G:0

G:0
WANITA DARI MASA LALU



Hampir dua tahun yang lalu


Grafit mengatur napasnya yang sejak tadi terasa sesak. Ia sangat gugup. Jonathan harus mengipasinya dengan jaket kulitnya agar ia bisa lebih tenang. Sesekali mereka mengintip ke pabrik mainan itu sambil mengecek apakah wanita yang sedang mereka tunggu telah keluar. 


Sebelum Clara ke hutan rahasia, Grafit telah jatuh cinta dengan gadis berpakaian sekolah yang ada di selembar kertas dari sebuah komik. Ia memanggilnya Minori. Salah satu tekadnya saat ikut Clara ke kota adalah menemukan Minori di kehidupan nyata. Clara dan siapa pun yang hidup di peradaban normal pasti berpikir tekad itu akan mustahil terwujud.


Hingga suatu saat, di tengah usaha Grafit menggagalkan sebuah usaha perampokan yang terjadi di hotel Richmore, ia melihat seorang gadis cantik bermata lebar, hidung lancip, bibir mungil dan rambut kepang yang menjadi salah satu sandera para perampok. Gadis itu mengenakan kemeja putih, rok mini dan kaos kaki sampai di atas lutut sehingga mirip seperti seragam siswa Jepang yang sering dipresentasikan di dalam komik-komik dari negara itu. Ya, penampilan wanita itu sangat mirip dengan Minori.


Beberapa hari kemudian, Jonathan berhasil melacak identitas wanita itu. Namanya adalah Patricia, pemilik salah satu pabrik mainan. Ia ke bank hari itu untuk mengajukan pinjaman usaha mainannya. Dan sekarang, Jonathan dan Grafit berada di depan pabrik itu.


“Ingat apa yang sudah kita latih kemarin. Kau harus mengatakannya dengan lembut agar hatinya tersentuh. Tapi, sepertinya kau harus mengatakannya dengan suara berat agar memberikan kesan yang tak terlupakan untuknya. Oke, sepertinya dia sudah keluar. Cepat, hampiri dia.”


Grafit segera berjalan  menuju pagar kayu pabrik itu. Ia sampai di depan pagar tepat setelah wanita itu membukanya. Grafit tersenyum sampai melambaikan tangan.


“Kenapa tersenyum? Kau suruhan bos Kura-Kura yang baru, kan? Katakan padanya, aku belum punya uang untuk membayar. Bank yang akan meminjamkanku uang baru saja dirampok. Jika dia ingin aku melunasi utangnya, suruhlah dia untuk bersabar.”


Grafit bingung dengan perkataan gadis itu. Ia benar-benar tidak mengerti tentang utang. Hampir satu menit ia hanya diam karena bingung harus merespons seperti apa.


“Eh, aku bukan, utang atau -”


“Oh, kau bukan salah satu anak buahnya bos Kura-Kura, ya? Maaf.” Sikap dan wajah gadis itu berubah drastis dan kini ia terlihat ramah. Ia memegang tangan Grafit untuk bersalaman.


“I, iya. Aku bahkan tidak kenal orang itu. Aku mau -”


“Melamar kerja, ya? Ah, pasti kau temannya Badrun yang pernah kerja di sini, ya? Dia memang pernah bilang kalau ada temannya yang baru datang dari kampung dan membutuhkan pekerjaan. Baguslah, kami juga sedang membutuhkan tenaga pria muda sepertimu.”


Grafit melirik ke arah Jonathan. Karena tidak mendengar percakapan mereka sehingga tidak mengetahui masalah yang dihadapi oleh Grafit, Jonathan hanya mengangkat jempol untuk memberinya semangat. Namun, Grafit salah memahami kode itu.


“Benar, saya mau melamar kerja,” kata Grafit mantap. “Bukan karena membutuhkan pekerjaan, tapi karena saya suka kamu.”


Patricia terperanjat karena pengakuan dari pria yang baru dikenalnya itu. Ia melihat ke arah Grafit yang wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Tak lama kemudian ia tersenyum. Senyum termanis yang pernah Grafit lihat.


*          *         *


Grafit masih belum percaya kalau ia melihat Patricia di tengah pencarian mereka terhadap anggota Kraken bernama Geppetto. Seharusnya wanita itu sedang berada di luar kota. Ia lebih tidak percaya kalau Patricia adalah Geppetto. Namun fakta berkata demikian.


Di balik profilnya sebagai pemilik pabrik kecil yang memproduksi mainan, Patricia adalah sarjana teknik mesin dari MIT (Massachusetts Institute of Technology). Ia berkuliah di sana dengan mengandalkan beasiswa yang diberikan oleh sebuah perusahaan besar dari dalam negeri.


Ia juga mengatakan kalau Patricia tidak pernah membohonginya. Ia memang melanjutkan usaha papanya yang telah tiada. Tak ada catatan pekerjaannya dalam rentang waktu setelah tamat kuliah ke waktu saat ia menjadi bos pabrik mainan. Kemungkinan saat itu ia sudah bekerja di perusahaan pembuat alat-alat canggih yang digunakan Kraken. Setelah penaklukan Black Samurai yang hampir merenggut nyawanya dan telah  menghancurkan pabrik mainan papanya, ia kembali bekerja untuk Kraken.


“Semua salahku. Seandainya dulu aku masih terus menjalin hubungan dengannya, mungkin ia takkan kembali ke Kraken,” ucap Grafit lirih. Ia terus menyalahkan dirinya atas keterlibatan Patricia pada organisasi itu.


Clara dan Jonathan merasa simpati dengan apa yang Grafit rasakan. Mereka berdua adalah saksi betapa besar cinta yang dimiliki Grafit oleh wanita itu dulu. Mereka juga ingat bagaimana hancurnya hati Grafit saat ia hampir gagal menyelamatkan Patricia. Bisa dikatakan G:0 berhasil mengalahkan Black Samurai karena amarahnya pada Kichigai atas apa yang telah ia lakukan pada wanita itu. Dengan tiga butir Batu Raya di tubuhnya, ia yang seharusnya tidak bisa lagi mengendalikan gravitasi berhasil mengalahkan Kichigai.


“Kami belum melaporkan ini pada Kapten Rian karena menunggu keputusan darimu. Jika kita melaporkannya, maka secara resmi ia menjadi incaran para pejuang dari seluruh kota. Apakah kau siap untuk itu?” Clara memberikan pilihan pada Grafit.


Grafit tidak langsung menjawab. Ia merenung selama beberapa puluh detik sebelum menjawab, “Berikan aku kesempatan untuk berbicara dengannya. Harusnya aku bertanggung jawab atas hidupnya setelah kejadian setahun yang lalu. Tapi aku justru menghilang dari hidupnya dengan alasan untuk kebaikannya.”


Clara dan Jonathan terkejut dengan rencana Grafit untuk bertemu dengan Patricia. Hal itu sangat beresiko, apalagi jika Patricia tahu Grafit berencana untuk menghancurkan Kraken.


“Dulu kau menghilangkan ingatannya tentang Grafit. Apakah kau akan berbicara sebagai G:0?”


“Bukankah kemarin Kapten Rian menceritakan tentang rumor tentang Geppetto yang pernah mengaku pada para petinggi Kraken kalau ia punya semacam hubungan baik dengan G:0? Aku hanya menghapus ingatannya tentang Grafit, tapi kenangannya telah diselamatkan oleh G:0 masih ada. Aku akan menggunakannya untuk mendekatinya.”


Melihat bagaimana Grafit sangat ngotot dengan rencananya itu, Clara dan Jonathan pun tak bisa menentangnya. Akhirnya mereka setuju. Berhubung mereka gagal menemukan alamatnya, maka rencana minggu depan G:0 akan mencegatnya saat pulang dari stasiun.


*          *         *


Grafit melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang penuh dengan dedaunan yang berguguran akibat angin kencang tadi malam. Ia melihat ke sekeliling jalan, bangunannya tidak ada yang berubah dibandingkan satu tahun yang lalu. Ya, satu tahun sudah sejak ia terakhir menyusuri jalan itu.


Grafit berdiri di depan bangunan yang kosong dan halamannya sudah sangat berantakan. Dulu bangunan itu adalah tempatnya bekerja, yaitu pabrik mainan anak-anak milik Patricia. Ia masih ingat beberapa karyawan yang kebanyakan dari kalangan ibu-ibu. Mereka sangat ramah padanya, bahkan sering memberikannya makanan yang mereka bawa dari rumah.


Ia juga masih ingat bagaimana setiap pagi Patricia datang menemui para karyawan dengan wajah yang ramah, namun langsung cemberut ketika melihatnya. Wajar saja, karena tiap hari Grafit menggodanya. Bahkan sejak hari pertama mereka bertemu, Grafit sudah menyatakan suka padanya.


Kemudian Grafit membuka pagar itu perlahan lalu masuk. Meski rumput liar telah merajai pekarangan, Grafit masih hafal posisi batu-batu yang menjadi jalan setapak menuju pabrik. Kini ia sudah berada tepat di depan pabrik itu. Ia mencoba membuka pintu pabrik, ternyata tidak dikunci. Dengan hati-hati ia masuk. Kondisinya jauh lebih berantakan dari pekarangannya. Tapi Grafit masih bisa memvisualisasikan keadaannya di masa lalu. Air matanya hampir menangis saat mengenang masa-masa itu.


“Hei, kau siapa?”


Grafit tersentak karena suara itu. Ia sangat ingat siapa yang memiliki suara itu, suara yang dulu sering didengarnya berteriak, “GRAFIT! APA YANG KAU LAKUKAN?!” Ia pun berpaling dan mendapati sang empunya suara sudah berdiri dengan wajah marah.


“Bo, Bos Patricia.”