He'S Back

He'S Back
Episode 58



"Bagaimana bisa seperti ini? Siapa anak itu yang bisa menerima hak waris ini!" pekik Elena di dalam ruang meeting di WT Croup. Agneta hanya bisa diam memeluk tubuh Regan yang ketakutan.


"Dia adalah putra kandung dari Mr. Davero," seru Mr. Arman yang merupakan pengacara pribadi Dave.


"Putra kandung? benarkah?" tanya Natalie memandang sinis pada Agneta dan Dave. "Itu hanya tipuan Jalang itu yang ingin mengambil semua harta tunanganku! Apa kau puas sekarang, Jalang?" ucap Natalie dengan nada sinis.


"Jaga ucapanmu, Natalie!" ucap Aiden.


"Kenapa aku harus menjaga ucapanku, hah? Wanita jalang itu sudah merayu tunanganku hingga mereka menikah diam-diam dan sekarang Dave telah meninggal, mungkin juga ulahnya yang menginginkan seluruh harta Dave! Dan sekarang sudah dia dapatkan!"


"Jaga ucapan anda, Nona Natalie. Ucapan anda tak ada bukti, dan bisa masuk dalam kasus pencemaran nama baik," seru Key dengan tajam membuat Natalie mendengus kesal dan diam.


"Semua saham di perusahaan ini yang di berikan pada anak itu tidaklah sah," seru France setelah cukup lama terdiam. "Saham terbesar di perusahaan ini adalah milik Devara bukanlah Davero, dan saham Devara di wakilkan kepadaku karena Devara telah tiada. Dan aku akan memberikan saham itu pada siapapun yang pantas mendapatkannya dan menjadi direktur utama WT Croup untuk ke depannya."


France menatap tajam orang-orang yang ada di sana terutama Regan dan Agneta.


"Dan Dave belum sah memegang saham 40% itu karena aku belum seutuhnya memberikan kepadanya. Jadi warisan itu tak akan pernah berarti. Tak ada yang di dapat anak haram itu!"


Agneta menatap tajam pada France mengenai ucapan France barusan yang sangat menyakitkan.


Suasana di sana menjadi sangat tegang, France kembali berusaha mengambil alih dan berkuasa. Elena tampak menatap sinis dan jijik pada Agneta yang memeluk Regan yang tampak bingung dan ketakutan melihat semua orang di sana.


"Jadi di sini aku akan menarik kembali saham yang aku titipkan pada Dave. Dan anak haram itu tidak warisan apapun!"


"Itu terdengar sangat bagus Mr. France, karena aku juga tak akan rela perusahaan keluarga wiratama jatuh pada jalang dan anak haramnya," seru Elena membuat Agneta tak kuasa menahan air matanya.


Aiden menatap sedih ke arah Agneta, tetapi dia pun tak tau harus berlaku apa untuk melindungi wanita yang sangat ia cintai.


"Bunda," bisik Regan. "Anak haram itu apa?" Tanyanya membuat Agneta kebingungan menjawabnya. Hingga suara seseorang mengalihkan perhatiannya.


"Benarkah begitu?"


Mendengar suara berat nan tajam itu membuat semua orang menatap ke ambang pintu dimana Dave berdiri dengan gagah di sana.


Mereka semua kaget dan syock dengan kedatangan Dave hingga berdiri dari duduknya.


"Ayah Velo!"


Dengan sangat bahagia Regan berlari ke arah Dave yang juga sudah berjongkok dan memeluknya. "Egan tau, Ayah gak akan ninggalin Egan dan Bunda. Ayah kan supelhelo nya Egan."


Dave berdiri dengan memangku tubuh Regan dan kembali beradu tatapan dengan France yang menatapnya dengan tatapan kaget.


"Dave? Kau masih hidup? Tetapi apa yang terjadi? siapa yang meninggal dalam kecelakaan helikopter itu?" tanya France setelah mampu menguasai keterkagetannya.


"Kecelakaan?" ucapnya tersenyum sinis. "Apa kau sungguh tak tau, DAD?"


"Apa maksudmu?"


"Dave, syukurlah kamu masih hidup!" Natalie berlari memeluk Dave dengan air mata yang luruh membasahi pipi.


"Menjauh dali Ayah Egan, Tante genit!" Teriak Regan menjambak rambut Natalie hingga dia melepaskan pelukannya pada tubuh Dave.


"Kau!" pekik Natalie memegang kepalanya.


"Tante ini dan om juga nenek itu olang jahat. Meleka hina Bunda telus, Egan gak suka meleka." Adu Regan pada Dave yang diam dengan ekspresi menyeramkan.


"Dave lihatlah kelakuan anak tirimu ini, sungguh memalukan!"


"Dia putra kandungku, Natalie." Ucapan Dave spontan membuat Natalie, bahkan Elena juga kaget.


"Kamu hanya menganggapnya anak kandung kan?" tanya Natalie.


"Jangan mau di tipu oleh janda sok polos ini, Dave. Mommy tau bagaimana belangnya dia, dia hanya ingin meraup hartamu saja, seperti yang dia lakukan pada Aiden."


"Mom!" tegur Aiden.


"Itu kenyataannya Aiden," jawab Elena.


Agneta tak memperdulikan semua ucapan itu lagi, kini fokusnya hanya pada Dave yang menjulang tinggi di depannya, walau Dave sama sekali tak melihat padanya.


"Kau bilang saham ini bukan milikku, Dad?" tanya Dave yang tak memperdulikan mereka semua. "Pak Arman tolong berikan dokumen kepemilikan sah saham 40% WT Croup yang pernah di tanda tangani oleh tuan France sendiri."


"Baik Sir," ucap Mr. Arman.


France menatap tajam dokumen di tangannya dan kembali menatap ke arah Dave yang tersenyum sinis.


"Dan saham Devara sebesar 20% yang anda pegang, akan langsung di ambil alih oleh orangnya," ucap Dave.


"Apa maksudmu?" tanya France yang kini menatap Dave dengan tatapan permusuhan penuh kebencian. Dan Dave sadar, selama ini tatapannya yang lembut dan kebapakan adalah tipuan semata.


"Karena kini aku ada di sini, Mr. France. Terima kasih karena sudah menjadi waliku selama ini," ucap seseorang membuat semuanya menoleh ke ambang pintu.


"Devara?" gumam Elena yang sangat kaget.


Bukan hanya Elena yang tampak kaget, tetapi juga France dan Aiden yang sangat kaget. Devara yang sudah membaik keadaannya, berjalan ke samping Dave dan menatap tajam pada France penuh kebencian.


"Lama tak berjumpa, Mr. France," sindirnya.


"Devara, bagaimana kau-?"


"Kau sungguh terkejut melihat kehadiranku di sini," ejek Devara yang memiliki kesinisan hampir sama dengan Dave.


"Kami sudah mengetahui kebusukanmu, France!" ucap Dave yang kini sudah menyerahkan Regan pada Kay dan ia berjalan mendekati France yang berdiri tak jauh darinya.


"Selama ini kau sungguh baik dengan merawatku dan mengangkatku sebagai putramu." Dave tersenyum devil saat sudah berdiri di hadapan France yang masih berdiri tegak.


Bug


Mereka memekik kaget saat Dave melayangkan tinjunya pada France


"Diam kau, Jalang!" bentak Dave membuat Natalie ketakutan. "Kau dengan si tua bangka sama saja!"


"Kau yang sudah membunuh kedua orangtuaku, sialan!" Bentak Dave sungguh emosi dan kembali meninju France yang tak tinggal diam, dia melawan Dave tetapi tak bisa karena Dave terus memukulinya.


"Ayah, telus pukul! Ayah memang hebat!" teriak Regan, yang lain tak ada yang berbuat sesuatu dan hanya diam di tempat.


"Kau membunuh orangtuaku dan berusaha membunuh Devara dan hendak membunuhku juga!" amuknya membabi buta.


"Bunuh dia Dave!" terdengar ucapan tajam dari Devara yang terdengar menyakitkan.


Dave semakin membabi buta memukuli France yang sudah babak belur dan lemah.


"Hentikan Davero! Kalau kau tak ingin wanita jalang ini mati!" Dave menghentikan pukulannya dan menoleh juga semua orang melihat ke arah Natalie yang kini mengacungkan pistolnya pada kepala Agneta.


Dave baru beradu tatapan dengan mata Agneta yang memerah dan berair mata, sejak tadi sebenarnya dia menghindari bertatapan dengan Agneta.


"Lepaskan dia Natalie! jangan macam-macam!" ancam Dave.


"Jangan macam-macam Natalie!" bentak Aiden yang berjalan mendekat.


"Berhenti Aiden! atau aku akan memecahkan kepala jalang ini sekarang juga!" pekik Natalie yang sudah terpojok. Baik Dave maupun Aiden, keduanya sama-sama khawatir.


"Lepaskan aku dan Dad, kalau kau ingin wanita ini selamat," ucap Natalie yang menarik rambut Agneta dan berjalan mundur menjauh pada beberapa orang yang ada di sana.


"Lepaskan dia!" gertak Dave pelan namun mencekam. Tatapan tajamnya pun mampu membuat Natalie ketakutan, tetapi ia tetap berusaha melawan.


"Jangan dengarkan dia, Dave. Lakukanlah yang terbaik dan balaskan dendammu, jangan pikirkan aku," ucap Agneta membuat Dave kembali beradu tatapan dengannya yang tampak menangis dalam diam, tetapi pancaran matanya memperlihatkan ketegaran dan tak ada rasa takut sedikitpun.


Aiden yang melihat itu semua semakin merasa hancur dan tersayat-sayat. Bahkan Agneta berani mempertaruhkan nyawanya demi Davero. Dan kini hatinya sungguh terasa tercambuk dengan besi yang di panaskan pada api.


"Lepaskan dia, Natalie!" sekali Dave berucap.


"Tidak! lepaskan dulu ayahku!" ucap Natalie tetap pada pendiriannya.


"Baiklah," ucap Dave menjauh dari tubuh France.


Natalie bergeser ke arah France dengan masih menarik tubuh Agneta. "Dad, kau tidak apa-apa?" tanya Natalie.


"Ah!" pekik Natalie saat ia fokus pada France yang berusaha berdiri dan dia kehilangan fokusnya. Dave sudah meninju tangannya yang memegang pistol hingga pistol itu jatuh ke lantai.


"Bawa dia pergi, Aiden!" perintah Dave membuat Agneta mengernyitkan dahinya menatap Dave yang bahkan tak ingin menatap dirinya sama sekali.


"Aku tidak terbiasa memukul wanita, tetapi kalian berdua akan masuk ke dalam penjara dan membusuk di sana," ucap Dave. "Aku sudah menemukan dokumen yang kau incar, Dad. Kau menginginkan saham Exped Inc kan."


"Exped Inc?" gumam Robert yang sejak tadi hanya diam.


"Dan aku juga menemukan dokumen berisi kebusukanmu, pantas saja kau begitu terobsesi pada keluargaku. Ternyata ayahku memegang kunci kebusukanmu. Kau ternyata memiliki perusahaan gelap yang ilegal," ucap Dave mengejek France yang hanya diam.


"Kau pikir kau bisa memanfaatkanku untuk menyelamatkan dirimu dan perusahaanmu itu? Kau memilih orang yang salah," ucap Dave dan saat itu juga beberapa polisi masuk dan menangkap France, Natalie.


"Lepaskan!" teriak Natalie. "Dave, bukankah kau mencintaiku. Harusnya kau tidak melakukan ini padaku! Aku tidak tau apa-apa, itu kesalahan Daddy semuanya!" teriak Natalie membuat France memekik kaget karena ternyata anaknya menyalahkan dirinya.


"Aku sungguh tidak tau apapun, aku hanya di perintahkannya. Dan aku sungguh mencintaimu," ucap Natalie yang kini menangis dengan kedua tangannya di tahan polisi.


"Ck, berhentilah berulah Natalie. Baik kau dan aku, kita sudah tau kalau aku tak pernah sedikitpun menginginkanmu, di dalam hatiku ataupun di atas ranjangku!" ucap Dave yang sungguh merupakan penghinaan bagi Natalie tetapi sebuah kebahagiaan bagi Agneta yang mendengarnya.


Natalie terus berteriak memaki Dave saat polisi membawanya dan France keluar ruangan.


"Maaf Nyonya Elena, kau kami tahan karena kasus penipuan," ucap Polisi.


"Da-dave, kenapa Mommy?" tanya Elena.


"Semua kejahatan yang telah di perbuat harus mendapatkan hukumannya," ucap Devara dengan sinis.


"Tapi Vara-?"


"Bawa dia, Pak," seru Vara.


"Papi, Aiden tolong bantu Mommy!" teriak Elena.


Robert bergegas mengikuti polisi yang membawa istrinya.


"Hai Aiden, apa kabar?" sapa Devara.


"Baik, aku senang melihatmu kembali, Vara," ucap Aiden yang di angguki Devara.


"Aku akan ke kantor polisi bersama Kay dan Mr. Arman," ucap Devara yang berlalu pergi.


Kay membawa Regan juga keluar bersama yang lain hingga menyisakan Aiden, Agneta dan Dave. Aiden yang merasa dirinya tak di perlukan perlahan berjalan pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan sakit.


Dave berbalik hingga tatapannya kembali beradu dengan Agneta yang masih berdiri di tempatnya. Dave berjalan mendekati Agneta hingga menyisakan 2 langkah di antara mereka. Dave masih menatap tajam dan dingin karena luapan emosinya yang sulit di kendalikan, sedangkan Agneta menatapnya dengan sendu dan air mata yang siap terjun membasahi pipi. Ia ingin memeluk Dave tetapi sekuat tenaga ia menahan dirinya sendiri.


"Semuanya telah berakhir," ucap Dave. "Kau kini aman bersama Regan." Dave menatap Agneta dan kini tatapannya mulai melembut.


"Seperti yang kau inginkan, kini kau bebas dari jeratku, Agneta. Kau dan Regan bisa hidup tenang dan kau bisa kembali pada Aiden seperti yang kau inginkan. Aku juga sudah mewariskan semua hartaku pada Regan, dan semua penjahat yang ingin mencelakai keluargaku sudah tidak ada lagi, jadi kau sudah aman sekarang."


Deg


"Da-dave?"


"Aku akan mengurusi perceraian kita secepatnya, kau bebas sekarang tanpa gangguan dariku. Dan terima kasih karena tidak sampai mengkhianatiku." Setelah mengucapkan itu, Dave berlalu pergi meninggalkan Agneta.


Agneta ingin menahan Dave tetapi kakinya terasa di paku dan tak bisa bergerak. Tangannya hanya menggapai udara dan air matanya hanya bisa luruh membasahi pipi. Kenapa Dave memilih meninggalkannya di saat dia tak ingin di tinggalkan.


***