
Pertarungan sudah berlangsung selama sepuluh menit dan belum ada yang berhak mengklaim kemenangannya. Grafit sudah bingung harus berbuat apa lagi untuk mengalahkannya. Sementara program yang ada dalam diri Padoha juga melakukan hal yang sama, yaitu mencari algoritma yang tepat untuk memenangkan pertandingan. Hanya saja, Grafit merasakan kelelahan, sedangkan Padoha, tentu saja tidak.
Jonathan memberi kode agar Grafit menggunakan topengnya. Maksudnya, agar mereka bisa berkomunikasi.
“Grafit, aku menemukan cara untuk mengalahkannya,” kata Jonathan. Ia mengacungkan sebuah flash drive saat Grafit melihat ke arahnya. “Colokkan benda ini ke port yang ada di leher Padoha. Salah satu Cameron sedang berputar di dekat port itu.”
Setelah melihat ke arah Jonathan, Grafit melihat ke arah Cameron yang dimaksud. Sementara itu, Padoha bersiap untuk menyerang kembali dengan sisik-sisik durinya.
Kemudian Grafit berlari menuju Padoha. Robot itu pun melepaskan sisik-sisik durinya dan terbang menuju Grafit. Alih-alih menyerang, Grafit menjatuhkan tubuhnya dan meluncur melewati Padoha.
Grafit berhenti tepat di depan Jonathan dan mengambil flash drive itu dengan cepat agar tak terlihat oleh Padoha. Ia ingin segera melompat menuju port yang dimaksud, namun urung karena sisik-sisik yang baru muncul dari tubuh robot itu dan Grafit nyaris menabrakkan diri ke atasnya.
“Suatu saat aku akan membuat robot seperti itu. Tolong danai aku,” kata Jonathan pada Clara. Ia langsung menyesal telah mengatakannya karena wanita itu menatapnya tajam.
“Bekerjasamalah denganku. Aku juga ahli dalam hal mesin.” Rosalia menawarkan diri. Jonathan menatapnya dan seperti belum terbiasa akrab dengan sang bos begal.
Tubuh Padoha yang panjang itu berputar mengelilingi lawannya. Grafit ingat dengan gerakan itu, gerakan yang dilakukan Padoha sebelum melilitnya. Benar saja, Padoha mulai menyempitkan lingkaran tubuhnya. Tidak seperti beberapa hari yang lalu, kali ini ia akan tewas jika dililit karena sisik-sisik tubuh Padoha yang menegak dan siap menikamnya.
Grafit mencoba keluar dari sana sebelum terlilit, tapi kakinya terlanjur terjebak. Ia menjerit kesakitan karena Padoha melilitnya dengan sangat ketat. Namun Grafit menyadari keuntungan dari posisinya itu saat ia melihat port yang dicarinya sekarang berada tepat di depan matanya. Tanpa berpikir panjang ia segera memasukkan flash drive dari Jonathan ke port tersebut. Padoha tidak menyadarinya, bahkan sampai Grafit berhasil meloloskan diri.
“Kuakui, kau termasuk lawan yang cukup tangguh,” puji Padoha yang menyadari Grafit sudah tidak bisa bergerak banyak karena luka di kakinya cukup parah. “Aku telah bertarung dengan banyak musuh Kraken. Meski banyak yang lebih hebat darimu, namun tidak banyak yang setangguh dirimu. Kau adalah musuh yang -”
Tiba-tiba suara Padoha terputus-putus. Bukan hanya itu, ia mulai bergerak tidak karuan. Bahkan ia membanting dan menabrakkan dirinya. Ia pun melepaskan sisik-sisik dan kuku-kukunya ke sembarangan arah. Clara, Jonathan dan Rosalia hampir terkena oleh benda-benda itu jika Grafit tidak sigap melindungi mereka.
“Grafit, tabrakkan dia ke jeruji ini,” kata Rosalia. Jonathan tertawa kagum ketika mendengarnya.
“Benar juga. Padahal tadi aku sempat kepikiran itu.” Tanpa sadar, Jonathan menepuk pundak Rosalia. Sementara itu, Clara masih bingung dengan maksud mereka.
Grafit pun menangkap ekor Padoha dan melemparkannya ke jeruji. Tiba-tiba terjadi sengatan listrik yang luar biasa dan meledakkan robot naga itu. Setelah ledakan itu reda, Grafit membengkokkan jeruji itu dengan mudah.
“Bagaimana kalian tahu itu?” tanya Clara ketika sadar maksud dari perintah Rosalia pada Grafit tadi.
“Aku menyadarinya ketika Padoha menyentuh jeruji itu,” jawab Rosalia yang disambung dengan anggukan dari Jonathan.
Ketika mereka pikir semua sudah berakhir, Grafit menyadari sebuah tembakan mengarah pada mereka. Lebih tepatnya ke arah Clara. Grafit langsung memeluk Clara sehingga tembakan itu mengenai punggungnya.
“Sayang sekali. Padahal jika ia mati, keadaan akan lebih menyenangkan.”
Mereka melihat ke arah suara itu, yang juga arah tembakan itu bersumber. Terlihat Patricia sedang mengenakan pakaian besi mirip The Vanishers, namun lebih sederhana dan bisa terbang. Lebih mirip kostum Iron Man.
Grafit membalikkan tubuhnya dan menatap Patricia. Sementara Clara mulai cemas karena melihat luka parah di punggung pria itu.
“Melihat sikapmu yang seperti ini, aku jadi penasaran dengan sikapmu saat kita berhubungan dulu. Tapi sayang, setiap kali aku ingat pernah punya hubungan dekat dengan orang yang akan menjadi Kraken, aku kesal dan marah. Aku sangat berharap bisa membunuhmu saat itu.”
Bukannya sakit hati dengan ucapan wanita itu, Grafit malah menunjukkan wajah sedih. Hal itu membuat Patricia bingung dan salah tingkah.
“Setidaknya di masa-masa itu aku melihat versi baik dari dirimu. Bagaimana kau berjuang untuk pabrik dan para karyawanmu. Bagaimana kau sering memarahiku tapi sangat perhatian padaku. Bagaimana cantiknya dirimu ketika tersenyum dan tertawa.”
Clara, Jonathan dan Rosalia menatap Grafit dengan rasa simpati. Sedangkan untuk Patricia, hatinya hampir oleng karena ucapan Grafit itu. Tapi ia segera sadar akan statusnya sebagai pengikut setia Kraken dan mencoba meneguhkan hatinya kembali, yaitu dengan cara melepaskan satu lagi tembakan ke arah mereka. Kali ini tembakannya itu tak mengenai siapa pun.
Meski ia yang menciptakannya, Patricia tidak memiliki tubuh yang cukup baik untuk menggunakan pakaian seperti itu. Pergerakannya sangat lambat dan ia sering kebingungan. Hal ini membuat Grafit tidak kesulitan untuk menghampirinya tanpa terkena oleh serangan-serangan yang dilancarkannya.
Grafit mendorong tubuh Patricia yang terbungkus pakaian besi itu hingga ke dinding. Ia menatap mata wanita itu hingga seakan hendak menyelami hatinya melalui mata itu. Patricia kembali salah tingkah dan wajahnya memerah.
“Hei, aku mengerti kalau Rosalia cemburu melihat adegan itu. Tapi kau, kenapa kau terlihat cemburu juga?” tanya Jonathan.
Clara yang menerima ucapan itu segera memelototkan matanya pada Jonathan seakan hendak menyangkal. “A, aku tidak cemburu. A, aku hanya tidak suka Grafit mengatakannya pada orang yang hampir membunuh kita.”
Jonathan masih tidak percaya dengan pembelaan Clara. Tapi ia tidak ingin memperpanjangnya. Fokusnya kini tertuju pada Rosalia. Rasa iba mulai muncul di hatinya. Tentu saja, tidak ada yang tidak sakit hati melihat kekasihnya berada sedekat itu dengan wanita yang lebih dicintai daripada dirinya.
“Hei, Grafit hanya sedang menghapus ingatan wanita itu. Kau tidak perlu cemburu,” kata Jonathan mencoba menghibur Rosalia.
Rosalia berpaling pada Jonathan dan melemparkan senyumnya. Manis tapi terasa getir menurut Jonathan. “Aku cemburu bukan hanya karena itu.”
Seperti kata Jonathan, saat itu Grafit memang sedang menghapus ingatan Patricia tentang dirinya sejak mereka bertemu kembali di pabrik beberapa hari yang lalu. Sebelum benar-benar menghapusnya, Grafit berbisik pada wanita yang paling dicintainya itu dengan suara lirih, “Aku percaya kau adalah orang baik. Kraken yang membuatmu jahat. Aku berjanji akan menghancurkan Kraken agar kau menjadi orang baik lagi.”
Perlahan-lahan kesadaran Patricia mulai hilang, seiring dengan ingatan yang dihapus oleh Grafit. Clara, Jonathan dan Rosalia melihat momen itu dengan haru. Seperti yang pernah dikatakan Grafit dulu, ketika ingatan seseorang dihapus untuk kedua kalinya, orang itu akan mendapatkan ingatan yang pertama kali dihapus untuk beberapa detik. Dan memang, mereka bisa melihat air mata yang mengalir di pipi Patricia, seakan saat itu Patricia bisa melihat masa-masa indahnya bersama Grafit dulu.
* * *
Beberapa jam setelah Grafit dan teman-temannya melarikan diri dari ruang bawah tanah itu
Ruangan itu sudah menjadi seperti reruntuhan karena sisa-sisa pertarungan. Jeruji besi yang awalnya dialiri listrik kini terlihat rusak karena bengkokan yang dibuat oleh Grafit. Yang paling menonjol adalah robot Padoha yang tergeletak tak berdaya dengan beberapa bekas ledakan di tubuhnya.
Tiba-tiba, mata Padoha terbuka dan menyala. Terdengar suara erangan dari mulutnya.