
WARNING 18+
Agneta berangkat ke kantor sendirian karena Dave tidak pulang sama sekali. Ia baru saja mendudukkan pantatnya di atas kursi kebesarannya. Baru saja ia menyalakan laptop, pintu ruangannya terbuka dan tampak Dave datang dengan Natalie yang bergelayut manja di lengannya. Seperkian detik tatapan Agneta dan Dave bertemu, Dave segera memalingkan wajahnya dan berjalan menuju ruangannya dengan Natalie yang menatap tajam ke arah Agneta dan tetap bergelayut manja di lengan Dave walau sepertinya Dave tak memperdulikan itu.
Agneta hanya mampu menghela nafasnya, sampai kapan hubungan mereka akan seperti ini. Kali ini Agneta merasa tak cemburu dan kesal pada Dave, melainkan ia merasa kasihan pada Dave yang sebenarnya di peralat oleh banyak orang.
Siang itu Agneta menemani Dave ke ruang rapat untuk bertemu salah satu client.
"Neta, tolong ambilkan dokumen yang tadi pagi di meja saya," ucap Dave begitu formal.
"Baik Sir," ucap Agneta dan segera berlalu pergi menuju ruangan Dave.
Gerakan Agneta terhenti di dekat ruangan Aiden, ia melihat Aiden bersama Natalie masuk ke dalam ruangan Aiden. Entah dorongan darimana dia melihat sekelilingnya dan langsung membuntuti mereka saat di rasa aman.
Saat Aiden dan Natalie sudah masuk ke dalam ruangan, dengan cepat Agneta menahan pintu dengan ujung sepatunya supaya tidak tertutup sempurna dan ia bisa mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Aiden.
"Aku ingin kau membantuku menjebak Dave," ucap Natalir dengan santainya duduk di kursi kebesaran Aiden dan menggerakkan kursinya dengan santai.
"Menjebaknya?"
"Yah, aku ingin dia segera menikahiku."
"Kenapa aku harus membantumu?" tanya Aiden.
"Karena nanti kau bisa bersama dengan wanita yang kau cintai itu," ucap Natalie.
"Jadi, bagaimana rencananya?" tanya Aiden yang sepertinya mulai tertarik.
"Malam ini ada pertemuan dengan Mr. Kimura dari Jepang, aku ingin kau mengatur ulang tempat pertemuannya. Biar Dave datang ke hotel tempat pertemuan sekarang. Dan aku sudah menyiapkan beberapa anak buah Dad untuk menjebak Dave."
"Lalu?"
"Aku yakin cara ini bisa menahan Dave bersamaku dan dia akan menikahiku dengan segera. Setelah itu kamu bisa kembali dengan janda itu," ucap Natalie.
Aiden masih diam membisu menatap Natalie dengan penuh perhitungan. "Baiklah, kali ini aku akan membantumu. Tetapi ini hanya semata-mata agar Agneta kembali padaku dan sadar bahwa Dave itu memang pria brengsek yang tak pantas untuknya!" ucap Aiden.
Agneta berdiri kaku di tempatnya, ia tak bisa membiarkan Dave dalam masalah, bukankah Dave adalah suaminya, dan sudah sepantasnya seorang istri membantunya.
***
Agneta terus saja memainkan pulpennya dengan resah di kursi kebesarannya, tatapannya tertuju pada Dave yang masih sibuk mengerjakan sesuatu di dalam ruangannya yang hanya berbatas kaca itu. Agneta memalingkan wajahnya segera saat Dave menatap ke arahnya dengan tatapan bingung. Ini sudah kesekian kalinya Dave memergoki Agneta tengah menatapnya.
"Ada apa?" tanya Dave menyentakkan Agneta. Ia menatap Dave dengan tatapan kaget, juga gugup. "Sejak tadi kau memperhatikanku, apa ada masalah?"
Agneta tak menyangka kalau Dave begitu peka terhadapnya.
"I-itu-" Agneta mendadak gugup dan gagu untuk menjawab pertanyaan Dave.
Dave tampak menatap jam yang melingkar elegant di pergelangan tangannya. "Aku tak punya banyak waktu Agneta, jadi katakanlah apa yang ingin kamu katakan."
"A-aku i-itu-" Agneta bingung harus mengatakan apa, akankah Dave percaya padanya kalau dia mengatakan yang sebenarnya.
"I-itu, emm"
"Ada apa Agneta?"
"Regan ingin kita makan malam bersama," ucap Agneta dengan cepat.
"Regan? benarkah?" tanya Dave menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, dia menghubungiku dan mengatakan ingin makan malam bersama kita," ucap Agneta.
"Tetapi aku ada pertemuan dengan Mr. Kimura. Kamu saja yang menemani Regan, biar aku sendirian saja yang menemui Mr. Kimura." Dave beranjak hendak berlalu pergi tetapi dengan cepat Agneta menahannya.
"Tetapi Regan ingin bersama kita," ucap Agneta yang kini berdiri di hadapan Dave menghalangi langkahnya.
"Benarkah?"
"I-iya, dia merengek ingin makan malam bersama kita," ucap Agneta berusaha meyakinkan walau terlihat gugup dan kegugupannya itu menambah kecurigaan Dave. Biasanya Agneta selalu memiliki 1000 cara untuk membujuk Regan supaya tidak mengajak Dave dalam acara mereka, tetapi kali ini sungguh mencurigakan.
"Katakan saja pada Regan, sepulang dari pertemuan ini aku akan membelikannya mainan. Jadi tunggu saja aku di rumah," ucap Dave beranjak melewati Agneta.
"Tidak! jangan pergi!"
Deg
Baik Dave maupun Agneta keduanya sama-sama mematung kaku di tempat saat Agneta dengan berani memeluk tubuh Dave dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung lebar Dave.
Cukup lama mereka berdua terdiam kaku sampai Agneta melepaskan pelukannya. "Maaf," gumamnya menundukkan kepalanya seraya menyampirkan rambutnya ke balik telinga dengan gugup. Dave sudah berbalik ke arahnya dan menatap Agneta dengan tatapan misterius yang tajam dan itu semakin membuat Agneta salting.
"Benarkah Regan menginginkan makan malam bersamaku?" tanya Dave membuat Agneta mengutuk dirinya sendiri dengan sikap spontannya tadi. Tanpa di sangka-sangka Dave menghubungi seseorang.
"Hallo Regan sayang." Mendengar itu, Agneta langsung mengangkat kepalanya dan tatapannya langsung bertemu dengan Dave yang sedang berbicara dengan Regan melalui sambungan telpon.
"Kamu sedang apa, Jagoan?"
"...."
"Sudah mau tidur? Sudah makan belum?" Agneta menggigit bibir bawahnya.
"....."
"Begitu yah, sepertinya begitu," ucap Dave menatap dengan tatapan menggoda ke arah Agneta yang sudah kaku dan bingung.
"Baiklah, selamat tidur Jagoan."
Dave memutuskan sambungan telpon dan menatap Agneta dengan tajam. Ia berjalan mendekati Agneta tetapi Agneta tetap pada posisinya tak bergerak sedikitpun. Itu cukup membuat Dave merasa aneh, dia semakin mendekat dan menghapus jarak di antara mereka berdua. Agneta menengadahkan kepalanya hingga tatapan mereka berdua beradu.
"Kau tau apa yang Regan katakan barusan?" tanya Dave dan Agneta masih terdiam. "Dia mengatakan kalau itu akal-akalan Bunda saja yang ingin berdekatan dengan Ayah."
"Ada apa Agneta? kau terlihat berbeda hari ini?" tanya Dave menarik dagu Agneta hingga jarak bibir mereka berdua begitu dekat dan terpaan nafas keduanya terasa ke kulit wajah.
"Aku hanya-"
"Hanya apa? kau bisa menemaniku menemui mr. Kimura kalau kau ingin bersamaku."
"Tidak Dave, jangan pergi menemuinya."
"Aku butuh alasan untuk itu," ucap Dave menatap Agneta dengan intim.
Dengan berani Agneta berjinjit dan mencium bibir Dave membuat Dave tersentak kaget dan mematung kaku. Agneta hanya menciumnya dan melepaskan ciuman mereka, tetapi belum menjauh satu inci saja Dave langsung menarik tengkuk Agneta dan menciumnya dengan rakus seakan itu adalah pasokan udaranya.
Dave semakin menekan kepala belakang Agneta untuk memperdalam ciuman mereka, sampai Agneta mendorong dadanya hingga ciuman mereka terlepas, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dave sungguh membuatnya tak mampu bernafas sama sekali.
"Kau harus bertanggung jawab karena melakukan ini, Neta."
Dave menarik Agneta ke dalam ruangannya dan ke kamar privatenya yang ada di dalam ruangan. Agneta sama sekali tak menolak dan menurut saja. Agneta tau Dave sudah menggelap dan itu sedikit menakutkan.
"Tampar aku kalau kau ingin menghentikanku," bisik Dave yang kini mendorong Agneta ke balik pintu yang sudah tertutup dan kembali mencium Agneta dengan rakus.
Kini ciuman Dave semakin menurun ke bagian lehernya dan tangannya mulai bergerak turun ke pinggang Agneta dan punggungnya yang masih di balut kemeja siponnya. Bukannya menampar Dave, Agneta malah menengadahkan kepalanya dan mencengkram kedua pundak Dave seakan mempersilahkan Dave untuk melakukan lebih padanya.
Dave semakin menuruni ciumannya dan perlahan melepaskan kemeja yang di gunakan Agneta. Ada sedikit keinginan Agneta untuk menghentikan semua itu tetapi tangannya tak sesuai dengan apa yang di perintahkan otaknya. Bukannya menampar atau mendorong Dave, Agneta malah *** rambut Dave dan menekannya supaya Dave melakukan lebih dari itu.
Kemeja Agneta sudah terbuka lebar hingga memperlihatkan bra berwarna coklatnya juga kulitnya yang putih bersih. Dave yang merasa Agneta memberi dukungan padanya akhirnya melancarkan aksinya ke yang lebih dari itu.
Tangan kanannya yang berada di pinggang Agneta, merambat masuk ke balik kemeja dan naik ke atas hingga menemukan pengait bra dan dengan mudahnya terlepas. Dave mulai menangkup bagian dada dan memainkannya.
Agneta semakin merinding dan terbuai oleh sentuhan Dave. Seluruh tubuhnya terasa terbakar dan setiap desiran darahnya begitu menyiksa. Dengan kuat Agneta *** rambut Dave dan mengeluarkan suara yang sejak tadi ia tahan. Mendengar desahan dari bibir Agneta, Dave semakin menggila dan seluruh dirinya sudah terbakar gairah dan siap meledak.
Ciuman Dave semakin ke bawah dan dengan mudah ia mengangkat rok pendek yang di gunakan Agneta dan merobek stoking berwarna cream miliknya. Tangannya begitu gesit menerobos mencari pusat dari Agneta yang sudah basah dan hangat.
Dave tersenyum puas saat merasakan cairan hangat di pusat Agneta. Ia lalu mencium dan mencumbunya membuat Agneta menjerit kenikmatan seraya menengadahkan kepalanya ke atas. Dave selalu bisa membuatnya terbakar dan bergairah. Setiap sentuhannya seakan mengandung magnet yang bisa menarik seluruh bagian tubuh Agneta hingga dirinya merasa seperti akan meledak.
"Sshhhh Dave," gumamnya.
"Sebut namaku terus, Neta."
"Ahh Dave!" jerit Agneta saat mendapatkan pelepasannya yang pertama seraya menjambak rambut Dave.
Dave berdiri dari posisi berjongkoknya dengan senyuman devil khasnya. "Kau begitu menikmatinya," gumam Dave beradu tatap dengan Agneta yang terengah-engah.
Tanpa menunggu lama lagi Dave menarik Agneta dan merebahkannya di atas ranjang, ia lalu melucuti seluruh pakaiannya tanpa tersisa begitu juga dengan pakaian Agneta hingga keduanya tak memakai sehelai benangpun.
Dave memposisikan dirinya untuk bisa masuk dan menyatu dengan Agneta. Awalnya Dave sedikit kesulitan karena milik Agneta masih begitu rapat dan terdengar jelas ringisan Agneta. Seketika bayangan saat pertama kali mereka melakukannya, Dave memaksa masuk dan menerobos penghalang Agneta hingga dia menjerit kesakitan. Kali ini Dave ingin membuat sesuatu yang indah dan menghapus kenangan pahit di masalalu. Ia mencoba masuk dengan gerakan pelan tetapi pasti tanpa ingin menyakiti Agneta.
Kali ini bukan jeritan kesakitan yang di dengar Dave, melainkan desahan panjang dari Agneta yang seakan memicu gairah Dave yang semakin terbakar. Kini Dave sudah berada di dalam Agneta, dan ia mulai menggerakkannya perlahan bahkan sangat pelan hingga membuat Agneta frustasi dan ikut menggerakkan tubuhnya. Melihat aksi berani dari Agneta, Dave hanya bisa tersenyum puas dan terus menggoda Agneta.
30 menit berlalu dan keduanya kini tidur berdampingan setelah puas mencapai kepuasan dan pelepasan mereka. Dave menoleh ke arah Agneta yang masih memejamkan matanya dan nafasnya yang cukup berat. Dave tersenyum kecil melihat wajah Agneta yang penuh peluh dan terengah pelan karena ulahnya. Dan saat ini Agneta tampak begitu cantik di matanya.
Agneta membuka matanya dan melirik ke arah Dave, ternyata Dave sudah terlelap dengan nafas teratur di sampingnya. Tangan Agneta bergerak membelai rahang Dave yang berjambang tak terlalu lebat. Ia membelainya pelan dan tersenyum kecil. Entah kenapa ia merasa senang malam ini. Tidak ada rasa sakit atau kesedihan seperti dulu saat Dave merenggut kehormatannya. Agneta ikut terlelap di samping Dave.
***
"TIDAK!!! Jangan!! Ku mohon Devara!!!"
Agneta terbangun mendengar suara itu, ia melihat Dave tidur gelisah dengan menyebut nama orangtuanya dan Devara, peluh sebesar biji jagung tampak jelas di dahinya.
"Dave!" ucap Agneta menyentakkan pundak Dave hingga ia membuka matanya dan tampak terengah. "Kau baik-baik saja?" tanya Agneta membantu Dave untuk bangun dari rebahannya.
Agneta menyambar kemeja Dave yang ada di sisi ranjang dan tanpa malu memakainya. Ia beranjak mengambil air dari dalam kulkas kecil yang ada di dalam ruangan itu. Ia kembali berjalan mendekati Dave dan duduk di hadapan Dave dengan menyodorkan botol berisi air dingin.
"Neta," gumam Dave yang tampak mengusap wajahnya gusar.
"Minumlah dulu," ucap Agneta dan Dave langsung meneguknya hingga tandas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Agneta saat Dave menyimpan botol itu di nakas samping ranjang. Dave hanya menatap Agneta dengan tatapan sendu bahkan tak pernah sekalipun Agneta melihatnya.
Tanpa kata Dave menarik tubuh Agneta ke dalam pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di cekukan leher Agneta.
"Jangan meninggalkanku," gumam Dave terdengar begitu putus asa dan frustasi.
Agneta masih mematung kaku di tempatnya dengan perasaan yang tak menentu.
"Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan aku sendirian, Neta."
"Iya Dave."
***