G:0

G:0
POHON BERTANGAN



Jonathan membuka pintu apartemen dengan terburu-buru sambil memegang perutnya. Hasratnya untuk membuang hajat muncul tiba-tiba sejak di tengah perjalanan tadi. Namun ia tetap harus berhati-hati. Ia tidak ingin Clara melihatnya kebelet buang air besar. Meski sering bertingkah konyol di depannya, ia tetap tidak boleh menunjukkan sisi itu. Makanya, setelah melewati pintu apartemen, ia berpura-pura bersikap tenang sambil memastikan keberadaan Clara. Dan ternyata hanya ada Grafit.


“Di mana Clara?”


“Tadi ke minimarket untuk membeli sesuatu.”


Jonathan tersenyum. Ia pun segera berlari ke toilet.


Setelah duduk di atas toilet dan menunaikan hasrat yang sejak tadi ditahannya, Jonathan menghela napas lega. Tiba-tiba ia menyadari cermin yang tergantung di hadapannya. Ia melihat sendiri wajahnya sedang buang air besar dan itu bukanlah pemandangan yang menyenangkan. Bahkan ia kesulitan menyelesaikan acara buang hajatnya karena merasa seperti ada yang memandangnya.


Kemudian ia mendengar suara dari luar. Sepertinya Clara baru datang. Dengan segenap upaya, ia berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi-bunyi yang bisa menimbulkan kesalahpahaman dan berpotensi mempermalukannya. Jika bunyi itu seperti akan muncul, ia menekan tombol flush pada toilet.


Sayangnya, Grafit tidak memahami perjuangannya menjaga citra. Pria itu mengetuk pintu toilet dan memanggil namanya.


“Hei, Non ingin memesan makan malam. Apakah kau sudah makan? Ada makanan yang ingin kau pesan?” tanyanya dari luar toilet.


Meski tidak melakukan kesalahan apapun, Jonathan merasa malu untuk menjawab pertanyaan itu. Ia memilih diam tak menjawab. Bahkan ia menekan tombol flush sebagai alasan dirinya tidak mendengar suara Grafit. Tapi Grafit tidak memahaminya. Ia justru semakin mengencangkan suaranya dan mengulangi pertanyaannya.


“Jonathan, apakah kau masih di dalam? Kenapa tidak menjawab? Cepat, katakan pesananmu. Aku, Clara dan Rosalia sudah lapar.”


Apa? Rosalia datang?


Jonathan semakin panik ketika mengetahui wanita itu ada di apartemen itu. Ia kembali menekan tombol flush, bahkan berulang-ulang sampai Grafit berhenti bertanya. Dan akhirnya, tidak ada lagi terdengar suara dari luar pintu toilet. Tapi itu hanya berlangsung sekitar sepuluh detik.


“Sepertinya Jonathan sedang diare. Mungkin sebaiknya kita pesan bubur saja untuk dia.”


Kata-kata Grafit itu seakan meruntuhkan dunia Jonathan dalam sekejap dan menyerapnya ke lubang hitam penuh aib. Meski diare bukanlah dosa, tapi ia tidak ingin Rosalia mengingatnya sebagai pria diare, bahkan ketika sebenarnya ia tidak diare.


Lihatlah, Grafit, aku akan memberimu pelajaran, batin Jonathan.


*          *         *


Hari sudah semakin malam. Sejam lagi waktunya bagi G:0 untuk patroli. Saat ini mereka sedang menikmati makanan cepat saji sambil saling bercerita, kecuali Jonathan yang duduk agak jauh dari mereka. Dari tadi ia kebanyakan menunduk dan tidak mengeluarkan suara apa-apa.


Sejak kejadian di sarang Padoha tempo hari, hubungan skuad G:0 dengan Rosalia semakin dekat. Bisa dikatakan, Rosalia perlahan mulai menjadi bagian skuad. Dengan wawasannya yang luas tentang dunia kejahatan, khususnya di Dragokarta, ia banyak memberikan bantuan bagi skuad G:0.


Malam ini Clara mengajaknya untuk ikut mengawasi patroli G:0. Wanita itu seperti sedang ingin melakukan sebuah pembaharuan di skuad. Memang, beberapa kali ia pernah mengutarakan keresahannya karena merasa G:0 belum cukup untuk mengatasi kejahatan di kota ini. Apalagi sejak mereka menyadari kekuatan Kraken yang jauh lebih besar dari yang mereka duga.


“Apakah kau benar-benar tidak keberatan jika aku ikut patroli?” tanya Rosalia pada Clara.


“Bukan patroli, hanya mengawasi,” jawab Clara sambil tersenyum. “Aku meminta maaf jika dulu sikapku padamu kurang baik, tapi aku tidak bisa menyangkal kalau kau banyak membantu G:0. Kau membuat pintu rahasia markas. Kau juga satu-satunya orang selain Grafit yang pernah mengenakan kostum G:0 untuk menyelamatkannya..”


“Apakah kau ingin merekrutku menjadi bagian dari skuad G:0?”


Rosalia beserta Jonathan dan Grafit menatap Clara penuh tanya. Mereka penasaran dengan rencana yang dimiliki oleh Clara.


Sejam kemudian, Clara, Jonathan dan Rosalia sudah duduk di markas, sementara G:0 sedang berdiri di atap sebuah gedung sambil memandang ke arah kota. Rosalia yang baru pertama kali ikut mengawasi patroli merasa takjub dengan alat-alat yang ada dan pemandangan yang tampak dari kacamata yang dikenakan oleh G:0.


“Bagaimana? Kau menyukainya?” tanya Clara..


“Suka. Sangat suka,” jawab Rosalia dengan nada penuh semangat. “Dan G:0 terlihat sangat keren. Andai aku bisa sepertinya.”


Clara tersenyum bangga karena kekaguman Rosalia. Ia sudah lupa telah menghabiskan banyak uang yang dimintanya dengan susah payah dari ibunya untuk mengganti banyak kamera yang rusak.


Jonathan masuk sambil membawa dua cangkir susu coklat hangat. Ia menyerahkan salah satunya pada Rosalia. Clara sudah mengulurkan tangannya untuk menyambut cangkir yang lain, tapi ternyata Jonathan duduk tanpa memberikan cangkir itu. Ia menatap Clara tanpa merasa bersalah.


“Wah, ternyata kau benar-benar sudah berubah, ya.” Clara menatap Jonathan dengan penuh kekesalan. 


“Eh, aku tak tahu kalau kau juga mau. Apakah aku perlu membuatnya lagi?”


“Tidak usah! Aku sudah tidak selera lagi.”


Di saat mereka berdua sedang mempermasalahkan secangkir susu coklat hangat, mata Rosalia tertuju pada sebuah monitor. “Apa yang sedang terjadi di sana? Sepertinya orang itu terlihat mencurigakan”


Clara dan Jonathan ikut melihat monitor itu. Ada seseorang yang menggunakan jubah panjang dengan tudung sehingga terlihat seperti malaikat maut. Kemudian ia mendekati sebuah pohon dan memegangnya. Ia seperti sedang berbicara dengan pohon itu. Keadaan semakin aneh karena keluar sepasang tangan dari pohon itu. Bukan hanya itu, pohon tersebut beserta kedua tangannya mulai bergerak-gerak seakan sedang meminta pertolongan.


“G:0, di hutan kota! Segera ke sana!”


Setelah mendengar perintah dari Clara, G:0 segera meluncur pergi ke lokasi yang dimaksud. Jaraknya sekitar dua puluh menit perjalanan dari tempat G:0 saat itu.


[Di mana dia?]


Sayangnya, ketika G:0 tiba di lokasi tersebut, sosok berjubah itu telah hilang. Jonathan sudah memeriksa dengan kamera lain, tapi hasilnya nihil. 


“Dia telah pergi. Kau bisa kembali ke tempat tadi, G:0,” ujar Clara. Tapi G:0 tidak langsung bergerak. Ia mematung sejenak seakan sedang berusaha mendengar sesuatu.


[Tunggu, sepertinya aku mendengar suara.]


Kemudian Jonathan memperbesar volume mikrofon G:0 dan terdengar suara lirih seperti sedang meminta tolong. G:0 pun segera mencari sumber suara itu. Clara teringat akan sesuatu lalu menyuruh G:0 memeriksa pohon bertangan yang mereka lihat tadi.


Melalui kacamata G:0, mereka melihat wujud pohon itu dari dekat. Ternyata itu bukanlah pohon bertangan, melainkan seseorang yang terikat di sebuah pohon. Wajahnya penuh dengan lebam dan di beberapa bagian tubuhnya terdapat darah. Sepertinya ia baru saja dihajar habis-habisan oleh seseorang. Pakaiannya juga terlihat aneh, terkesan kuno tapi bukan dari budaya lokal.


“Bukankah yang mengikat tubuhnya itu sulur seperti yang terdapat di tanaman kacang?” kata Rosalia sambil menunjuk ke arah benda yang melilit tubuh pria itu.


Clara dan Jonathan setuju dengan ucapan Rosalia. Mengapa pelaku mengikat korbannya dengan sulur, yang notabene tidak cukup kuat untuk menahan tubuh seseorang?