
Semalaman Dave menghabiskan waktunya di dalam ruangan kerjanya, menatap nyalang api yang menyala di tempat pembakaran. Terlalu banyak yang harus dia lakukan, dan banyak hal yang belum bisa ia ungkap semua. Sekarang kunci utamanya adalah Devara, kembarannya sendiri yang mengetahui segalanya. Dave takut salah mengambil langkah, dan menikahi Natalie adalah hal yang paling tidak diinginkan olehnya.
Dave beranjak dari duduknya dan berjalan menuju keluar ruangan, ia berjalan menuju kamarnya tetapi langkahnya terhenti saat melihat pas bunga berisi bunga mawar merah yang segar. Entah dorongan darimana ia mendekati pas bunga itu dan menatap bunga itu.
Cukup lama ia menatapnya hingga ia memetiknya satu. Ia berjalan menuju kamarnya. Suasana kamar tampak remang-remang saat dia masuk, dan sosok Agneta sudah terbaring di atas ranjang.
Dave berjalan mendekati Agneta, dan duduk di sisi ranjang. Ia menatap bunga mawar di tangannya lalu menyimpannya di atas nakas tepat di samping Agneta lalu ia mengusap kepala Agneta dengan lembut. "Maafkan aku, Neta. Tak pernah terlintas sedikitpun untukku menyakitimu dan menghancurkan hidupmu. Tetapi entah kenapa aku terlalu terobsesi padamu. Maafkan aku, Neta." Dave bergumam pelan lalu ia mengecup kening Agneta cukup lama sebelum akhirnya dia berlalu pergi meninggalkan Agneta.
***
Pagi itu Agneta terbangun dari tidurnya, ia menatap mengusap matanya yang terasa perih karena menangis semalam. Matanya terarah ke ruangan di depannya dimana ranjang itu kosong tak ada yang menempati. Mungkin Dave sudah berangkat, pikirnya. Agneta hendak beranjak dari atas ranjang, tetapi gerakannya terhenti saat melihat sepucuk mawar merah di atas nakas. Ia mengambilnya dan sedikit mengernyit.
"Bunga dari siapa? kenapa ada di sini?" gumamnya.
Agneta sempat berpikir itu dari Dave tetapi dengan cepat ia menepisnya karena tak mungkin seorang Dave melakukannya.
"Mungkin ini perbuatan Regan," gumamnya lalu beranjak menuju kamar mandi.
***
Agneta baru saja keluar dari lift menuju ke dalam ruangannya, tetapi seseorang menarik lengannya dan membawanya ke dalam ruangan lain.
"Aiden, lepaskan tanganku!" ucap Agneta.
Aiden melepaskan tangan Agneta dan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kau lihat kemarin malam, Dave tak pernah serius padamu! Buka matamu Agneta, dia hanya ingin menghancurkan hidupmu lagi!" ucap Aiden berapi-api.
"Lalu aku bisa apa?" tanya Agneta yang kembali menjadi bimbang.
"Pergilah dari sisinya, kau hanya akan menderita di sampingnya." Agneta terdiam mendengarkan ucapan Aiden.
"Agneta, aku sungguh mencintaimu dan aku ingin kamu kembali padaku." Agneta dan Aiden saling bertatapan cukup lama.
"Kamu tau kan alasan aku menikah dengan Dave?" tanya Agneta.
"Ya aku tau, karena bajingan itu menjadikan Regan sebagai sandra. Sekarang pergilah dulu, nanti aku yang akan mengusahakan hak asuh Regan kembali padamu. Dengan kita menikah, hak asuh akan lebih mudah ke tanganmu," ucap Aiden.
Keduanya sama-sama terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga Aiden berjalan mendekati Agneta menghapus jarak di antara mereka dan ia menangkup kedua pipi Agneta hingga kini tatapan Agneta beradu dengan tatapan Aiden yang hangat dan lembut.
"Aku mencintai kamu Agneta, sungguh."
***
Seharian ini Agneta tak bisa fokus dengan pekerjaannya, ia terus memikirkan ucapan Aiden. Apakah dia benar-benar ingin pergi dari Dave dan bersama Aiden?
Apa benar juga bertahannya dia di samping Dave karena alasan Regan? Atau karena memang dia menginginkan untuk tetap bersama Dave. Bayangan Dave mengatakan kata maaf dengan tatapan yang sendu dan lembut. Ini pertama kalinya Dave menunjukkan tatapan lain padanya selain tatapan sinis dan dinginnya. Dan ekspresi juga ucapan maaf itu terus mengusik pikirannya.
Brak
"Nona Natalie, panggil aku seperti itu, Jalang!" sahut Natalie dengan arogant.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Agneta masih menjaga sikapnya dan mengacuhkan sikap arogant Natalie.
"Berlaga polos! Mukamu terlihat polos, ku pikir kita bisa berteman baik ternyata kau malah berniat menggoda Dave ku.! Kau pikir dia akan memilih janda satu anak seperiimu?"
Natalie terus berceloteh menghina Agneta. "Kau memiliki anak tanpa mengetahui siapa ayahnya, tak heran sih setelah menggaet Aiden dan sepertinya gagal menguras hartanya kini beralih ke calon suamiku. Apa selalu begitu, kamu menjual tubuhmu di atas ranjang para pria hanya untuk kehidupanmu dan anakmu? Atau hanya kesenangan?"
Plak
Natalie memekik saat pipinya di tampar oleh Agneta yang sudah berdiri dari duduknya. "Tolong jaga ucapan anda! Saya menghargai anda sebagai putri direktur utama di sini, dan tolong bersikaplah layaknya seorang gadis konglomerat."
"KAU!" Natalie yang emosi mengangkat sebelah tangannya hendak menampar Agneta tetapi gerakannya terhenti di udara karena tangan kekar menahannya.
Baik Agneta maupun Natalie sama-sama menoleh ke samping mereka dan ternyata Dave berdiri di sana.
"Dave?" ucap Natalie.
"Jaga sikapmu, Natalie!' Dave menghempaskan tangan Natalie.
"Dave, dia yang menamparku terlebih dulu!" pekik Natalie. "Heh jalang, sekarang juga angkat kaki dari perusahaan ini! Kau di pecat!" tambah Natalie.
"Kau tak berhak memecat siapapun di perusahaan ini tanpa ijin dariku Natalie, akulah CEO perusahaan ini, dan aku yang berhak memecat siapa saja karyawanku di sini." Dave berucap dengan tajam.
"Tapi Dave, dia sudah kurang ajar menamparku!"
"Kamu yang memulainya, jangan ganggu karyawanku. Sekarang pergilah!" ucap Dave.
"Dave, aku ini calon istrimu! Dan aku datang untuk mengajakmu pergi ke WO untuk fitting baju."
"Aku sibuk, sekarang pulanglah."
"Tapi-"
"Kau urus saja semuanya," ucap Dave membuat Natalie kesal.
"Kau tak akan pernah ku lepaskan, Jalang!" ancam Natalie menunjuk Agneta yang masih berdiri di sana dan berlalu pergi.
Agneta melirik Dave yang juga melihat ke arahnya setelah kepergian Natalie. Tak banyak bicara, Dave langsung berlalu pergi meninggalkan Agneta sendirian.
Agneta hanya mampu menghela nafasnya seraya duduk di kursi miliknya. Kenapa ia tak pernah bisa hidup tenang.
Dave duduk di kursi kebesarannya dan menghubungi seseorang. "Key, tambahkan penjagaan untuk Agneta. minta 5 orang bodyguard untuk selalu mengikuti Agneta."
Dave mematikan sambungan telponnya setelah selesai berbicara. Ia mengingat kembali kejadian kemarin dimana Agneta menangis sendu karenanya. Bayangan wajah sendu Agneta seakan tak ingin pergi dari pikiran Dave.
***