
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
up lagi...
"Apakah kau melihatnya ?".
"Tidak".
"Bagaimana kau ini, katanya kau menarik topinya"
"Iya namun poninya terlalu panjang sehingga menutupi wajahnya".
"Lalu bagaimana selanjutnya ?".
"Entahlah"
Mereka berdua melenguh panjang niat ingin melaporkan sekaligus menangkap pelaku malah tidak ada jejak bukti. Namun sedetik kemudian Agatha tersenyum sumringah sepertinya gadis cantik itu menemukan satu ide cemerlang.
"Bagaimana dengan bau parfumnya, apakah kau ingat bukannya kau dipeluk olehnya tentu saja kau pasti ingat ?".
"Apa hubungannya dengan bau parfum ?".
"Apa maksudmu ada hubungannya, tentu saja ada, jika dia berada disekitarmu kau akan langsung mengenalinya lewat bau parfum itu".
"Hey kau kira hanya dia yang memiliki uang untuk membeli parfum itu".
"Katanya kau melihat mobil yang jarang dimiliki orang".
"Ahh memang benar tapi".
"Itu artinya dia bukan orang sembarangan, bisa jadi ia adalah pria kaya yang terobsesi padamu namun kau tidak tahu".
Allis kembali termenung mencoba mengingat-ingat bau parfum pria itu seperti yang dikatakan Agatha. Semakin diingat semakin menggiringnya ke opini bahwa ia pernah mencium bau parfum yang seperti ini tapi dimana ia lupa.
"Sedikit familiar namun entahlah aku tidak yakin".
"Kau ingat-ingat lah dulu, kali ini kita akan menangkap pria cab*ul yang ada di muka bumi ini".
"Sangat mendramatis sekali kau ini".
"Benar kita harus semangat supaya mereka tidak berpikir lagi bahwa wanita gampang ditindas".
"Terima kasih Agatha sudah selalu ada untukku".
"Hey apa maksudmu bukannya kita adalah calon saudara ipar".
Allis terkekeh mendengar ucapan Agatha. Ia sangat bersyukur memiliki teman-teman yang selalu ada seperti Agatha dan juga Sonia. Ia juga membulatkan tekad untuk menangkap siapa pelaku dibalik kejadian yang menimpa Sonia.
"Kau sudah makan ?".
"Tidak Agatha".
"Hais bagaimana kau ini, aku tidak mau memiliki seorang kakak ipar yang kurus kering. Kakakku adalah seorang master bisnis dia akan banyak menghadiri pertemuan penting dengan kolega-kolega bisnis ternama hais jika kolega bisnisnya melihat iparku yang kurus kering bagaimana tanggapan mereka, dan jika saat sewaktu-waktu penting kakakku ingin terbang kenegara lain dia tidak mungkin meninggalkan kakak ipar jadi harus ikut dengannya lalu baling-baling helikopter sangatlah kencang bagaimana jika kakak iparku itu terbang karena terlalu kurus".
"Hahaha apakah kakakmu begitu ?".
"Kau belum mengenalnya, dia sangatlah posesif sama seperti Daddy-ku".
"Ayo turun untuk makan, ayo buat mie kuah pedas".
"Memangnya kau tidak dimarahi karena memakan mie instan".
"Entahlah, rasa teringin memakannya sudah mencapai di tenggorokanku ayo buatkanlah untukku satu mangkuk saja".
"Sudah sudah, tidak usah memelas seperti itu ayo akan kubuatkan".
"Benarkah ?".
"Hmm tentu".
"Ihh God kabulkanlah supaya Allis menjadi iparku".
"Hey aku tidak mau, kakakmu seorang monster".
"Kyaakkk siapa yang mengatakan hal bodoh itu ?".
"Kamu".
Agatha menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menyesal karena mengatakan hal bodoh itu, ia tak tahu bahwa dirinya sangat menginginkan allis untuk menjadi istri kakaknya. Entahlah ia rasa sifat Allis tak lebih dari ibunya jadi ia sangat menyayangi Allis.
Pagi itu, terlihat seorang pria tinggi tegap dengan balutan jubah mandi yang menutupi tubuh seksinya. Dirinya berdiri menantang matahari pagi di balkon kamarnya. Sinarnya yang lembut perlahan membelai wajah tampannya. Memincingkan mata, silau. Terlebih saat ia melihat mobil baru saja memasuki pekarangan rumahnya.
Gadis cantik dengan senyuman manis keluar dari mobil. Disambut hangat oleh tuan dan nyonya rumah. Mata sipit gadis itu menangkap sosok pria yang berdiri di atas balkon dengan segelas kopi hangat ditangannya.
"Kakak ayo turunlah aku ingin mengatakan sesuatu".
Gadis itu berteriak namun pria itu tak menggubrisnya. Gadis cantik yang kesal memutuskan untuk masuk dan pergi untuk menemui pria yang ia panggil kakak itu.
"Ayo temui dia sepertinya kakakmu marah".
"Hais dasar pria tua".
Sampai di depan kamar gadis itu tanpa ba-bi-bu ia langsung membuka pintu kamar. Ia mendapati kakaknya sedang berada di posisi awal. Namun seingatnya tadi ia tak melihat handuk yang melingkar di leher kakaknya entah apa pun itu ia tak peduli.
"Agatha di mana sopan santunmu".
"Kyaakkk dasar pria tua dingin".
Agatha, gadis cantik yang baru saja pulang dari rumah sahabat karibnya. Dan pria yang ia sebut-sebut sebagai pria tua yang dingin adalah Sean, kakak kandungnya. Pria tampan dengan sejuta pesona dan kekayaan yang tak terhingga.
"Siapa yang kau sebut pria tua dingin ?".
"Kau".
"Hey gadis kecil jika aku adalah pria tua yang dingin maka kau adalah penyihir jelek yang kejam".
"Yahh bagaimana bisa seperti itu ?"
"Bagaimana tidak, kau menyebutku pria tua jadi aku bebas menyebutmu sebagai apa terserah denganku".
"Kakak apakah kau masih marah padaku ?"
"Hmm".
"Aaaa kakak kau, temanku sangat membutuhkan aku jadi aku harus ada untuknya, apakah kau tidak seperti itu kepada temanmu oh iya aku lupa bahwa kau pria kaku mana mungkin memiliki teman".
"Tapi itu sudah larut".
"Tapi dia sangat membutuhkan aku dia tidak memiliki siapapun, kasihan sekali dia".
"Aah terserah kau".
"Heheh kakak kau tahu aku melihat beberapa barang aku sangat menginginkannya".
"Lalu ?".
"Kakak aku sangat menyayangimu".
Sean menghela nafas dia berjalan masuk kedalam kamar Agatha mengekor dibelakang dengan senyuman sumringah. Ia masuk kedalam ruangan yang khusus untuk pakaian dan juga barang lainnya seperti jam, dompet, sepatu, dasi dan lain-lain. Ia membuka kotak brangkas mengambil tiga buah kartu lalu memberikannya kepada Agatha.
"Beli apa pun yang kau inginkan".
"Hahaha aku sangat mencintaimu kakak".
Agatha menerima kartu lalu mencium pipi Sean dan kemudian berlari meninggalkan kamar Sean. Sean menggeleng dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. Dia melihat jam saatnya untuk berkemas dan Andrew akan datang menjemputnya.
Dia mengambil setelan jas dengan warna biru langit. Kemeja hitam dan juga sepatu pantofel yang mengkilap. Satu sentuhan lagi jam tangan dan juga parfum. Dia melingkarkan jam tangan mewah dipergelangan tangannya.
Dia berjalan menuju ke salah satu rak panjang yang dipenuhi dengan berbagai jenis parfum. Ia mengambil satu parfum yang menjadi ciri khasnya. Berdiri di depan cermin dan menyemprotkan parfum ke begaian tubuhnya. Namun matanya kembali terpaku pada lehernya.
Lehernya yang memerah dan memar dan bekas gigitan terlihat sangat jelas. Ia dapat merasakan rasa panas pada pipinya. Rona merah merona menghiasi pipi buru-buru ia mencari Hansaplast transparan untuk menutupi bekas itu. Ia malu,.
"Malam itu".
🌼 Bersambung 🌼
Hallo up lagi, mimin bakalan berusaha lebih giat lagi untuk up heheh ayo jangan lupa untuk like, komen, dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga lupa untuk follow akun mimin.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨