He'S Back

He'S Back
Episode 53



2 hari sudah berlalu dari sejak kejadian di kamar ruangan Dave. Dan Dave berlaku lebih baik dari sebelumnya, mereka seperti layaknya sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Dan Agneta merasa senang setiap kali Dave bisa tersenyum walau karena kelucuan Regan, Agneta tak ingin melihat Dave yang kesepian, terpuruk dan sedih. Ia berharap keadaan ini tak akan pernah berakhir.


"Agneta!" panggilan itu membuatnya menoleh.


"Aiden," gumam Agneta saat melihat Aiden berjalan mendekatinya.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu sulit sekali di hubungi," ucap Aiden.


"Aku sedang sibuk, aku permisi dulu Aiden." Agneta bergegas pergi karena tak ingin ada gosip tak mengenakan lagi tetapi Aiden menarik lengannya hingga Agneta tertarik hingga tubuhnya membentur tubuh Aiden dan saat itu rambut panjang Agneta terhempas dan tanda merah di lehernya yang mulai memudar terlihat jelas.


"Lehermu-"


Agneta dengan cepat menjauh dari Aiden dan merapihkan rambut panjangnya untuk menutupi tanda itu. "Siapa?"


Aiden menatap Agneta dengan tatapan tajam penuh intimidasi. Mereka kini berada di ruangan meeting, tadi Agneta sedang mengambil sesuatu di ruangan ini hingga Aiden datang dan masuk.


"Apa dia memperkosamu lagi?" tatapan Agneta melebar mendengarkan penuturan Aiden yang berapi-api. "Dia sungguh pria biadab yang harus di beri pelajaran dan kali ini tak akan aku beri ampun!"


Aiden beranjak pergi meninggalkan Agneta. "Dia tidak memperkosaku, kami melakukannya karena aku juga menginginkannya."


Deg


Langkah Aiden terhenti di dekat pintu dan tubuhnya tampak membeku kaku. Agneta mampu melihat kedua tangan Aiden mengepal kuat hingga urat-uratnya tercetak jelas.


Agneta mundur 2 langkah ke belakang saat Aiden berbalik dengan tatapan tajam dan memerah mendekati Agneta dengan langkah lebar.


"Aiden,"


"KENAPA?"


"Ah!" Agneta meringis saat kedua tangan Aiden mencengkram kuat pundaknya dengan kuat. "Aiden, kau menyakitiku."


"Kau jauh menyakiti hatiku Agneta! Kenapa? kenapa kamu mau tidur dengannya, Hah? Sedangkan denganku kau terus menolaknya!" pekik Aiden membuat Agneta ketakutan.


"Dia suamiku, Aiden." gumam Agneta.


"Suami? Kau bilang dia suamimu? Dia menikahimu dengan cara pemaksaan dan ancaman! Kau bilang kau sangat membencinya, tetapi kenapa sekarang-" Mata Aiden tampak memerah tajam penuh emosi dan menahan air matanya yang hanya timbul di matanya.


"Kau tidur dengannya dan menyerahkan segalanya! Bahkan selama bersamaku, kau terus menolaknya! KENAPA AGNETA?" Aiden menghentakkan tubuh Agneta diiringi bentakannya.


"Maafkan aku Aiden."


"Aku tidak butuh maaf darimu!" pekiknya. "Kau pembohong Agneta, kau manusia paling munafik! Kau bilang begitu membencinya, tetapi kau mau tidur dengannya! Kenapa kau lakukan ini?" pekik Aiden tampak sangat terluka.


Agneta hanya diam membisu dengan kepala yang menunduk.


"Kamu masih mencintainya?" pertanyaan Aiden spontan membuat kepala Agneta terangkat menatap ke arahnya. "Kamu masih mencintainya." Aiden terus mengulangnya dengan tatapan yang begitu sangat terluka.


"Aku?"


"Ya, kau sangat mencintainya."


Aiden menundukkan kepalanya dengan tatapan yang sangat terluka. Ia melepaskan cengkramannya dan berjalan mundur menjauhi Agneta.


"Aiden maafkan aku," ucap Agneta yang di jawab gelengan kepala oleh Aiden dengan tatapan kekecewaan.


Agneta hanya diam membeku melihat kepergian Aiden yang begitu kecewa padanya. Akhirnya dia menyakiti Aiden yang begitu baik padanya.


***


Aiden meneguk gelas berisi vodka, itu sudah gelas keberapa yang dia teguk dengan tatapan sedih dan wajah yang memerah. Suara hingar bingar di club itu seakan tak berpengaruh terhadapnya. Ia masih memikirkan tanda merah di leher Agneta dengan emosi yang berkobar di dalam hatinya. Ingin sekali ia membunuh Dave, tetapi hatinya terlanjur mati lebih dulu mengetahui Agneta tak pernah mencintainya dan masih mencintai Dave.


"Cukup Aiden!" seseorang menarik gelas di tangannya membuat Aiden menggeram kesal dan menatap seseorang di depannya.


"Berikan padaku Cath,"


"Tidak Aiden, sudah cukup! Kau sudah sangat mabuk!"


"Berikan padaku!" bentak Aiden membuat Catherin menghela nafasnya dan menyerahkan gelas itu pada Aiden.


Setelah cukup lama, Aiden ambruk karena sudah sangat mabuk dan Catherin terpaksa membantunya dan membawanya pergi dari tempat itu.


***


Sinar matahari pagi menerobos masuk ke celah jendela kamar sebuah apartement. Seorang pria menggeram kecil dan perlahan membuka matanya dengan sedikit memijat keningnya. Ia beranjak bangun dan berusaha menyesuaikan matanya dengan lingkungan sekitar.


Keningnya mengerut bingung saat ia tak mengenali lingkungan sekitar. Dan matanya semakin melebar saat melihat seseorang terlelap di sampingnya tanpa sehelai benangpun. Ia juga baru sadar kalau dirinya bertelanjang bulat.


"Catherin?" pekik Aiden membuat wanita itu terbangun dan menatap tajam pada Aiden. "A-apa yang terjadi?"


Catherin tak menjawab dan hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan berjalan tertatih menuju kamar mandi, Aiden semakin kaget melihat bercak merah di sprai ranjang.


"Catherin tunggu!" Aiden tak memperdulikan tubuh polosnya dan mengejar Catherin, ia memegang kedua pundak Catherin untuk menahannya. "Apa yang terjadi?"


"Kau sudah puas kan sekarang, kau memperkosaku semalam dan menganggapku sebagai Agneta mu!"


Deg


Aiden mematung kaku di tempatnya, apalagi saat melihat Catherin memalingkan wajahnya hingga air matanya mengalir membasahi pipi. Catherin melepaskan pegangan Aiden dari pundaknya.


"Pergilah dan jangan pernah datang menemuiku lagi. Anggap kita tak pernah saling mengenal," ucap Catherin sebelum akhirnya meninggalkan Aiden sendirian.


***


Ini sudah seminggu Dave pergi ke Brazil untuk perjalanan Bisnis. Agneta di larang ke kantor selama seminggu ini oleh Dave dan memintanya tetap di rumah bersama Regan. Tanpa membantah Agneta pun menurut saja.


Kini Agneta sedang bermain lego bersama Regan dan tampak keduanya tertawa terbahak-bahak. Hingga kedatangan Kay dan Key membuat mereka sama-sama menoleh.


"Uncle kembal!" teriak Regan


"Hallo Regan, boleh kami bicara dengan Bunda mu, Jagoan?" tanya Kay yang di angguki Regan.


Agneta mengikuti si kembar menuju ruang keluarga.


"Ada apa?" tanya Agneta.


Kay menyalakan televisi yang ada di ruangan itu.


"Kabar siang ini, baru saja kami mendapatkan kabar bahwa sebuah helikopter meledak dan jatuh ke laut. Di kabarkan Helikopter itu milik perusahaan WT Croup company." Agneta membelalak lebar melihat berita di televisi.


"Kami juga mendapat kabar bahwa ada 2 orang di dalam helikopter dan keduanya meninggal dunia, kami juga mendapat kabar kalau seseorang di dalam pesawat itu salah satunya adalah Mr. Davero Wiratama CEO perusahaan WT company."


Deg


Agneta mematung kaku di tempatnya mendengar kabar itu, ia memang tau kalau hari ini jadwal Dave kembali pulang dari perjalanan bisnisnya.


"Kami akan berusaha mencari tau segalanya," ucap Kay.


Agneta tak memperdulikan ucapan Kay dan Key, ia masih sangat syock. Tanpa kata ia berjalan pergi meninggalkan ruangan itu dengan tatapan kosong. Setiap kenangan beberapa hari kebelakang terus terngiang di kepalanya. Ia dan Dave sudah mulai membangun hubungan baik tetapi kenapa?


Agneta terus berjalan menuju ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar. Tatapannya tertuju pada kamar Dave yang berada di sebrangnya.


"Hikz.....hikzzz....hikzzz......" isakan Agneta begitu memilukan, ia duduk berjongkok di tempatnya. "Hikzz.....hikzz....hikzz...."


Ia menangis meraung-raung sambil memeluk kedua lututnya.


Jangan pernah meninggalkan aku, Neta...


"Hikzzz....hikzzz....Dave...Hikzzz..."


Bayangan saat Dave kembali menyentuh dirinya dengan lembut dan membuatnya terbuai. "Hikzzz.....Ahhhh...hikzzzzz...."


Wajah Dave yang menyebalkan terus terngiang di depannya. "Dave! hikzzz... Ahhhhhh...hikzzz....."


Isakan memilukan terdengar jelas di balik pintu kamar itu.


***