He'S Back

He'S Back
Episode 104



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi...


Aura dingin yang mencekam memenuhi lantai bawah. Tidak ada yang berani bersuara Sean terlihat baru saya menuruni tangga. Esmeralda dan Jhon pun ikut serta karena mendengar teriakan Sean yang menggelegar bagai petir di siang bolong.


"Jhon ada apa ini ? Mengapa mereka dikumpulkan seperti ini ?".


"Aku juga tidak tahu sayang".


"Mr".


Mereka mengangkat kepalanya kemudian membungkuk hormat ketika melihat Sean tiba di lantai bawah dengan Allis dibelakangnya. Sedangkan Ethan berdiri di lantai atas menatap kegiatan apa yang sedang berlangsung.


"Tundukan kepala kalian jangan pernah melihat wajah istriku".


Semua para bodyguard langsung menunduk patuh.


"Kalian tahu kesalahan kalian ?".


Semua terdiam.


"Sayang ada apa ini mengapa kau mengumpulkan semua orang ?".


"Duduk dan lihatlah mommy aku ingin berbicara banyak hal".


"Istriku kemarilah".


Allis memejamkan matanya menahan malu yang menjalar sampai ubun-ubun. Bisa-bisanya Sean memanggil namanya dengan sebutan istriku. Astaga ia sangat malu, Esmeralda pun tersenyum-senyum melihat kearahnya.


"A-aku".


"Istriku hanya kau".


"Ahh iyakah ?".


"Aku tidak suka memerintah lebih dari satu kali".


Allis segera menghampiri Sean yang tengah berdiri di depan banyaknya bodyguard. Sedangkan Jhon dan Esmeralda hanya duduk dan menatap tingkah Sean. Jika bukan masalah besar Sean tidak mungkin mengumpulkan semua bodyguard-nya.


"Sekarang bukalah mata kalian dengan lebar atau perlukah aku mencongkel kedua bola mata kalian hah, lihatlah luka pada pipi istriku".


Mereka terkejut karena saat keluar dari pusat perbelanjaan beberapa jam lalu mereka tak memperhatikan Allis lebih jelas karena larangan utama tuan mereka, Sean.


"Jelaskan, apa pekerjaan kalian ?".


"Menjaga nyonya dengan seluruh jiwa dan raga kami dan membawanya kembali tanpa kurang sedikit pun dan tanpa tergores sedikit pun walaupun hanya tergores daun yang terjatuh".


"What ? Apa kau gila hah ? peraturan macam apa itu ? Kau membuat aturan jenis apa hah ?".


"Diamlah Allis, aku tidak memintamu untuk berbicara disini".


Allis terdiam ia ingin protes peraturan gila macam apa itu. Dia menggelengkan kepalanya selain tempramental Sean juga amat sangat posesif dan overprotektif pada semua orang terdekatnya.


"Katakan pusat perbelanjaan mana yang istriku datangi".


"Pusat perbelanjaan A dijalan xxxx"


"Andrew".


"Saya Mr".


"Menuju pusat perbelanjaan A".


"Baik Mr".


"Semuanya siapkan mobil dan beberapa bodyguard ikut dengan Mr".


"Baik tuan".


"Sean kau terlalu berlebihan lihatlah mommy dia sampai menertawaiku".


"Aku tidak ingin mengambil resiko Allis".


"Lihatlah Ethan dia juga marah padaku".


"Ethan sayang turunlah".


"Tidak".


"See ? dia marah karena menganggap aku tidak bisa menjaga dirimu nyonya Smith".


"Mommy berhentilah menertawaiku".


"Haha maafkan mommy sayang, akhirnya ternyata ada orang yang mengalami nasib yang sama sepertiku dulu".


"Benarkah ?".


"Benar, dulu daddy saja melakukan itu pada mommy gara-gara mommy terpeleset sabun, daddy-mu sampai menuntut pihak perusahaan yang memproduksi sabun itu dia sampai mengakusisi perusahaan itu tapi mommy memintanya untuk tidak melakukannya, aku mengatakan bahwa akulah yang tidak hati-hati".


"Lalu akhirnya ?".


"Perusahaan mereka masih berdiri sampai sekarang dan masih beroperasi".


"Daddy sangat seram sama seperti anaknya itu"


"Allis, mobil sudah siap cepatlah".


"A-aku, aku harus kemana ?".


"Jalan sendiri atau aku akan menggendongmu".


"Cepatlah susul suami mu, wajahnya sudah sangat merah amarahnya belum reda".


"Nanti dia membuangku bagaimana ?".


"Membuang ke kasur mungkin haha".


"Ahh mommy kau selalu saja mengejekku".


"Ethan tidak ikut ?".


"Aku melarangnya keluar".


"Humm"


.


Sampai di pusat perbelanjaan A dijalan xxxx tempat Allis berbelanja beberapa saat lalu. Sean turun ketika Andrew membukakan pintu untuknya disusul dengan Allis. Allis mendongak bangunan yang menjulang tinggi itu sembari menelan ludahnya kasar.


"Apakah aku akan sejahat ini karena menutup mata pencaharian mereka ohh God mengapa aku menikahi pria berhati iblis ini ?".* Batin Allis.


"Tunjukkan dimana istriku membuang uang dengan sengaja itu dan mereka malah memperlakukan istriku dengan seenaknya".


"Lewat sini Mr".


"S-Sean tunggu, aku bisa jelaskan semuanya".


"Aku tidak memintamu untuk berbicara Allis".


"Tapi kau salah paham bukannya aku sudah menjelaskannya aku hanya tergores rak cokelat".


"Maka dari itu aku harus menutup pusat perbelanjaan ini karena membahayakan dirimu".


"Tidak, tidak, aku yang salah karena tak berhati-hati".


"Rak dan pegawai pusat perbelanjaan ini yang salah bukan dirimu sayang".


"Hey lihat itu astaga bukannya dia adalah Mr Sean Kingston Smith si raja bisnis ya Tuhan dia sangat tampan"


"Astaga tampan sekali dia seperti malaikat".


"Lihat lihat dia kan Mr Sean Kingston Smith".


Manager yang melihat kerumunan itu segera menerobos masuk. Ia terbelalak kaget melihat siapa yang datang. Dia segera berlari tergopoh-gopoh dan menundukkan kepalanya.


"Selamat datang Mr Sean yang terhormat apa yang membawa anda kemari, adakah yang bisa kami bantu ?".


"Panggilkan semua pegawaimu kemari".


"Baik Mr Sean"


Dalam hitungan detik para karyawan segera berkumpul. Mereka berjejer rapi sembari menundukkan kepalanya. Mereka di kumpulkan di salah satu ruangan.


"Selamat datang Mr Sean adakah yang bisa kami bantu ?".


"Tidak aku hanya ingin mengakusisi pusat perbelanjaan ini".


Bagai di sambar petir di siang bolong mereka sangat amat terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain bertanya lewat tatapan mata apakah mereka tidak salah dengar.


"Mr Sean, apa kesalahan kami ?".


"Kau masih bertanya apa kesalahan kalian ?".


"Maafkan kami Mr Sean karena kami tidak menyangka anda akan kemari, kami tidak sempat menyambut kedatangan anda Mr Sean, maafkan kesalahan kami".


"Andrew segera akusisi pusat perbelanjaan ini dan cabut saham kita".


Brughh.


Sang manager bertubuh gempal itu terduduk dilantai. Ia berlutut sembari menyatukan kedua tangannya. Tatapan matanya menyiratkan kebingungan dan juga ketakutan yang bercampur jadi satu.


"Maafkan kami Mr Sean kami bersalah tolong janganlah cabut saham anda dan janganlah tutup toko kami, maafkan kami Mr Sean".


"S-Sean sudahlah aku tidak apa-apa".


"Katakan, apa kau tahu dia siapa ?".


"Kami tidak tahu Mr Sean ah tidak-tidak dia adalah nyonya Allisya Lesham S pemilik perusahaan perhiasan itu".


"Pak, dia juga pernah datang kemari beberapa saat lalu k-kami melihatnya datang berbelanja".


"Katakan apa lagi ?".


"D-dia maksudku nyonya Allisya datang dan berbelanja kemudian beberapa saat dia ke kasir dan membeli plaster untuk menutupi luka pada pipinya, k-kami tidak tahu bekas apa y-yang kami lihat pipinya berdarah".


"See ? itulah masalahnya".


"Hey apakah kalian yang memukul nyonya Allisya hah ?".


"T-tidak k-kami tidak pernah melakukan apa pun k-kami hanya melakukan tugas kami di kasir dan mengecek barang-barangnya".


Allis melihat wanita kasir yang ketakutan itu dengan tatapan penuh rasa bersalah seharusnya dia tak datang berbelanja hari ini. Dia diminta diam dia juga ingin mengatakan sesuatu dan mengatakan fakta. Dia tidak ingin orang yang tidak bersalah yang terkena getah.


"Periksa cctv Andrew".


Andrew pergi menuju ke ruangan tempat semua cctv yang memantau semua sudut toko. Dia menajamkan matanya kala mengakap sosok yang amat ia kenali. Andrew segera mengambil rekaman itu untuk menunjukkan pada Sean nanti.


"Mr ini rekaman cctv yang anda inginkan"


"Putar Andrew".


Sean memperlihatkan dengan seksama semua kejadian yang terekam pada cctv tersebut. Hingga mata elangnya menangkap sosok yang ia kenal. Amarahnya semakin memuncak kala melihat orang itulah yang memberikan luka pada pipi Allis.


"Nona muda Jessie".* Batin Sean


"Mengapa kau tak mengatakannya sedari awal Allis ?".


"Apa ?".


"Tentang ini semua tentang nona muda Jessie lah yang mencelakai dirimu".


"Aku, aku ingin mengatakannya tetapi kau tidak memberikan aku kesempatan untuk berbicara".


"Kau berbohong padaku".


"Itu, aku tidak bermaksud untuk itu".


"Andrew ayo kembali".


"Baik Mr".


Para bodyguard mengikuti langkah kaki Sean yang meninggalkan toko Begitu juga dengan Andrew namun tiba-tiba tangannya di cekal oleh manager bertubuh gempal itu.


"Tuan tuan apa yang terjadi ?".


"Seseorang mencoba mencelakai istri Mr Sean".


"Istri ? Mr Sean telah menikah ?"


"Benar, tepat satu bulan yang lalu"


"Bagaimana dengan nasibku, nasib toko ini ?".


"Saya akan mengabarinya nanti".


"Terima kasih tuan".


Andrew mengangguk singkat dia segera melenggang menjauh menghampiri Sean. Mereka kembali pulang.


"Kau tidak akan menghancurkan toko itu kan ?".


"Tergantung".


"Hey jawaban macam apa itu ? jangan sentuh toko itu".


"Siapa kau berani sekali memerintahku ?".


"Aku ini istri mu".


"Benarkah ?".


"Baiklah jika ini perintah istriku aku akan menurutinya dengan satu syarat".


"Apa syaratnya katakan ?".


"Cium aku"


Allis mencibirkan bibirnya ia tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka. Ini juga demi orang-orang yang tidak bersalah. Allis dengan cepat mencium pipi Sean lalu kembali di tempat duduknya.


"Sepertinya kau tidak sabaran, kita akan mengulanginya lagi saat sampai".


"Hey aku tidak seperti itu yah dasar pria tua".


Sean tersenyum tipis bahkan sangat tipis. Matanya menerawang jauh memikirkan balasan yang seperti apa yang akan dia berikan pada orang itu.


"Nona Jessie".* Batin Sean menggeram.


🌼 Bersambung 🌼


Hallo up lagi kakak-kakak readers terima kasih selalu stay di lapak mimin sembari menunggu mimin update ayo mampir ke lapak mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.


Selepas membaca jangan lupa untuk klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨