
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi.....
Mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi membelah kerumunan kota. Ada Sean yang menatap dingin jalan kota yang ramai. Dibalik wajah dingin itu ada sejuta rasa khawatir, amarah, dan juga harapan bercampur menjadi satu.
Sampai di restauran besar itu tak ada garis polisi yang membatasi. Sean melarang Andrew untuk melibatkan polisi sampai ia menemukan pelaku yang sebenarnya. Ia tidak memiliki rasa percaya kepada para pihak yang berwajib .
"Apa yang ingin kau tunjukkan ?, jika ini tidak penting maka kau akan tahu akibatnya".
"B-baik Mr".
Pria paruh baya itu berlari kesana-kemari. Meraba dinding dengan penuh rasa harap. Ia mencoba mengingat dimana ia meletakkan benda kecil hitam itu.
"Sial dimana aku meletakkannya ?".* Batinnya.
Matanya menelusuri setiap sudut dan jengkal dinding restauran. Mencari dan terus mengingat dimana ia meletakkan benda kecil itu. Matanya menangkap jam dinding tua yang bergantung pada dinding bernuansa putih elegan. Bagai mendapatkan angin dari surga sepersekian detik kemudian ia pun langsung mengingatnya.
"Jam, di jam itu turunkan jam itu dengan hati-hati aku meletakkannya disana".
Seseorang menurunkan jam dinding itu benar saja pada pinggir bingkai hitam jam itu nampak kamera pengawas kecil dengan warna senada dengan dinding jam.
"Ini, pasti ada disini tidak semua bahkan tidak mencangkup sampai kamar mandi namun sampai pada jalan menuju ke kamar mandi kita akan tahu siapa saja ke kamar mandi hari itu, aku meletakkannya disana karena itu adalah satu-satunya tempat yang dapat merekam semua sudut disini".
"Andrew bawa itu dan kita kembali".
.
.
.
"Kau terlihat pucat sayang".
"Tidak mom aku baik-baik saja, bagaimana perasaan mommy ?".
"Mommy baik-baik saja sayang lihatlah mommy sudah sehat".
"Allis apakah kau lapar ?".
"Tidak, aku hanya ingin minum rasanya tenggorakanku begitu pahit dan kering".
Pukul tiga dini hari tadi pengaruh obat bius hilang dari tubuhnya. Sehingga membuat Allis tersadar karena terusik dengan suara-suara di luar sana. Agatha membantu Allis untuk minum dan kembali membenarkan posisi Allis. Allis meringis sakit ketika ia tak sengaja menengok ke arah sofa. Menatap sejenak lalu berpaling lagi dia tidak merasakan kehadiran seseorang disana.
"Jangan bergerak, kau mau apa aku akan membantumu ?".
"Tidak aku tidak menginginkan apa pun, dimana mommy dan daddy ?".
"Mereka kembali untuk membersihkan diri, mungkin beristirahat juga semalam istirahat mereka tak nyenyak karena Ethan yang selalu menangis".
"Kau menangis sebanyak itu sayang ?".
"Tidak".
"Oh iya jadi aunty Agatha berbohong pada mommy".
"Entahlah mom".
"Dan tunggu sebentar bukannya kau ada di Paris Agatha ?".
"Humm saat mommy mengabariku kau di pukul orang jahat aku langsung saja kembali".
"Kau meninggalkan bisnis pentingmu di sana Agatha ?".
"Kenapa ? aku tidak rugi jika harus meninggalkannya, memang aku mengalami kerugian namun mungkin hanya satu persen dari kekayaan keluarga kita, proyek itu tak seberharga dirimu dan keluargaku Allis".
"Aku sangat menyayangimu Allis".
"Aa terima kasih Agatha, Ethan kemari mendekatlah pada mommy".
Ethan mencoba menggenggam tangan Allis meremasnya sedikit untuk menyalurkan kekuatan dengan tangan kecilnya. Allis tersenyum walau hanya terlihat samar karena balutan perban pada pipinya hampir menutupi keseluruhan wajahnya.
"Mommy maafkan Ethan".
"Ethan tidak bersalah sayang, ini semua memang takdir mommy".
"Mommy salah, seharusnya takdir itu berjalan sesuai dengan kehendak kita, mommy tahu jodoh juga itu bagian takdir kan, aku yang menentukan takdir mommy jadi ini semua adalah salah aku".
"Hey sejak kapan kau tahu masalah takdir dan jodoh anak tampan ?"
"Maafkan aku mom".
"Agatha sepertinya anak tampan ini sudah dewasa bagaimana jika menjodohkannya dengan putri tetangga sebelah ?".
"ck orang dewasa ini"
"Mommy ayo keluar dari garis takdir yang aku buat untukmu ini".
"Maksud kau apa sayang mommy tidaklah mengerti ?".
"Lebih baik mommy meninggalkan semua hal yang menyangkut dengan daddy, ayo kita pergi dari mereka jika itu bisa membuat takdir mommy bisa berubah maka ayo tinggalkan ini semua".
"Sayang, pernikahan bukanlah permainan cukup sekali seumur hidup, mommy selalu berpikir untuk menikah sekali seumur hidup".
"Namun pernikahan ini menyiksa mommy, aku tidak rela mommy seperti ini".
"Sayang berhentilah berpikir seperti cara orang dewasa berpikir, berpikirlah seperti anak-anak yang lain seperti anak yang seumuran denganmu sayang"
"Mommy aku tidak bisa melihatmu terluka dan terus terluka seperti ini".
"Agatha, berikan pengertian untuknya aku sangat lelah aku ingin beristirahat".
"Sungguh ini sangat membingungkan Tuhan bertahan sakit ingin pergi pun terasa sulit".* Batin Allis.
.
.
.
"Putar rekaman itu Andrew".
Sean duduk di ruangan itu dia menatap layar laptop yang tengah menyala. Para pegawai dan pemilik restauran itu dia tak langsung melepaskannya begitu saja. Mereka masih disana dan berdoa dengan penuh kesungguhan agar mereka terbangun dari mimpi buruk ini.
Video di putar nampak Allis dan Sonia baru saja memasuki restauran. Mereka memesan makanan dan berbincang-bincang seperti biasa. Nampak semuanya baik-baik saja para pelanggan yang lain pun mulai berdatangan.
Saat Allis beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju kamar mandi. Nampak seseorang mengikutinya dari belakang. Sean menatap tajam orang tersebut. Tiga puluh menit kemudian nampak orang yang berjalan setelah Allis itu keluar, setelah itu tidak ada lagi yang keluar masuk ke kamar mandi itu.
"Berhenti, perbesar".
"Baik Mr"
Andrew memperbesar gambar yang ada di video. Sean menatap dengan seksama dan sangat teliti. Andrew pun ikut melakukan hal yang sama.
"Putar sedikit lagi kemudian jeda kita akan melihatnya dengan jelas nanti".
"Baik Mr".
Sesuai perintah Andrew kembali memutar dan langsung menekan tombol pause ketika Sean mengangkat tangannya. Mereka kembali meneliti dengan seksama orang itu.
"Lebih perjelas lagi Andrew".
Deg
"Dia ?".* Batin Sean
"Dia ?".* Batin Andrew
"Mr apakah kau memiliki pikiran yang sama dengan saya ?".
"Aku rasa".
"Siapa yang bertugas di meja kasir ?".
"S-saya tuan saya"
"Kau mengenalinya ?".
"S-siapa ?".
"Lihatlah layar ini, buka bola matamu lebar-lebar atau perlukah aku mengeluarkan bola matamu itu ?".
"Tidak, tidak tuan tidak".
"Usap air matamu dan lihatlah itu"
Pegawai itu masih sesenggukan dirinya sangat ketakutan dengan dua manusia tampan namun kejam ini.
"I-itu i-itu adalah artis selebgram yang terkenal akhir-akhir ini, dia Jessie Andrews Jackson putri keluarga Jackson".
"Kau yakin ? jika kau salah maka aku akan membunuhmu dan seluruh keluargamu, aku akan memburu mereka sampai tujuh turunan".
"Tidak tuan tidak, ampun maafkan saya tuan maafkan saya, saya memang berkata jujur saya sempat berfoto dengannya dan mengunggahnya di akun sosial media saya tuan sungguh saya tidak berbohong".
"Tunjukkan foto itu".
"Ini tuan ini lihatlah".
Andrew menerima handphone itu dari tangan wanita itu. Memberikannya pada Sean.
"Baju yang sama Mr dan sepertinya ini memang benar, dia tak berbohong".
"Keluarlah bawa mereka semua".
"Dan kau pria gendut ganti kamera pengawas yang ada pada restauranmu jika tidak aku akan meratakan restauran besok pagi".
"Baik Mr baik, terima kasih terima kasih".
"Dan kau wanita kasir, Andrew berikan keluarganya sejumlah uang dan cukupkan keperluan mereka".
"Baik Mr".
"Terima kasih tuan terima kasih, saya tidak bisa mengatakan apa pun tapi dengan sepenuh hati saya ingin berterima kasih kepada anda tuan".
"Cukup, pergilah".
Pyarrrr Pranggg Pranggg
Sean melempar semua barang-barang bahkan laptop tak peduli dengan berkas-berkas penting yang ada pada laptop itu. Dia memukuli kepalanya meremas rambutnya dan berteriak sekencang mungkin. Dia sangat tidak becus menjaga keluarganya. Sampai harus kecolongan dengan seorang wanita seperti itu.
"Nona Jessie kau akan merasakan akibatnya kau harus membayar setiap rasa sakit yang dirasakan istriku, membayar setiap tetes air mata anakku dengan darahmu, tak peduli jika kau harus membayarnya dengan nyawamu, satu mata dibalas dua mata, kau salah karena terlalu bermain-main denganku, tunggulah ajalmu Jessie".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo up lagi semuanya selamat membaca, sembari menunggu mimin update terbaru di lapak ini ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.
Dan jangan lupa rutinitasnya setelah membaca yah hehehe tekan like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga jangan lupa follow akun mimin yahh...
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨