
Pandu hanya bisa melihat ke billboard dengan hati yang sakit. Terpampang dengan ukuran besar pria berkumis tipis dengan tato di sekujur leher dan tangannya. Senyuman pria di foto itu seakan sebuah ejekan yang melukai harga dirinya.
Sudah dua tahun ia menjadi budak DJ Foxtrot, nama panggung pria berkumis tipis itu. Meski beberapa orang di lingkaran mereka menyebutnya dengan istilah yang lebih canggih, yaitu Ghost Producer, dia tetap merasa diperlakukan sebagai budak.
Pandu menciptakan hampir semua lagu hits yang dipopulerkan oleh DJ Foxtrot tanpa mendapatkan kredit secuil pun. Ia juga yang merancang sebagian besar konsep album dan konsepnya. Dan dengan alasan agar DJ Foxtrot lebih memahami setiap lagunya, ia dijadikan sebagai manajer pribadi yang bertugas sebagai pengatur jadwal dan supir.
Sayangnya, ia terlalu bodoh untuk menyadari jika dirinya ditipu oleh sang DJ dan pihak manajemen. Semua karena mentalitas miskinnya sehingga ia menerima setiap tawaran yang diajukan padanya demi uang, meski itu mengkhianati idealismenya. Andai saja ia memiliki sedikit saja aura bintang yang membuat orang-orang tertarik padanya, ia pasti bisa ‘menjual’ dirinya dengan bakat luar biasa.
Bukannya ia tidak pernah mencoba untuk meniti karier di depan layar. Ia pernah mencoba memperkenalkan diri sebagai seorang DJ untuk beberapa saat. Tapi ternyata tidak ada sambutan yang baik untuknya. Bahkan akun Instagram yang ia gunakan sebagai wadah untuk berkomunikasi dengan fans sepi dengan followers. Hanya keluarga dan teman dekatnya saja yang mengikuti akun tersebut.
Selama ini ia menanggung penderitaan akibat penindasan yang diberikan oleh DJ Foxtrot dan manajemen karena ia merasa sudah cukup bahagia ketika karya-karyanya bisa dinikmati oleh orang lain, meski bukan atas namanya. Hanya saja, ia menyesali keputusan itu ketika DJ Foxtrot menghina musiknya yang tidak berkembang dan mulai membosankan. Puncaknya, ketika manajemen memutus kontraknya secara sepihak dan mencari produser baru.
Kini otaknya dipenuhi dengan rencana-rencana balas dendam. Tapi ia merasa semua rencana itu hanyalah sikap kekanak-kanakan yang akan memberikan akibat yang lebih merugikan dirinya ketimbang yang akan didapat pihak manajemen. Misalnya saja ide untuk membuat kebakaran di manajemen. Bagaimana jika gagal lalu ia tertangkap? Jikapun berhasil, ia tetap akan mendapatkan akibat buruk yang paling besar.
“Butuh bantuan untuk balas dendam?”
Pandu terkejut ketika menyadari seseorang sudah berdiri di depannya sambil tersenyum, menemaninya memandangi billboard berisi foto DJ Foxtrot. Wanita berkacamata hitam itu seakan sedang membaca isi pikirannya.
“Siapa kau dan apa maksudmu dengan balas dendam?”
“Aku adalah penyelamatmu dan aku tahu kau sedang dalam situasi yang mengizinkanmu untuk membalas dendam. Perlakuan mereka terhadapmu sangat kejam. Kau bukanlah sampah yang bisa dibuang seenak mereka.”
Pandu benar-benar terkejut. Wanita itu sepertinya sangat tahu dengan kondisinya. Pihak manajemen sangat ketat dalam menjaga rahasia tentang DJ Foxtrot yang memiliki ghost producer. Bahkan keluarganya sendiri tidak tahu apa yang selama ini ia kerjakan di sana. Jika wanita berkacamata ini tahu, kemungkinan dia berasal dari manajemen dan tentunya tahu bagaimana cara membantunya.
“Apakah kau benar-benar bisa membantuku membalas dendam?”
Wanita itu tertawa kecil sambil membuka kacamata hitamnya. Ia berhenti tertawa dan menyisakan senyuman manis. Kemudian ia memberikan sebuah kartu nama lalu berkata, “Kesuksesan adalah balas dendam terbaik untuk para mantan. Aku akan membuatmu lebih terkenal dibandingkan dengan DJ Foxtrot. Lagu-lagu ciptaanmu akan kubuat jadi terkenal dan mampu menghipnotis banyak orang.”
Pandu menerima kartu nama itu. Ia tidak ingin tertipu kedua kalinya yang menyebabkan hidupnya tersandera sebagai seorang budak tak berharga. Ia meminta kepastian dari wanita itu.
“Bagaimana aku bisa percaya padamu? Aku adalah orang yang mudah tertipu, kau akan menjadi orang yang sangat kejam jika menipuku ketika aku baru diperlakukan tidak adil seperti sekarang ini.”
Wanita itu mendekati Pandu dan memegang bahunya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tenang saja, aku juga mendapatkan keuntungan dari balas dendam ini. Takkan ada penipuan di sini. Ingat saja namaku sebagai satu-satunya orang yang bisa membantumu. Siren.”
* * *
Wajah Rosalia tak henti-hentinya menunjukkan kekhawatiran. Meski kondisi tubuh Grafit sudah membaik, ia merasa buruk karena telah melukainya.
“Sudahlah, tidak usah merasa bersalah. Saat itu kau sedang berada di bawah pengaruh hipnotis,” ujar Jonathan mencoba menenangkan Rosalia.
“Tapi seandainya aku tidak menciptakan senjata dengan materi Ungravity, aku tak perlu melukai Grafit seperti ini.”
Clara yang baru selesai mengobati luka-luka Grafit teringat akan sesuatu dan menatap Rosalia. “Ngomong-ngomong, kenapa kau menciptakan senjata dengan materi Ungravity? Apakah kau punya rencana untuk melawannya?”
“Tentu saja tidak. Itu hanya untuk berjaga-jaga.”
Rosalia terlihat ragu untuk menjawab. Kemudian ia berkata dengan perlahan, “Untuk menghadapi musuh yang berasal dari kaum Miel.”
Clara dan Jonathan tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. “Kenapa kau berpikiran demikian?”
“Sejak mendengar cerita tentang asal usul Grafit, aku khawatir ada kaum Miel lain. Bagiku, kekuatan yang dimiliki oleh Grafit sangat luar biasa. Seandainya ada orang lain yang memilikinya dan ia tak sebaik Grafit, tentu ia akan menjadi lawan yang sangat berbahaya.”
Clara dan Jonathan tidak memberikan respons selama beberapa detik dan hal pertama yang mereka lakukan setelah diam cukup lama adalah tertawa.
“Kau tak perlu takut akan hal itu. Kaum Miel hanya mewariskan kekuatan mereka pada satu orang setiap generasi dan sejak berabad-abad yang lalu, Grafit adalah kaum Miel pertama yang keluar dari hutan rahasia tempat mereka tinggal. Jadi, kau tak perlu mencemaskannya dan singkirkan senjata itu.”
“Tapi setelah aku dihipnotis seperti tadi, aku jadi berpikir kalau aku benar-benar membutuhkannya. Bagaimana jika suatu saat Grafit yang dihipnotis? Aku butuh sesuatu untuk menghentikannya.”
“Kau memang benar-benar bad girl. Bahkan kami harus berjuang agar G:0 melawanmu tanpa harus melukaimu. Sementara kau sangat gampang berpikir untuk melukai G:0 jika suatu saat ia terkena hipnotis.”
“Hei, itu adalah ideku untuk tidak melukaimu,” potong Jonathan.
“Baiklah, kita akhiri pembicaraan tentang itu. Sekarang mari kita pikirkan cara untuk menemukan Muzic Box. Yang pasti kita tak bisa lagi mempercayai anggota dewan Rama Wiryawan. Ia pasti telah memberitahu Muzic Box kalau kita akan mengunjunginya sehingga ia memasang jebakan berupa musik untuk menghipnotis Bad Girl.”
“Tapi kita harus tetap memberikannya pelajaran,” kata Rosalia dengan nada geram.
“Yang pasti kita tahu kalau Muzic Box memang mampu menghipnotis orang lain dengan musik. Pantas saja ia bisa mengendalikan perbuatan para pendengar lagunya. Untuk saat ini, kita harus berhati-hati dalam memilih lagu untuk didengar.”
“Muzic Box tidak bisa menghipnotis.” Tiba-tiba Grafit terbangun dan memberikan komentar yang sedikit membingungkan.
“Kenapa tidak? Kita sudah melihat apa yang telah dilakukannya pada Bad Girl.”
“Tapi hipnotis itu adalah jenis hipnotis yang mirip dengan yang dimiliki oleh Siren.”
Clara dan Jonathan terkejut. Mereka sudah lama tidak mendengar nama itu dan tak menyangka akan kembali mendengarnya sekarang. Sementara itu Rosalia yang tidak tahu apa-apa tentang Siren membelalakkan matanya pada Jonathan untuk meminta penjelasan.
“Siren adalah seorang penghipnotis yang hebat. Ia pernah membuat kami kewalahan. Untungnya, Grafit juga punya kemampuan hipnotis dan ternyata lebih hebat dari yang ia punya sehingga ia bisa dikalahkan. Ia juga adalah anggota Kraken.”
Mereka semua terkejut ketika Jonathan menyebut nama Kraken secara tak sengaja. Kemudian Clara, Jonathan dan Rosalia sama-sama mengecek berita terbaru melalui ponsel mereka hingga akhirnya mereka menemukan berita yang menunjukkan benang merah untuk semua peristiwa yang terjadi belakangan ini.
“Sudah kuduga. Jika Siren terlibat dalam kasus ini, berarti Kraken juga.”
“Menurut kabar terbaru, Kraken berencana untuk memberikan bantuan besar pada beberapa bank besar dengan jaminan berbagai aset penting.”
“Bukan hanya itu, mereka juga membeli banyak saham bank-bank tersebut yang harganya memang sedang anjlok.”
Skuad G:0 terdiam sejenak menyadari bahaya yang sedang mereka coba untuk padamkan malah semakin membesar. Mereka sadar, walau belum tahu secara detailnya, bahwa Kraken sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan melalui DJ Muzic Box. Organisasi itu sedang dalam perjalanan menguasai perbankan di Dragokarta. Jika mereka telah menguasai perbankan, mereka akan lebih mudah untuk menguasai sektor perekonomian. Dengan dukungan dari beberapa orang mereka di pemerintahan, bisa dikatakan jika mereka akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan Dragokarta sepenuhnya.