingnya yang di tempati Dave. "Kau sudah siap?" tanya Dave yang hanya meliriknya sedikit.


Agneta menganggukan kepalanya dengan masih memegang tas selendang hitamnya yang di gantungkannya di pundak kanannya. Dave berjalan lebih dulu diikuti oleh Agneta.


Agneta menggeram kesal saat Dave tiba-tiba saja berhenti dan hampir saja keningnya menabrak punggung lebar Dave. Dave menoleh ke arah Agneta masih dengan tatapan tajam penuh intimidasinya.


"Berjalanlah di sampingku," ucap Dave.


Agneta belum sempat menjawab, tetapi Dave lebih dulu merengkuh pinggangnya dan berjalan memasuki lift. Saat di dalam lift, Agneta menepis tangan Dave dan menggeser tubuhnya sedikit jauh dari pria itu. Dave tak mengatakan apapun, hanya meliriknya sedikit.


"Kau sudah meminta jadwalku selama di sini pada Siska?" tanya Dave tanpa menoleh pada Agneta.


"Sudah Sir," jawab Agneta dengan sinis. Dave tersenyum sinis mendengar nada formal dari Agneta. Ingin sekali ia membentak Agneta dan melarangnya menggunakan kata formal itu, tetapi ia harus bersabar. Ya, menghadapi Agneta tidak bisa dengan cara memaksa.


***


Mereka berdua sampai di tempat proyek pembangunan sebuah apartement. Agneta masih setia berdiri di samping Dave yang sedang berbincang dengan salah seorang pria berjas hitam dan tampak lebih tua darinya.


Agneta mengetik beberapa hal yang di perintahkan oleh Dave pada tablet yang ada di tangannya.


"Agneta, kamu tunggu di sini saja. Aku akan melihat ke dalam," ucap Dave menerima helm proyek dari salah seorang pria yang memakai kemeja putih dan dasi garis-garis.


Dave berlalu meninggalkan Agneta bersama beberapa pria lainnya yang juga menggunakan helm proyek. Agneta memilih berjalan mendekati mobil yang menjemputnya tadi bersama Dave dan bersandar di sana sambil mengipasi lehernya dengan tangannya sendiri. Cuacanya begitu panas membuat keringat membanjiri tubuhnya. Kancing blezernya bahkan sudah ia buka untuk sedikit memberi udara pada tubuhnya yang lengket karena keringat.


Cukup lama ia menunggu, ia mengusap lehernya yang terasa kering karena kehausan. Saat tengah fokus memperhatikan beberapa pekerja yang sibuk dengan pekerjaannya, ia tersentak saat seseorang menyodorkan sebotol air mineral di depannya.


Agneta menoleh pada pemilik tangan kekar itu dan menemukan Dave di sampingnya. "minumlah," ucapnya masih dengan nada datar.


Agneta menyampingkan gengsi dan harga dirinya. Saat ini ia benar-benar butuh air. Ia menerima air mineral itu dan Dave sudah berlalu memasuki mobilnya. Agneta pun bergegas menaiki mobil dan meneguk minumannya saat ia sudah duduk tepat di samping Dave.


Tanpa Agneta sadari, Dave memperhatikannya dari samping. Dave melihat Agneta menengadahkan kepalanya membuat leher jenjangnya yang basah karena keringat terpangpang jelas. Bahkan tanpa sadar, Dave menelan salivanya dengan kasar saat melihat leher Agneta naik turun karena menelan air.


'Shit!!!'


Hanya dengan menatap pemandangan seperti itu saja, sudah mampu membuat gairah Dave bangkit. Mendadak ia ingin menggantikan botol itu dengan bibirnya sendiri dan melahap habis bibir Agneta.


Lamunan Dave terganggu oleh pertanyaan sopirnya yang menanyakan akan kemana. Dave mengatakan akan makan siang.


"Kau ingin makan apa, Neta?" tanya Dave tanpa menoleh kembali ke arah Agneta. Ia sungguh kesal karena kembali menahan hasrat sialannya ini.


"Terserah," jawabnya.


Dave menyebutkan sebuah restaurant terkenal di Malaysia yang di angguki oleh sopir nya itu.


"Malam ini kita ada acara dinner bersama salah satu client ku. Apa kamu membawa dinner dress?" tanya Dave.


"Tidak, anda tidak memberitahuku," ucap Agneta sedikit kaget. Dinner itu tidak ada dalam jadwal Dave.


"Dia adalah teman kuliahku dulu, dan dia mengundang kita ke acaranya. Kebetulan juga dia salah satu clientku," ucap Dave yang tau apa yang di pikirkan oleh Agneta.


"Kita cari Dress atau gaun malam untukmu setelah makan siang." Agneta tak menjawab pertanyaan Dave. Ia fokus menatap keluar jendela mobil.


Sesuai rencana, setelah menikmati makan siang. Mereka berdua memasuki sebuah butik. Agneta hanya diam saja saat Dave merengkuh pinggangnya, ia sudah lelah menolak sejak tadi, karena Dave tetap saja memaksanya hingga Agneta tak bisa berkutik.


"Tunjukkan semua gaun dan dress terbaik di butik ini," perintah Dave membuat Agneta melongo.


"Baik Sir," jawab seorang wanita yang menghampiri mereka berdua.


"Apa tidak salah? Aku hanya memerlukan satu dress Dave," ucap Agneta.


"Ikuti saja dia," peeintah Dave pada Agneta membuat Agneta mau tak mau mengikuti pelayan itu meninggalkan Dave sendiri.


Agneta keluar dari kamar ganti dengan sudah menggunakan gaun berwarna merah darah yang sangat pas di tubuhnya. Bagian atasnya mampu menutupi seluruh dadanya dengan tali spageti yang melingkar di leher jenjangnya, bagian punggunya di biarkan terbuka lebar hingga ke bagian pinggangnya. Dan di bagian depannya terdapat belahan panjang hingga batas paha.


"Ganti!" ucap Dave dengan tegas saat melihatnya, ia tidak ingin Agneta menjadi mangsa dari tatapan liar para pria mesum. Agneta memutar bola matanya dan kembali memasuki ruang ganti.


Tak lama ia kembali keluar dengan menggunakan gaun berwarna biru tua, bagian depan dan belakangnya terlihat rendah dan berbentuk V.


"Ganti!"


Agneta memutar bola matanya jengah dan kembali memasuki kamar ganti. Ia sudah kesal setengah mati, kalau sekali lagi Dave meminta ganti. Dia akan pulang ke hotel sendirian.


Agneta keluar dengan gaun berwarna putih. Gaun yang mencetak tubuh Agneta dengan indah. Bagian belakangnya tertutup, karena bagian atasnya terbuat dari brukat yang trasnfaran, dan bagian depannya menyerupai huruf V tetapi tidak terlalu rendah. Dan bagian bawahnya terdapat belahan di bagian tengah-tengah hingga batas paha tidak terlalu atas.


Dave memperhatikan Agneta dalam diam, Agneta sudah menunggu cukup lama untuk mendapat respon Dave. "Aku lelah berganti pakaian," ucap Agneta dengan nadda sinis.


"Kalau begitu ambil itu saja dan ini," ucap Dave menyerahkan sebuah gaun berwarna hitam yang sangat indah. Setelahnya ia berjalan menuju tempat pembayaran membuat Agneta mendengus kesal. Kenapa Dave selalu saja mengintimidasi dan memerintahnya? Bahkan Agneta tidak pernah memiliki kesempatan untuk menolaknya.


"Aku ingin kembali ke hotel," ucap Agneta dengan nada sinis.


"Kita beli sepatu dulu," ucap Dave masih sibuk dengan gadgetnya. Agneta berjalan meninggalkan Dave sendirian dan duduk di kursi penumpang diikuti Dave. Dave berkata ke sopir mereka untuk mengantarkan mereka ke toko sepatu.


"Aku membawa beberapa high heel, jadi kau tidak perlu membelikannya. Aku ingin kembali ke hotel." Dave sama sekali tak mengindahkan ucapan Agneta. "Mr. Wiratama!" Agneta geram karena Dave tidak menoleh dan menanggapinya sama sekali.


"DAVE!" pekiknya sudah kesal dan barulah Dave menoleh padanya dengan wajah tenang dan sebelah alisnya yang terangkat.


"Aku mau kembali ke hotel!"


"Kau merajuk?" tanya Dave dan jelas sekali Agneta semakin naik darah. Ia langsung memalingkan wajahnya dengan kesal dan melipat tangannya di dada. Sedangkan Dave masih memperhatikannya dengan bibir yang di tipiskan dan sekilas senyuman terukir di wajah tampannya. Ia mulai suka menggoda Agneta, apalagi melihat wajah cemberut Agneta membuatnya tampak lebih seksi. Saat Agneta sedang marah begitu, dia terlihat begitu cantik dan Dave sangat ingin mengecupi dan melumat bibir merahnya itu yang sedikit maju karena cemberut.


"Ayo turun," perintah Dave tak terbantahkan. Dave berusaha bersikap dingin dan menjaga sikapnya, sesungguhnya ia sudah tak mampu menguasai dirinya yang selalu ingin menerjang dan mencumbu Agneta. Agneta benar-benar sudah menjadi candu untuknya.


Agneta masih melakukan kegiatan merajuknya. Ia memilih duduk di ruang tunggu tanpa mau memilih sepatu. Hingga Dave meminta pelayan yang melayaninya dan menunjukkan beberapa sepatu kualitas terbaik di sini.


Hampir semua sepatu di tolak Agneta, ia sudah sangat lelah dan ingin kembali ke hotel. Ia sudah tidak ingin menerima apapun dari seorang Dave. Pria dingin yang selalu mengintimidasinya itu. Hingga ia tersentak saat tangan hangat dan besar menyentuh kakinya dan melepaskan sepatu flatnya.


"Apa-!" ucapannya tertahan saat melihat Dave duduk di hadapannya dengan bertompang pada sebelah lututnya. Dave dengan gaya maskulinnya dan masih terlihat elegant tampak memakaikan sepatu high heels dengan ikatan tali kecil berwarna silver. Sepatu yang sangat indah, dan terlihat seperti sepatu kaca milik Cinderella. Agneta merasa seorang pangeran tengah memasangkan sepatu kaca padanya sang upik abu. Tetapi ia segera menggelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh yang seketika muncul di kepalanya.


"Sepatu ini cocok di kakimu dan akan sangat serasi saat kau memakainya dengan gaun yang tadi," ucap Dave menengadahkan kepalanya hingga tatapan tajamnya beradu dengan tatapan Agneta.


Agneta segera memalingkan wajahnya dan menarik kakinya dari atas pangkuan Dave, ia melepaskan sepatu itu dan segera beranjak dari duduknya. Ia harus segera pergi sebelum Dave menyadari kalau dirinya terlihat salting dan pasti wajahnya sudah memerah.


"Kalau begitu ambil saja, bukankah kau yang membelinya." Setelah mengatakan itu Agneta langsung beranjak pergi dengan memegang dadanya yang berdebar tak beraturan. Ia juga mengutuk dirinya yang sempat terbuai oleh pesona Devil itu.


***