
Keesokan harinya mereka sudah bersiap untuk berlayar menggunakan kapal boat putih milik dave. Regan tampak antusias dan terus bertanya banyak hal pada asisten Dave yang mendampingi mereka. Agneta tampak fokus menatap hamparan lautan biru yang membentang luas. Angin berhembus menerpa wajah dan rambutnya, kali ini Agneta tidak memakai dress seatas lutut, ia takut kejadian kemarin terulang lagi dan itu sungguh sangat memalukan.
Sedangkan Dave berdiri tak jauh darinya dengan kaos hitam yang membentuk tubuh sixpacknya di padu dengan celana jeans seatas lutut, tak tertinggal kacamata hitam yang bertengker di hidung mancungnya. Rambutnya ia sisir sedikit dan tak beraturan hingga berbeda dari biasanya dan terkesan lebih muda. Agneta menggelengkan kepalanya saat tanpa sadar ia mengagumi sosok yang baru beberapa hari ini menjadi suaminya.
Memikirkan kata suami, membuat pipi Agneta tanpa sadar merona. Dulu dia begitu mengharapkan posisi ini, posisi menjadi seorang wanita beruntung yang bisa menikah dengan seorang Davero. Tetapi setelah accident itu, Agneta melupakan mimpinya dan sama sekali tidak pernah membayangkan akan bertemu dan menikah dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Tetapi apa daya saat takdir memutar balikan kehidupan manusia dan kini dia bersama dengan pria itu dan juga anaknya. Tampak seperti keluarga kecil yang bahagia, tetapi kenyataannya tak seperti itu. Ini hanya sebuah permainan yang Dave mainkan, dan Agneta tak tau apalagi yang akan Dave hancurkan kali ini.
"Bunda, ayo ikutan mancing!" teriakan Regan menyadarkan Agneta dari lamunannya. Ia menoleh ke arah belakangnya dimana Dave tengah mengajarkan Regan memancing. Agneta bahkan tak sadar kalau kapal yang di naikinya sudah berhenti bergerak di tengah lautan luas.
"Bunda tidak bisa memancing Egan, apalagi memancing di lautan begini."
"Di sini aman," ucap Dave masih dengan nada dingin tanpa menoleh ke arahnya. Dave melemparkan umpan yang ada di pancingan Regan ke lautan dan meminta Regan memegang pancingannya di bantu asistennya.
"Mau coba?" tanya Dave menyodorkan salah satu pancingan ke arah Agneta.
"Aku takut tertarik ikan," gumamnya.
"Tidak akan," ucap Dave lalu menjelaskan cara menggunakan pancingan itu dengan benar. Agneta akhirnya menerimanya dan mulai memancing.
"Bunda bunda, Egan dapat ikan!" Regan loncat loncat kegirangan saat asisten Dave tengah berjuang menarik kail yang di tarik ikan.
"Wah Regan sudah dapat?" tanya Agneta mendekati Regan yang menonton asisten Dave menarik ikannya.
"Ayo uncle semangat! Talik ikannya talik telus." Teriak Regan sangat antusias dan ikut memperagakan gerakan menarik dengan tangan kosongnya.
"Mrs, pancingan anda juga dapat." Seruan seorang pelayan lain yang ikut berada di dalam kapal itu membantu Dave.
"Egan, Bunda juga dapat!" Agneta ikut antusias dan menarik pancingannya.
"Ayo Bunda talik Bun, ikannya lebih gede mana sama yang Egan!" ucap Regan.
Agneta mencoba menariknya tetapi diluar dugaan, tarikan ikan lebih kuat dari tarikannya. Agneta terpekik kaget saat tubuhnya hampir tertarik ke lautan kalau saja tangan kekar seseorang tidak menahan perut rampingnya.
"Kau tidak pandai menarik ternyata," bisikan suara bariton itu menggelitik telinga Agneta membuatnya menoleh ke samping. Dave sudah berada di belakangnya, bahkan tangan Dave melingkar di perutnya dengan leluasa, punggung Agneta juga terasa hangat menempel dengan dada bidang Dave.
"Kau lebih pandai menarik ulur, apalagi perasaan." Sindiran Dave membuat Agneta mengernyit bingung. "Lakukan gerakan seperti ini."
Jantung Agneta berpacu sangat cepat, dan tubuhnya mendadak lemas seperti jelly saat tangan kekar nan hangat milik Dave memegang kedua tangannya dan mengarahkan tangan Agneta untuk menarik ikan.
"Untuk mendapatkan ikan, jangan terus di tarik. Lakukan kehandalanmu dalam melakukan tarik ulur, maka perlahan ikan itu akan mendekatimu." Dave berbisik begitu lembut dan seksi tepat di daun telinga Agneta membuat Agneta beberapa kali menghindar karena rasa geli yang di berikan Dave padanya.
"Terus lakukan gerakan seperti ini," bisik Dave membuat Agneta terhipnotis. Bahkan tanpa sadar Agneta memejamkan matanya karena sengatan yang di berikan Dave padanya.
"Dapat," ucap Dave mengecup daun telinga Agneta dan seketika Agneta menoleh ke sampingnya hingga hidung mereka beradu dan bibir mereka hampir saja bersentuhan.
Dave dapat merasakan deru nafas Agneta yang memburu dan tatapannya yang mulai berkabut, ternyata godaan Dave berhasil memancingnya. Dave tau selama ini Agneta hanya menahan diri, dan Dave akan ikuti permainan wanita di depannya ini hingga dia merasa kalah. Sebenarnya saat ini Dave ingin sekali mencium bibir Agneta hingga tak memberinya kesempatan untuk bernafas, menariknya ke dalam kamar dan melakukan percintaan yang panas. Tetapi Dave tidak bisa melakukan itu, selain ada Regan, Dave ingin Agneta yang menyerahkannya begitu saja tanpa ada paksaan.
"Wow, ikan yang besar," ucap Dave menyeringai licik dan menjauhkan tubuhnya dari Agneta saat seseorang terlihat sudah menaikan ikan tangkapan Agneta ke atas kapal.
Agneta tersadar dari keterpakuannya, dan segera menggelengkan kepalanya, dia kehilangan kesadarannya karena ulah Dave. Agneta yakin Dave akan puas mentertawakan dan mengejeknya karena ternyata dia masih begitu lemah karena pesona pria itu.
"Bunda, Egan dapat ikan yang lebih besal. Lihat lihat!" seru Regan dengan begitu antusias. Agneta mengenyahkan segala pikirannya dan kekesalannya pada Dave dan mulai mendekati Regan yang sangat bahagia mendapatkan seekor ikan yang lebih besar dari miliknya.
***
"SIALAN!!!!"
Aiden melemparkan semua berkas di atas mejanya. Sudah 3 hari Agneta menghilang tak ada kabar. Dan Dave malah menahannya di kantor hingga dia tak bisa bergerak sama sekali. Di tambah Mommy nya yang terus saja memaksanya untuk berdekatan dengan Catherin.
"Kau sembunyikan dimana mereka, Davero!" amuknya karena baru saja mendapatkan telpon dari orang kepercayaannya kalau terakhir kali Agneta pergi menemui Dave.
Kedua tangan Aiden mengepal kuat hingga memutih, matanya memerah tajam penuh emosi. Ia menggebrak meja kerjanya, Dave bahkan tidak bisa di hubungi dan kepergiannya ke London hanya alibinya.
"Kembar," gumamnya dengan segera mengambil handphonenya. Dan menghubungi seseorang, tak butuh waktu lama untuk seseorang di sebrang sana mengangkat telpon.
"Dimana dia?"
"......"
"Jangan berpura-pura Kay, kau sangat paham maksudku!" bentak Aiden.
"......."
"Bagaimana bisa aku tenang, Sialan! Dia membawa Agneta juga Regan!"
"......."
"Katakan dimana mereka!"
"........."
"Kita sudah bersahabat lama Kay, jangan merahasiakan apapun dariku karena kau bekerja padanya!" Aiden sudah di luar batasnya, ia berteriak penuh emosi.
"......"
"......."
"Sialan!"
Amuk Aiden memutuskan sambungan telponnya. Kay hanya bisa mengatakan kalau benar Agneta dan Dave sedang bersama tetapi Kay tidak memberitahukan dimana mereka berada.
"Kau sungguh ingin bermain-main denganku, Dave! Takkan pernah ku biarkan kau memiliki Agneta! Sampai kapanpun juga dia hanya akan menjadi milikku!" ucap Aiden pennuh amarah dan berapi-api.
***
Di suatu tempat Kay dan Key baru saja menuruni mobil mereka. Mereka tampak tampan dan gagah mengenakan jas hitam dan kacamata hitam yang bertengker di hidung mancung mereka.
"Aiden tampaknya sangat emosi," ucap Kay.
"Dan untuk kali ini kita tidak bisa membantunya."
"Kau benar! Dia memang sahabatku, tetapi rasa-rasanya melihat Agneta dan Dave." Kay menggantungkan ucapannya.
"Walau aku tak begitu dekat dengan Aiden, tetapi kalau Dave bersikap kasar pada Agneta maka aku akan memihak Aiden, Brother!" Kay mengangguk setuju.
"Ayo kita masuk, mereka sudah menyekap Mr. Ali." Kay dan Key berjalan bersama memasuki sebuah gedung yang cukup tua.
Mereka di sambut oleh beberapa pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam yang memberi hormat dan mengantar mereka menuju sebuah ruangan.
"Kalian tidak melukainya kan?" tanya Key.
"Seperti perintah kalian, kami hanya menculiknya saat dia masuk ke dalam sebuah club." Jawaban pasti dari salah satu pria yang mengantar mereka.
Sebuah pintu terbuka lebar, membuat Kay dan Key masuk ke dalam ruangan yang mirip seperti ruang introgasi para tersangka di kepolisian. Terdapat meja panjang dan kursi kayu yang berada di setiap ujungnya.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, seorang pria tua menengadahkan kepalanya dan mengernyitkan dahinya menatap siapa yang datang menghampirinya.
"Apa kabar, Mr. Ali," seru Kay.
Pria yang di panggil sebagai Mr. Ali itu mengernyit bingung. Ia sedikit berontak tetapi dia tak kuasa karena tangan dan kakinya terikat di kursi.
"Saya Kaylo dan ini saudara saya Keylo, kami bukanlah musuh anda. Kami hanya ingin mengetahui beberapa informasi yang sangat penting yang anda ketahui."
Mr. Ali tampak menatap mereka dengan waspada. "Apa mau kalian?"
Kay dan Key mengambil kursi dan duduk di sebrang meja tepat berhadapan dengan Mr. Ali. "Kau mengenal nama Wiratama? Terutama Devara Sania Wiratama."
Seketika wajah Mr. Ali memucat dan gelisah. "Aku tidak mengenalnya," ucap Mr. Ali memalingkan wajahnya.
"Benarkah? Bukankah putra anda yang bernama Kevin Andrea Pramono adalah kekasih alias suami dari Devara Sania Wiratama, Mr. Ali Pramono." Dan seketika wajah Mr. Ali semakin memucat. Beberapa butir peluh mulai keluar dari pelipisnya.
"Pernikahan mereka memang di rahasiakan dari publik, saya kurang tau untuk alasan apa. Tetapi di sini, saya ingin mengetahui keberadaan Devara atau Kevin."
"Aku tidak tau!"
"Jangan memancing emosi kami, Mr. Ali. Ah yah, sebentar." Key beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah laptop. Dan memutarnya hingga menghadap Mr. Ali.
"Anak yang cantik, bukan?" ucap Kay membuat jantung Mr. Ali berpacu sangat cepat dan wajahnya semakin memucat.
"Apa dia putri cantik dari Kevin dan Devara? Bagaimana kalau tuan Robert Wiratama mengetahui kalau cucu dari mendiang Kakaknya masih hidup."
"Tidak tidak, ku mohon jangan lakukan apapun pada cucuku!" ucap Mr. Ali yang langsung berubah panik dan gelisah. "Apa mau kalian? Kalau kalian menginginkan harta, maka aku akan serahkan segalanya. Tetapi jangan cucuku!" pekiknya.
"Kami hanya ingin mengetahui keberadaan Kevin atau Devara!" ucap Key.
Mr. Ali terdiam sesaat. "Apa kalian akan membahayakan cucuku?"
"Kami datang untuk bekerjasama denganmu, mencari sosok di balik kehancuran keluarga Wiratama. Kau mengetahui bukan, kalau Devara memiliki saudara kembar?" Mr. Ali mengangguk kecil.
"Dan kami bekerja padanya. Jadi katakan semua yang anda ketahui, bantu Davero memberantas habis semuanya."
Mr Ali tampak menghela nafasnya. "Bisakah aku bertemu dia langsung?"
"Akan kami usahakan, kebetulan dia sedang ada pekerjaan."
"Aku tidak bisa mengatakan pada sembarang orang, aku perlu bertemu dengannya. Tetapi satu hal yang perlu kalian ketahui, Devara sudah meninggal dunia, dan Kevin berada di rumah sakit jiwa. Dia sakit setelah kehilangan Devara 3 tahun lalu."
"3 tahun lalu? Bukankah Devara meninggal 5 tahun yang lalu?" tanya Key merasa bingung.
"Tidak, Devara meninggal 3 tahun yang lalu." Mr. Ali kembali berucap dengan tenang. "Dan satu lagi, aku memiliki sesuatu yang di sembunyikan Devara dari mereka semua. Sesuatu yang diincar mereka hingga membunuh Mr. Andara Wiratama bersama istrinya Mrs. Sophia Wiratama, Ayah dan Ibu kandung Devara juga Davero."
Wajah Kay dan Key seketika mengeras. Akhirnya mereka akan segera mengetahui titik terang dari semua kasus ini. Dan dia harus segera membawa Mr. Ali pada Davero.
***