
Elena sudah bersiap menemani Aiden bertemu dengan Mr. Abdullah. Awalnya Aiden menolak di temani, tetapi Elena meragukan Aiden dan malah tetap menyodorkan tender ini pada Dave. Elena sudah susah payah memberika obat sakit perut yang cukup ampuh pada Dave dan sekarang rencananya harus gagal karena ketidakpawayan anaknya.
Mereka berdua sampai di restaurant mewah yang di jadikan tempat pertemuan mereka. Elena dan Aiden di giring menuju ke private room dan di sana sudah ada seorang pria berusia 35 tahunan dengan setelan jas mewahnya. Kacamata minus bertengker di hidungnya.
"Selamat siang Mr. Aiden," serunya saat Aiden dan Elena sudah masuk. Sekedar basa basi, mereka bersalaman satu sama lain. Lalu pria tadi mempersilahkan mereka untuk duduk bersebrangan dengannya.
"Saya Malik, asisten dari Mr. Abdullah. Maaf karena Mr. Abdullah tidak bisa datang, tetapi kontrak kerjasama kedua perusahaan kita sudah di tanda tangani dan di bahas dengan Mr. Wiratama."
Elena membelalak lebar mendengar penuturan asisten dari Mr. Abdullah itu. Ia menggeram kecil karena Dave lebih bertindak lebih dulu.
Sial...!!!
Elena memilih diam selama Aiden dan asisten Mr. Abdullah berbicara mengenai produk yang akan mereka pasarkan bersama. Aiden tak banyak berbicara dan lebih pada mendengarkan penjelasan Malik yang memang semuanya sudah jelas karena sudah di jelaskan oleh Dave. Malik berkata kalau Mr. Abdullah sangat puas dengan hasil yang di tunjukkan oleh Davero.
Tak butuh waktu lama, acara pertemuanpun selesai. Aiden tau kalau Elena sedang sangat kesal.
"Sudahlah Mom," ucap Aiden saat Malik sudah berlalu pergi.
"Bagaimana bisa dia sudah mengadakan pertemuan sebelumnya tanpa ada berita." Elena masih sangat geram, ia tau Dave sudah mengatur segalanya hingga Elena tak bisa lagi mengetahui seluk beluk perusahaan.
"Dave lebih tau semuanya, jadi hentikan semua ini Mom. Kau bahkan menghancurkan acaraku dengan Agneta malam ini."
"Kau masih saja memikirkan janda pengganggu itu! Kau tidak takut terancam jatuh miskin kalau Dave menjadi presdir Wiratama Corp."
"Aiden memiliki usaha lain Mom, tanpa wiratama corp juga Aiden masih bisa bertahan hidup."
"Apa yang kau banggakan dari usaha bengkel mobilmu itu. Penghasilan setahunnya saja sama dengan sebulan menjadi direktur di Wiratama corp."Aiden hanya bisa menghela nafasnya lelah.
"Aiden pergi," ucapnya beranjak.
"Aiden tunggu! Jangan coba-coba kau menemui janda itu!" Elena segera beranjak membuntuti putranya yang tanpa jengah.
***
"Kau mau kemana?" pertanyaan itu sontak membuat Dave yang sedang memakai jasnya yang tersimpan di lemari kamar inapnya menoleh ke sumber suara. Agneta berdiri di sana dengan tatapan bertanya.
"Kau belum pulang?" tanya Dave sedikit tersentak kaget. Pasalnya ini sudah larut malam.
Dave tersenyum menggoda ke arah Agneta, senyuman yang selalu berhasil membuat Agneta gugup seketika. "Apa kau begitu mengkhawatirkanku sampai memilih untuk tidak pulang?"
Pertanyaan Dave sontak membuat Agneta kesal dan raut wajahnya langsung berubah. "Tidak!" jawabannya memalingkan wajahnya. "Regan tidak mau meninggalkanmu."
"Benarkah?" tanya Dave masih menatap Agneta dengan tatapan menggoda. "Lalu dimana Regan?"
"Dia tertidur di luar," ucap Agneta. Dave tampak menganggukkan kepalanya.
"Aku akan mengantarmu sekarang," ucap Dave.
"Kau belum diijinkan pulang, istirahatlah Dave."
"Aku tidak menyukai rumah sakit," ucap Dave berjalan melewati Agneta begitu saja.
"Dave, dokter bilang racunnya cukup serius dan kamu masih harus di rawat." Dave menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Agneta yang juga sudah menghadap ke arahnya
"Aku sudah biasa seperti ini, bukankah kau akan senang kalau terjadi sesuatu padaku." Dave sudah berdiri di hadapan Agneta dengan saling bertatapan satu sama lainnya. Tatapan yang sulit untuk di ketahui. "Kamu akan senang kalau aku lenyap dari dunia ini, bukan?"
"A-apa maksudmu?" tanya Agneta mengernyitkan dahinya.
"Aku sudah hidup sendiri, dan terbiasa mengobati tubuhku sendiri. Jadi jangan bersikap seolah kau perduli padaku, Agneta! Aku benci di kasihani!" ucap Dave begitu tajam membuat Agneta diam membisu.
"Aku tidak merasa mengasihanimu," ucap Agneta.
"Kalau begiitu apa kau perduli padaku?" tanya Dave.
Agneta terdiam membisu, Dave seakan menjebaknya dengan kata-kata. Ah, Agneta menggeram kesal. Kenapa juga dia harus mengkhawatirkan Dave. Harusnya ia biarkan pria itu pergi saja dan dia tidak akan terjebak dalam ucapannya sendiri seperti ini. Terkadang apa yang ada di dalam kepala tak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati. Dan sialnya lidah Agnetapun telah mengkhianati otaknya.
Dave masih berdiri dengan tenang menunggu jawaban dari Dave. "I-ini karena Regan," ucap Agneta dengan cepat.
"Regan?" Dave menaikkan sebelah alisnya membuat Agneta semakin memutar otaknya untuk mencari jawaban yang cocok.
"Ya, karena dia kini terlihat sangat bahagia, jadi aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan apa yang menjadi sumber kebahagiaan Regan. Aku tidak ingin dia sedih," ucap Agneta segera memalingkan wajahnya. Wajah Agneta sungguh tak bisa menyembunyikan rona merah dan kebohongannya dan itu sungguh menggoda untuk Dave.
"Oh karena Regan yah," gumamnya.
"Terserah kamu saja, aku akan pulang." Agneta beranjak melewati Dave hendak menekan knop pintu tetapi terlambat karena Dave lebih dulu mencekal pergelangan tangan Agneta dan menarik tubuh Agneta hingga kembali menabrak dada bidangnya. Agneta sempat berontak tetapi Dave semakin mengeratkan pelukannya pada Agneta.
"Benarkah begitu?" tanya Dave sebelah tangannya merengkuh pinggang Agneta hingga menempel dengannya dan sebelah lagi menarik dagu Agneta hingga ia menengadahkan kepalanya dan tatapan mereka beradu satu sama lain.
"Apa yang mau kamu lakukan? Regan ada di luar," ucap Agneta sejujurnya dia sudah sangat gugup.
"Aku senang mendengar kau mengkhawatirkanku," bisik Dave. Nafas mintnya mampu menerpa wajah Agneta dan menggelitiknya.
"Jangan terlalu percaya diri, ini hanya karena Regan." Agneta masih terus mengelah membuat Dave tak mampu menyembunyikan senyuman mengejeknya.
"Terserah kau," bisik Dave. "Kalau kau mengkhawatirkanku maka ikutlah ke rumahku bersama Regan."
"Tidak!"
"Kalau begitu biarkan aku mati karena pengaruh racun ini secara perlahan," bisik Dave menggoda Agneta.
"Kau bisa tinggal di rumah sakit," ucap Agneta.
"Aku membenci bau rumah sakit dan juga Dokter. Karena dialah keluargaku meninggalkanku," ucap Dave penuh penekanan yang menakutkan membuat Agneta merinding sendiri. "Jadi mau di rumahku apa di rumahmu?" tanya Dave membuat Agneta merenung sendiri.
"Good,"
Cup
Dave mengecup bibir Agneta begitu saja tanpa bisa Agneta cegah, lalu ia melepaskan rengkuhannya dan keluar dari ruangan meninggalkan Agneta yang terpaku dengan nafas yang menggebu.
Setelah merasa tenang, Agneta berjalan keluar ruangan dan melihat Dave sudah memangku tubuh Regan yang terlelap di pundaknya dan berjalan meninggalkan Agneta yang masih diam memperhatikan punggung Dave.
***
Agneta sedikit mengernyit saat mereka sampai di penthouse milik Dave. Penthouse itu tampak besar dengan memiliki 2 lantai. Di lantai satu hanya ada ruangan besar dengan pembatas dari kaca bening yang memperlihatkan area dari luar penthouse yang mampu memperlihatkan suasana langit indah dan beberapa bangunan tinggi. Penthouse Dave berada di lantai 20. Di ruangan yang sangat luas itu tak ada ruangan lain hanya ada kursi dan sofa. Di paling ujung dekat tangga terdapat sebuah piano tua berwarna coklat kayu dan terlihat indah. Selain itu di sebelah kanan terdapat dapur dan juga meja bar kecil yang hanya memuat 4 kursi.
Agneta mengikuti Dave menaiki tangga hitam menuju lantai 2. Di lantai 2 cukup banyak ruangan, baru sampai saja ia sudah di suguhkan ruangan dengan 2 pintu besar berwarna putih gading yang terbuka. Di dalamnya adalah sebuah ruangan dengan perapian dan sofa berwarna coklat tua, di sana juga terdapat beberapa pajangan buku dan meja bar kecil yang menyuguhkan beberapa botol minuman mahal yang Agneta kurang mengetahui namanya. Ruangan itu sedikit temaram dan begitu mencekam. Agneta berjalan masih mengikuti Dave, di dekat dua ruangan Agneta bisa melihat ada beberapa perlatan olahraga dan juga kolam renang tepat di luar hanya berbatas kaca bening.
Dave masuk ke dalam salah satu ruangan yang di yakini Agneta sebagai kamar dan benar saja itu adalah kamar tidur yang sangat luas dengan ranjang king size. Di sebelah kiri ranjang pembatasnya yang di gunakan adalah kaca bening hingga langit malam dengan kerlap kerlip lampu ibu kota begitu indah dan mempesona. Di balik semua keindahan penthouse ini, satu hal yang Agneta dapat simpulkan. Dave benar-benar hidup sendirian tanpa ada keluarga.
"Emm, a-apa kau benar-benar tinggal sendirian?" tanya Agneta pada Dave yang tengah merebahkan tubuh Regan di atas ranjang. Dave menoleh ke arah Agneta dengan tatapan tajam yang siap menusuknya.
"Begitulah," ucap Dave seakan tak ingin membahas itu.
"Aku hanya memiliki satu kamar, ruangan sebelah hanya ruang kerjaku. Kau bisa tidur sebelah kanan Regan." Agneta mengangguk menyetujui ucapan Dave. "Dan aku sebelah kiri Regan."
"Apa?" pekik Agneta.
"Kenapa?" tanya Dave dengan wajah polosnya.
"Aku tidak mau seranjang denganmu," ucap Agneta dengan cepat dan sangat kesal. Dave sengaja menjebaknya.
"Kalau begitu kau bisa tidur di sofa itu," ucap Dave sekilas tersenyum tetapi tak mampu di sadari Agneta. Agneta mengernyitkan dahinya melihat sofa yang hanya mampu menampung sebagian tubuhnya.
"Aku sedang sakit dan tidak mungkin tidur di sofa," ucap Dave berjalan mendekati Agneta dengan melepaskan jas yang di gunakannya.
Agneta semakin menahan nafasnya saat Dave melepaskan satu persatu kancing kemejanya dan berjalan mendekati Agneta yang masih berdiri kaku. "Tenanglah, aku tidak akan berbuat sesuatu padamu di depan Regan, kalau itu yang kamu takutkan." ucap Dave saat sudah berhenti di hadapan Agneta yang hanya berjarak satu langkah.
Agneta merasa malu sekali karena Dave mampu membaca pikirannya. "Aku mau ke kamar mandi," ucap Agneta dengan segera berjalan melewati Dave yang hanya tersenyum simpul.
Agneta keluar dari kamar mandi dengan sudah membersihkan wajahnya, ia melihat Dave tengah berdiri memunggunginya menatap keluar jendela dengan segelas minuman di dalam genggamannya. Tetapi bukan itu yang membuat Agneta kaget sekaligus gugup, Dave tidak memakai pakaiannya dan hanya memakai celana kain berwarna hitam, celana kain dari sutra yang tampak lembut. Agneta segera memalingkan wajahnya ke arah lain dengan wajah yang merona karena malu.
"Bisakah kau memakai bajumu," ucap Agneta tanpa menoleh ke arah Dave dan tampak terdengar suara sinis darinya. Dave yang mendengar itu berbalik ke arah Agneta. Tanpa di sangka-sangka, Dave berjalan tanpa suara menghampiri Agneta yang masih berdiri di tempatnya masih menjunjung harga dirinya.
"Kenapa memangnya?" Agneta tersentak saat suara Dave mengalun indah di telinganya, ia tak sadar kalau Dave sudah berada di dekatnya dan tak memegang gelas lagi.
"Ada Regan dan aku juga, tidak baik kalau kau bertelanjang seperti itu," ucapnya masih dengan nada sinis dan tak ingin menatap Dave.
"Aku masih memakai celanaku, bukan berarti bertelanjang," ucap Dave menggulum senyumannya, ia semakin suka menggoda Agneta yang berusaha menjaga harga dirinya dan berjual mahal.
"Terserah," ucap Agneta berjalan begitu saja dan merebahkan tubuhnya di atas sofa yang tadi di tunjuk Dave dengan posisi menyamping memunggungi Dave.
"Kau yakin akan tidur di sana?" tanya Dave.
Tak ada jawaban dari Agneta, Dave berjalan mendekati Agneta karena tak mendapatkan jawaban apapun.
"Kyaa!" Agneta menjerit kecil saat Dave memangku tubuhnya hingga spontan Agneta mengalungkan kedua tangannya di leher Dave dan kepalanya tepat berada di dada kiri Dave. Ia mampu mendengar debaran itu, detak jantung yang memacu dengan sangat cepat. Agneta menengadahkan kepalanya hingga tatapannya beradu dengan mata tajam milik Dave yang seakan menusuk ke dalam relung hatinya.
'Apa kondisi Dave belum membaik 100%, kenapa detak jantungnya secepat ini? Apa dia tak akan apa-apa?' pikir Agneta.
Dave membawa Agneta menuju ranjang dan merebahkannya di samping Regan, Agneta tak memberontak sama sekali. Tatapannya terkunci pada mata tajam yang penuh intimidasi dan misterius itu.
"Di sini kau akan lebih nyaman," ucap Dave masih membungkuk seakan tak ingin melepaskan rengkuhannya pada tubuh Agneta, di tambah Agneta masih setia mengalungkan kedua tangannya pada leher Dave walau kini tubuhnya sudah mendarat di atas ranjang. Mata mereka masih terpaut satu sama lain.
Dave masih diam membisu menatap wajah cantik Agneta di bawahnya, ia berusaha keras menekan dirinya yang terbangkitkan dan tidak menerjang Agneta sekarang juga di sini. Dave sudah berusaha keras menahan dirinya tetapi rasanya sangat sulit, ia menurunkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya yang keras dan dingin ke bibir lembut Agneta. Dave masih diam dan hanya menempelkan bibir mereka, menunggu respon Agneta. Merasa tak ada perlawanan sama sekali, Dave semakin mencecap dan mencium bibir Agneta lebih dalam lagi. Kedua tangannya kini berada di leher Agneta, tangannya membelai rahang dan leher Agneta, sedangkan Agneta masih setia mengalungkan kedua tangannya pada leher Dave. Agneta menggeram pelan saat Dave menerobos masuk ke dalam mulut Agneta dan menekan kepala Agneta untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Bahkan kini tubuh Dave sudah berada di atas tubuh Agneta, mengungkung tubuh Agneta dengan tubuh besarnya.
"Bunda," suara lemah itu secepat kilat mengembalikan kesadaran Agneta. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Dave hingga ciuman mereka terlepas.
Baik Dave dan Agneta sama-sama langsung menoleh ke arah Regan yang ternyata hanya mengigau seakan mencari pelukan Bundanya. Agneta segera memalingkan wajahnya dan memeluk Regan, Dave beranjak dari atas tubuh Agneta dan menuruni ranjang dengan tatapan yang masih tertuju pada kedua orang di hadapannya. Tanpa berkata apapun, Dave berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan Agneta mampu bernafas lega seraya mengusap dadanya. Ia tidak bisa mengontrol dirinya saat berada di dekat Dave, Dave sungguh seorang iblis dengan daya hipnotisnya yang kuat.
30 menit berlalu dan Dave sudah keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar. Ia melihat Agneta sudah terlelap dengan memeluk Regan. Dave tanpa sadar tersenyum melihat mereka berdua, mereka seperti air jernih di padang pasir, juga bagaikan lentera di dalam kegelapan. Hati Dave menghangat melihat pemandangan di hadapannya itu. Ia mengambil handphone miliknya dan memotret mereka berdua, ia akan sangat merindukan pemandangan seperti ini.
Dave yang juga merasa lelah memilih merebahkan tubuhnya di samping Regan yang kosong, ia menyanggah kepalanya dengan lengannya dan menatap dengan tatapan yang tak biasa ke arah Agneta dan Regan di hadapannya.
***
Regan terbangun dari tidurnya, ia melihat ada dua tangan besar memeluknya dari kanan dan kirinya. Ia sempat mengernyitkan dahinya bingung. "Bunda, Om Velo," gumamnya masih dengan kebingungannya.
"Kenapa Bunda dan Om tidul belsama? Bukannya Bunda pacalnya Ayah Aiden?" gumamnya menatap bergantian Dave dan Agneta secara bergantian.
"Hey, pagi jagoan. Kau sudah bangun?" sapa Dave tersenyum manis pada Regan yang menatapnya. Mendengar itu Agnetapun terbangun.
"Sudah bangun Nak?" tanya Agneta.
"Kenapa bunda dan om tidul belsama? Apa nanti Bunda akan menikah dengan Om Velo bukan Ayah Aiden? Apa nanti Bunda akan hamil dedeknya Egan kalena bobo baleng Om Velo?" pertanyaan polos yang beruntun dari Regan membuat Dave dan Agneta termangu. Regan terlalu pintar, ia sudah memahami segala masalah orang dewasa.
"Emm, apa Regan tidak mau kalau Om jadi Ayah Regan?" tanya Dave menatap Regan dalam seakan menunjukkan sesuatu yang sulit di artikan.
"Sebaiknya kamu mandi, ayo Bunda bantu memandikanmu," ucap Agneta segera mengalihkan perhatian Regan dengan mencoba bangun dan memangku tubuh Regan. Tetapi belum sampai Agneta memangku tubuh Regan, ucapan Regan menghentikan gerakannya.
"Egan tidak masalah siapapun yang akan jadi Ayah Egan, Egan mau Ayah Egan itu bisa membahagiakan Bunda. Egan gak mau lihat Bunda kesusahan mengulus Egan dan kesepian."
Dave menatap ke dalam mata Agneta yang mematung di tempatnya. Tatapan tajam dan dingin seakan mampu membekukan Agneta, tatapan yang selama ini membuatnya takut sekaligus terpesona dalam waktu bersamaan.
***