He'S Back

He'S Back
Episode 78



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


up lagi ....


"Apakah nyonya ada waktu senggang hari ini ?".


"Benar, Mr meminta untuk datang hari ini".


"Untuk hari-hari kedepannya beliau akan mengadakan banyak pertemuan di luar kota dan diluar negeri".


"Ahh tentu nyonya".


"Terima kasih nyonya, selamat pagi".


"Sudah Mr".


Andrew kembali meletakan handphonenya ke dalam saku. Ia menatap Sean yang fokus pada komputer di depannya ia hanya mengangguk sebagai respon terhadap perkataan Andrew.


"Keluar dan tunggulah".


"Baik Mr".


.


.


.


"Terima kasih Sonia, ini sangatlah tiba-tiba maafkan aku".


"Astaga Mrs namanya juga pekerjaan selalu tiba-tiba".


"Apakah semuanya udah siap ?".


"Silahkan periksa lah kembali".


Allis buru-buru memeriksa kembali dokumen dan juga berkas-berkas yang akan ia bawa untuk pergi meeting.


"Apakah lengkap ada yang lain kah Mrs ?".


"Sepertinya sudah semuanya, baiklah aku akan berangkat".


"Baik, mari saya antar".


Allis berjalan dengan cepat karena waktunya benar-benar sangat mepet sekali. Menaiki mobil perusahan lalu meluncur dengan cepat ke tempat tujuan. Hanya butuh dua puluh menit ia sudah sampai ditujuan tanpa ba-bi-bu ia langsung saja memasuki lobby.


"Hallo nyonya Allis".


"Ohh astaga saya terkejut, apakah saya tidak terlambat ?".


"Masih ada waktu sepuluh menit lagi".


"Mari".


Andrew berjalan lebih dahulu memasuki lift kemudian diikuti oleh Allis. Sesampainya sontak Bella berdiri dari duduknya. Senyuman yang akan ia suguhkan ia urungkan karena melihat Allis datang bersama dengan Andrew.


"Selamat pagi tuan Andrew dan nyonya".


"Selepas ini jangan biarkan siapa pun masuk kedalam ruangan Presdir".


"Baik tuan Andrew".


"Mari".


Allis mengangguk sembari tersenyum ia kemudian mengikuti langkah Andrew masuk kedalam ruangan Presdir. Bella menatap garang Allis ia mencibirkan bibirnya kesal.


"Siapa dia hendak berdua-duaan dengan calon kekasihku cihhh wajahnya seperti badut jalanan". *Batin Bella.


"Kau tak disini ?".


"Ahh tidak, saya masih ada beberapa pertemuan penting".


"Aahh baiklah".


"Baiklah, saya akan pergi sebentar lagi Mr akan datang".


"Baiklah, hati-hati".


Andrew tersenyum sembari meraih uluran tangan Allis. Dia kemudian keluar dari ruangan Presdir dan tinggallah Allis sendiri. Allis dengan perasaan campur aduk membuat ia berkeringat dingin padahal AC dalam ruangan tersebut tak kurang.


Pria bertubuh tinggi nan tegap dengan rahang yang tegas keluar dari ruangan tersebut sembari mengelap tangannya menggunakan tissue. Allis berdiri dari duduknya menatap pria itu tanpa kedip.


Ini adalah pertemuan yang entah keberapa kalinya namun perasaannya masih sama. Rasa benci dan takut masih saja menguasai hati dan pikirannya namun untuk kali ini ia adalah wanita cantik yang bijak. Urusan pribadi bukan untuk dibawa ke pekerjaan ia harus profesional.


"Hallo selamat pagi".


"Selamat pagi".


"Duduk".


Allis duduk dengan wajah tegang sementara pria itu seperti biasa menunjukkan wajah dinginnya.


"Kemari".


"Hah".


"Apa maksudnya kemari ? aku ? duduk bersama dengannya ? bukankah begitu maksudnya".*Batin Allis


Allis dengan hati-hati berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan dengan pelan menuju sofa samping.


"Berhenti, kau hendak kemana ?".


"Hah bukannya tadi anda bilang kemari ?".


"Aku kira kau wanita pintar".


"Pria ini tadi kau bilang kemari sekarang kau mengataiku wanita yang tak pintar, maksudnya apa astaga menguji kesabaran saja".


Entah mengapa ia kesal, perasaannya sangat jengkel sekali. Sean, menatapnya bingung ada apa dengan wanita itu. Ia sampai menautkan kedua alisnya melihat Allis yang marah-marah padanya.


"Memangnya apa yang kau harapkan nona ?".


"Tadi kau mengatakan"kemari" lalu saya berjalan untuk menemuimu haish benar-benar".


"Maksud saya kemarikan berkas-berkas yang kau bawa saya ingin melihatnya".


Wajah Allis merah padam, betapa besar rasa malu yang ia rasakan. Matanya menengadah meratap langit yang tertutupi oleh atap perusahaan sembari melapal doa "Ohh Tuhan sembunyikan aku dari sini aku ingin menghilang".


"Benar-benar tidak profesional".


Kali ini Allis kembali diam karena ini juga kesalahannya. Ia kurang fokus pada arah pembicaraan ia hanya fokus pada rasa gugupnya saja.


"Perlahan namun pasti saya menyukainya".


Sean menutup kembali berkas-berkas yang barusan ia baca. Mata elangnya kembali menatap wajah Allis yang tegang. Sean tanpa ekspresi menatap Allis tanpa kedip membuat si empu resah dan gugup.


"Rapat berakhir, senang bekerjasama denganmu nyonya".


"Senang bekerjasama dengan Mr".


Allis menghembuskan nafasnya lega, ia kemudian mengucapkan sepatah kata sebagai kesan penutup kegiatan meeting mereka. Allis keluar dari ruangan Presdir dengan wajah sumringah. Bella menatapnya tak suka namun Allis tak perduli itu ia membungkukkan badannya untuk menghormati Bella.


"Membahas apa mereka sampai satu jam lamanya, dasar wanita badut jalanan"*Batin Bella.


"Ayo kembali ke kantor".


"Baik Mrs".


Sopir menuruti perkataan Allis ia menormalkan laju kendaraan karena siang hari adalah waktu yang sangat padat dengan berbagai kendaraan yang berlalu lalang. Matanya tak sengaja menatap sosok yang ia kenal sedang berdiri di tepi jalan sembari menelpon. Entahlah terlihat orang sedang mengobrol sambil marah-marah dan terlihat sedikit berteriak karena pengendara lain melihat kearahnya.


"Tolong tepikan mobil".


"Baik nyonya".


Allis membuka kaca jendela mobilnya ia semakin yakin bahwa pria yang sedang menelpon itu adalah


"Tuan Lucas ?".


🌼 Bersambung 🌼


Hehe akhirnya up yahh jangan lupa klik like, komen, dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan jangan lupa untuk follow akun mimin yahh.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨