G:0

G:0
CASE CLOSED



Joice mengklakson mobilnya dengan kesal. Sementara itu Grafit hanya terdiam seraya merapatkan tubuhnya ke pintu mobil di sebelahnya. 


"Kenapa? Jangan takut, aku hanya sedikit kesal saja. Biasanya aku lewat jalan ini sebelum semacet ini," kata Joice. "Entah apa yang terjadi padaku. Padahal menurut perkiraanku dari apartemen Clara tadi, kita tidak perlu melewati kemacetan ini. Sekarang entah bagaimana sudah jam segini."


Grafit tidak berani bersuara. Ia terlihat ketakutan. Ada sesuatu yang ia simpan dalam hatinya. 


Joice menyalakan musik untuk  membuat Grafit merasa lebih nyaman. Ia membuka laci dashboard yang ada di depan Grafit dan mengambil pelembab bibir. Katanya, kemacetan membuat bibirnya kering.


Saat hendak menggunakannya, pelembab bibir itu tak sengaja terlepas dari tangan Joice. Secara spontan, Grafit menerbangkan benda itu dengan kekuatannya. Joice terkejut dan hampir menjerit saat menyaksikannya. Untung saja Grafit langsung menghilangkan ingatan tersebut dan membuatnya pingsan. 


Ini adalah ketiga kalinya Grafit melakukan hal tersebut di sepanjang perjalanan ini. 


*          *         *


"Ada apa?"


[Di mana Joice?]


Grafit baru saja meninggalkan Joice di sebuah restoran karena ia sedang ada janji dengan seorang pria yang katanya adalah teman lamanya. Kemudian ia menjawab pertanyaan Jonathan, “Di restoran dekat sini. Memangnya kenapa?”


[Coba jumpai dia lagi. Aku ingin berbicara padanya karena ada seseorang yang kami curigai pelakunya.]


“Benarkah? Siapa tersangkanya?” tanya Grafit penasaran sambil berbalik menuju restoran tempat ia meninggalkan Joice.


[Kemungkinan salah satu dari kedua anggota klub yang masih hidup. Atau bahkan keduanya. Jangan sampai kehilangan dia. Awasi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Terutama dengan pria yang terlihat mengenalnya.]


Grafit kembali melihat ke arah Joice dan menyebut huruf ‘e’ panjang. “Sepertinya aku kehilangan dia.”


Jonathan menjerit dan mengeluarkan makian pada Grafit. Clara langsung mengambil alih  alat komunikasi dan segera memberi perintah pada Grafit. Yang paling pertama adalah mengaktifkan kamera di kacamatanya.


[Segera cari tempat yang tidak ada orang dan ganti kostum. Aku akan mengirim alamatnya padamu.]


Grafit berlari melewati gang kecil sambil mengubah kostumnya, seperti yang telah ia latih selama ini. Tak sampai semenit, kostumnya telah berganti. Kemudian ia terbang dan mendarat di salah satu atap gedung tinggi. Kacamata sebelah kirinya menayangkan sebuah rute yang dikirimkan oleh Clara. Setelah membaca sebentar, ia melompati gedung-gedung tinggi di Dragokarta.


Di markas, Jonathan memandang Clara dengan heran. Padahal sebelumnya mereka hanya memiliki tersangka dan belum ada bukti kuat yang menunjukkan jika ia adalah pelaku pembunuhan berantai. Jonathan semakin heran karena alamat yang diberikan bukanlah alamat dari para tersangka tadi.


[Aku sudah berada di depan rumah itu. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menerobos masuk?]


“Jangan. Kita masih belum tahu apakah itu benar-benar rumah pelakunya. Jika ternyata kita salah, itu akan membuat citra buruk bagi G:0. Kau harus mendekati rumah itu dan mengintip bagian dalamnya,” titah Clara.


Jonathan masih belum bisa berkata-kata. Ia menatap Clara yang sedang serius mengamati layar monitor pengawas. Beberapa kali ia melihat ke arah ponselnya lalu kembali memberi perintah pada G:0.


“Memangnya itu rumah siapa? Aku tahu itu bukan rumah Budi atau Sapto.”


Clara berhenti memberi perintah pada G:0 dan memberikan fokusnya pada Jonathan. Ia tahu, rekannya itu sedang bingung dengan apa yang baru dilakukannya.


"Itu adalah rumah Anita. Dulu rumah itu sering dipakai oleh klub mereka sebagai basecamp. Aku pernah mendengar tentang tempat itu dari Joice."


"Apa tujuan Budi dan Sapto membawa Joice ke sana?"


“Bukan, pelakunya bukan mereka, melainkan mantan suami Anita. Kau ingat? Hampir semua pembunuhan memiliki jarak satu minggu dengan pembunuhan yang berikutnya. Hanya jarak waktu antara pembunuhan Anita dan Sisca yang jaraknya agak jauh. Itu karena pembunuhan Anita terjadi di luar rencana, sedangkan yang lainnya tidak. Mungkin ia tidak sengaja membunuh mantan istrinya. Tapi, untuk mengalihkan kecurigaan padanya, ia membunuh anggota klub lainnya. Mungkin di pembunuhan Anita, ia menjadi salah satu tersangka. Tapi ketika terjadi pembunuhan selanjutnya, di mana ia tidak memiliki hubungan dengan para korban, kecurigaan terhadap dirinya akan berkurang. Pernah baca novel karangan Agatha Christie yang berjudul ABC Murder? Sama seperti pelaku pembunuhan di novel itu, ia mengaburkan motif pembunuhannya dengan merancang sebuah pembunuhan berantai.”


Jonathan melongo karena tak menduga analisis yang diberikan oleh Clara. Lalu ia bertanya kembali, “Jadi, dia berencana untuk membunuh semua anggota klub?”


“Tidak, tidak semua. Ia takkan membunuh Budi yang ahli beladiri dan Sapto yang memiliki tubuh besar. Makanya, Joice akan menjadi korban selanjutnya dan yang terakhir. Kau tahu, di antara semua anggota klub, siapa yang tidak memiliki alibi yang kuat di setiap kasus pembunuhan? Tentu bukan para korban dan juga bukan Budi atau Sapto.”


“Maksudmu, Joice?”


“Bingo! Dia akan membunuh Joice dan melimpahkan semua kesalahan padanya. Mungkin ia akan membuat Joice seolah-olah bunuh diri.”


“Wah, kau keren sekali,” puji Jonathan yang membuat Clara sangat bangga.


[Eh, teman-teman, apakah kalian tidak ingat kalau sekarang nyawa Joice sedang dalam bahaya?]


Ucapan G:0 itu membuat mereka tersadar. Kemudian Jonathan menyuruh G:0 merogoh bagian ketiaknya, ada sebuah benda bulat kecil. Sesuai dengan perintah Jonathan, G:0 melempar benda itu melalui celah jendela. Setelah mendarat di lantai rumah, benda itu bergerak. Ternyata sebuah kamera pengintai karya terbaru Jonathan.


“Kenapa harus disimpan di ketiak?” tanya Clara sinis yang tak dijawab oleh Jonathan.


Jonathan mengendalikan benda itu dengan sebuah remot. Melalui monitor pengawas, mereka mengejek ke seluruh ruangan yang ada di rumah itu. Hasilnya nihil. Clara sempat kesal karena analisis hebatnya itu tidak terbukti.


Tiba-tiba fokus mereka teralihkan oleh sebuah pintu. Tidak ada celah yang bisa dimasuki oleh benda itu. Mereka sedang menghadapi jalan buntu. Untung saja Jonathan mendapatkan ide. Ia membuat kamera canggihnya itu membenturkan diri ke pintu beberapa kali. Rencana mereka berhasil karena seseorang membuka pintu dan mengintip dari dalam. Saat itu juga Jonathan langsung memasukkan benda itu melewati pintu yang sedikit terbuka tersebut.


Dan apa yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi. Ternyata pintu itu terhubung ke ruang bawah tanah. Mereka melihat Joice sedang terikat di sebuah kursi dan dalam keadaan pingsan. Pria tadi kembali menutup pintu dan menghampiri Joice.


“Benar, itu adalah mantan suami Anita,” kata Jonathan sambil melihat ke sebuah foto yang ia cari di internet.


G:0 mendobrak pintu depan dengan mudah. Ia segera masuk dan mencari pintu ruang bawah tanah. 


[Aku tak bisa menemukan pintunya.]


Clara dan Jonathan juga kesulitan menemukan kembali letak pintu itu. Memang, pintu tersebut tidak memiliki gagang dan warnanya senada dengan warna dinding.


Clara mendadak histeris ketika melihat mantan suami Anita mulai melilitkan tali di leher Joice dan menggantungnya di sebuah tiang tinggi. Tubuh Joice ditegakkan di sebuah kursi. 


"Benar tebakanku. Ia akan membuat seolah Joice adalah pelaku pembunuhan itu lalu membunuhnya dan merekayasanya seakan Joice menyesal dan bunuh diri di tempat yang penuh dengan kenangan bagi para anggota klub," kata Clara. 


"G:0, cepat! Joice sedang dalam bahaya!" teriak Jonathan. 


G:0 berpikir sejenak, kemudian dia meminta untuk dapat melihat keadaan di lokasi kejadian. Jonathan segera mengirim visual yang ditangkap kameranya ke kacamata G:0.


Kemudian G:0 mengarahkan telapak tangannya ke lantai sambil berjalan mengitari rumah itu. Langkahnya pelan dan konsentrasinya dalam keadaan penuh. 


Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia merasakan telah mengangkat sebuah benda, sama dengan kursi yang terangkat di belakang mantan suami Anita. G:0 pun segera mengambil posisi dengan berpatokan pasa kursi itu. 


[Aku sudah mendapatkannya.]


Kata-kata G:0 itu terucap bertepatan dengan ditendangnya kursi yang menopang tubuh Joice. Sontak hal itu membuat Joice terbangun, tapi sudah terlambat baginya untuk menyelamatkan diri. Tali itu sudah mencekik lehernya. 


G:0 langsung mengangkat tubuh Joice dari lantai atas. Mantan suami Anita terkejut melihatnya. Ia berusaha menarik tubuh Joice ke bawah. Untung saja G:0 segera menurunkan gravitasi tubuhnya hingga terbang. Setelah genggaman tangannya terlepas dari Joice, G:0 segera menjatuhkan tubuhnya ke lantai. 


[Aku hanya bisa mengangkat tubuh Joice. Aku tidak bisa melepas talinya.]


Joice juga kesulitan membuka simpul tali yang melilit lehernya. Tubuhnya memang masih lemah karena pengaruh bius.


"Tenang, biar aku tangani," kata Jonathan. "Ini akan menjadi tugas terakhir bagi kameraku. Cameron, meski hidupmu sebentar, kau sudah sangat berjasa besar bagi kami."


"Kau menamainya?" tanya Clara sinis, yang tak dihiraukan juga oleh Jonathan.


Kamera itu tiba-tiba berputar dan melaju ke arah Joice hingga akhirnya memotong tali melilit leher Joice. G:0 menurunkan Joice secara perlahan. Gadis itu segera berlari menuju pintu keluar. Tak berapa lama, datang beberapa polisi yang telah dihubungi oleh Clara sesaat setelah mereka memastikan keberadaan Joice di tempat itu. Salah satu polisi segera membawa Joice ke luar gedung dan polisi yang lain segera menuju ruang bawah tanah lalu menangkap mantan suami Anita. 


Sementara itu, G:0 sudah tidak ada lagi di sana.  


*          *         *


"Grafit, di mana kamu? Ayo kita berangkat."


Joice menekan bel apartemen Clara sambil berteriak. Si empunya apartemen merasa terganggu dan keluar dengan wajah kesal. Ini adalah akhir pekan, seharusnya ia bangun dua jam lagi? 


"Ada apa dengan Grafit? Bukankah pembunuhnya sudah tertangkap? Jadi kau tidak butuh Grafit lagi."


"Siapa bilang? Aku masih butuh Grafit. Nyawaku masih terancam," celoteh Joice santai. "Bercanda. Bosku mengadakan acara ulang tahun dan aku butuh pendamping. Saat Grafit menemaniku, aku sudah sesumbar dengan teman-teman kerjaku kalau aku punya pacar. Jika di acara itu mereka melihatku sendirian, mereka akan menghinaku."


"Itu masalahmu. Pokoknya aku takkan ijinkan Grafit pergi denganmu lagi."


Joice terus membujuk, namun Clara bersikeras. Tak lama kemudian, Grafit dan Jonathan baru tiba dari jogging. 


"Grafit, kau mau menemaniku ke pesta, kan?" todong Joice sambil memeluk tangan Grafit. 


"Eh, mau. Aku tidak keberatan," ujar Grafit merasa tidak enak menolak, meski Clara sudah memelototinya. 


"Nah, ini baru lelaki sejati." Joice sangat senang mendengar jawaban Grafit. 


"Lelaki sejati itu G:0. Dia telah menyelamatkanmu. Jika tak ada dia, mungkin saat ini kau sudah di liang lahat," celetuk Jonathan. 


"G:0? Ya, aku memang pernah diselamatkannya, tapi itu hanya kemungkinan. Aku tidak melihatnya secara langsung. Bisa jadi bukan dia, atau dia tapi tidak sengaja. Buktinya, aku tidak melihat dia di sana."


Clara dan Jonathan berada dalam keadaan siap. Kali ini mereka takkan membiarkan Joice menghina G:0 lagi. 


"Ia pasti pergi setelah menyelamatkanmu karena kerendahan hatinya," kata Clara. 


"Kau pernah lihat pahlawan-pahlawan super yang ada di komik atau televisi? Rata-rata mereka pergi setelah menyelamatkan orang."


"Halah, kenyataan tidak seindah apa yang ada di televisi. Jika dia normal, G:0 pasti bangga menunjukkan identitas aslinya. Mungkin saja ia hanyalah pria berkekuatan super tapi suka buang angin. Mungkin saja ia punya wajah yang sangat jelek sehingga harus ditutupi dengan topeng."


Tiba-tiba Grafit menyentak tangannya yang sedang dipeluk oleh Joice dan berjalan ke kamar dengan kesal. 


"Buang angin? Di tempat asalku, mengatakan orang suka buang angin adalah hinaan yang paling kejam."


Clara, Jonathan dan Joice hanya melongo mendengar gerutuan Grafit.