
Agneta berlari menyusuri lorong rumah sakit, baru saaja ia mendapatkan kabar kalau Regan masuk rumah sakit. Ia terus berlari dengan perasaan yang sangat tak menentu. 3 hari dia tak bertemu Regan karena Dave sedikit mempersulitnya dan sekarang dia harus mendapatkan kabar tak menyenangkan seperti ini. Bagaimana bisa Agneta membiarkan Dave mengasuh anak mereka, Agneta sungguh tak rela dan dia akan memprotes Dave karena masalah ini.
Sesampaikan di depan ruang rawat yang diberitahukan oleh asisten Dave, Agneta bergegas masuk ke dalam ruangan tetapi dua orang berpakaian hitam mencegahnya.
"Ada apa ini?" pekik Agneta saat kedua orang itu menghadang langkahnya.
"Maaf Nyonya, tetapi anda tidak bisa masuk ke dalam."
"Kenapa?" tanya Agneta semakin geram dan sedikit bingung. "Aku Ibu nya dan aku ingin melihat putraku! Minggir kalian!" Agneta berusaha menerobos walau sulit dan akhirnya mereka mencengkram kedua lengan Agneta. "Lepaskan aku! Aku harus melihat putraku!" teriak Agneta memberontak.
"Mohon maaf Nyonya, tetapi atas perintah tuan Dave anda tidak di perbolehkan menemui putra anda," ucap salah satu pria berbadan tegap itu, membuat Agneta mengernyit bingung.
"Apa maksud kalian!!!" Bentak Agneta. "Dia putraku! Apa hak kalian melarangku melihat putraku sendiri!"
"Tapi ini atas perintah tuan Dave," jawab salah satu pria berpakaian hitam.
"Aku tidak perduli! Sekarang lepaskan tanganku dan biarkan aku menemui putraku!" Agneta terus berontak mencoba melepaskan dirinya walau sangat sulit.
Dan saat itu juga pintu ruangan di hadapan mereka terbuka lebar dan sosok Dave keluar dari sana. "Lepaskan dia!" perintah Dave. Akhirnya mereka melepaskan cengkalan mereka dari tangan Agneta. Agneta menatap penuh kekesalan dan amarah pada Dave yang tetap menampilkan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Biarkan aku menemui putraku!" ucap Agneta seraya melewati tubuh Dave. Belum sempat Agneta memegang knop pintu, Dave sudah menarik pergelangan tangan Agneta dan membawanya ke sebelah kamar ruangan Regan.
Agneta langsung menepis pegangan Dave dan mundur menjauh saat keduanya sudah masuk ke dalam ruangan itu. "Apa lagi maumu Dave? Aku hanya ingin melihat putaku dan melihat keadaannya! Jangan terus memepersulitku seperti ini!" Agneta sudah tak tahan lagi dengan segala sikap Dave. Dia butuh Regan dan dia harus melihat Regan sekarang juga. Tak perduli dia harus melawan seorang devil seperti Dave.
Dave masih diam membisu dengan tatapan tajamnya yang mampu menusuk tepat ke dalam retina mata Agneta. Agneta mencoba membalas tatapan itu dengan lantang walau sebenarnya dirinya merasa terintimidasi, tetapi untuk memperjuangkan anaknya dia tidak akan pernah mundur atau merasa takut.
"Bukan aku yang mempersulitmu, tetapi kamu yang mempersulit kita," ucap Dave dengan geraman kecil.
"Lihat di sana!" tunjuk Dave pada sisi ruangan dimana pembatasnya terbuat dari kaca bening hingga mampu memperlihatkan sesuatu yang ada di seberang ruangan. Agneta berkaca-kaca meihat sosok putranya yang terbaring lemah di atas bangsal rumah sakit dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. "Dua hari ini, dia tidak mau makan, dia terus menyebut namamu," ucap Dave.
"Kau yang melarangku menemuinya, DAVERO!" ucap Agneta penuh penekanan.
"Kau terlalu mengulur waktu Agneta, dan aku tidak suka menunggu!" ucap Dave penuh penekanan.
"Apa maksudmu?"
"Sekarang jawablah keputusanmu, menikah denganku atau melupakan Regan untuk selama-lamanya. Karena aku akan membawanya pergi dari negara ini dan membuatnya melupakanmu selamanya."
Agneta memekik kaget mendengar penuturan Dave yang sangat kejam bahkan air matanya turun membasahi pipi. "Kau sungguh seorang iblis, Dave! Kau benar-benar tidak memiliki hati, sampai tega memisahkan ibu dengan anaknya!" ucap Agneta dengan sangat emosi. "Kau jahat!" Agneta hendak menampar Dave tetapi Dave lebih dulu menahan pergelangan tangan Agneta hingga wajah mereka berjarak sangat dekat. Agneta menatap penuh kebencian pada Dave. Agneta kembali menepis pegangan tangan Dave pada tangannya hingga terlepas.
"5 tahun lalu kau yang membuang kami, dan sekarang dengan seenaknya kau ingin merebutnya dariku! Bukankah accident itu tak pernah kau harapkan? Bukankah kehadiran Reganpun tak pernah kau pikirkan dan harapkan? Jadi kenapa sekarang kau menghancurkan hidupku lagi! Kenapa DAVERO!" bentak Agneta diiringi air matanya yang jatuh membasahi pipi.
"Kau lebih kejam dari seorang iblis!"
"Bukan aku yang kejam tetapi kamu yang terlalu banyak membuang waktuku. Dan aku tidak suka menunggu terlalu lama, jadi sekarang tentukanlah pilihanmu," ucap Dave tetap pada pendiriannya.
"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau melakukan ini? Aku hanya ingin hidup berdua dengan Regan. Kenapa kamu terus mempersulitnya?"
"Karena aku tidak ingin membiarkanmu hidup berdua dengan Regan sampai kapan pun juga."
Agneta menatap benci pada sosok Dave di hadapannya. "Kamu hanya memuaskan dirirmu sendiri dengan menghancurkan hidupku. Kamu ingin melihat aku hancur, kan?" pekik Agneta dengan sangat emosi. "Kamu memanfaatkan Regan untuk semakin menghancurkanku! Begitu bukan? Kalau kau memang ingin hidup bersama kami, kemana saja kau selama 5 tahun ini!"
Dave hanya menampilkan seringainya. "Terserah padamu. Yang jelas, besok kamu harus menikah denganku atau tidak akan pernah bertemu dengan Regan."
Dave terkekeh kecil tetapi terdengar menyeramkan. "Kau sungguh mengerti aku, Neta. Sekarang bersiaplah untuk pernikahan kita besok. Asistenku sudah menyiapkan segalanya dan kamu bisa menemui Regan setelah kita menikah. Jadi, sekarang kembalilah ke penthouse."
"Aku ingin menemui Regan saat ini juga!" ucap Agneta.
"Tidak bisa Agneta! Sesuai perjanjian, setelah kau menjadi istriku maka kau boleh menemui putraku!" Dave tersenyum licik dan berlalu pergi tanpa mau mendengar protesan dari Agneta lagi.
Agneta hanya menatap benci punggung Dave yang menghilang di balik pintu. Seketika kedua lututnya terasa lemas dan tatapannya tertuju pada Regan yang terbaring lemah, ingin sekali dia memeluk dan mencium putranya tetapi keadaan seakan mempersulitnya. Air matanya mengalir membasahi pipi, rasanya sangat sakit, kenyataannya dia tidak memiliki pilihan apapun. Dia sungguh tak berdaya, dan selalu saja terdominasi oleh iblis seperti Dave.
***
Disebuah gereja yang ada di Jakarta, Agneta dan Dave melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Tak ada yang mengetahui pernikahan mereka kecuali Kay dan Key. Bahkan Agneta belum sempat memberitahukan kabar ini kepada Sonya maupun Aiden. Ini terlalu mendadak dan Agneta tak memiliki waktu untuk memberitahu mereka. Semalaman Agneta tak bisa berhenti memikirkan Regan. Dan mungkin inilah jalan takdirnya, kembali masuk ke dalam Neraka dan akan semakin tersiksa oleh iblis jahat ini.
Dave mengucapkan janji suci pernikahan di depan pendeta begitupun dengan Agneta hingga pendeta itu mengumumkan bahwa mereka telah sah menajadi sepasang suami istri. Ada secuil kebahagiaan di dalam hati Agneta yang segera ia enyahkan mengetahui dirinya kini menjadi seorang Nyonya Wiratmaja. Dan penyiksaannya akan di mulai dari sekarang. Ia dapat melihat sedikit senyuman terukir di bibir Dave yang hari ini terlihat begitu tampan dengan setelan tuxedo hitamnya. Tuxedo itu membalut pas tubuh kekar Dave yang indah.
Agneta dan Dave masih berdiri saling berhadapan, seseorang menyerahkan sepasang cincin pernikahan. Agneta menatap cincin berlian indah di depannya, bahkan ia tidak tau kalau Dave sudah menyiapkan itu. Dave menyematkan cincin itu di jari manis Agneta begitu juga sebaliknya. Hingga Dave membuka syler Agneta dan semakin mendekat, Agneta berdiri kaku saat kedua tangan Dave membelai kedua rahangnya dan bibirnya menempel pada bibir Agneta. Cukup lama Dave mencium dan sedikit memangut bibir Agneta hingga ia melepaskannya dan tatapan mereka berdua beradu satu sama lain.
Agneta masih merasa ini semua mimpi karena semuaya begitu mendadak dan tiba-tiba. Agneta terpaksa menerima pernikahan ini semata-mata hanya untuk Regan, walau di hatinya ada secuil kebahagiaan, tetapi ia sudah mengenyahkannya. Karena hanya akan ada kebencian untuk Dave.
Mereka lalu menandatangani susat-surat pernikahan, setelahnya mereka pergi ke tempat Regan di rawat sesuai perjanjian. Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Agneta sibuk menatap keluar jendela memikirkan keadaan Regan sedangkan Dave seperti biasanya masih dengan ketenangannya yang penuh misteri.
Sesampainya di rumah sakit, Agneta langsung memeluk tubuh Regan yang tampak lebih baik.
"Bunda," panggil Regan dengan suara lemahnya.
"Bunda di sini sayang," ucap Agneta mengecupi kepala Regan.
"Bunda kemana saja? Egan kangen," gumamnya dengan manja.
"Maafkan Bunda, sekarang Bunda tak akan pernah meninggalkanmu lagi."
"Janji Bunda?" tanya Regan menengadahkan kepalanya menatap Agneta yang mengangguk pasti. "Bunda dan Ayah abis nikah yah? Kok gak ajak Egan?" ucapnya dengan lucu.
"Kamu sedang sakit," ucap Dave yang kini memilih duduk di sofa yang ada di dalam ruangan.
"Egan kan kuat, kata aunty sustel demam Egan udah tulun dan Egan udah sembuh!" protes Regan.
"Sudahlah sayang, yang jelas sekarang kan Bunda dan Ayah langsung ke sini." Agneta sedikit tercengang mendengar ucapannya sendiri yang memanggil Dave dengan kata Ayah pada Regan. Seakan secara tidak langsung dia menerima keberadaan Dave sebagai Ayah Regan.
"Kalau kamu sudah sembuh, kita akan liburan bersama," ucap Dave membuat Agneta menoleh padanya dengan kernyitan di dahinya.
"Itu tak ada dalam perjanjian!" ucapnya begitu pelan.
"Aku tidak mengajakmu honeymoon, Neta. Aku mengajak putraku liburan, kalau kau tidak mau ikut tak masalah. Aku akan pergi berdua dengan Regan." Dave berucap dengan sangat tenang.
"Aku tak akan membiarkan kau berdua dengan Regan!" ucapnya penuh penekanan.
"Jadi kalau memang mau ikut tidak perlu protes." Ucapan Dave sungguh membuat Agneta geram. Sedangkan Regan hanya menatap polos pada kedua orangtuanya.
***