
Sudah seminggu sejak sang menteri kembali ke ibukota. Sejak saat itu, tidak ada lagi tanda-tanda kemunculan Dancing Shadow atau anak buah Kraken lainnya. Clara dan Jonathan masih syok karena mengetahui betapa berbahayanya lawan yang mereka hadapi. Sementara itu Grafit merasa tidak puas karena belum berhasil menangkap Dancing Shadow. Ia semakin kesal jika mengingat jika ia pernah hampir berhasil melakukannya namun buyar karena kecerobohannya. Seandainya restoran Jepang itu tidak tutup, ia tidak akan sefrustrasi ini.
Hal itu yang membuat suasana apartemen Clara terasa suram. Si empunya apartemen hanya tergeletak seharian. Ia sangat bersyukur dengan pemecatan yang dilakukan pak Dodo padanya. Karena hal itu ia punya alasan yang kuat untuk tidak melakukan apa-apa sekarang. Sejak jam patroli G:0 berakhir, ia belum keluar dari kamarnya.
Jonathan memang mengerjakan proyeknya di markas karena paman Jason, adik dari ibunya, tiba dari kampung dan menginap di rumahnya untuk beberapa hari. Ia takkan bisa berkonsentrasi jika pamannya yang cerewet dan menyebalkan itu ada di sekitarnya. Tapi, meski sudah mengasingkan diri, ia tetap saja tidak bisa berkonsentrasi. Berkali-kali program yang ia buat mengalami bug. Ia tidak pernah seperti itu sebelumnya.
Sementara itu Grafit hanya melayang-layang di udara dengan pikiran kosong. Ia mencoba tidur, tapi tidak bisa.
Ponsel Jonathan berdering. Ia melihat ada nama Clara di layar. “Ada apa?”
[Tolong ambilkan paketku. Pengantar paketnya sudah di depan sejak tadi.]
Jonathan pun sadar kalau bel berbunyi dari tadi. Sepertinya ia sempat kehilangan kesadaran.
“Malas. Kenapa tidak kau saja yang ambil? Kau kan di sini juga.”
[Aku tidak menggunakan make up. Jika aku yang ambil, aku harus berdandan dulu dan itu memakan waktu lama.]
Jonathan berjalan menuju pintu dengan langkah yang sangat berat. Ketika baru keluar dari markas, ia melihat Grafit. “Hei, tolong ambilkan paket Clara. Pengantarnya sudah menunggu di depan pintu.”
“Kau saja. Kau kan sudah dekat dengan pintu,” jawab Grafit cuek.
“Tolonglah. Kepalaku sangat pusing. Aku akan pingsan jika berjalan beberapa langkah lagi.”
“Tidak mau. Kau saja. Kau yang disuruh oleh Clara.”
Mereka pun bertengkar layaknya anak kecil. Tak berapa lama, Clara keluar dari kamarnya dengan wajah penuh amarah dan tanpa make up. Ia berjalan melewati Jonathan dan Grafit menuju pintu depan, mengambil paket dari pengantarnya, lalu kembali dan berdiri di antara kedua rekannya itu untuk membentak, “Mengambil paket di depan pintu saja kalian tidak bisa, bagaimana kalian bisa mengalahkan Kraken?!”
Clara berjalan menuju kamarnya dan membanting pintu. Sementara itu Jonathan dan Grafit saling memandang karena tak menyangka Clara akan semarah itu.
“Fit, aku mau tidur di sofa. Bisakah kau terbangkan aku sampai ke sana?”
* * *
Grafit menyusuri jalanan kota. Demi menghilangkan mood-nya yang buruk, Clara menyarankannya untuk keliling kota. Padahal itu hanya alasan agar Grafit mau membelikan persediaan mi instan mereka di toko kelontong.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan. Beberapa orang berdiri di atas trotoar sambil menengadahkan kepala. Grafit ikut menengadahkan kepalanya dan melihat ada seorang anak yang sudah berdiri di atas pagar balkon. Beberapa orang berteriak setiap kali anak itu bergerak. Grafit sudah bersiap untuk menyelamatkan anak itu. Tapi ia harus berhati-hati agar tidak ada yang melihatnya sedang mengendalikan gravitasi.
Sebuah mobil pemadam kebakaran datang. Mereka mempersiapkan sebuah jumping sheet untuk dibentangkan tepat di bawah balkon.
"G:0, tolong aku!" teriak anak itu yang kemudian melompat dari balkon apartemennya.
Untung saja, para pemadam kebakaran berhasil membentangkan jumping sheet tersebut sebelum si anak melompat. Anak kecil itu selamat dan Grafit bersyukur tidak harus menggunakan kekuatannya.
Namun media menayangkan berita yang telah ditaburi banyak 'bumbu'. Mereka membahas tentang kepantasan G:0 sebagai panutan anak-anak. Bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi lagi karena mereka ingin bisa terbang dan mengendalikan gravitasi.
Clara, Jonathan dan Grafit sama-sama menonton berita tersebut melalui televisi dengan pose malas di atas sofa. Mereka segera mengganti channel setiap kali wajah kapten Rian muncul. Sayangnya, di hampir semua acara berita tentang kejadian tadi menyiarkan wajah menyebalkan itu.
Hingga mereka tersangkut di sebuah saluran berita yang menayangkan liputan khusus tentang anak yang melompat tadi.
Diketahui nama anak itu adalah Prawira. Ia adalah penggemar berat dari G:0 dan sering dirundung teman-temannya karena sering menirukan gaya pahlawan super idolanya tersebut.
"Kasihan sekali anak itu. Tapi tetap saja media tidak bisa menyalahkan G:0 karena ia melompat," gerutu Clara.
"Benar. G:0 juga bukan dewa. Jadi ia tidak boleh disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan anak itu. Bukankah begitu, Grafit?"
Jonathan melihat ke arah Grafit tadi duduk. Ternyata sudah kosong. Clara bilang Grafit baru saja pergi patroli.
"Ah, iya. Sekarang sudah waktunya patroli. Argh, betapa malasnya aku."
Clara dan Jonathan mulai bangkit dari sofa dan berjalan ke arah markas dengan pelan seakan sedang mengangkat beban yang sangat berat.
Tenaga mereka mendadak kembali ketika mereka melihat sebuah pemandangan yang tak biasa di layar monitor. Seperti sebuah kamar rumah sakit. Di sana ada seorang anak kecil yang sedang terbaring di ranjang.
"Hai, kau yang bernama Prawira itu, ya?"
Anak itu menoleh dan menunjukkan ekspresi senang ketika mengetahui yang sedang memanggilnya adalah G:0. Tapi wajahnya mendadak berubah sedih dan ia kembali berbaring dan membalikkan badannya. “Mamaku benar, kau takkan bisa menolongku. Kupikir kau bisa mengalahkan apapun, termasuk kanker.”
G:0 bingung harus melakukan apa lagi. Ia pun duduk di tepi ranjang dan menepuk pundak anak itu. Tapi anak itu tidak menghiraukannya.
“Dulu aku juga pernah marah sepertimu sekarang,” kata G:0. “Aku menangkap seorang penjambret dan memasukkannya ke dalam penjara.”
G:0 melirik anak itu. Tidak ada reaksi apapun, tapi kepalanya lebih miring seakan sedang memasang telinga untuk mendengar cerita idolanya.
“Beberapa hari kemudian aku baru tahu kalau penjambret itu adalah ayah dari seorang anak yang memiliki kelainan di jantungnya sehingga harus dioperasi. Ia tidak memiliki cukup uang dan kebetulan ia melihat seorang wanita sedang tidak waspada memegang tasnya. Itu adalah tindakan kriminal pertama yang dilakukannya. Dan kau tahu apa yang membuatnya lebih menyedihkan? Ternyata wanita pemilik tas itu adalah istri dari pejabat yang terkenal suka korupsi. Kau tahu korupsi? Itu adalah mencuri uang orang lain karena pekerjaannya yang hebat. Kata temanku, kemungkinan yang ia korupsi beratus kali lipat dari yang penjambret tadi ambil dari tas istrinya.”
Anak bernama Prawira itu kini benar-benar menoleh ke arah G:0, tapi ia menutup mata seakan berpura-pura sedang tidur. G:0 tersenyum melihatnya. Sementara itu, Clara dan Jonathan merasa sedih karena sangat ingat dengan kisah itu.
“Aku sempat ingin berhenti menjadi pahlawan super karena menurutku semua ini sangat tidak adil. Aku marah karena mungkin sebelumnya aku menangkap orang-orang baik yang terpaksa melakukan kejahatan dan justru menolong penjahat yang sesungguhnya. Aku tidak ingin menjadi pahlawan super lagi jika tidak menangkap para koruptor atau para penguasa yang menyalahgunakan jabatan mereka demi keuntungan mereka sendiri. Tapi ternyata aku tidak bisa. Sama seperti sekarang, aku juga tidak bisa menyembuhkanmu dari penyakit itu.”
Prawira sudah duduk dan kini ia yang menepuk pundak G:0. Meski menggunakan topeng, Prawira seakan tahu wajah di balik topeng itu sedang murung. Ia merasa bersalah karena telah marah padanya, padahal idolanya itu tidak melakukan kesalahan apapun padanya.
“Lalu, kenapa kau tetap menjadi pahlawan super sampai sekarang?” tanya Prawira.
“Karena aku sadar aku tidak bisa melakukan semua hal, maka aku hanya perlu melakukan apa yang kubisa untuk menolong orang,” kata G:0. “Aku percaya akan ada orang yang dapat melakukan apa yang tak bisa kulakukan, salah satunya menangkap dan menghukum para koruptor itu. Mungkin suatu hari kau yang melakukannya..”
Kata-kata itu sungguh menyentuh Clara dan Jonathan. Mereka sama sekali tidak menyangka Grafit yang polos memiliki pemikiran seperti itu. Mereka bahkan sampai menitikkan air mata.
“Tapi aku sangat ingin sembuh,” ujar Prawira sambil menangis. G:0 memeluknya dengan lembut.
“Maaf karena aku tak bisa menyembuhkanmu, tapi bukan berarti kau tak bisa sembuh. Bisa, hanya saja bukan aku yang melakukannya. Mungkin dokter atau kau sendiri yang mengalahkan kanker jahat itu. Yang bisa kulakukan hanyalah memberikanmu semangat agar kau tidak menyerah.”
Prawira masih menangis, tapi saat ini perasaannya lebih bahagia. Mungkin pahlawan supernya tidak bisa mengalahkan penyakitnya, akan tetapi yang dilakukannya malam ini sangat berarti baginya. Ia berjanji takkan pernah menyerah untuk sembuh.
“Kau tahu? Sekarang aku lebih percaya diri untuk menghadapi Kraken,” ujar Clara. “Karena aku tahu kita tidak sedang berjuang sendiri. Mungkin kita tak berhasil mengalahkannya, tapi pasti ada orang lain yang melakukannya. Kita hanya perlu melakukan apa yang bisa kita lakukan.”
“Benar. Lagipula kita saling memiliki, tentu kita akan sangat kuat karena saling menopang satu sama lain.”
Mereka saling melemparkan senyum dan entah kenapa saat itu semangat di tubuh mereka kembali pulih. Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi pesimisme. Yang tersisa adalah tekad yang kuat untuk memperjuangkan apa yang selama ini mereka perjuangkan, yaitu menyelamatkan banyak orang.
Karena mereka adalah skuad G:0.