
Dave baru saja pulang kerja dan ia melihat Regan tengah bermain bersama Agneta, ini memang weekend dan Dave masih di sibukkan dengan kesibukannya.
Ia berdiri di pintu pembatas dan memperhatikan Agneta dan Regan yang bermain bola di balkon penthouse nya yang cukup luas. Regan tampak tertawa begitu juga dengan Agneta yang memeluk Regan juga memangku tubuhnya. Gelak tawa mereka berdua seperti irama merdu yang menenangkan hati Dave, tanpa sadar sudut bibir Dave terangkat membentuk senyuman.
"Ayah!" teriak Regan berlari ke arah Dave yang kini berjalan menghampiri mereka. Regan melompat ke gendongan Dave saat ia merentangkan kedua tangannya.
"Jagoan Ayah," ucap Dave mengecup pipi Regan yang gempil. Tatapan Dave terarah ke arah Agneta yang berdiri di tempatnya tak jauh dari dirinya. Mereka cukup lama saling bertatapan satu sama lainnya.
"Ayah kemana aja, sibuk telus." Regan berucap hingga menyadarkan lamunannya dan ia memalingkan pandangannya dari Agneta ke arah Regan.
"Ayah sibuk mengumpulkan sesuatu untukmu," ucap Dave tersenyum kecil.
"Bunda, kan tadi Bunda ajakin Egan makan di lual. Kalena sekalang ada Ayah, sekalian aja kita kelual belsama. Kan udah lama gak main kelual belsama. Egan juga ingin main game zone," teriak Regan.
"Ayahmu baru pulang, dia pasti cape. Lebih baik kita pergi berdua-"
"Ayah akan pergi bersama kalian," ucap Dave dengan cepat memotong ucapan Agneta seraya melirik ke arah Agneta yang juga menatap ke arahnya.
"Asyikk! Egan mau ganti baju dulu sama Bibi," ucapnya meminta turun dan Dave segera menurunkannya, Regan langsung berlari ke dalam rumah menyisakan Dave dan Agneta yang masih saling menatap.
Agneta segera memalingkan wajahnya dan berjalan masuk melewati Dave tanpa berkata apapun.
***
Mereka sampai di parkiran sebuah mall besar di Jakarta. Regan sudah sangat senang sekali dan tak sabar ingin turun dari mobil.
"Apa tidak masalah kita terlihat bersama di tempat seperti ini? Aku tak ingin ada gosip lain lagi," ucap Agneta.
"Aku tidak perduli," ucap Dave.
"Kau mungkin tak perduli karena posisimu aman, berbeda denganku dan Regan yang akan terkena hujatan dan hinaan dari orang-orang," ucap Agneta menatap Dave yang juga menatap ke arahnya. "Sebaiknya biarkan aku bersama Regan saja."
Tanpa menunggu jawaban dari Dave, Agneta segera menuruni mobil dan mengajak Regan dengan alasan Ayahnya ada keperluan lain. Awalnya Regan merengek karena ingin bersama Dave, tetapi Agneta berhasil membujuknya walau wajah Regan tampak sedih. Dave diam memperhatikan punggung Agneta dengan Regan yang berada di sisinya. Ia mampu melihat kesedihan di wajah Regan yang terus menoleh ke arah mobilnya.
Dave mencengkram kuat setir mobilnya, kenapa ia harus terjebak dengan keadaan dan di manfaatkan oleh mereka semua. Mr. Ali masih belum mengatakan keberadaan Devara, tetapi dia akan membantu Dave menemukan kembarannya itu. Dave bisa bertindak kalau mengetahui segalanya dan kuncinya ada di Devara.
"Sebenarnya kamu dimana Vara? Apa benar kau sudah mati?" gumamnya.
***
Agneta bermain di tempat permainan anak bersama Regan. Berbagai permainan mereka mainkan untuk menyenangkan hati Regan walau wajah Regan masih terlihat bete. Tanpa mereka sadari, Dave berdiri tak jauh dari mereka dan memperhatikan mereka dalam diam dan kacamata hitam bertengker di hidung mancungnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Seseorang menghampirinya dan membisikkan sesuatu ke telinga Dave.
Dave melihat beberapa pengunjung satu per satu keluar dari area permainan anak hingga menyisakkan Agneta dan Regan yang terlihat tak menyadari situasi di sana.
Dave lalu berjalan menghampiri mereka yang kini bermain memasukkan bola basket ke dalam ring di dalam area permainan yang hanya di batasi tambang sebagai pembatasnya.
Agneta sedikit mundur untuk mencoba melempar bola supaya pas, tetapi tanpa sengaja punggungnya menabrak dada bidang nan keras milik seseorang membuatnya segera berbalik ke belakang hingga tubuhnya menempel sempurna dengan tubuh seseorang itu. Kedua tangan Agneta terangkat ke udara memegang bola dan tatapannya langsung beradu dengan mata tajam bak elang milik Dave yang kini sudah tak memakai kacamata lagi.
"Ayah!"
Panggilan Regan menyadarkan mereka berdua dan Agneta tak sengaja melepaskan genggamannya pada bola, membuat bola itu jatuh dan mengenai kening Dave.
Tanpa sadar Agneta langsung mengusap kening Dave, dengan sedikit berjinjit ia meniupi kening Dave layaknya Dave adalah Regan. Dan saat ia menyadari perlakuannya, ia mematung dan tatapannya kembali beradu dengan tatapan Dave yang juga menatapnya tanpa bisa di baca. Bahkan pinggang Agneta sudah di rengkuh Dave membuat tubuh keduanya menempel sempurna.
Regan yang melihat kedua orangtuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan bermain bola sendirian tanpa memperdulikan lagi kedua orangtuanya yang sepertinya ingin terus berpelukan, pikir Regan.
Agneta segera memalingkan wajahnya yang memerah dan Dave segera melepaskan rangkulannya membuat Agneta berjalan mundur menjauhi Dave.
"Bukankah sudah aku beritahu kalau-"
"Sekarang semuanya aman," ucap Dave memotong ucapan Agneta dan berlalu menghampiri Regan dan mulai bermain dengannya tanpa memperdulikan Agneta.
Agneta menyadari kalau di area itu hanya ada mereka bertiga, dan entah kenapa Agneta ingin tersenyum mengetahui apa yang di lakukan Dave. Tatapannya kini terarah ke arah Dave dan Regan yang kini bermain sepak bola berdua dan begitu akrab. Tawa Regan tampak lepas dan juga tawa Dave yang sangat jarang Agneta lihat.
***
Agneta baru saja hendak masuk ke dalam lift dan terlihat ada Aiden di dalam sana. Ia memasuki lift dengan memberi hormat pada Aiden yang terus menatapnya hingga pintu lift tertutup.
"Bagaimana tawaranku, Neta? Maukah kamu kembali padaku dan kita lawan Dave bersama-sama?" tanya Aiden.
"Aku masih memikirkan itu Aiden, aku takut Dave melukai Regan," ucap Agneta.
"Kita langsung mengajukan permintaan hak asuh atas Regan ke pengadilan setelah kita menikah," ucap Aiden.
"Aku juga masih menjadi istrinya," ucap Agneta.
"Kamu ajukan gugatan cerai padanya, Agneta. Semua itu bisa kita urus asalkan kamu mau menerimaku kembali. Atau begini saja, kamu tetap bersamanya, tetapi kamu ambil semua saham milik dia. Buat saham itu jatuh ke tangan Regan dan setelah semuanya menjadi milik Regan, kamu tinggalkan dia. Dia tak akan bisa berbuat apapun saat sudah kehilangan kekuasaannya." Agneta terdiam mendengar rencana Aiden.
"Neta, dengarkan aku." Aiden memegang kedua lengan Agneta hingga tatapan mereka beradu. "Kita lawan dia bersama, saat dia sudah jatuh dan kehilangan kekuasaannya kamu bisa hidup tenang. Bagaimanapun juga kekuasaan dia adalah hak Regan."
"Aiden, aku-"
"Pikirkanlah, saat kamu setuju, kita bisa mulai rencananya. Aku akan mengatur segalanya," ucap Aiden. Pintu lift terbuka dan Aiden memberikan kode dengan senyuman sebelum meninggalkan Agneta.
Tanpa mereka sadari di ujung kotak persegi itu terdapat CCTV yang baru saja di benarkan tadi malam, sudah beberapa minggu CCTV lift itu memang tak berfungsi tetapi sekarang sudah di ganti dengan yang lebih baik.
Di dalam ruangannya Dave menatap adegan itu dan mendengar segalanya. Senyum getir terukir di bibirnya, haruskah lagi dia di khianati seseorang yang berarti dalam hidupnya?
"Apa kamu berpikir akan menkhianatiku juga, Neta?" gumamnya. Seketika bayangan Agneta yang menangis dan ingin bebas terngiang di kepala Dave membuatnya memejamkan matanya.
Dave membuka matanya saat terdengar suara pintu terbuka, itu adalah Agneta yang kini telah duduk di dalam kursi kebesarannya dan Dave mampu melihatnya dari dalam ruangannya yang pembatas ruangan mereka hanya lapisan kaca. Tatapan Dave menajam menatap ke arah Agneta dan kedua tangannya mengepal kuat.
***