
"Kita butuh lagu tema."
Lagi-lagi Jonathan melemparkan ide konyolnya. Kali ini ia menyarankan untuk menggunakan lagu tema saat G:0 melawan musuh. Menurutnya, itu akan memberi semangat lebih bagi mereka, khususnya bagi G:0. Kebetulan, ia terinspirasi dari Grafit yang beberapa hari ini mendengarkan lagu-lagu KPop bernada sedih karena kisah suramnya dengan bos begal.
"Jadi, kita akan menyesuaikan lagu kita dengan kasus yang kita hadapi," sambungnya.
“Seperti film India saja, di mana setiap kondisi harus ada lagunya. Tolong, berhentilah mengeluarkan ide-ide aneh. Suara-suara tak perlu akan mengganggu konsentrasi G:0 dan komunikasi kita dengannya,” protes Clara.
Seperti sebelumnya, kali ini Jonathan juga sangat ngotot dengan idenya meski ditentang oleh Clara. Ia meminta pendapat langsung dari Grafit yang masih terlihat sedih.
“Bagaimana, Grafit? Kau setuju? Aku akan mengizinkanmu memilih satu lagu tema kita. Bayangkan, kau membela kebenaran sambil mendengarkan lagu keren. Pasti penyanyi idolamu akan bangga.”
Grafit benar-benar membayangkannya dan mulai tersenyum. Tentu saja, ia sedang membayangkan mantan-mantan anggota GFriend, girl group KPop kesukaannya, tersenyum kepadanya. Terutama Eunha yang menjadi biasnya.
“Oke, kalau begitu aku memilih lagu Mago!” teriak Grafit berapi-api. Clara mencari kesedihan yang ia lihat dari wajah pria itu selama beberapa hari terakhir.
“My Girl? Kurang kencang, tapi oke juga. Mau versi Westlife atau yang aslinya?”
“Maksudku adalah Mago yang dinyanyikan GFriend dari album terakhirnya yang berjudul Walpurgis Night, yang merupakan penutup dari album trilogi yang dikeluarkan GFriend sepanjang tahun lalu. Walpurgis Night menurut cerita rakyat Jerman adalah sebuah malam ketika para penyihir berpesta dan menari di Brocken, puncak dari perayaan di pegunungan Harz.
“Sedangkan Mago dalam mitologi Korea merupakan Dewi Agung yang punya banyak kemampuan. Dia bisa menciptakan, memberi kesuburan, membawa arwah, dan masih banyak lagi versi cerita lainnya.
“Lagu Mago sendiri banyak mengejutkan orang, termasuk para buddy, panggilan untuk fans GFriend. Musik, lirik dan video klipnya lebih dewasa dan berani daripada konsep GFriend sebelumnya. Tak disangka, ini merupakan lagu perpisahan dari GFriend sebelum mereka bubar beberapa bulan yang lalu. Aku lebih menyukai GFriend yang dulu, saat mengusung konsep anak sekolah. Tapi Mago membuatku menerima perubahan yang mereka alami serta menghiburku ketika menyadari mereka telah bubar. Meski Eunha, SinB dan Umji membentuk grup VIVIZ dan aku akan selalu mendukungnya, kenangan dengan GFriend takkan bisa kulupakan begitu saja.”
Jonathan tercengang, sementara Clara hanya menggeleng kepala dan tidak kaget sama sekali seakan ini bukan pertama kalinya ia mendengar hal itu.
“Aku tak menyangka akan mendengar informasi yang panjang dan sangat detail serta sangat tidak kubutuhkan dari orang yang bahkan tidak tahu menggunakan wastafel di mal,” ujar Jonathan.
“Itulah yang terjadi kalau dia dibiarkan memegang ponsel sehari. Bahkan ia meninggalkan banyak hate speech untuk agensi terakhir girl group kesukaannya itu, ” kata Clara. “Semua karena ide bodohmu untuk mengajarkannya cara menggunakan media sosial. Aku menyesal karena dulu mendengarkannya dan sekarang takkan kulakukan lagi.”
* * *
Clara melihat-lihat portal berita kota. Ia ingin tahu apa yang terjadi di kota ini saat siang hari, khususnya berita kriminal. Satu kasus yang menarik perhatiannya adalah perampokan di sebuah villa yang dialami oleh sepasang pengantin baru. Peristiwa itu terjadi beberapa hari yang lalu, tapi masih ramai dibicarakan. Istrinya selamat, namun sayangnya sang suami tewas saat melindungi istrinya dari serangan salah satu perampok. Selain itu, beberapa barang berharga mereka berhasil dibawa kabur oleh para pelaku kriminal itu.
“Sangat sadis. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan istrinya sekarang. Pasti sangat hancur,” gumam Clara mengomentari kasus itu.
“Tentang perampokan pengantin baru itu, ya? Aku juga mengikuti berita itu. Memang, kasihan sekali nasib mereka. Aku sampai menangis saat mendengar berita itu,” timpal Jonathan.
“Andai saja saat itu G:0 bisa menolongnya.” Raut wajah Clara seperti merasa bersalah. “Tapi seandainya saat itu G:0 bertugas, belum tentu kita bisa menolongnya. Lokasi kejadiannya di luar area kamera pengintai kita.”
“Yang telah terjadi memang harus terjadi. Kita tidak bisa menyesalinya. Apalagi itu terjadi di luar kendali kita. Seandainya saat itu G:0 bertugas, belum tentu kita bisa menolongnya. Lokasi kejadiannya di luar area kamera pengintai kita.”
Clara setuju. Tapi sebagai sesama wanita, ia menaruh simpati yang sangat besar pada istri korban. Ia bahkan tak sadar sedang menitikkan air matanya.
Mereka kembali mengawasi setiap sudut kota dari kamera-kamera pengintai. Sementara itu G:0 sedang bermain-main dengan gravitasi. Ia mendadak menjatuhkan diri dari ketinggian. Ketika tubuhnya hampir mendarat di bumi, ia langsung menerbangkan dirinya. Benar-benar permainan ekstrim yang tak bisa dilakukan oleh semua orang.
"Lihat, ada yang sedang berdiri di pagar jembatan Perjuangan. G:0, segera ke lokasi. Sepertinya ia akan melompat ke sungai," kata Clara.
"G:0, aku sudah memasang speaker di lengan kostummu untuk lagu tema kita. Aku akan memutarkan lagunya untuk kita."
Tidak seperti G:0 yang semangat mendengarnya, Clara menatap Jonathan tajam seakan ingin mengunyahnya. "Jika kau putar lagunya, aku akan memutar lehermu tiga kali tiga ratus enam puluh derajat. Aku serius. Ini kasus sentimentil."
Untungnya, posisi G:0 sedang tidak jauh dari sana. Tak sampai lima menit, ia sudah sampai di jembatan yang dimaksud. Memang benar, ada seorang wanita yang penampilannya berantakan sedang berdiri di atas pagar jembatan. Matanya mengarah ke sungai yang ada di bawahnya, tapi tatapannya terlihat kosong.
Clara dan Jonathan menatap monitor pengawas yang menayangkapan tangkapan gambar dari kamera di kacamata G:0 dengan serius. Mereka ingin melihat rupa wanita itu.
"Lho, bukankah itu istri korban perampokan itu?" kata Jonathan.
"Tahu darimana? Bukannya di berita nama dan wajahnya disensor?"
"The power of medsos, Bu. Banyak akun yang ucapkan belasungkawa sambil menandai akun wanita itu."
"Hai, apakah kau tahu kalau kau sedang dalam bahaya," tanya G:0. Wanita itu baru menyadari keberadaan G:0 dan terkejut.
"Jangan mendekat, atau aku melompat," ancam wanita itu, menghentikan langkah G:0. Ia pura-pura menurut meski jika wanita itu melakukan ancamannya, ia bisa menyelamatkannya dengan mudah.
Clara menjelaskan siapa wanita itu dan apa yang baru dialaminya. G:0 mengangguk dan duduk di atas pagar sambil melihat ke langit.
"Beberapa orang di sini percaya jika orang yang telah meninggal akan menjadi bintang di langit. Apakah dia juga salah satunya?" tanya G:0 yang membuat wanita itu bingung. "Maksudku, suamimu."
Tangis wanita itu pecah. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. G:0 tidak berpaling dan tetap melihat ke langit.
"Bagaimana aku bisa hidup? Suamiku meninggal karena berusaha menyelamatkanku. Meski demikian, aku tetap diperkosa oleh para bajingan itu. Beberapa hari ini tubuhku menunjukkan gejala hamil. Aku takut memastikannya. Aku takut jika hamil, aku tak tahu ini bayi siapa. Jika bukan bayi suamiku, betapa hinanya hidupku. Lebih baik aku mengakhiri hidupku sekarang."
G:0, Clara dan Jonathan hanya terdiam. Benar-benar sebuah informasi yang mengejutkan karena di semua berita yang mereka baca tidak tertulis ada korban pemerkosaan. Sepertinya wanita itu menyembunyikannya.
"Aku tak bermaksud membandingkan apa yang kau alami dengan yang pernah kualami. Tapi aku ingin menceritakan kisahku," ujar G:0. Clara dan Jonathan sama sekali tidak memberi perintah untuk mengatakan sesuatu. "Mungkin kau pernah mendengar berita tentang kejatuhan Black Samurai setelah Kichigai kalah bertarung dariku. Semua orang terlalu fokus dengan kemenanganku, tapi hanya beberapa orang yang tahu tentang apa yang harus kukorbankan untuk itu."
Clara dan Jonathan tertegun. Mereka adalah yang termasuk beberapa orang itu. Mereka sangat mengetahuinya karena mereka ada di sana saat peristiwa itu terjadi.
"Dulu aku memiliki seorang wanita yang sangat kucintai. Aku bahkan mencintainya sebelum kami bertemu. Ya, sebelum kami bertemu, hidupnya sangat normal. Memang ia punya masalah yang berat, tapi masih normal.
"Sayangnya, ia bertemu denganku. Hidupnya menjadi terancam. Puncaknya, ia ditangkap oleh Kichigai dan dijadikan sandera. Untungnya, aku berhasil menyelamatkannya. Kini ia hidup bahagia di suatu tempat."
Wanita itu tertawa. Tapi sangat jelas kalau itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa menghina.
"Happy ending. Sungguh menggelikan. Bagaimana mungkin kau menceritakan kisah indah pada orang yang ingin bunuh diri karena kisah hidupnya mengerikan?"
"Aku menghilangkan semua ingatannya tentangku," kata Grafit yang membuat wanita itu terdiam. "Sudah kukatakan, aku tak bermaksud membandingkan kisah kita. Tapi ketika kau mendengar kisahku, kau pasti berpikir 'Setidaknya dia masih hidup'. Demikian juga denganmu. Aku tidak sedang membicarakan mendiang suamimu, tapi kau sendiri. Setidaknya jika kau masih hidup, kondisinya tidak akan semakin buruk."
Wanita itu terhenyak mendengar ucapan G:0. Selama ini ia terlalu fokus dengan suaminya. Ia merasa bersalah karena suaminya meninggal setelah menyelamatkannya. Ia merasa bersalah karena telah diperkosa oleh para perampok itu. Ia juga merasa bersalah karena hamil.
"Jika suamimu bisa melihat dari atas, ia pasti ingin kau bertahan hidup untuknya. Ia takkan pernah menyesal karena mengorbankan nyawanya untuk orang yang dia cintai. Kau mungkin mengalami masa-masa yang sangat berat untuk dijalani siapapun, tapi setidaknya kau masih hidup. Guruku pernah berkata, hanya jika kau masih hidup maka kau bisa memperbaiki sesuatu."
Tangis wanita itu yang sempat terhenti kini pecah lagi. G:0 membiarkannya menangis sepuasnya. Ia melihat ke langit sambil mengenang wanita yang pernah singgah di hatinya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Perpisahan ini sangat berat bagiku."
Clara menyuruh G:0 untuk menyarankannya bercerita pada keluarga terdekatnya dan segera berkonsultasi dengan psikolog. Tapi G:0 menyimpan jawaban itu untuk dikatakannya nanti. Saat ini ia memberikan saran yang lain. Ia meminta tolong pada Jonathan untuk memutar musik dan menghubungkannya ke speaker yang ada di tangannya.
Sebuah lagu dari Kunto Aji yang berjudul Rehat menyentuh gendang telinga mereka dengan lembut. Wanita itu menatap ke arah G:0.
"Temanku pernah berkata, seperti film India, setiap kondisi butuh sebuah lagu. Aku biasa mendengar lagu KPop, hanya saja aku tak mengerti arti liriknya. Jika aku butuh seseorang mengatakan sesuatu yang menguatkanku, aku akan mendengar lagu ini."
Lalu mereka diam dan membiarkan lagu itu menguasai malam mereka saat ini.
* * *
G:0 baru saja tiba di apartemen melalui jendela. Belum sempat mengganti kostum, Clara dan Jonathan memeluknya erat.
"Ada apa ini?" tanyanya bingung.
"Kami tidak seperti wanita itu. Ketika mendengar kau bercerita tentang kisah pengorbananmu, kami tahu itu bukan happy ending. Kau pasti sangat kesepian. Maafkan kami yang tidak melakukan apa-apa saat kau menghadapi kesedihanmu," ujar Clara.
"Ya, kami egois. Kami justru langsung menyuruhmu bertugas kembali tak lama setelah kejadian itu," tambah Jonathan.
Grafit tersenyum. "Ayolah, teman-teman. Kalian membiarkanku bersedih dan tidak memberikan kata-kata penghiburan yang seolah melarangku untuk bersedih adalah hal terbaik yang kalian lakukan padaku. Itu artinya kalian menganggap aku pantas bersedih. Lalu karena kalian langsung memberiku tugas, aku tidak merasa lemah dan terjebak dalam kesedihan itu terlalu lama."
Demikianlah kisah itu terselesaikan. Mereka pun akhirnya hidup bahagia, selamanya.
Bercanda. Novel ini belum mencapai 20 episode. Artinya, jika sekarang tamat, takkan mendapat kontrak apa-apa dari Noveltoon. Penulis takkan membiarkannya. Masih banyak lagi kasus yang akan mereka hadapi di episode-episode berikutnya. Tetap setia membaca novel ini