
Aiden memasuki rumahnya dengan tatapan tajam dan rahang yang bergelatuk menahan emosi.
"Kau sudah pulang?" sapa Elena yang tampak santai meneguk wine miliknya bersama sang Ayah.
"Dimana Regan?" tanya Aiden tanpa berbasa basi.
Elena mengernyitkan dahinya dan masih menampilkan ekspresi tenangnya. "Kenapa kau menanyakan anak janda itu padaku?" tanya Elena.
"Aku tau Mom yang membawanya, jadi tolong lepaskan dia!"
Elena tersenyum kecil. "Kau menuduh Ibumu sendiri melakukan perbuatan jahat itu?"
"Ada apa ini?" suara Ayah Aiden menggema di sana karena perdebatan Ibu dan Anak.
"Mom, tolong lepaskan Regan!" ucap Aiden masih dengan nada tegas.
"Kau menuduh Mom tanpa bukti Aiden, itu sungguh menyakiti hati Mom!" ucap Elena dengan raut wajah sedih membuat Aiden kembali bimbang, benarkah yang di katakan Dave padanya. "Karena wanita itu kau berani seperti ini pada Mom!"
"Mom, Aiden mohon jangan mengelak," ucap Aiden.
"Cukup Aiden! Kau menuduh Ibumu menculik seorang anak?" tanya Ayahnya membuat Aiden terdiam.
"Regan di culik, dan seseorang mengatakan kalau Mom yang menculiknya," ucap Aiden membalas tatapan tajam sang Dad.
"Dan kamu langsung percaya begitu saja tanpa ada bukti?" tanya Ayahnya membuat Aiden terdiam.
"Aku akan membuktikannya!" ucap Aiden setelah lama terdiam dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
***
"Kau menemukan tempatnya?" tanya Dave pada seseorang di depannya.
"Iya Dave, sebaiknya kita bergerak sekarang," ucap Key.
"Baiklah, kita atur strategi," ucap Dave. "Dan jangan sampai Elena mengetahui kalau kita menyerbu anak buahnya dan mengambil Regan."
"Elena tak ada di tempat, aku sudah memantaunya dari beberapa hari terakhir, dia akan datang pada siang hari. Dan di pastikan dia tak akan mengetahui siapa yang mengambil Regan."
"Atur segalanya, aku belum mau dia mengetahui kalau aku ada hubungannya dengan Agneta dan Regan. Aku harus melakukan sesuatu padanya sebelum dia mengetahui apa yang jadi kelemahanku." Ucapan Dave begitu tegas dengan tatapan tajamnya.
Kali ini Kay tak membantah, dia sudah dapat melihat ketulusan Dave ingin melindungi Agneta dan Regan, walau dia belum bisa memastikan apa Dave sungguh mencintai Agneta atau tidak.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah villa yang cukup jauh dari perkotaan. Dave segera memakai kain untuk menutupi hidung dan mulutnya dan hanya membiarkan wajahnya yang terekspos, begitu juga dengan Kay dan Key. Para bodyguard yang di sewa Dave sudah bersiaga masuk dan mengamankan situasi.
Saat seseorang memberitahu kalau kondisi aman, Dave berjalan menuruni mobil dengan angkuh dan langkah tegapnya. Suara sepatunya menggema di lantai dan menyebarkan aura menakutkan.
Dave menerima kabar kalau Regan di sekap di lantai 2 di kamar paling ujung. Tanpa menunggu lama lagi, Dave langsung menuju tempat itu tanpa memperdulikan semua anak buahnya yang tampak berkelahi. Fokusnya saat ini adalah Regan.
Brak
Dave menendang pintu yang terkunci itu dengan keras hingga terbuka lebar, membuat Regan yang masih duduk menunduk di sudut ruangan terperanjat dan langsung berdiri. Ia berjalan mundur karena ketakutan.
"Regan!" Regan tersentak saat Dave langsung berlutut di hadapannya dan menarik Regan ke dalam pelukannya.
"Anda siapa?"
Dave melepaskan pelukannya dan menarik kain hitam yang menutupi hidung dan mulutnya. "Om Velo!" Regan langsung meloncat memeluk Dave dengan tangisannya. "Egan takut, hikzzz...."
"Sssttt, aku di sini." Dave membawa Regan ke dalam gendongannya, dan membiarkan Regan menyembunyikan wajahnya di cekukan leher Dave seraya memeluk lehernya. Dave kembali memasang kain hitam itu dan berjalan keluar.
Tetapi 2 orang tiba-tiba saja menerjangnya, tetapi Dave berhasil menghindar dan melawan mereka tanpa melepaskan gendongannya. "Tutup matamu kalau kau takut!" ucap Dave membuat Regan mengangguk.
Pria itu menjerit saat Dave menusukkan pisau ke pahanya lalu melakukan tendangan hingga mengenai kepalanya dan membuat pria itu pingsan seketika.
"Hah, mengotori tanganku saja," gerutu Dave menarik pisau dari paha pria itu dan melipatnya kembali. Dia tak akan menginggalkan barang bukti apapun di sana.
"Om Velo hebat, milip Batman!" kekeh Regan mengangkat kepalanya.
"Aku memintamu menutup mata!" ucap Dave masih dengan nada datarnya.
"Tapi Egan penasalan! Om hebat udah ngalahin om om tubuh besal itu dengan cepat. Nanti ajalin Egan yah, jadi kalau Egan di culik lagi Egan bisa lawan meleka dengan mudah," celotehan Regan tanpa sadar membuat Dave tersenyum. Ia lega, putranya tak terluka sama sekali.
***
Regan baru saja selesai mandi dan memakai baju tidur yang tadi di bawakan Kay. Dia melihat Dave sedang berkutat dengan handphone nya di atas ranjang.
"Om," ucapnya.
"Sudah mandinya?" tanya Dave, tadi dia juga menyuruh asisten rumah tangganya untuk memandikan Regan.
"Sudah," ucap Regan dan menaiki ranjang dan duduk di samping Dave, membuat Dave menyimpan handphonenya dan menatap Regan yang tampak segar dan tampan seperti dirinya. Wajahnya begitu mirip dengannya tanpa ada perbedaan.
"Sudah makan?" tanya Dave dan Regan mengangguk.
"Tadi di buatkan susu dan loti bakal sama Tante," ucapnya membuat Dave tersenyum.
"Kalau begitu tidurlah," ucap Dave.
"Om, Egan kangen Bunda. Boleh Egan ketemu atau telpon Bunda?" pertanyaan Regan membuat Dave termenung.
"Regan, boleh Om bertanya?" Regan menganggukkan kepalanya. "Regan tau siapa Ayah kandung Regan?"
Wajah Regan seketika berubah menjadi sedih seraya menggelengkan kepalanya. "Bunda tidak mencelitakannya, dia bilang kalau Ayah Egan tidak ada."
"Apa Regan tidak penasaran dan kangen sama Ayah Regan?" tanya Dave membuat Regan mengangguk.
"Egan ingin ketemu Ayah Egan dan ingin tau siapa. Hampil semua teman-teman Egan memiliki Ayah dan Bunda kecuali Egan. Walau ada Ayah Aiden, tetapi Ibunya Ayah Aiden jahat. Dia culik Egan dan bentak Egan. Egan jadi takut," ucapnya dengan polos.
"Aiden bukan ayahmu!" ucap Dave penuh penekanan, ada amarah tersembunyi mendengar Regan memanggil Aiden dengan panggilan Ayah.
Regan masih menatap Dave dengan seksama. "Kamu lihat wajah Om baik-baik, apa Om mirip denganmu?" tanya Dave membuat Regan mengangguk.
"Om dan Egan sama-sama punya hidung, mata, mulut, pipi, telinga. Bedanya Om punya bulu-bulu ini di dagu dan pipinya, Egan enggak." Ucapan polos Regan sungguh membuat Dave gemas sekaligus geram.
"Regan, om tau kamu sangatlah pintar. Dengarkanlah baik-baik. Aku adalah Ayah kandungmu!"
Regan tersentak kaget dan menatap Davero dengan tatapan bingung sekaligus kaget. Dia tak pernah bertemu dengan Ayahnya selama ia hidup dan sekarang pria dewasa di depannya mengaku sebagai Ayahnya.
"Aku dan Bundamu berpisah saat kamu masih di dalam kandungan Bunda. Aku terpaksa meninggalkan kalian karena sesuatu yang berbahaya, dan sekarang aku kembali untuk menjaga kalian."
"Om? A-ayah Egan?"
***
mohon sabar menunggu kelanjutannya. author sudah mendekati waktu lahiran jadi akan jarang update.
kalau kalian penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
kalian bisa pesan versi buku nya atau ebooknya.
Terima kasih...