G:0

G:0
FOBIA



Kondisi ruangan gelap itu semakin panas. Pasokan oksigen semakin menipis sehingga membuat Grafit terlihat semakin panik. Tubuhnya yang gemetaran telah dibanjiri oleh keringat dan napasnya terputus-putus. Ia menggedor dinding-dinding kayu sempit yang membatasi ruang geraknya. Tak ada yang mendengarnya dan sepertinya takkan ada.


“Non! Non!”


Kembali ia meneriakkan kata-kata itu, meski ia tahu kalau teriakannya tersebut akan berakhir sia-sia. Tapi ia tetap meneriakinya sambil berharap ada keajaiban yang datang. Dan sekali lagi ia harus kecewa dengan harapannya. Ia sadar saat ini ia merasakan sesuatu yang pernah dengan angkuhnya ia katakan tak pernah merasakannya, yaitu ketakutan.


Efek dari kekurangan asupan oksigen mulai terasa. Kepalanya pusing dan mual. Jantungnya berdebar kencang dan ia semakin sulit bernapas. Tak ada lagi gedoran, ia hanya mampu mencakar dinding-dinding ruangan itu. Tak ada lagi teriakan, ia hanya mampu bergumam. Ia benar-benar sudah mulai lelah dan kesadarannya perlahan menghilang. 


Halusinasi mulai menguasai pikirannya. Kilas balik kehidupannya, terutama saat masih berada di hutan rahasia, terproyeksikan di otaknya. Kemudian halusinasinya berubah, Dalam khayalannya saat ini, yang ada di hadapannya hanyalah sosok Clara yang membuka lebar tangannya seakan memintanya untuk memeluk.


Suara Grafit tak lagi bisa keluar. Mulutnya telah kering. Tapi ia berusaha untuk memanggil seseorang, yaitu Clara.


*          *         *


Malam sebelumnya


“Istilahnya adalah akrofobia,” kata Jonathan ketika Grafit bertanya kenapa ada orang yang sangat takut dengan ketinggian. Tentu saja, bagi pengendali seperti Grafit, ketinggian tidak pantas untuk ditakuti. “Kau tidak perlu heran. Banyak fobia yang jauh lebih aneh dari itu.”


“Apa itu fobia?” tanya Grafit.


“Fobia itu adalah ketakutan berlebihan dan terkadang tidak realistis terhadap suatu benda atau situasi. Terkadang yang ditakutkan itu tidak berbahaya, misalnya hujan, cermin, badut, balon, air, matahari dan sebagainya.”


Grafit mengangguk seakan menunjukkan dirinya sudah mengerti. Namun ia berhenti mengangguk dan mengernyitkan dahi seakan menunjukkan dirinya masih belum mengerti. Lalu ia bertanya, “Apa itu realistis?”


Jonathan menghela napas panjang dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan di luar tema fobia karena terkadang sangat melelahkan untuk melayani kepolosan dan rasa penasaran Grafit. Ia kembali meneliti pria misterius yang menghipnotis papa Clara saat kasus di fashion week lalu. Sudah lebih seminggu, tapi ia belum mendapatkan hasil yang mendekati kata memuaskan.


“Kau punya fobia?” tanya Grafit yang membuat Jonathan tertarik dan mau tak mau harus melayani pertanyaan Grafit lagi. “O ya, kau takut ditipu sehingga tidak mau mengangkat telepon dari nomor yang tak dikenal, kan?”


“Itu bukan takut, tapi waspada.” Jonathan tidak terima karena dituduh takut. “Hmmm, sepertinya tidak ada. Walaupun lemah, aku cukup pemberani. Bahkan tiap pulang dari sini, meski masih subuh, aku selalu  melewati area pemakaman yang terkenal angker.”


Kemudian mereka mendengar suara pintu dibuka. Pasti Clara. Wanita itu datang dengan wajah yang terlihat letih. Ia langsung merebahkan dirinya di atas sofa dan tak memedulikan kedua rekannya itu. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya dan menatap Jonathan.


“Hei, kau tidak ketemu dengan Joice? Dia mencarimu?”


“Sudah seminggu terakhir aku tidak melihatnya. Dia selalu pergi bekerja sebelum aku pulang dan pulang setelah aku pergi bekerja. Memangnya ada apa?”


“Dia marah padamu. Katanya, kau memintanya untuk mengenalkanmu pada temannya yang bernama Sarah. Dua hari yang lalu wanita itu meneleponmu tapi kau tidak mengangkatnya. Karena hal itu, Joice merasa tidak enak dengan temannya tersebut.”


“Biarkan saja. Kau tidak akan bisa menahannya,” kata Clara.


“Memangnya dia kenapa, Non?”


“Dia memiliki fobia tak akan memiliki kekasih. Jadi, jika ada kesempatan, ia akan berjuang untuk mendapatkannya.” Clara mengarahkan pandangannya pada Grafit. “Berbicara tentang fobia, besok kau ada pemotretan. Temanya adalah Claustrophobia.”


“Klaustu, takut apa itu? Takut pada Santa Claus?”


Clara berusaha menahan senyumnya mendengar ucapan polos Grafit. Itu adalah takut terhadap ruangan yang sempit. Jadi konsepnya, kau akan dikurung di sebuah peti mati dan kau harus menunjukkan wajah takut.”


“Ah, itu pasti akan sulit karena aku tidak pernah takut.”


“Baiklah, baiklah, aku akan mengirim foto ekspresi orang ketakutan dan malam ini kau harus mempelajarinya.”


*          *         *


Grafit berjalan mengikuti langkah cepat Clara. Menurut perkiraan waktu, mereka akan terlambat tiba di lokasi pemotretan dan Clara tidak menyukainya. Baginya, ketika melakukan pekerjaan profesional, ia harus bersikap profesional juga dan terlambat bukanlah bagian dari itu.


“Bukankah kau sudah memberitahu Dicky kalau kita akan terlambat dan dia tidak keberatan?” tanya Grafit yang sedikit tertekan karena sejak tadi Clara memarahinya. Padahal alasan mereka terlambat adalah pekerjaan dadakan Clara di sekolah yang mengharuskannya pulang sedikit lebih lama.


“Tetap saja kita tidak boleh terlambat. Kau harus ingat, bukan hanya kita yang memiliki kehidupan di pemotretan itu. Fotografer, make up artist, fashion stylist, hair stylist dan staf-staf lainnya, mereka juga punya kegiatan lain di luar pemotretan itu. Keterlambatan kita akan merusak rencana yang sudah mereka buat untuk hidup mereka. Jika aku mengalaminya, aku akan sangat marah. Sangat marah!”


Grafit menyesal karena telah menyampaikan pendapatnya. Seharusnya ia sudah tahu kalau Clara selalu punya alasan kuat yang tak terbantahkan dari prinsip yang ia pertahankan. Akhirnya, ia hanya diam saja sambil terus mengikuti Clara yang sedang memaki pak Dodo karena tadi mendadak mengadakan rapat untuk persiapan acara perpisahan yang sebenarnya tidak terlalu urgent.


Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di sebuah tempat yang memberikan kesan seram. Wajar saja, karena itu adalah area pemakaman. Grafit memelankan langkahnya dan melihat ke sekeliling dengan rasa kagum sementara Clara masih berjalan cepat menuju rombongan yang dikomandoi oleh Dicky. Sesampainya di sana, ia langsung melemparkan kata-kata maaf.


Grafit segera didandani. Untuk pemotretan kali ini, ia akan berbaring di sebuah peti mati layaknya tokoh seram bernama drakula. Saat sang hair stylist melakukan pekerjaan di rambutnya, Grafit menirukan kembali ekspresi yang telah ia latih tadi malam.


Kemudian perias wajahnya duduk di hadapannya dan meletakkan kotak perak kecil berisi make up di dekat mereka. Ia membuka kotak tersebut dan mengambil beberapa benda untuk dipoles di wajah Grafit. Wanita itu meminta Grafit untuk berhenti menggerak-gerakkan wajahnya. Setelah itu, Grafit mematung tanda patuh dengan permintaan sang make up artist.


Mereka pun saling bertatapan. Tiba-tiba Grafit merasakan sesuatu yang aneh. Sang make up artist seperti menatapnya dengan arti yang lain. Lalu wanita itu tersenyum padanya. Bukan senyum yang ramah, tapi mengandung sesuatu yang jahat dan mengerikan.


Tak disangka, wanita itu pun berbisik, “Sudah kuduga, kau adalah G:0”