He'S Back

He'S Back
Episode 120



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi.....


"Ini kah tempatnya ?".


"Humm kalian bergeraklah sesuai dengan strategi yang sudah diatur aku akan menembus sistem keamanan mereka".


"Hey boy siapa yang memerintah siapa ?".


"Sean ini bukan waktunya untuk berdebat dengan putramu".


"Andrew kau ingin masuk denganku ?".


"Daddy diamlah bersama denganku disini, biarkan grandpa dan uncle Andrew yang masuk lebih dulu sepertinya ada kejutan yang jauh lebih besar dari ini namun aku sedikit tidak yakin".


"Baiklah tuan besar apakah kau sudah siap ?".


"Tentu, aku sudah jauh lebih siap dan bagaimana jika kita buat taruhan Andrew ?".


"Taruhan seperti apa yang anda maksud tuan besar ?".


"Senjata kita sama, sama-sama berjenis Barrett M82 aku ingin melihat kemampuanmu apakah masih sama atau tidak ?".


"Siapa yang menghabisi musuh jauh lebih banyak maka dia pemenangnya begitupun sebaliknya".


"Tuan besar jika saya memenangkannya bagaimana ?".


"Apapun yang kau inginkan Andrew aku akan memberikannya untukmu".


"Baiklah tuan besar, ahh kelak jika saya menikah saya ingin tuan besar menari perut untukku".


"Hahaha aku tidak memiliki lemak perut Andrew".


"Terserah tuan besar, menari perut bukan masalah ada atau tidaknya lemak perut tuan besar, ada kostum yang sesuai untuk melakukan tarian perut, tuan besar hanya perlu menyiapkan diri saja".


"Oke oke aku akan melakukannya untukmu namun jika kau menang".


"Saya pasti menang tuan besar".


"Bergegaslah masuk grandpa dan uncle kamera pengawasnya telah aku retas semua".


"Bagus boy, kau memang yang terbaik".


"Dan aku dad ?".


"Kau juga yang terbaik dalam penakluk hati wanita daddy".


"Hahah kau benar Ethan daddy-mu itu adalah buaya jantan".


Selepas bergurau Jhon dan Andrew berjalan dengan berani ke depan gerbang rumah besar itu memasukinya setelah menembak beberapa anak buah Lucas yang menjaga pintu. Mereka saling membelakangi satu sama lain tentunya bertujuan untuk saling melindungi.


Dor dor dor


Suara tembakan saling bersahut-sahutan namun tak kunjung membuat kedua pria itu saling menghentikan obrolan receh mereka. Mereka terus bergurau sembari tertawa kecil.


"Katakan berapa nyawa yang tumbang olehmu tuan besar ?".


"Ahh sial aku melupakannya, aku lupa menghitungnya".


"Maka siapkan mentalmu untuk menari perut di hari pernikahanku besok tuan besar".


"Andrew bagaimana jika taruhan kita di gagalkan saja ?".


"Tuan besar anda ini adalah sosok keturunan Smith, apakah dengan menggagalkan taruhan tidak membuat harga dirimu jatuh wah wahh apakah anda melupakan asal usul anda ?".


"Ohh God Andrew aku akan membalasmu".


"Kejarlah poin ku tuan besar, aku sudah mendapatkan banyak lihatlah para ikan-ikan itu yang tumbang dengan darah mereka yang memandikan mereka".


Jhon mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Para anak buah Lucas sudah habis terkapar dengan berlumuran darah. Andrew meniup ujung senjatanya lalu mengecupnya singkat.


"Ahh tuan besar saya menantikan tarianmu nanti".


"Sial sekali".


"Kita harus memeriksa setiap ruangan"


Mereka berdua berpencar untuk memeriksa setiap ruangan dimana Allis disembunyikan. Andrew menaiki tangga Jhon membuka setiap bilik yang berada di lantai bawah.


"Ayo daddy kini giliranmu, pasang ini aku akan langsung terhubung dengan daddy".


"Apa ini ?".


"Ini adalah alat yang bisa membuatmu mendengar semua perkataanku dari jarak jauh, daddy hanya perlu mendengarkanku dan lakukan semua yang aku katakan".


"Hey siapa yang memerintah siapa ?".


"Lakukan saja dad, aku akan melihat setiap seluk beluk rumah ini".


"Baiklah kau tetaplah didalam, ini untukmu".


Sean memberikan sebuah pistol untuk Ethan lalu berjalan meninggalkan mobil hitam mereka. Dia berjalan dengan berani lagipun sebagian besar anak buah Lucas telah tumbang.


"Kalian menemukannya ? Daddy ? Andrew ?".


"Tidak Mr".


"Sepertinya dia telah mengelabui kita, kita terlalu sibuk mengurusi anak buah sialan ini Sean".


Terdengar suara Ethan mengatakan.


"Tidak dad, kau berada di tempat yang tepat bersiaplah akan ada kejutan lagi bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya".


Sean, Jhon, dan juga Andrew saling membelakangi satu sama lain. Menggenggam erat senjata masing-masing. Mata mereka bergulir kesana kemari menelusuri setiap jengkal rumah itu. Menyiapkan telinga dan fokus yang begitu tinggi.


"Satu, dua, bersiaplah dad tekan pelatuk kalian dan".


Dor dor dor


dor dor dor


dor dor dor


dor dor dor


Banyaknya musuh terlihat kini satu persatu mulai berjatuhan. Sebelum mereka mendekati Sean, Jhon dan juga Andrew. Mereka dengan sigap dan juga cepat menembaki setiap musuh yang mulai terlihat mendekat.


Sungguh perpaduan yang sempurna antara Sean, Jhon dan juga Andrew. Mayat musuh sudah berserakan dimana-mana bahkan untuk berjalan mereka harus menyingkirkan tubuh mayat musuh satu persatu.


"Semuanya berpencar mencari apa pun yang kalian anggap mencurigakan dan juga aneh".


.


.


.


Dilain sisi nampak ruangan gelap gulita Allis baru saja tiba. Ada banyak sekali para pria berbadan besar lengkap dengan senjatanya berdiri mengepungnya. Di setiap jengkal dinding mereka berdiri dengan gagah dan juga tegap.


Ditengah ruangan nampak ring tinju berwarna merah biru. Dan juga Lucas yang tengah berdiri disana dengan wajah angkuhnya.


"Hallo Allis selamat datang, bagaimana keadaanmu hari ini ?".


"Jauh lebih baik ketika mengingat bahwa hari ini adalah hari kekalahanmu".


"Tidak usah terburu-buru sayangku".


"Ahh iya aku melupakannya, bagaimana tentang suami yang sangat kau cintai itu ? lihatlah apakah dia mencarimu ? hahaha tidak kan lalu untuk apa kau mencintai suami yang tidak mencintaimu ?".


"Kau terlalu banyak membual Lucas, hadapi aku dan aku akan mengalahkanmu".


"Jika kau kalah menikahlah denganku".


Nampak Allis berpikir sejenak otaknya memutar alasan apa yang akan ia buat. Lucas tersenyum meremehkan dia yakin Allis akan menerima syaratnya kali ini.


"Baik, namun jik aku menang kau harus bebaskan aku dan menyerahkan dirimu pada polisi".


"Hahah kalah ? itu tidak mungkin lagi Allis".


"Cihh akan aku pastikan kau akan mengangkang untukku Allis".


Lucas tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. Dirinya sangat puas karena ia sudah begitu yakin bahwa kali ini dialah pemenangnya.


Dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Dan sampai sekarang tak satu pun dari anak buahnya yang menghubunginya. Itu berarti semuanya tidak terjadi seperti apa yang dia pikirkan.


"Rupanya Sean tidak menginginkanmu Allis, sungguh bodoh sekali pria itu".*Batinnya.


"Sebelum kau melawanku kau harus melawan perwakilanku lebih dulu".


"Apa-apaan ini ? ini tidak sesuai dengan isi kesepakatan kita kemarin".


"Maafkan aku Allis sayang, leherku sedikit terasa keram aku harus mendapatkan sebuah pijatan jadi sebelum aku merasa sehat kau harus melawannya lebih dulu".


"Ahh sialan ini tidak semulus seperti yang aku rencanakan".*Batin Allis.


"Baik, aku akan melawannya".


"Bagus bagus aku suka keberanianmu sayang".


"Masuklah Dev".


Pria bernama Dev itu masuk yang sontak membuat Allis terjingkat kaget. Bukan satu orang bahkan tiga orang sekaligus. Pria berbadan tinggi besar dan juga gagah perkasa. Allis menelan ludahnya. Dapat dilihat Lucas tersenyum miring melihat keberanian Allis yang mulai sedikit menyusut.


"Kau bisa kan mengalahkan mereka ?".


"Tentu, ini sangatlah mudah".


"baguslah, maka mulaikan pertunjukan ini".


Ketiga pria berbadan tegap itu mengepung Allis. Mengelilingi Allis sembari saling menatap. Allis yang menyiapkan fokus, telinga, dan juga siap dengan kepalan tangannya.


Dirinya diserang oleh satu dari tiga orang itu Allis berhasil menghindar. Bahkan ia bisa memberikan sebuah pukulan pada leher belakang pria itu. Tanpa memberi jeda pria kedua langsung menyerang Allis.


Mengayunkan tinjunya dan berbagai pukulan yang berhasil Allis hindari. Sungguh ia harus diberikan sebuah penghargaan atas keberanian dan juga pemikirannya yang cepat. Pria ketiga tanpa Allis duga menyundul perutnya sehingga ia terjatuh.


Tanpa menunggu Allis merasakan rasa sakit pria itu menarik kaki Allis. Membangunkan tubuhnya lalu melempar ke tali pembatas pada tepi ring.


Sungguh pria itu begitu kejam, dia tanpa perasaan memukuli Allis. Memberikan begitu banyak pukulan yang membuat Allis mendapatkan banyaknya memar pada wajah. Menendang kepalanya, kakinya, bahkan tubuhnya Allis terkapar tak berdaya.


"Sungguh sungguh ini adalah pertunjukan yang hebat hahahah aku menyukainya aku menyukainya".


Suara Lucas tertawa yang menggelegar membangkitkan darah amarah pada diri Allis. Dia bangun lalu berdiri dengan susah payah.


"Kau yakin kau akan mengalahi mereka ?".


"Aku yakin".


"Majulah para tuan-tuan pecundang".


"Hey bung dia mengatakan kita pecundang, kita harus memberikan dia materi baru".


"Berikan pada anggota tubuhnya yang lain".


Mereka kembali menyerang Allis yang lemah. Pria itu memukul tepat dibawah dagu Allis yang membuat Allis memuntahkan darah segar lalu terkapar tak berdaya.


Byurrrrrr


Setelah kurang lebih dari lima menit tak sadarkan diri. Lucas menyirami wajah Allis dengan seember air. Allis terbangun dengan posisinya yang diikat pada kursi. Allis mencoba untuk memberontak dengan sisa tenaganya.


"Percuma kau melakukannya Allis, katakanlah jika kau menyerah padaku dan layani aku sekarang juga".


"Cuihh aku tidak sudi".


Ludah yang dipenuhi oleh darah itu tepat mengenai wajah Lucas. Lucas menggeram kesal seseorang memberikannya selembar tisu putih.


"KURANG AJAR".


Lucas mencengkram erat kedua pipi Allis sembari menatapnya dengan penuh amarah. Dia menampar pipi lebam itu secara bergantian lalu kembali mencengkramnya kuat.


"Kau pikir siapa dirimu hah kau tidak ingin bernasib sama dengan asisten sialan itu kan ? atau bernasib sama dengan putramu melepaskan nyawa dari raganya".


"Kau apakan Sonia Lucas ?".


"Dia telah berani menolakku maka aku membalasnya dengan merudapaksa dirinya dan aku rasa itu sebanding dengan harga diriku yang telah ia coreng".


"Kau pria berengs*ek, bajing*an, sialan enyahlah dariku aku tidak sudi mempunyai teman sebejat dirimu Lucas".


"Sudah aku katakan aku tidak menginginkan posisi teman, aku menginginkanmu sebagai istriku bukan temanku kau paham tidak".


"Aku tidak sudi aku tidak mau".


"Kau sudah kalah telak Allis, kau harus menerimanya jika saja putramu tidak bersih keras melarangku untuk mendekatimu maka dia akan dapat menyaksikan pernikahan kita".


"Apa maksudmu ?".


"Akulah orang dibalik kecelakaan putramu Allis, aku melakukannya karena dia selalu saja menentang hubungan kita".


"Kau pria bejat, berengs*ek, bajing*an, pembunuh, penjahat kelam*in".


"Aku menyukai setiap julukan yang kau berikan itu Allis".


"Lepaskan aku sekali lagi, aku akan melawanmu sampai titik darah penghabisan aku tidak rela untuk hidup bersama dengan pria bejat sepertimu aku lebih baik mati".


"Dengan kondisimu yang seperti ini ? melawanku ? apakah kau melawak Allis ?".


"Tidak, ayo lawan aku Lucas".


"Baiklah aku akan kabulkan permohonanmu ini, hah sungguh merepotkan jika harus mengurus wanita yang keras kepala".


Tali yang melilit tubuhnya telah terlepas , Allis dapat bernafas dengan lega. Rasanya tubuhnya terasa begitu remuk tak ada satu pun anggota tubuhnya yang tidak terasa sakit. Semuanya terasa begitu ngilu, nyeri, berdenyut dan juga perih.


Berjalan saja sempoyongan dan Allis sangat bertekad untuk mengalahkan Lucas yang sedang berdiri dengan gagah di depannya.


"Ayo berikan pelukanmu ahh tidak tidak maksudku pukulanmu Allis".


"Kyakkkkk".


Allis berlari mendekati Lucas lalu mengarahkan pukulannya pada wajah Lucas. Lucas dengan mudah menghindar, Allis tak putus asa dia kembali mengarahkan tendangannya pada kaki Lucas.


Greppp


Lucas berhasil memeluk tubuh Allis mendekapnya sangat erat. Dan berhasil melabuhkan ciumannya pada cuping telinga Allis.


"Lepaskan aku".


Allis menyikut perut Lucas yang sukses membuat Lucas melepaskan pelukannya dari tubuhnya. Allis menendang Lucas yang tengah membungkuk memegangi perutnya tadi.


"Aku sudah mengatakannya bahwa aku akan menang Lucas".


Allis meninggalkan Lucas yang tengah terbaring sembari memegangi perutnya tadi. Namun belum sampai ia keluar dari ring kakinya ditarik dengan kuat oleh Lucas. Allis terjatuh dan tubuhnya ditarik sampai pada tengah ring kembali.


"Kau curang Lucas"


"Hahaha siapa peduli ? yang terpenting aku lah pemenangnya Allis".


"Kau harus melayaniku sekarang juga".


"Tidak Lucas tidak"


"Hahah berteriaklah sesuka hatimu".


"Tidakkkk".


BRAKKK


🌼 Bersambung 🌼


Hallo semuanya up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya btw sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.


Btw selepas membaca jangan lupa rutinitasnya klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨