
Agneta mengernyit saat Aiden sudah berdiri di depan kubikelnya bahkan menjadi perhatian teman-temannya.
"Ada apa?" tanya Agneta pada Aiden yang terus saja menampilkan senyuman menawannya.
"Sudah selesai? Aku ingin mengajakmu keluar," ucap Aiden masih dengan senyuman menawannya.
"Malam ini?" tanya Agneta yang di angguki Aiden. "Kenapa mendadak sekali, aku belum menitipkan Regan dan memberitahu Iren."
"Sekarang saja kamu hubungi Sayang, ini adalah malam yang penting untukku, ah tidak untuk kita," ucapnya masih dengan senyuman menawannya.
"Baiklah," ucap Agneta mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan Iren.
"Kita berangkat?" ajak Aiden yang di angguki Agneta dan bergegas membereskan semua barang-barangnya. Mereka berjalan berdampingan membuat para rekan kerja Agneta menggoda mereka. Aiden hanya tersenyum manis menanggapi mereka semua seperti biasanya. Wakil CEO yang begitu murah senyum.
***
Aiden membawa Agneta ke sebuah restaurant mewah yang sangat sepi, tetapi pencahayaannya begitu temaram dan nuansa yang romantis.
"Sudah lama kita tidak berkencan," ucap Aiden masih menampilkan senyumannya hingga memperlihatkan lesung pipinya. Tangannya masih menggenggam erat tangan Agneta yang hanya berjalan di sampingnya.
"Kenapa sepi sekali," ucap Agneta saat mereka sudah di persilahkan duduk di bagian balkon restaurant dengan hiasan kerlap kerlip lampu juga musik romantis. Seorang pelayan menuangkan anggur merah ke dalam gelas berkaki yang sudah tersedia di atas meja bundar itu.
"Aku membookingnya," ucap Aiden.
"Kenapa harus seperti itu? kamu terlalu berlebihan Aiden," ucap Agneta.
"Tidak Agneta, ini setimpal untukmu. Apapun akan aku lakukan untukmu," ucapnya tampak tulus membuat Agneta meringis kecil. Aiden terlalu baik untuknya.
"Untukmu." Aiden menyerahkan sebucket bunga mawar merah ke arah Agneta membuatnya menerima bunga itu.
"Terima kasih," ucap Agneta diiringi senyumannya.
Tak lama beberapa pelayan datang dan menyajikan makanan pembuka untuk mereka, tak lama di susul dengan menu utama. Agneta dan Aiden menikmatinya dalam diam, sesekali Aiden bertanya beberapa hal mengenai Regan pada Agneta. Seperti sekolahnya, aktivitasnya, dan lain halnya hingga makanan mereka selesai dan di lanjut dengan menu penutup seraya menikmati anggur merah.
Musik masih mengalun dengan indah, Aiden sama sekali tak mengalihkan tatapan matanya dari Agneta di hadapannya. Jelas sekali tatapan memuja penuh cinta dari Aiden.
"Mau berdansa denganku?" ajak Aiden yang sudah berdiri menjulang di hadapan Agneta seraya mengulurkan sebelah tangannya. Agneta tersenyum lebar dan menerima uluran tangan Aiden.
Aiden menuntun Agneta ke lantai dansa dan mulai merengkuh pinggang Agneta lalu mereka mulai berdansa bersama. "Kau sangat cantik," bisik Aiden.
"Kau selalu saja bergombal," ucap Agneta tersenyum kecil.
"Apa aku terlihat bergombal? Aku sungguh menyukaimu. Sangat mencintaimu, Agneta."
"Kau selalu diam saat aku mengucapkan perasaanku," ucap Aiden terkekeh kecil padahal jelas sekali rasa kecewa di wajahnya.
Hening...
Tak ada lagi yang membuka suara, selain dari alunan musik yang mengiringi gerakan mereka berdua. Aiden menatap wajah Agneta yang terlihat menunduk seakan tak berani membalas tatapan matanya. Sebenarnya ada sedikit rasa sakit di hati Aiden melihat Agneta yang masih belum bisa membuka hati untuknya sedangkan dirinya begitu mencintai Agneta, bahkan rela menyerahkan nyawanya sekalipun kalau itu yang harus dia lakukan.
"Will you merry me, Agneta!"
Deg
Agneta menghentikan gerakannya dan menatap Aiden yang mendadak berubah menjadi wajah Dave yang begitu tampan dan sangat dingin. Agneta melepaskan pegangannya dan sedikit mundur.
"Menikahlah denganku Agenta, aku mohon." Aiden mengeluarkan kotak kecil dan membukanya hingga memperlihatkan sebuah cincin berhiaskan berlian nan indah dan pastilah sangat mahal.
"Dave," gumam Agneta nyaris tak mengeluarkan suaranya.
"Menikahlah denganku, jangan menolakku. Aku ingin hidup dan membangun keluarga bahagia bersamamu dan juga Regan. Aku sangat menyayanginya, bukankah Regan adalah putraku," ucap Aiden yang masih di kira Dave oleh Agneta.
Agneta memejamkan matanya seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak, jangan menolakku," ucap Aiden menangkup pipi Agneta hingga tatapan mereka beradu satu sama lain.
"Aku takut," gumam Agneta. "Ka-kau akan meninggalkanku lagi."
Aiden mengernyitkan dahinya sedikit bingung dengan ucapan Agneta. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun juga, jadi kali ini saja beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu."
"A-aku," gumam Agneta merasa lidahnya kelu, tatapan tajam Dave seakan menusuk ke dalam matanya hingga ke dalam hatinya.
"Aku tidak pernah menerima penolakan Agneta," suara Dave begitu kentara di telinganya.
"Kalau begitu kenapa kau bertanya kalau kau tidak ingin aku menolak?" ucapan Agneta spontan membuat Aiden membelalak, ia sejak tadi masih diam menunggu jawaban Agneta, dan ucapan Agneta barusan seakan pelangi indah yang muncul di tengah badai.
"Terima kasih." Aiden langsung memeluk tubuh Agneta dengan sangat erat.
Cukup lama Aiden melepaskan pelukannya dan memasangkan cincin berlian itu di jari manis Agneta. Agneta masih tersenyum menatap cincin berlian itu hingga ia menengadahkan kepalanya dan mengernyit.
"Aiden?" gumamnya.
"Aku sangat bahagia, aku mencintaimu Agneta, sangat mencintaimu." Aiden kembali memeluk tubuh Agneta dan mengecupi kepalanya. Sedangkan Agneta masih mematung kaku, bukankah yang barusan itu Davero?
***