G:0

G:0
PANIC AND DISCO



Rosalia melihat ke sekitarnya. Sudah tiga tahun ia tidak menginjak Kampung Purnama dan sejak saat itu tidak ada banyak perubahan yang terjadi. Masih terlihat kumuh. Hanya saja ia tak menyangka jika kedatangannya tak mendapatkan sambutan sedikit pun. Padahal banyak kisah dalam hidupnya yang dimulai di kampung itu.


Rosalia tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Konon sejak bayi ia tinggal di sebuah panti asuhan. Ingatan pertamanya adalah di perkampungan ini karena ia diadopsi oleh sepasang suami istri yang menjelang usia tua mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Rosalia dibesarkan dengan kasih sayang yang maksimal, meski kedua orang tua angkatnya bukanlah berasal dari tingkat masyarakat yang berkecukupan. 


Ayah angkatnya adalah montir yang cukup andal. Dari dialah wawasan Rosalia tentang otomotif dan kemampuannya memperbaiki hampir semua mesin berasal. Meski hanya dia yang memiliki bengkel di seantero kampung, kliennya tidak banyak. Wajar saja, mengingat pemilik kendaraan bermotor di kampung itu juga tidak banyak. 


Keadaan sedikit berubah ketika seorang geng motor yang tersesat membutuhkan perbaikan pada tunggangannya. Ayah angkat Rosalia mampu memperbaiki motor meski struktur mesinnya cukup rumit karena hasil modifikasi dari seorang ahli. Berita pun mulai tersebar dan kliennya bertambah, khususnya para anggota geng motor.


Tanpa orang tua angkatnya sadari, keadaan itu justru mendekatkan Rosalia pada dunia hitam. Ia pun terlibat dalam berbagai kejahatan. Hingga suatu ketika, ia harus berurusan dengan Black Samurai karena mencuri motor kesayangan Kichigai.


Konsekuensinya cukup berat. Ia memang berhasil kabur dari kejaran Black Samurai, tapi kedua orang tua angkatnya harus tewas di tangan Kichigai. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk hidup dalam persembunyian tanpa bisa melakukan apa-apa untuk membalaskan dendamnya. Ia baru bisa berjalan di bawah sinar matahari tanpa rasa takut setelah G:0 berhasil membunuh Kichigai dan menghancurkan Black Samurai.


Andai G:0 tidak melakukannya, tak mungkin aku bisa menginjak kampung ini lagi. Entah kenapa aku selalu lupa untuk berterima kasih pada mereka, batin Rosalia sambil tersenyum.


Bukan hanya membalaskan dendamnya, G:0 juga yang mengingatkannya betapa berharganya ia dan mengubahnya menjadi orang yang lebih baik lagi. Untuk itu, suatu penghargaan baginya bisa bergabung dengan skuad G:0 dan memberikan kontribusi.


Bicara tentang kontribusi, ia teringat dengan tujuannya ke Kampung Purnama. Menurut citra satelit tentang lokasi Muzic Box terlacak, ia tahu kalau itu ada di sekitar lapangan kampung. Sekarang ia sudah berdiri di lapangan tersebut.


“Jonathan, kau bisa melihat posisiku sekarang? Apakah benar jika Muzic Box ada di sebelah utaraku?” Rosalia mengaktifkan alat komunikasi yang menghubungkannya ke markas.


[Benar sekali. Kau tahu tempatnya?]


“Tentu saja. Itu adalah apartemen sewaan milik pak Buntung, salah satu tetanggaku yang paling kubenci karena sikapnya yang kasar dan sombong.”


[G:0 ada di dekat gerbang kampung. Ia telah melihat alur perjalananmu hingga ke lokasi. Jadi, jika kau menemukan bahaya, ia bisa segera mendatangi tempatmu berada.]


“Baiklah, terima kasih. Tapi aku akan usahakan agar bisa menyelesaikannya sendiri,” kata Rosalia membalas ucapan Clara.


Wanita itu pun berjalan ke arah gedung apartemen pak Buntung. Dulu ia mengenal hampir semua penghuni apartemen itu karena ia pernah menjadi pengantar susu di tempat itu. Ia bisa tahu tidak ada penghuni baru dari plakat nama yang tertempel di depan pintu. Tapi ia tahu, ada satu apartemen yang memang sejak dulu berganti-ganti penghuninya.


“Apartemen nomor 501.” Rosalia bergumam agar G:0 bisa mengetahui lokasinya lebih detail. “Ada suara musik yang sama dengan apartemen tempatku terhipnotis kemarin. Aku akan masuk sekarang.”


Rosalia melihat ke sekitar. Setelah dipastikannya tidak ada orang ataupun kamera pengawas yang melihatnya, ia menarik kancing bajunya sambil mendobrak pintu apartemen nomor 501.


Seorang pria kurus berkacamata terkejut ketika melihat seseorang berkostum baru saja mendobrak pintu apartemennya. Ia menutup telinganya dengan penyumbat telinga lalu memutar tombol volume tape miliknya yang menjadi sumber musik tersebut.


Pria kurus itu semakin ketakutan ketika melihat Bad Girl tersenyum. Seharusnya ia tidak tersenyum dan mendekat padanya. Seharusnya ia sudah terhipnotis.


“Panic! at the Disco is in my ears, Stupid!”


Lagu yang berjudul The Ballad Of Mona Lisa bersenandung di earphone yang ada di telinganya, membuat musik penghipnotis itu tak memberikan pengaruh padanya.


*          *         *


Muzic Box atau Pandu Nirwana hanyalah pemuda biasa yang tidak memiliki kemampuan bela diri, apalagi kekuatan super. Bad Girl hanya perlu menggerakkan sedikit tangannya untuk melumpuhkan pria itu. Saat ini ia sudah terikat di kursinya sendiri dengan mulut tersumpal sebuah kain. Sementara itu Bad Girl sedang sibuk memeriksa komputer yang ada di apartemen itu, berharap ada sesuatu yang mereka butuhkan.


“Oke, aku sudah menemukan beberapa jurnalnya. Di sini berisi semua rencana jahatnya, baik yang sudah terjadi maupun yang belum. Jurnal ini dipenuhi beberapa catatan yang sepertinya akan dijadikannya lirik lagu. Bisa dilihat, berarti dia merencanakan kejahatan terlebih dulu kemudian lagunya.”


“Sepertinya begitu. Karena menurut properti berkasnya, jurnal ini dibuat dari komputer lain.” Bad Girl memeriksa berkas lain yang berada di satu folder dengan berkas itu. “Dan pada berkas lain yang dibuat di komputer yang sama dengan jurnal itu, aku menemukan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh Pandu. Misalnya, berunjuk rasa, menyebar spam berisi video vulgar, dan sebagainya. Terlihat jelas ia hanyalah boneka.”


[Dan Kraken adalah dalangnya]


[Lebih tepatnya Siren] G:0 tiba-tiba masuk ke dalam percakapan mereka. [Aku yakin penghipnotisan serumit dan serapi itu hanya bisa dilakukan oleh penghipnotis sehebat Siren.]


“Aku jadi semakin penasaran dengannya. Semoga kami bisa segera bertemu agar ia bisa membayar perbuatannya yang telah menghipnotisku,” celetuk Bad Girl. “Jadi, apa yang harus kita lakukan?”


[Tentu saja kita harus memublikasikan semua perbuatan Muzic Box agar masyarakat bisa tenang kembali.]


“Kau harus melepasnya.”


Mereka terkejut. Suara siapa itu? Terdengar familier tapi yang pasti bukan milik salah satu di antara mereka berempat. Dan di antara mereka, Bad Girl yang paling pertama tahu siapa pemilik suara itu.  “Kapten Rian!”


Mereka tak kalah terkejut ketika mengetahui kalau pria itu sudah berdiri di hadapan Bad Girl, di mana Pandu berada di antaranya.


“Aku sudah memperhatikan gerak-gerikmu beberapa waktu belakangan. Aku tetap mengapresiasi dedikasimu untuk menjadi pembela kebenaran, tapi kau harus sadar kalau kau tidak memiliki kekuatan super apa pun. Pekerjaan ini suatu saat akan membunuhmu. Jadi, berhentilah.”


Bad Girl menatap Kapten Rian dengan perasaan terluka. Ucapannya itu seperti merendahkannya secara halus.


“Jika aku tak mau?”


“Maka aku harus menghentikanmu karena sangat merepotkan. Bahkan dengan satu G:0 di kota ini saja sudah cukup membuat kepolisian sangat kewalahan. Kumohon, jangan tambah masalah kami lagi.”


Perasaan skuad G:0 lainnya ikut terluka sekarang. Padahal mereka sudah mulai bisa menerima Kapten Rian, apalagi setelah berpacaran dengan Clara. Tapi mendengar perkataannya itu seolah membuka kembali pintu kebencian mereka padanya.


“Ayolah, apakah tidak ada penghargaan untukku? Aku baru saja menangkap Muzic Box dan mengungkap kejahatannya.”


“Apakah kau tahu kalau dia bekerja atas perintah orang lain?”


“Tentu saja, dalangnya adalah Siren dan dia -” Bad Girl menghentikan pembelaan dirinya. Akhirnya ia sadar kalau target utama polisi bukanlah Muzic Box, tetapi Siren atau siapa pun kaki tangan Kraken yang mengendalikan Muzic Box. “Oke, aku punya alasan untuk ini. Muzic Box dan segala perbuatannya harus diekspos agar Rush Money tidak menimbulkan dampak yang lebih parah.”


“Maksudmu, tindakan Kraken yang memberikan bantuan pada bank-bank itu? Sepertinya kau punya tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada G:0, tapi sayangnya kau tidak rajin mengikuti perkembangan berita. ”


Bad Girl bingung dengan ucapan Kapten Rian. Clara dan Jonathan juga sebingung Bad Girl. Mereka pun membuka sebuah portal berita dan langsung disuguhkan oleh tajuk berita utama tentang beberapa bank dari luar kota yang memberikan pinjaman dan anggota dewan Prabu Arjuna telah memberikan pernyataan bahwa tidak ada bank yang hampir bangkrut.


“Kalian hanyalah bocah-bocah pengganggu yang menganggap diri kalian adalah pembela kebenaran. Lihat apa yang telah kau lakukan, Siren tak mungkin datang karena tindakan bodohmu..”


“Apa hakmu menghakimiku seperti itu? Kau sendiri selalu bersikap arogan dan merasa diri sebagai pahlawan kota, padahal pencapaianmu tidak sebanding dengan yang telah G:0 lakukan.”


Kapten Rian tertawa. “Aku telah bertahun-tahun memimpin para pejuang di seluruh penjuru negeri ini. Sedangkan G:0 hanya bermain-main di taman bermain bernama Dragokarta. Ia hanya bocah pengendali gravitasi yang cocoknya mengurus penjahat-penjahat kelas teri. Dia takkan mampu menghadapi Kraken, ancaman terbesar negeri ini,” ujar Kapten Rian dengan nada mengejek, membuat Clara dan Jonathan semakin geram. “Jika bukan karena seorang wanita, dari dulu aku sudah menangkapnya.”


Clara dan Jonathan memanggil-manggil, namun pikiran Bad Girl sekarang seperti sedang melayang. Tidak seperti pendahulunya di skuad G:0, ia belum berpengalaman menghadapi mulut pedas Kapten Rian dan situasi seperti ini. Mentalnya hancur berkeping-keping. Pikirannya panik dan jantungnya berdisko.