
Agneta pergi menuju WO bersama Aiden untuk memilih beberapa gaun pengantin. Sebenarnya sejak tadi ia merasa tidak nyaman dan ingin segera kembali.
"Aiden, sungguh ini terlalu cepat," ucap Agneta.
"Tidak Neta, ini tepat dan aku tidak ingin Dave mengganggu dan mengusik kehidupanmu lagi." Aiden berusaha menenangkan Agneta.
"Tapi aku-"
"Sudahlah, ikuti saja pelayannya. Dia akan pelayannya," ucap Aiden memegang kedua bahu Agneta. "Neta, aku mohon, bukankah selama ini kamu selalu ingin membalas kebaikanku? Maka dari itu jangan menolak."
Agneta hanya bisa pasrah dan mengikuti arahan pelayan di sana. Ia sedikit melamun karena hatinya merasa tak tenang sejak tadi entah karena apa. Bahkan dia tak konsen mendengarkan arahan dari pelayan itu.
"Mbak," seruan itu menyadarkannya.
"Eh?"
"Anda suka yang mana? Ini beberapa gaun pernikahan model terbaru butik kami," serunya. Agneta menatap beberapa jenis gaun pernikahan yang cantik di depannya.
Ia hendak membuka suaranya tetapi dering ponselnya lebih dulu menyambar membuat Agneta meminta waktu sebentar pada pelayan tersebut.
"Hallo,"
"...."
"APA?"
"...."
"Jangan bohong kamu Iren!"
"....."
Tanpa mendengar lagi penjelasan dari Iren, Agneta langsung berlari menghampiri Aiden yang duduk menunggu di ruang tunggu.
"Ada apa?" tanya Aiden yang kaget melihat Agneta sudah menangis menghampirinya.
"Regan, Regan tidak ada di sekolah," isaknya membuat Aiden terpekik kaget.
"Kalau begitu ayo kita kesana," ucap Aiden dan keduanya bergegas menuju sekolah Regan.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di sekolah Regan dan bertemu Iren yang tampak tengah menangis.
"Iren, dimana Regan?" tanya Agneta langsung menghampiri dia dengan ke khawatiran yang kentara.
"Aku tidak tau," isak Iren. "Tadi kata penjaga sekolah Regan di jemput oleh seorang pria menggunakan mobil Innova hitam. Dan aku sudah menunggunya selama 1 jam di sini," isaknya.
Agneta semakin khawatir mendengar penjelasan dari Iren. "Tenanglah Iren," ucap Agneta walau sebenarnya dirinya sendiri sama sekali tidak tenang.
"Aku akan meminta bantuan temanku untuk mencari keberadaannya," ucap Aiden bergegas menghubungi seseorang.
"Agneta kau mau kemana?" teriak Aiden tetapi tak ada tanggapan dari Agneta.
Di dalam taxi, Agneta mengepalkan kedua tangannya dengan erat. DAVERO... hanya nama itu yang memenuhi kepalanya saat ini, ia yakin dialah orangnya. Kemarin saja bagaimana dengan angkuh dan arogantnya pria itu mengakui Regan sebagai putranya di hadapan Aiden. Dan sekarang mungkin karena Agneta menerima pernikahan ini, dia melakukan cara paling licik dengan menculik dan menjauhkan Regan dari dirinya. Kedua tangan Agneta mengepal kuat dengan mata penuh amarah. Ia sudah bersabar selama ini menghadapi Dave, dan sekarang dia tak akan bisa diam lagi.
Sesampainya di perusahaan besar yang sudah memberinya pencaharian sehingga mampu membiaya kebutuhannya juga putra semata wayangnya.
Agneta mengabaikan sapaan dari beberapa rekan kerjanya, ini sudah masuk jam kerja setelah istirahat membuat lobby dan lift penuh oleh beberapa karyawan yang akan kembali ke ruang kerja mereka. Tanpa perduli, Agneta masuk ke lift khusus para petinggi dan langsung menekan tombol dimana Direktur pertama berada. Kali ini kesabarannya telah habis. Seekor ibu kelincipun akan mengamuk kalau anaknya di usik.
Ting
Agneta melangkah dengan angkuh masih dengan kedua tangannya yang mengepal erat, ia berjalan menuju ruangan Direktur utama tanpa memperdulikan peringatan sekretarisnya yang mengatakan Dave sedang menerima tamu.
Pintu terbuka lebar saat Agneta mendorongnya, membuat beberapa orang di dalamnya menoleh ke ambang pintu dimana Agneta berdiri dengan wajah penuh amarah. Dave meliriknya sebentar, lalu mengakhiri pembicaraannya dan meminta beberapa orang yang merupakan GM juga Manager Pemasaran di ruangan itu berlalu pergi dan sempat melirik sedikit ke arah Agneta yang mereka ketahui sebagai salah satu karyawan di perusahaan itu.
Pintu tertutup dari luar oleh kedua pria yang baru saja keluar, dengan santai Dave berdiri dari duduknya seraya merapihkan kemeja abu yang ia gunakan dan berjalan mendekati Agneta. Agneta berjalan dengan langkah lebar menghampiri Dave yang tampak santai itu.
"Apa yang membuatmu datang-"
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dave hingga membuatnya sedikit merah. Dave menoleh ke arah Agneta dengan tatapan tajamnya.
"Apa hak mu mengusik kehidupanku lagi, DAVERO!" pekik Agneta diiringi tangisannya.
"Apa maksudmu?" tanya Dave sedikit kebingungan.
"Kembalikan putraku, sialan!" bentaknya memukuli dada Dave. "Kau tidak berhak atas putraku dan merebutnya dariku! Kau tidak berhak!" jeritnya masih memukuli dada Dave.
"Apa yang terjadi dengan Regan?" tanya Dave membuat Agneta termangu.
"Kau bertanya apa yang terjadi? Jelas kau yang mengambilnya dan sekarang kau berlaga tidak tau apapun! Kau sungguh iblis yang tak memiliki hati! Tega sekali kau merebut anak dari seorang Ibu!" jeritnya.
"Dia putraku! Hanya putraku! Kembalikan dia padaku!" isaknya semakin menjadi.
"Tenanglah Agneta, apa maksudmu?" ucap Dave mengguncang tubuh Agneta.
Agneta menundukkan kepalanya seraya mencengkram kedua sisi lengan jas milik Dave dengan kuat. "Aku mohon kasihani aku! Jangan ambil putraku, Dave. Aku hanya memiliki dia dalam hidupku, jangan rebut anakku. Hikz....."
"Kembalikan dia padaku!" isaknya semakin menjadi dan sudah lemah.
Dave menarik Agneta ke dalam pelukannya dan menepuk pelan pundak Agneta dan punggungnya. Ia berusaha menenangkan Agneta dengan pelukannya dan itu terbukti saat Agneta sudah mulai tenang. Tanpa ada yang menyadari kalau pintu ruangan itu sedikit terbuka dan Aiden berdiri di sana dengan mengepalkan kedua tangannya dan tatapan yang sangat terluka.
***
TBC....