He'S Back

He'S Back
Episode 30



"Dave!!!"


Aiden menerobos masuk ke dalam ruangan pribadi Dave dan tampak sekali Dave tengah duduk santai di dekat perapiannya. Tanpa berkata apapun Aiden menarik kerah baju Dave dan melayangkan tinjunya ke pipi Dave hingga ia tersungkur.


Dave terkekeh saat merasakan sudut bibirnya sobek, ia lalu beranjak dengan santai dan berdiri di hadapan Aiden yang tampak emosi.


"Jadi kau bajingan itu! bajingan yang sudah lama ingin aku lenyapkan dari muka bumi ini!" bentak Aiden dengan emosi yang memuncak.


"Dengarkan aku baik-baik Dave, aku akan mengampunimu dan melepaskanmu. Jadi sebaiknya kau kembali ke London dan jangan pernah kembali lagi, apalagi menunjukkan wajahmu di hadapan Agneta dan Regan!" ucapan Aiden membuat Dave mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Kau hanya bencana bagi mereka, kau tidak di butuhkan lagi di sini Dave! Karena sudah ada aku yang akan menjaga mereka berdua!"


Bug


Satu tonjokkan mendarat mulus di pipi Aiden membuatnya tersungkur ke lantai. "Kau pikir kau siapa, seenaknya memerintahku!" ucap Dave kali ini dengan tatapan tajam setajam ujung samurai yang siap menghunus siapa saja yang ada di hadapannya.


Aiden beranjak dengan mengusap darah di sudut bibirnya. "Kalau kau tetap bersikeras, maka aku akan melaporkanmu atas tindak pemerkosaan pada Agneta!" ucap Aiden berapi-api dan seketika Dave tertawa, tawa yang sangat menyeramkan bahkan mampu membuat bulu kuduk siapapun meremang begitu juga dengan Aiden yang merasa terpengaruh.


"Kau pikir kau bisa melaporkanku, Aiden?" tanya Dave. "Dengan bukti apa?"


"Dengan kesaksian dari Agneta," ucap Aiden dan sekali lagi Dave terkekeh meremehkan.


"Kau pikir hanya dari kesaksian Agneta kau bisa menjebloskanku ke dalam penjara. Oh ayolah, dimana kau simpan otak cerdikmu itu." Dave berjalan santai menuju meja bar kecil di sisi dinding dan menuangkan minuman berwarna coklat terang ke dalam gelas berkaki. Dengan santai ia berbalik ke arah Aiden yang masih berdiri kaku dengan emosinya. Dave meneguk minumannya dengan tenang tak merasa terusik akan hal apapun.


"Ini sudah 5 tahun berlalu, dan tak ada saksi yang lain. Kau pikir mereka akan percaya dengan kesaksian hanya dari Agneta? Lalu bagaimana kalau aku menuntut balik kalian dengan kasus pencemaran nama baik? Akankah Agneta siap menanggung penderitaan itu?"


"Apa maumu?" tanya Aiden yang kini sadar dia akan kalah kalau berani melaporkan Dave. Dan seringai iblis terukir di wajah tampan Dave melihat Aiden yang merasa terintimidasi.


"Lepaskan Agneta dan menjauhlah darinya juga putraku!"


"Kau!" pekik Aiden semakin berang. Ia bergegas menerjang Dave tetapi Kay dan Key datang dan melerai mereka.


"Aiden tenang!" ucap Kay.


"Lepaskan aku! Ku bunuh Kau Davero!!!" pekiknya terus berontak sedangkan Dave masih berdiri dengan tenang seraya meneguk minumannya.


"Sampai matipun aku tak akan pernah melepaskan Agneta! Apalagi padamu yang merupakan seorang iblis!" pekiknya dan Dave hanya tersenyum kecil.


"Kita lihat saja nanti, Kakak sepupu." Setelah mengatakan itu, Dave berlalu pergi meninggalkan ruangan meninggalkan Kay, Key dan Aiden.


"Lepaskan aku!" pekik Aiden membuat Kay dan Key melepaskannya. "Kalian berdua ternyata tau dan berpihak padanya!" ucap Aiden menatap tajam pria kembar di hadapannya. Ia lalu berlalu pergi dengan emosi yang masih mempengaruhinya.


"Sudah ku duga," ucap Key.


"Apa yang akan terjadi selanjutnya?" gumam Kay.


"Entahlah, kita kemari untuk memberikan ini pada Dave," ucap Key mengangkat sebuah amplop coklat.


"Dia akan semakin gencar merebut Agneta dari Aiden," gumam Kay yang di angguki Key.


***


Agneta masih merenung memikirkan kejadian tadi, ia tidak mengira kalau Dave akan mengatakan hal itu pada Aiden di hadapannya. Aiden tampak sangat terluka dan syock.


Flashback


Aiden langsung mencengkram bahunya dengan sangat erat dan terlihat kekecawaan di mata Aiden. "Katakan kalau itu semua tidak benar?" tanyanya penuh penekanan.


"Maafkan aku, Aiden." Agneta hanya mampu menghela nafasnya.


"Kenapa kamu tidak katakan dari awal, kalau bajingan itu adalah sepupuku sendiri?" pekiknya mengguncang bahu Agneta.


"Apa aku bisa mengatakan itu? aku tidak bisa, Aiden. Kau tak akan percaya dan akan mengatakan kalau aku menuduhnya. Apalagi aku memang tak ingin mengungkitnya dan membuat pertekaian di antara kalian."


"Tapi kenapa dia," gumam Aiden menjambak rambutnya ke belakang. "Jadi selama ini dia mengganggumu dan kamu menutupinya dariku?"


"Aiden-"


"Katakan Agneta?" tanya Aiden penuh penekanan.


Agneta menganggukkan kepalanya. Aiden menarik Agneta ke dalam pelukannya. "Kamu tenang saja aku akan melindungi kalian darinya. Dan aku pastikan dia tidak akan mengganggu kalian lagi! Aku pastikan itu, Agneta."


Flashback Off


Agneta masih diam memikirkan itu, apa yang akan di lakukan Aiden pada Dave atau sebaliknya. Karena yang Agneta tau Dave memikili kekuasaan yang lebih daripada Aiden.


***


Pagi-pagi sekali Aiden sudah menjemput Agneta dan Regan dan mengantarkan Regan ke sekolah. Mereka tak sadar Dave membuntuti mereka berdua.


Setelah dari sekolah Regan, mereka menuju ke kantor.


"Agneta, nanti siang kita ke butik untuk fitting gaun pernikahanmu," ucap Aiden.


"Apa?" tanya Agneta memekik kaget.


"Ada apa Agneta? Apa kamu tak senang?" tanya Aiden menoleh sedikit pada Agneta.


"Bukan begitu, tetapi ini terlalu cepat. Dan kamu tau, Ibu mu tidak merestui kita," ucap Agneta.


"Jangan pikirkan Ibuku, Agneta."


"Apa maksudmu? Bagaimana aku tidak memikirkannya? Dia akan sangat marah kalau mengetahui kita menikah tanpa sepengetahuan mereka." Agneta semakin bingung dengan jalan pikiran Aiden.


"Kita tidak bisa menunda pernikahan ini lagi, Agneta."


"Tapi kenapa?" tanya Agneta.


"Karena Dave," ucap Aiden membuat Agneta terdiam. "Aku ingin segera menikahimu supaya dia tak bisa mengganggumu lagi dan Regan. Dia juga tidak akan bisa mengambil alih hak asuh dari atas Regan darimu."


Agneta terdiam mendengar penuturan Aiden, memang benar adanya yang di katakan Aiden. Tetapi Agneta tidak ingin semakin jauh melibatkan Aiden ke dalam masalahnya apalagi harus menentang ibunya sendiri.


"Aiden, aku rasa ini terlalu berlebihan. Aku tidak ingin semakin melibatkanmu dalam masalahku. Sudah cukup selama ini kamu membantuku," ucap Agneta.


"Apa maksudmu Agneta, aku mencintaimu. Bukankah kita saling mencintai?" pertanyaan itu membuat Agneta mematung di tempatnya.


***