
Hati dan pikiran Clara saat ini sedang dipenuhi dengan kegelisahan. Ia sedang diperhadapkan oleh situasi yang dilematis, seakan ini sangat menentukan masa depannya. Matanya secara bergantian memandangi layar kaca dan benda yang ada di tangannya.
“Hei, cepat tentukan,” kata Jonathan yang sudah terlihat bosan menunggu. “Jika memang tidak bisa, kami akan menonton berita di gadget saja.
“Baiklah, kita tonton berita di sini sama-sama.” Terlihat Clara bersikap pasrah dan menyodorkan remote televisi yang ada di tangannya kepada Jonathan. Belum lagi benda itu berpindah tangan, ia menarik kembali. “Tidak, satu episode lagi. Aku penasaran dengan sambungan ceritanya.”
Jonathan menggeleng kepalanya. Sejak tadi malam Clara marathon drama Korea yang baru saja tamat berjudul Snowdrop. Seperti biasa, ketika ia terjebak ke dalam salah satu judul drama, Clara akan terlihat kacau. Ia akan terus menerus berkomitmen untuk menonton satu episode lagi, namun ending setiap episode selalu memancing rasa penasaran yang tinggi hingga akhirnya ia tak sanggup untuk menghentikannya. Akhirnya Jonathan mengajak Rosalia untuk menonton berita dari laptopnya. Mereka ingin melihat reaksi media dan masyarakat tentang pahlawan baru bernama Bad Girl.
“Kau lihat yang terjadi di tempat ini? Clara kecanduan dengan drama Koreanya. Ia juga kecanduan pacaran. Ia tak pernah sanggup hidup tanpa pacar.
“Sementara Grafit, sejak berkenalan dengan mie instan dua minggu lalu, ia selalu makan makanan itu setiap hari. Jika aku melarangnya, ia akan mengamuk. Belum lagi jika kau melihat kecanduannya dengan lagu-lagu KPop dan anime. Bayangkan, ia pernah menonton ratusan episode One Piece dan Naruto hanya dalam waktu dua bulan. Itu adalah jumlah episode yang kutonton selama belasan tahun,
“Perilaku yang mereka tunjukkan itu sudah tergolong sebagai adiksi. Sangat tidak sehat dan memberi dampak yang sama buruknya dengan penggunaan zat adiktif. Menurut Thombs, perilaku adiktif memiliki tiga persepsi, yaitu sebagai perilaku tidak bermoral, sebagai penyakit dan sebagai perilaku maladaptasi.”
Rosalia mengangguk seakan memberi tanda kalau ia menyimak perkataan Jonathan, padahal ia sedikit muak dengan sikap sok pintar pria itu. Jika sekarang tidak sedang menonton berita tentang Bad Girl, mungkin saat ini ia akan menyuruh Jonathan untuk menutup mulutnya.
“Orang yang memiliki perilaku adiktif adalah mereka yang lemah dalam mengontrol diri mereka. Aku tidak seperti itu. Aku memiliki pengendalian diri yang kuat. Aku bisa mengatur pikiranku, bukan sebaliknya. Memang aku suka beberapa hal, tapi aku tidak memiliki ketergantungan padanya.”
Akhirnya Rosalia tidak tahan mendengar ocehan Jonathan yang sudah semakin menjurus pada pemujaan diri sendiri. Ia pun mengucapkan beberapa kata yang sedari tadi ditahannya. “Memiliki koleksi film-film dewasa juga tanda seseorang memiliki perilaku adiktif.”
Jonathan terkejut. Mulutnya menganga dan matanya membelalak. Ia seakan tak percaya Rosalia memiliki informasi memalukan tentang dirinya. “Clara yang memberitahunya padamu, ya?”
“Tidak, Clara bukan tipe orang yang suka menjelek-jelekkan temannya padaku. Aku mendengar percakapan kalian sebelum menyelamatkan kalian di tempat penculikan Sang Pendongeng tempo hari.”
Dan kini Jonathan tidak bisa berkata-kata lagi. Lidahnya kelu, bibirnya membeku dan ia hanya bisa membisu seraya menahan malu yang menggunung.
* * *
“Kalian sudah mendengar lagu terbaru dari Muzic Box yang baru dirilisnya kemarin?” tanya Clara pada Jonathan dan Grafit yang sedang asyik menyaksikan episode terbaru dari anime One Piece. “Judulnya Nyanyian Anarki Sore Ini, sedang memuncaki tangga lagu di beberapa radio.
Muzic Box yang dimaksud Clara adalah seorang DJ yang menggunakan konsep misterius. Jika beberapa tahun yang lalu dunia digemparkan dengan sosok DJ misterius dengan nama alias Marshmello yang menggunakan topeng mirip ember yang biasa digunakan untuk tempat ayam di restoran cepat saji, maka Muzic Box lebih canggih. Dia menggunakan avatar untuk menunjukkan diri di setiap video klip dan konser-konsernya.
Bukan hanya konsep identitasnya, tapi juga perilisan lagunya. Ia tidak merilis sekaligus satu album, melainkan lagu per lagu yang periodenya tidak pasti. Setiap kali ingin merilis lagu, ia selalu memberi pengumuman yang tentu akan menghebohkan media sosial hingga banyak orang menunggunya. Dan memang lagu-lagu yang ditelurkannya selalu berkualitas dan mendapat banyak pujian dari berbagai pihak.
“Ya, sangat keren. Aku terus memutarnya berkali-kali sejak pertama mendengarnya, baik ketika bekerja atau ketika santai,” kata Jonathan. “Lagunya seperti sebuah candu yang membuatmu ingin terus dan terus mendengarnya.”
“Ya, bahkan aku mendengar lagu itu diputar di toko, di bus dan di berbagai tempat umum lainnya. Seakan-akan lagu itu menempel di kepala,” tambah Grafit.
“Lebih baik dari lagu-lagu GFriend, bukan?” tanya Jonathan yang bermaksud menggoda Grafit. Misinya itu berhasil karena Grafit marah ketika mendengarnya dan langsung menendang kursi rekannya itu hingga terjatuh.
“Aku menganggap lagu-lagunya bagus, tapi bukan berarti aku menyukainya. Jadi, jangan banding-bandingkan GFriend dengannya.”
Jonathan tertawa melihat ekspresi marah Grafit. Sambil berdiri dan membetulkan posisi kursinya, ia bertanya pada Clara, “Memangnya kenapa?”
“Aku merasa sedikit curiga dengan DJ itu. Kenapa ia merahasiakan identitasnya? ”
“Bukankah musisi yang menyembunyikan identitasnya banyak?”
“Menurutku, itu tidak terlalu aneh. Banyak orang yang benar-benar serius dalam menyembunyikan identitasnya namun tetap ingin berkarya.”
“Orang bodoh mana yang melakukan hal seperti itu?”
“Benarkah? Sebagai sesama anggota skuad G:0 yang juga serius dalam menyembunyikan identitasnya, aku ingin tahu apakah kau sungguh-sungguh dengan pertanyaan itu?”
“Bukan itu maksudku. Hanya saja aku punya firasat buruk tentang DJ itu. Lirik lagunya sangat provokatif. Ia seakan menyuruh para pendengarnya untuk meluapkan amarah mereka pada hal-hal yang mengikat mereka selama ini.”
“Ayolah, apakah kau sekolot itu? Lagu-lagu dengan lirik pemberontakan memang sudah sejak dulu ada dan bahkan memiliki peminat yang sangat banyak. Menurutku, lirik lagu seperti itu bisa menjadi healing bagi para pendengar yang selama ini menahan amarah mereka.”
Clara bingung harus menjelaskan seperti apa. Ia memaklumi jika jawaban yang diberikan Jonathan sangat telak menyanggah ucapannya, karena ia sendiri merasa kata-katanya kurang mewakili perasaan di hatinya. Ia pun memilih untuk pergi meninggalkan Jonathan dan Grafit yang kembali tenggelam dengan tontonan anime mereka. “Lupakanlah, mungkin firasatku salah.”
Sayangnya, firasat buruk Clara itu benar.
Keesokan harinya, Clara membawa sebuah koran dan menunjukkannya pada Jonathan dan Grafit. Wajahnya terlihat antusias, seakan ada api yang membara di dadanya.
“Lihat, terjadi kasus penusukan seorang hakim.”
“Lalu, apa yang menarik?” tanya Jonathan yang masih bingung dengan sikap Clara. Ia membaca kembali berita di koran tersebut dan tetap tidak menemukan keanehan.
“Komparasikan dengan salah satu potongan lirik di lagu Nyanyian Anarki Sore Ini."
Hakim Sang Pengambil Keputusan
Telah lupa akan arti keadilan
Mungkin ia berhak ‘tuk satu tikaman
Sebagai obat untuk keadilan yang kesakitan
Jonathan dan Grafit masih menyimak. Mereka sama sekali tidak memberikan respons yang Clara harapkan. Masih tidak terlihat ada yang aneh.
“Ini hanya kebetulan. Tidak ada kesan persuasif dari lagunya yang cukup untuk membuat seseorang menikam hakim. Lagipula, di berita ini juga dijelaskan motif pelaku adalah balas dendam karena merasa sang hakim memberikan vonis tidak adil pada ayahnya.”
Clara menghela napasnya. Ia sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya karena kedua rekannya itu sama sekali tidak mempercayai firasatnya. Akhirnya, ia mengeluarkan jurus pamungkasnya, yaitu otoritas.
“Kita akan menyelidikinya. Aku tidak peduli kalian punya analisis lain yang terdengar lebih masuk akal untuk mempercayai DJ itu, tapi kita harus benar-benar menyelidikinya. Aku yakin dia dan lagunya memiliki peran dalam pembunuhan tersebut. Bukan hanya itu, dia juga pasti memiliki rencana lain, yang lebih besar dan lebih jahat.”
Jonathan dan Grafit yang mulai menggemari lagu-lagu Muzic Box bersiap untuk memberikan pembelaan yang lain, namun Clara mengarahkan telapak tangannya ke wajah mereka tanda meminta mereka untuk diam.
“Jika kalian tidak mau, aku akan menyelidikinya sendiri. Itu artinya, tidak ada patroli sampai penyelidikanku selesai. Berarti Jonathan, gajimu tidak akan jalan dan Grafit, kau harus bekerja lebih keras lagi sebagai model untuk membiayai uang makan dan tempat tinggalmu di sini.
Jonathan dan Grafit tidak berani berkata-kata lagi. Kali ini ancaman Clara tidak main-main dan mereka tahu, Clara tidak pernah bercanda untuk setiap ancaman yang dikeluarkan dari mulutnya.
“Baiklah,” kata Jonathan dan Grafit bersamaan. Clara pun tersenyum mendengarnya.