
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi...
Tamu mulai berdatangan satu persatu nampak Jhon terlihat begitu rupawan dengan balutan jas yang senada dengan istrinya. Pilihan seragam untuk keluarganya jatuh pada warna baby blue. Warna yang terlihat begitu cantik dan juga menyejukkan mata.
"Jhon suttt suttt".
Esmeralda menyikut kecil pinggang Jhon. Jhon yang tengah senyum sembari menyalami tamu-tamu putrinya menatap istrinya nakal.
"Tunggu lah sampai acara ini selesai sayang, kita akan melakukannya sampai pagi".
"Dasar tua mesum".
"Hey apa salahku ?".
"Maksudku itu pria itu bukankah bulan lalu dia bersama istrinya dan istrinya bukan yang itu kan, kau ingat tidak ?".
"Ohh itu iya iya dia memang pecinta wanita".
"Apakah mereka sudah bercerai ?".
"Maybe".
"Awas saja jika besok kau melakukan itu aku akan memotong Jhon kecilmu lalu memasaknya dan memberikannya kepada anjing".
"Hey hentikan itu membuat Jhon junior ku merasa ngilu".
"Istrinya yang sekarang nampak tua bukan ?".
"Benar juga perkataanmu sayang".
"Namun terlihat segar dan cantik".
"Tak lebih cantik darimu sayangku, kau lah wanita paling cantik di dunia ini".
"Iya iya dasar kau".
"Sayang aku memanglah pecinta wanita namun aku bukanlah buaya seperti putra kita".
"Hey putraku bukanlah buaya hanya saja dia terlalu tampan sampai para wanita-wanita itu mengejarnya kesana kemari".
"Aah iya anak itu membuat Agatha begitu marah padanya".
"Mau bagaimana lagi Jhon aku sudah membujuknya".
"Mom and dad kemarilah, perkenalkan temanku Mark dia dari Korea Selatan".
"Hallo".
"Hallo".
Nampak pria tampan dengan kulit seputih kapur itu menjabat tangan kekar milik Jhon. Dirinya tersenyum begitu hangat dan juga lebar sehingga membuat matanya menyipit. Dirinya nampak fasih berbahasa inggris ketika berbicara dengan Jhon.
Pukul sebelas malam mereka begitu menikmati lagu yang dibawakan oleh beberapa aktris ternama. Bahkan Agatha begitu antusias ketika salah satu boyband asal Korea Selatan favoritnya tampil.
"Ahh Mark kau lihat-lihat saja dulu, aku akan kesana sebentar".
"Hmm pergilah".
"Sonia".
"Aahh Agatha aku sangat lelah mencarimu dari tadi".
"Kau datang rupanya".
Mereka berpelukan lalu melakukan cupika cupiki dan tersenyum. Mereka bergandengan tangan menuju ke salah satu kursi kosong.
"Bagaimana harimu ?".
"Seperti biasa Agatha, aku bekerja dan bekerja".
"Allis meninggalkan banyak sekali pekerjaan untukku"
"Apakah kau tidak apa-apa ?".
"Hum aku baik-baik saja, wanita yang dipekerjakan oleh Mr Sean sangat membantuku".
"Syukurlah".
"Bagaimana sekolahmu Sonia ?".
"Sekolah khusus untukku itu sangat bagus Agatha aku sangat bersyukur karena Mr Sean mau membantuku".
"Ah iya ngomong-ngomong dimana Mr Sean mengapa ia belum juga menampakkan batang hidungnya ?".
"Dia tidak akan datang Sonia, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya besok jika kita menikah kita harus memiliki suami yang pengangguran saja supaya dia selalu berada di sisi kita".
"Ajaranmu sesat Agatha".
"Sungguh Sonia aku tidak ingin menikah dengan pria yang gila kerja".
"Sungguh Agatha kau bisa menikah dengan pria yang tidak bekerja namun aku tidak bisa".
"Mengapa seperti itu Sonia ?".
"Karena kau kaya Agatha dan aku lihat aku masih bekerja banting tulang".
"Ohh iya iya aku lupa, bagiamana jika kau menikah dengan ?".
"Dengan siapa Agatha kau jangan menjadi mak comblang selalu menjodohkan orang lain, jodohmu saja belum ada".
"Heheh aku bercanda Sonia".
"Bukannya katamu kakakmu itu tidak datang ?".
"Humm aku sudah mengatakannya bukan dia itu gila kerja".
"Lalu siapa itu ?".
"Mana ?".
"Itu dibelakangmu".
Sontak Agatha membalikkan tubuhnya angin bertiup lembut membuat rambutnya beterbangan. Sungguh Sean nampak begitu mempesona saat ia melepas kancing jas hitamnya. Rambut yang berlambai-lambai karena tertiup angin.
Semua pasang mata menatap kearahnya dengan tatapan memuja, takjub dan juga terpesona. Sungguh gadis-gadis itu juga sampai menganga lebar melihat ketampanan yang tiada tara.
"Dia seperti malaikat".
"Tampan sekali".
"Sungguh aku hanya pernah melihatnya di televisi namun ternyata melihatnya secara langsung ternyata jauh lebih tampan".
Bisik-bisik penuh puja terdengar dimana-mana. Sungguh malam ini Agatha merasa ia bukan menjadi bintangnya. Melainkan kakaknya lah yang menjadi bintang.
"Itu kakakku".
"Siapa bilang itu kakakku Agatha jika bisa memilih aku tidak ingin memiliki kakak yang tempramental seperti kakakmu itu".
"Hey siapa yang mengatakan itu, kakakku tidak tempramental yah".
"Kau yang mengatakan itu pada kami".
"Bilang saja kau tidak ingin dimarahi kakakmu".
"Lihatlah dia nampak sombong sekali lihat wajahnya yang sok keren itu".
"cihh dasar adik durhaka".
"Mengapa kau datang ?".
"Apakah acaranya belum dimulai ?".
"Belum waktunya".
"Aku tidak telat".
"Entah".
"Aku sudah hadir mengapa kau masih marah kepadaku ?".
"Aku tidak marah bukankah nada bicaraku selalu seperti ini".
"Andrew diam disini jaga anak nakal ini".
"Baik Mr".
Sean meninggalkan Agatha dan Sonia bersama dengan Andrew. Dia beralih menghampiri kedua orang tuanya yang tengah berbincang dengan seseorang.
"Hallo semuanya ini sudah sepuluh menit lagi sebentar lagi acara tiup lilinnya akan dilangsung, berikan tepuk tangannya untuk memeriahkan acara ini".
"Uhh sungguh ini pesta yang paling menakjubkan yang pernah aku hadiri".
"Iya kau benar".
"Kau benar".
"Iya ini sangat fantastis".
"Ayo bersiap-siap, matikan lampunya nona muda Smith di persilahkan untuk menaiki panggung".
Lampu-lampu yang semula begitu terang benderang kini semuanya dimatikan tanpa terkecuali. Jhon menyalakan lilin yang ada pada kue raksasa itu. Mereka pun bersiap-siap untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Agatha. Namun,
Tak Tak Tak Tak
Suara high heels yang berbenturan dengan lantai marmer yang dingin terdengar begitu elegan. Semua orang sontak melihat kebelakang dari mana suara itu berasal. Seseorang datang dengan membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala. Dia bahkan menyanyikan lagu selamat ulang tahun itu dengan merdu dan lembut.
"Selamat ulang tahun".
"Selamat ulang tahun".
"Selamat ulang tahun Agatha".
"Selamat ulang tahun".
**Deg**
Sean seketika membalikkan tubuhnya lampu pun dinyalakan satu persatu. Lampu menyorot sosok wanita yang berjalan dengan elegan menuju ke panggung tempat keluarga Smith berada.
"Kau kah itu ?".
"Selamat ulang tahun Agatha, lama tidak bertemu".
"Allis".
Agatha tak kuat menahan tangisnya, ia dengan cepat berlari menuruni panggung. Berlari dan memeluk kakak iparnya itu, Allis.
"Apakah aku tidak sedang bermimpi ?".
"Kau nyata kan Allis ?".
Rentetan pertanyaan yang ia lontarkan tak membuat pelukan keduanya terurai. Agatha bahkan semakin erat memeluk tubuh Allis serta menumpahkan tangisnya. Allis hanya bisa tersenyum tak di pungkiri ia begitu sangat merindukan adik iparnya itu. Sudut matanya menampakkan jejak air mata yang penuh dengan kebahagiaan.
"Jika ini mimpi Tuhan izinkan aku untuk terus berada di dalam mimpi ini beberapa saat lagi aku mohon".
"Hey Agatha aku ada disini bersama denganmu, lihat aku".
"Allis sungguh ini kau ?".
Allis menangkup kedua pipi Agatha lalu mengusap air matanya lembut. Dirinya bahkan menganggukkan kepalanya berkali-kali untuk menjawab setiap pertanyaan yang Agatha lontarkan untuknya.
"Ya Tuhan ini adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan".
Agatha menarik tangan Allis menaiki panggung. Nampak Jhon dan Esmeralda dengan wajah terkejut mereka. Bahkan Esmeralda sudah menangis ketika melihat Allis berdiri di depan. Dia mengulurkan tangannya menyentuh pipi Allis mengelusnya lembut.
"Allis kau kah itu sayang ?".
"Mommy, bagaimana kabarmu ?".
"Sungguh ini adalah hari dimana aku merasa aku lah orang yang paling bahagia di dunia ini Allis, aku sangat sehat setelah melihatmu".
Mereka berpelukan erat Allis tak kuasa menahan tangisnya kali ini. Air matanya mengalir dengan deras dia begitu sangat merindukan sosok yang dia anggap sebagai ibunya itu.
"Aku begitu merindukanmu mom".
"Mommy juga tak kalah merindukanmu".
"Daddy lihatlah menantu kita, kau melihatnya tidak ?".
"Iya sayang aku melihatnya, Allis".
"Daddy bagaimana kabarmu ?".
"Daddy baik, bagaimana dengan kau ?".
"Aku baik dad, aku bahkan merasa lebih baik ketika melihat kalian semua".
"A-Allis".
Suara bariton mengalihkan perhatian Allis. Dia menatap Sean yang juga tengah menatapnya tanpa kedip. Matanya terlihat merah entah karena apa karena marah atau sedih mereka tidak tahu. Sean berjalan cepat menghampiri Allis lalu memeluknya erat.
"Kau kembali lagi, a-aku sungguh aku tidak bisa berpikir jernih sekarang ini".
"Kemana saja kau ? aku mencarimu ke seluruh penjuru dunia, bahkan aku mencarimu ke tempat asalmu namun aku tidak kunjung menemukanmu, a-aku".
"Aku seperti orang gila mencarimu rasanya aku ingin sekali membalikkan dunia ini, aku begitu frustasi aku mohon maafkan aku Allis".
"Allis bahkan aku bermimpi begitu buruk tadi malam, kau meninggalkanku ? apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan ? kau akan meninggalkanku seperti yang aku mimpikan ? mana lelaki yang ingin merebut mu dariku tunjukkan kepadaku aku akan membunuhnya sekarang juga".
"Aku tidak bisa hidup tanpamu Allis, dua tahun terakhir ini benar-benar sangat menyiksaku, aku sungguh meminta maaf kepadamu rasa bersalah padamu benar-benar mengganti hidupku aku tidak bisa hidup tanpamu, ku mohon kembalilah kepadaku Allis aku mohon".
"Mengapa kau begitu ingin aku kembali Sean ?".
"Karena aku begitu benar-benar sangat mencintaimu".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo semuanya up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya btw sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.
Selepas membaca jangan lupa rutinitasnya klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨