
Dave masih duduk di sisi brangkar Agneta yang masih terlelap dengan wajah pucatnya. Kondisinya jauh dari kata baik-baik saja.
Ia meraih tangan Agneta dan menggenggamnya, entah apa yang sedang ia pikirkan tetapi tatapannya menyiratkan sesuatu yang menyakitkan. Dave mengecup tangan Agneta yang terasa hangat.
"Aku akan pastikan berhasil mengambil Regan dari wanita itu Agneta. Aku akan pastikan!" gumamnya penuh tekad.
Dave beranjak keluar dari ruangan inap Agneta dan ia menghentikan langkahnya saat ia melihat Aiden sedang berjalan di lorong rumah sakit menghampirinya dengan tatapan permusuhan. Dave masih berdiri dengan tenang tanpa terpengaruh oleh Aiden.
"Dimana Agneta?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Aiden.
"Di dalam," jawab Dave masih dengan nada tenang tetapi tatapan yang penuh intimidasi.
"Sudah berapa kali ku peringatkan! Jauhi calon istriku Davero!"
Dave tersenyum sinis mendengar penuturan Aiden. "Tidakkah kau berkaca Aiden!" ucap Dave memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Aiden masih diam menatap Dave dengan tatapan kesal. "Ibu mu yang sudah menculik Regan!"
Deg
"Itu tidak mungkin!" kilah Aiden dengan cepat. Ia yakin Ibu nya tak akan melakukan hal seperti itu.
"Kau terlalu bodoh dan mudah di kelabuhi, harusnya kau yang menjauh dari Agneta dan juga Regan putraku! Karena kamulah, Elena menculik Regan!" ucapan Dave membuat Aiden termangu di tempatnya.
"Kau bohong!"
"Haruskah aku berbohong mengenai hal ini?" tanya Dave. "Dan jangan harap aku akan diam, aku akan segera merebut Agneta darimu!" ucapnya penuh penekanan dan berjalan melewati Aiden.
"Kau yakin Natalie akan diam saja kau bersama Agneta?" pertanyaan Aiden membuat Dave menghentikan langkahnya.
"Kau tenang saja, aku bisa mengatasinya," ucap Dave berlalu pergi tanpa menoleh lagi ke arah Aiden yang masih mematung di tempatnya dengan mengepalkan kedua tangannya.
***
Agneta mengerjapkan matanya seraya melenguh pelan.
"Hey, kau sudah sadar?" suara itu membuat Agneta perlahan membuka matanya dan melihat asal suara tersebut.
"Aiden,"
"Ya, aku di sini. Kau butuh sesuatu? Aku akan panggilkan dokter," ucapnya menekan tombol di dekat bangsal yang di tempati Agneta.
"Aku kenapa?" tanya Agneta.
"Kau jatuh pingsan di kantor," ucap Aiden menggenggam tangan Agneta dengan tatapan teduhnya.
"Kau yang membawaku ke sini?" tanya Agneta, seingatnya terakhir kali dia di kantor, dia tak melihat Aiden.
"Hmm, ya Agneta. Aku yang membawamu ke sini," ucap Aiden dengan senyumannya. Aiden menyembunyikan fakta kalau Dave lah yang membawa Agneta dan dia mengetahui itu dari salah satu karyawan di kantor. Dia tak ingin Agneta menaruh perhatiannya pada Dave.
"Terima kasih Aiden, kau selalu ada untukku," ucap Agneta diiringi senyumannya.
"Regan?"
Aiden menatap nyalang Agneta yang kini tampak khawatir dengan raut sedihnya. Ia kembali mengingat ucapan Dave tadi. "Aku masih berusaha mencarinya," ucap Aiden. "Kau tenang saja, aku yakin kita akan segera menemukan Regan." Aiden mengecup tangan Agneta.
Tak lama Dokter datang, dan Aiden mempersilahkan Dokter untuk memeriksa Agneta. Dokter mengatakan kondisi Agneta sudah mulai membaik, Agneta hanya kelelahan dan asam lambungnya naik.
"Kau harus makan, aku akan menyuapimu," ucap Aiden setelah Dokter berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Bagaimana aku bisa makan, sedangkan putraku belum jelas berada dimana, bagaimana kalau dia kelaparan?" tanya Agneta.
"Aku yakin dia akan baik-baik saja, jadi makanlah supaya kamu memiliki kekuatan untuk menemukan Regan," bujuk Aiden yang di angguki Agneta.
Aiden menyuapi Agneta dalam tenang walau Agneta beberapa kali menolaknya, tetapi Aiden tetap memaksanya.
***
"Makan!"
Sepiring nasi terlempar di hadapan Regan yang meringkuk ketakutan di pojok ruangan.
"Tidak mau, Egan mau Bunda," isaknya.
Wanita tua itu memutar bola matanya jengah. Ia harus menahan diri untuk tidak sampai melukai anak ini.
"Aku bilang makan!" bentaknya membuat Regan semakin ketakutan.
"Ke...kenapa Nyonya membentak Egan? Apa salah Egan?" isaknya.
"Ibumu yang jalang itu yang bersalah, dia merebut anakku dariku!" pekikku.
Regan mengernyitkan dahinya bingung, apa maksud wanita itu. "Bunda Egan tidak pelnah melebut anak Nyonya, dia kan udah punya Egan," cicitnya.
"Berhentilah berceloteh dan sekarang makan!"
"Egan tidak mau, Egan mau Bunda, Huaaaaaa....hikzzzzz" isaknya.
"Ya Tuhan anak ini!" gumamnya kesal. "Terserah kau saja!"
"Nyonya punya anak, tetapi kenapa Nyonya tega pisahin Egan sama Bunda Egan? A..apa Nyonya tidak melasa takut kalau Nyonya yang di pisahin sama anak nyonya." Ucapan Regan menghentikan langkah Elena yang hendak keluar dari ruangan yang merupakan kamar itu.
"Kau bocah yang pintar berbicara," ucapnya tersenyum sinis. "Kau mengingatkanku pada saudara kembar yang sangat ingin aku lenyapkan." Elena berdecak kesal menatap tajam pada Regan yang menatapnya penuh menantang, walau masih ada sisa air mata di sudut matanya.
"Dengar bocah! Aku akan memulangkanmu pada Bunda sialanmu itu, kalau dia melepaskan putraku Aiden!"
"A..ayah Aiden?" gumamnya.
***