G:0

G:0
TEKA-TEKI YANG HARUS DIPECAHKAN



G:0 telah sampai di depan megatron. Ia mendengar sorakan mengejek yang dilemparkan orang-orang padanya. Meski demikian, ada juga beberapa warga yang justru memberikan dukungan padanya dan mengingatkan orang-orang yang mengejek akan jasa-jasa G:0 sebelumnya. Clara hanya mengingatkannya untuk tidak memedulikan ujaran-ujaran itu dan fokus pada Puzzle.


[Kita akan kembali ke cara lama. Aku akan memberikan tiga petunjuk sekaligus dan kau harus memecahkannya. Tenang saja, mengingat sebelumnya kau gagal besar, kali ini aku akan memberikan petunjuk yang sangat mudah. Aku ingin kau mengenalku lebih dalam. Petunjuk pertama, tempat di mana kita pertama kali bertemu. Petunjuk kedua, tempat di mana dua insan pertama kali bertemu. Petunjuk ketiga, tempat di mana sebuah keindahan harus berakhir. Waktumu sampai pukul tiga sore. Dan ingat, jangan pernah melewatkan petunjuk dari Puzzle. Jangan pernah!]


Tampilan Puzzle di megatron berganti dengan iklan biasa. Pukul tiga sore berarti kurang lebih sejam lagi. Clara dan Jonathan mulai memutar otak. Kapten Rian yang berada di sana juga tidak mau ketinggalan. Ia ingin memecahkan teka-teki itu lebih dulu dari G:0 untuk mendapatkan kredit.


[Di mana pertama kali kau melihat Puzzle?]


G:0 mencoba mengingat dan jawabannya tidak berubah dari yang pertama ia pikirkan, “Tempat ini, ketika ia pertama kali memberikan teka-teki. Aku yakin tak pernah melihat Puzzle sebelumnya.”


Clara dan Jonathan tidak meragukan jawaban G:0. Memang mudah, tapi Puzzle sendiri yang mengatakan kalau petunjuk kali ini sangat mudah. Mereka kemudian beralih ke pertanyaan kedua.


[Tempat di mana dua insan pertama kali bertemu? Kau punya ide, Jonathan?]


[Dua insan biasanya menggambarkan sepasang kekasih. Apakah di sana ada tempat seperti itu?]


“Sepertinya ada,” kata G:0 yang sedang menatap ke arah taman kota dekat sana.


G:0 berlari di tengah perhatian para warga di sekitar tempat itu. Setelah memecahkan petunjuk kedua, ia mulai yakin kalau ada bom di sana. Kemudian ia berteriak pada masyarakat untuk menjauh dari taman kota. Kapten Rian melihat kesungguhan dari ucapan G:0. Ia mencoba melupakan kompetisinya dengan pahlawan super itu sejenak dan memerintahkan anak buahnya untuk menjauhkan masyarakat sekitar dari taman sesuai permintaan G:0.


[Tempat di mana sebuah keindahan harus berakhir. Ada ide?]


Clara dan Jonathan masih berpikir, demikian juga dengan Kapten Rian yang berada paling dekat dengan G:0. Sementara itu G:0 melihat ke sekelilingnya. Ia sudah sangat dekat dengan jawaban ketiga, tapi ia justru memikirkan hal yang lain.


“Aku merasa ada yang aneh,” kata G:0. “Sepertinya Puzzle tidak mungkin berpikir semudah ini.”


Clara dan Jonathan terkejut dengan ucapan G:0. Pikiran mereka meninggalkan petunjuk ketiga dan menggantinya dengan kebingungan itu. Benar, mereka harus tahu apa yang dipikirkan Puzzle sebelum memecahkan petunjuk darinya.


[Maksudmu, ini hanya jebakan?]


“Bukan, bukan jebakan. Ia mengatakan petunjuk kali ini mudah, tapi tidak semudah ini. Lalu ia berkata tentang keinginan agar aku mengenalnya lebih dalam, artinya ini akan mudah jika aku mengenal tentang dirinya. Dan nada bicaranya ketika mengatakan petunjuk kedua dan ketiga tidak seperti ketika mengatakan petunjuk pertama dan kata-kata sebelumnya. Terdengar lebih sedih. Sepertinya tempat yang ia maksud memiliki arti penting baginya dan berkaitan denganku. Aku belum tahu di mana itu, yang pasti bukan kursi taman ini, tempat kita bisa melihat matahari terbenam.”


G:0 menendang sebuah kotak yang berada di bawah kursi taman itu dan sebuah ledakan terjadi. Semua orang panik, terutama Clara dan Jonathan yang tidak berada di lokasi. Mereka memanggil nama G:0 berulang kali dan yang terdengar hanya kesunyian. Lalu mereka segera mengarahkan pandangan mereka ke monitor pengawas dari kamera yang ada di dekat sana.


Mereka melihat asap mulai memudar dan sosok G:0 mulai tampak. Ternyata hanya sebuah ledakan kecil, meski sempat menimbulkan kepanikan besar bagi orang-orang disekitarnya. Clara dan Jonathan segera mengalihkan kembali perhatian mereka ke monitor dari kacamata G:0. Pahlawan super itu sedang memegang secarik kertas yang bertuliskan ‘SUDAH KUKATAKAN, AKU INGIN KAU MENGENALKU LEBIH DALAM’.


*          *         *


G:0 melompati gedung-gedung pencakar langit secepat yang ia bisa. Ia sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Tinggal sepuluh menit lagi sebelum jam tiga sore. G:0 sedang menuju sebuah tempat yang pernah ia kunjungi. Tidak terlalu berkesan, tapi tempat itu cukup bersejarah. Tempat itu adalah pertama kalinya ia beraksi sebagai G:0. Bahkan dari tempat itu nama G:0 lahir.


[Bank Richmore. Dia adalah mantan karyawan bank itu.]


Jonathan kembali mengumpulkan informasi tentang Adolf Frederick. Seperti petunjuk yang mereka dapat, Puzzle ingin G:0 mengenalnya lebih dalam. Artinya, mereka harus mengetahui secara detail tentang identitas asli Puzzle. Titik temu pertama antara Puzzle dan G:0 adalah bank Richmore.


[Seperti yang pernah kukatakan, Adolf bekerja sebagai account officer selama hampir dua puluh tahun. Aku berhasil menghubungi salah satu teman dekatnya. Katanya, alasan Adolf bekerja di bank itu meski tidak mendapatkan kenaikan pangkat selama itu adalah seorang cleaning service bank itu yang bernama Putri Ardianti. Ia adalah orang tua tunggal yang sudah bekerja setahun lebih lama dari Adolf.]


“Di mana dia sekarang?” tanya G:0.


[Dia telah meninggal.]


Clara dan Jonathan tidak langsung menjawab meski mereka bisa. Mereka pun baru menyadarinya dan merasa bersalah karena menyembunyikan sebuah fakta penting pada G:0.


[Ya, dia terluka karena terkena benda yang kau lemparkan saat melawan penjahat dulu. Karenanya dia mengalami koma selama sebulan dan akhirnya tak bisa diselamatkan lagi.]


[Maafkan kami. Saat itu kami berpikiran sangat picik karena berasumsi kau takkan mau menjadi G:0 lagi jika tahu fakta itu.]


G:0 tidak merespons. Ia hanya diam sebentar lalu kembali melompati gedung tanpa berkata apa-apa. Bahkan ia tak lagi menjawab perkataan dari Clara dan Jonathan. 


Akhirnya G:0 sudah sampai di bank Richmore. Bank itu telah pindah lokasi setelah kejadian tahun lalu. Kini tempat itu hanya sebuah bangunan tua yang tak terurus. G:0 pun masuk ke dalam. 


Tanpa G:0 sadari, gedung ini adalah tempat ia dan Puzzle pertama kali bertemu, seperti petunjuk pertama. Kemungkinan besar tempat ini juga tempat Puzzle dan Putri Ardianti bertemu, seperti petunjuk kedua. Dan di tempat ini juga G:0 telah mengakhiri indahnya kisah cinta mereka. 


Tiba-tiba ia melihat cahaya dan suara tepuk tangan. Ternyata Puzzle sengaja memasang televisi di sana sebagai alat komunikasi mereka.


[Benar-benar membuatku terharu. Akhirnya kau mengenalku lebih dalam. Artinya kau juga sudah mengenal Putri Ardianti. Kau juga mendengar kisah kasih kami. Apakah kau tahu kalau kami seharusnya menikah seminggu setelah perampokan itu seandainya kau tidak membunuhnya? Apakah kau juga tahu kalau dia mengurus anaknya yang memiliki keterbelakangan mental sendirian? Dan apakah kau juga tahu kalau anaknya selalu mencari ibunya sambil menangis dan minggu lalu menyusul ibunya karena stres dan sakit? Mungkin kau tidak banyak tahu atau tidak peduli dengannya.]


G:0 tertunduk dan semakin merasa bersalah. Ia tidak tahu telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa pada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.


“Aku minta maaf. Aku menyesal karena melakukannya. Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku hanya tahu ada beberapa orang yang terluka karena kejadian itu.”


[Tentu saja kau tidak tahu. Berita tentang kematiannya tertutupi oleh berita munculnya pahlawan baru yang memberi mereka harapan untuk mengakhiri kekuasaan Black Samurai. Tentu saja kau tidak tahu. Beberapa jurnalis yang meliput tentang kematianmu malah menulis artikel yang memuja-muja aksimu dalam membela kebenaran.]


Suasana mendadak sepi. Rupanya di seberang sana Puzzle menangis karena mengingat sosok wanita yang ia cintai dan anaknya yang telah ia kenal sejak bayi. Di balik topengnya, G:0 menangis. Hatinya sangat hancur karena sekarang ia sadar telah melakukan kesalahan dan menyesalinya, tapi tak bisa memperbaikinya kembali.


[Hari ini tepat setahun kau melukainya. Aku masih ingat, saat sebuah meja marmer menimpa kepalanya, jam besar di gedung itu berdentang tiga kali yang menandai pukul tiga sore. Sisa tiga puluh detik lagi. Apakah kau ingin mengatakan sesuatu untuknya?]


Grafit tidak berbicara. Ia bingung harus mengatakan apa. Ia hanya melihat jam besar yang detakannya bergema di seluruh ruangan ini. Tepat pukul tiga sore, jam itu berdentang sebanyak tiga kali. Dentangannya juga bergema di seluruh ruangan ini. Di akhir dentangan, Puzzle kembali berbicara.


[Adios, mi amigo.]


Dan sebuah ledakan terjadi, menghancurkan seluruh gedung.


*          *         *


Sudah dua jam Clara dan Jonathan hanya diam saja. Mereka tidak berani membuka suara karena perasaan bersalah yang meliputi hati mereka. Tak ada satu alasan pun yang bisa mereka katakan untuk membela tindakan mereka dulu.


Sementara itu, Grafit duduk di hadapan mereka dengan pakaian compang camping dan tubuh penuh jelaga. Mereka benar-benar tidak tahu ledakan sebesar apapun tidak akan bisa melukai kaum Miel. Padahal tadi Clara dan Jonathan sudah sempat menangis karena menyangka G:0 telah tiada.


“Aku benar-benar marah pada kalian. Seandainya kalian tidak berusaha menutupi yang terjadi sehingga melupakannya, mungkin Puzzle takkan lahir,” kata Grafit. Clara dan Jonathan lega karena akhirnya Grafit mau berbicara. Puasa bicara mereka pun resmi berakhir.


“Jadi, kau ingin berhenti menjadi G:0?” tanya Clara ragu-ragu.


Grafit tidak langsung menjawab. Ia termenung lagi sehingga Clara dan Jonathan kembali ikut diam. Mereka berharap tidak harus menunggu selama dua jam lagi.


“Tidak, aku takkan berhenti.” Clara dan Jonathan tak menduga akan mendengar jawaban itu. Mereka melihat Grafit yang sedang tersenyum. Ia pun lanjut berkata, “Saat itu kita tak sesiap sekarang dalam melawan penjahat. Sekarang kita sudah berbeda. Aku bisa lebih hebat karena ada kalian dan aku percaya takkan melukai siapapun lagi berkat bantuan kalian. Dan yang lebih penting adalah dulu aku telah menghancurkan hidup seseorang, tapi aku juga berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang. Tolong bantu aku agar bisa lebih baik lagi.


“Clara dan Jonathan terharu mendengarnya. Mereka pun berpelukan sambil tersenyum.